Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Suasana di dalam apartemen itu mendadak berubah dari dingin menjadi penuh ketegangan yang menyesakkan. Kata-kata Paroline yang menghina kejantanan Fharell benar-benar memicu sisi gelap yang selama ini dipendam oleh pemuda Desmon itu. Fharell, yang biasanya sabar dan selalu menahan diri karena takut melukai trauma masa lalu Paroline, kini merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Bocah yang tidak bisa memuaskan mu?" bisik Fharell dengan suara rendah yang berbahaya.
Tanpa aba-aba, Fharell menarik lengan Paroline yang baru saja setengah mengenakan kemeja putih kebesarannya. Dengan satu gerakan kuat namun terkendali, ia memutar tubuh Paroline dan menyudutkannya ke sandaran sofa.
"Rhell! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Paroline meronta, namun tenaga Fharell yang rutin berolahraga itu jauh melampaui kekuatannya.
Fharell tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencium leher Paroline dengan sedikit kasar, meninggalkan tanda kemerahan di sana sebagai klaim kepemilikan. Tangannya bergerak turun, menyentuh titik paling sensitif Paroline yang ternyata masih sangat reaktif terhadap sentuhannya.
"Aku membencimu, Fharell... aku membencimu," isak Paroline, namun tubuhnya berkhianat. Sentuhan Fharell yang kini lebih menuntut dan berani justru membuat akal sehatnya terbang.
Fharell merasakan Paroline sudah mulai basah dan siap. Adrenalin yang bercampur dengan rasa cinta dan amarah membuatnya melakukan penyatuan yang selama satu tahun ini selalu ia hindari karena rasa hormatnya pada Paroline. Ia memposisikan dirinya di bawah, membiarkan Paroline berada di atas kendalinya sejenak, namun saat ia mencoba menembus pertahanan terakhir itu, Fharell membeku.
"Akhh! Sakit... pelan-pelan, kumohon..." Paroline meringis, air matanya jatuh bukan karena nikmat, tapi karena rasa perih yang luar biasa. Cengkeramannya di bahu Fharell menguat hingga kukunya menusuk kulit pria itu.
Fharell tersentak. Ia menarik diri sedikit dan matanya membelalak melihat noda merah di atas sprei putih. "Darah? Darah apa ini?"
Pikiran Fharell kacau. Ia selalu mengira Paroline adalah wanita berpengalaman, seorang Ratu Klub yang sudah mencicipi dunia malam dan tentu saja, dia adalah ibu dari Andreas yang berusia dua tahun. Namun, sensasi sempit dan hambatan yang baru saja ia rasakan adalah bukti biologis yang tidak bisa dibohongi.
Apa Paroline masih perawan? Tapi bagaimana dengan Andreas? Pertanyaan itu membuat otak Fharell seolah berhenti berputar.
Suasana di kamar apartemen itu kini benar-benar senyap, hanya menyisakan suara deru napas yang bersahutan dan rintik hujan yang kian deras di balik jendela. Lampu temaram yang tadinya menciptakan bayangan romantis, kini seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja terkuak dengan cara yang paling tidak terduga.
Fharell masih mematung, posisinya masih menyatu dengan Paroline di atas seprai yang kini berantakan. Otaknya yang biasanya cerdas dalam hitungan bisnis, mendadak lumpuh. Ia menatap bercak merah yang menodai seprai putih di bawah mereka, lalu menatap wajah Paroline yang memucat dengan mata yang masih berkaca-kaca karena kombinasi rasa sakit dan kenikmatan yang luar biasa.
"Paro..." suara Fharell bergetar, kini penuh dengan kelembutan yang menyayat hati. "Kenapa kau... kenapa ini..."
Paroline memalingkan wajahnya, menyembunyikan isak tangis yang mulai pecah. Tubuhnya masih gemetar. Rasa sesak di dadanya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik yang baru saja ia rasakan. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama dua tahun.
Melihat Paroline yang masih meringis kesakitan, sisi lembutnya kembali dominan. Ia memperlakukan kekasihnya dengan sangat hati-hati, memeluknya dan membantunya melewati rasa sesak itu hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama. Setelah semuanya mereda, Fharell memeriksa kembali, tidak ada darah tambahan. Itu bukan darah menstruasi. Itu adalah darah dari robeknya selaput dara.
Fharell menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih bersentuhan. Ia memeluk Paroline dari belakang, mencium pundaknya yang masih gemetar. Ia tahu ini saatnya mencari kebenaran, tapi ia harus melakukannya dengan sangat halus. Fharell menarik napas panjang, lalu dengan sangat hati-hati ia mengusap peluh di dahi Paroline, mengecup kening wanita itu berkali-kali seolah sedang memohon ampun atas kekasarannya tadi.
"Sayang..." bisik Fharell, suaranya kini terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan angin. "Sepertinya kamu sedang datang bulan? Darah ini... sepertinya darah menstruasi, ya?"
Fharell sengaja melemparkan pertanyaan jebakan itu. Ia ingin melihat bagaimana Paroline merespons. Di dalam hatinya, Fharell tahu kebenarannya. Ia bukan pria bodoh, ia tahu perbedaan antara darah menstruasi dan darah dari sebuah pertahanan pertama yang baru saja ditembus. Tapi ia ingin Paroline sendiri yang mengaku.
Paroline yang masih dalam kondisi setengah sadar karena gelombang hormon dan rasa sakit yang berdenyut di bawah sana, hanya bisa meringis. Ia mencengkeram lengan Fharell kuat-kali saat pria itu mencoba memeriksa kondisinya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Mungkin... iya... aku tidak tahu, Rell," jawab Paro terbata-bata, suaranya hampir hilang. "Aku minta maaf... aku tidak tahu kalau akan sesakit ini. Ahh..." ia kembali meringis saat Fharell memberikan sentuhan menenangkan di area sensitifnya.
Fharell terdiam. Kesimpulannya sudah bulat. Paroline Benedicta adalah seorang perawan.
Pikiran Fharell berputar liar. Jika Paroline perawan, lalu siapa Andreas Sunny? Bagaimana mungkin seorang wanita yang belum pernah tersentuh pria bisa memiliki anak berusia dua tahun? Dan yang paling penting, kenapa Paroline rela mempertaruhkan reputasinya, membiarkan seluruh Los Angeles menghinanya sebagai wanita liar dan ibu tunggal, hanya untuk melindungi identitas anak ini?
Fharell menarik diri perlahan, lalu ia merengkuh tubuh Paroline ke dalam pelukannya, menyelimuti mereka berdua dengan selimut tebal. Ia tidak lagi mengejar kenikmatan, ia hanya ingin memberikan rasa aman.
"Kau pembohong besar, Paroline," bisik Fharell di telinganya, namun kali ini tanpa nada marah. Hanya ada rasa kagum dan haru. "Kau membiarkan dunia menganggap mu kotor, kau membiarkan ayahmu dipandang rendah, bahkan kau membiarkanku merasa tidak cukup dewasa untuk menjagamu... hanya demi anak itu."
Paroline terisak di dada Fharell. Ia tahu rahasianya sudah habis. Ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kebohongan tentang menstruasi atau masa lalu yang liar.
"Dia bukan anakku, Fharell," suara Paro akhirnya keluar, sangat kecil namun terdengar jelas di tengah kesunyian malam. "Andreas... dia putra Sania. Sahabatku."
Fharell membeku. Ia mendengarkan dengan saksama saat Paroline mulai menceritakan segalanya. Tentang bagaimana Sania jatuh cinta pada pria yang salah dari keluarga Smith, tentang bagaimana pria itu membuang Sania saat tahu ada nyawa di dalam rahimnya, dan tentang bagaimana Sania menghembuskan napas terakhirnya sambil menggenggam tangan Paro, memintanya menjaga Andreas.
"Aku yang meminta dokter memalsukan akta kelahirannya, Rell. Aku tidak ingin keluarga Smith tahu keberadaannya. Aku lebih baik dianggap sebagai wanita nakal daripada membiarkan Andreas jatuh ke tangan orang-orang jahat itu," tangis Paroline pecah.
Mendengar itu, Fharell merasa jantungnya seolah diremas. Ia menatap Paroline dengan tatapan yang kini penuh dengan pemujaan yang tak terhingga. Wanita di pelukannya ini bukan hanya seksi dan cerdas, tapi dia adalah seorang pahlawan. Dia adalah malaikat yang menyamar sebagai pendosa demi menyelamatkan satu nyawa kecil.
"Maafkan aku, Paro," bisik Fharell, air matanya sendiri mulai menetes. "Maafkan aku karena sempat meragukan mu. Maafkan aku karena bertanya tentang ayah biologisnya di saat yang salah."
Fharell mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Paroline dengan penuh hormat. "Sekarang aku mengerti kenapa Ayahmu begitu dingin padaku. Dia tahu kebenarannya, dan dia ingin memastikan bahwa pria yang bersamamu tidak akan menghancurkan pengorbanan yang sudah kau buat."
Paroline menatap Fharell dengan mata sembab. "Kau masih mau bersamaku, Rell? Setelah tahu aku hanya seorang pemeran ibu?"
Fharell tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Paroline lihat. "Justru sekarang aku lebih yakin. Jika kau bisa mencintai anak sahabatmu seperti anak kandungmu sendiri, aku tidak bisa membayangkan betapa besarnya cinta yang bisa kau berikan padaku."
Ia mengusap air mata Paroline, lalu mengecup bibirnya dengan sangat lembut, kali ini tanpa nafsu, hanya sebagai janji. "Mulai malam ini, Andreas Sunny adalah putra kita. Dan rahasia ini... akan menjadi rahasia kita berdua sampai mati. Aku tidak akan membiarkan seorang Smith pun mendekati kalian."
Malam itu, di apartemen yang tenang, pengakuan itu tidak hanya menyatukan tubuh mereka, tapi juga menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan yang lebih kuat dari darah. Fharell menyadari bahwa wanita "berondong" sepertinya ternyata baru saja mendapatkan kehormatan untuk menjadi pria pertama dan terakhir dalam hidup seorang ratu yang sebenarnya sangat suci.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰