Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam ritual
"Bandit? Tapi bukankah ini wilayah kalian?" Sura mengernyit,
"Itu benar. Tapi hukumku tak berlaku disini, jadi berhati-hatilah, jangan berlarian seenaknya---Kalau ada bandit yang membunuhmu akan sulit buat mengurusnya."
"Kalau tak hati-hati, perang bisa dipicu kembali..."
"Kok kedengarannya sangat menyeramkan?" batin Sura bergidik ngeri,
"Kalau sudah selesai cepat kembali, aku tunggu di kereta." pamit Raja,
Tanpa disadari telah melangkah begitu jauh. Sura menoleh melihat punggung Raja sedang melambaikan tangan,
"Bisa-bisanya dia meninggalkanku! Bukankah aku ini makanannya yang sangat berharga?!" gerutu Sura bergegas lari menyusul.
Langkah kakinya perlahan memberat, matanya dikejutkan oleh pemandangan mengerikan. Di samping kereta telah tergeletak puluhan mayat,
Mayat manusia dan juga siluman terbaring disamping tumpukan senjata tajam.
"Kelelawar menemukan mayat ini di bawah jurang." ucap Anubis memberi laporan, "Dilihat dari lukanya, mereka sudah meninggal sekitar 3 hari yang lalu."
"Ini semua senjata buatan manusia, dan semuanya sudah dilumuri racun bidara yang dibuat khusus untuk membunuh bangsa siluman."
Korban manusia lebih sedikit, itu pun dengan luka gigitan dan cakaran. Sedangkan korban siluman dipenuhi luka tusukan bahkan anak panah yang masih tertancap,
"Para manusia ini mati karena kehabisan darah," batin Sura merasa perihatin.
"Dasar manusia sialan!" umpat Anubis dengan wajah merah padam.
"Pasti gerombolan mereka masih ada disekitar sini. Sebaiknya Raja segera mengirim pasukan untuk mencari dan membunuh mereka semua!"
"Cukup! Jangan menambah masalah." ucap Raja, tangannya mengepal kuat.
Meski tampak tenang, mata birunya bersinar terang. Sura merasakan tekanan yang luar biasa, aura siluman itu meluap seakan menusuk ke dalam dada.
Sura melangkah masuk ke dalam kereta, mengikuti Raja yang telah mendahului. Anubis juga tak bisa membantah, duduk sebagai kusir dan bergerak menuju istana,
Keadaan di dalam terasa menyeramkan,
"Jika dilihat dari luka tadi...jelas sekali kelompok manusia lah yang menyerang. Kelompok siluman cuma membela diri," batin Sura menerka-nerka.
Memberanikan diri menatap Raja yang duduk di depan. Rautnya tampak suram, entah sedih atau marah? Yang pasti Raja tak terima melihat rakyatnya dibabat habis oleh para manusia.
"Berhenti melihatku." tegur Raja dengan angkuh, "Aku tak butuh dikasihani..."
"Lagipula hal semacam ini sudah sering terjadi."
"Karena itu kamu sering kesini kan?" Sura mengangkat alis, "Sebenarnya kamu juga tidak mau berperang melawan manusia. Iya, kan?"
Raja terdiam, matanya membulat sempurna, tak membalas satu kata pun. Harga dirinya merasa terhina, melihat rasa iba yang terlukis di wajah Sura.
"Kelelawar!" pekik Raja memanggil siluman kalong yang sejak tadi menguping dari luar,
"I-iya Raja. Kami disini..."
"Ada apa Raja...Apa anda ingin berhenti?" sahut Anubis mengeraskan suara, menyadari teriakan Raja.
"Tidak perlu berhenti. Teruskan saja," menoleh ke arah lain, "Aku ingin kalian terbang secepat mungkin dan sampaikan perintahku pada panglima pasukan."
"Suruh dia memperketat penjagaan di Kota Shaksa...jangan lupa untuk membekali pasukan kita dengan senjata lengkap."
"Aku ingin mereka membunuh para manusia yang berani masuk ke dalam wilayahku. Tak terkecuali, mau itu wanita ataupun anak kecil...tebas habis mereka semua!"
"E--eh, a-apa ini? Apa aku salah bicara? Kenapa rasa bencinya tiba-tiba naik menjadi 30%?" batin Sura panik,
Terbelalak melihat angka yang melaju cepat di atas sana. Gawat! Habis sudah, tak ada harapan lagi untuk menyelamatkan hidupnya.
Setiba di istana, Raja langsung pergi mengadakan rapat bersama tetua siluman.
Sedangkan Sura kembali berkelut dengan tanah.
"Apa yang salah? Kenapa dia tiba-tiba membenciku..."
Menggerutu sambil terus menancapkan puluhan batang bunga ke tanah yang telah digemburkan.
"Apa karena mayat tadi? Tapi itu kan, bukan salahku!"
"Haih! Lagian kenapa juga kalian berperang? Padahal sudah punya wilayah masing-masing, kenapa ga rukun saja hidup aman damai."
Tak ada gunanya mengoceh, lagipula siapa yang akan menggubris ucapan manusia?
Sura menggantungkan hidupnya kepada takdir, berharap Raja akan berubah pikiran.
Dalam dua hari tanaman itupun mulai tumbuh, memekarkan kuncup bunganya. Disebut bunga pukul 9, karena akan berbunga setiap hari dan mekar di waktu siang.
Akarnya semakin kuat dan batangnya bertambah banyak, kuncup bunga terus bermunculan. Setiap hari Sura rawat, mengatur batangnya agar merambat ke tanah hingga mampu menutupi seperempat lahan dalam pembatas sihirnya.
"Wah...lihatlah! Manusia itu benar-benar berhasil,"
"Indah sekali..."
Pujian para pelayan wanita seringkali terdengar, mereka bahkan berbaris di siang hari. Namun semua itu tak cukup memuaskan Sura,
Raja tak pernah memuji ataupun berkunjung, sekedar lewat dan melirik sekilas dari kejauhan.
"Bunganya banyak sekali...apa boleh dipetik?"
"Ha?" Sura termenung sejenak, seketika terpikirkan sesuatu. "Tentu saja boleh."
"Apa kalian juga mau?" menawari 2 pelayan lain yang berdiri disana,
Sontak mereka menggangguk kegirangan. "Mau, mau!"
Dengan senang hati Sura memetik beberapa kuntum dan merangkainya.
"Silahkan...bunga yang indah untuk para wanita cantik," ujar Sura memberikan senyuman manis.
Berhasil membuat mereka tersipu malu. Sepertinya gombalan tadi juga mempan untuk para siluman,
Satu persatu dari mereka mengambilnya, "Lalu bunga itu untuk siapa?"
"Indah sekali...tanaman yang sama tapi bunga ini tumbuh ke atas."
Menunjuk pada tanaman di tangan kiri Sura. Sebuah bonsai bunga krokot yang diletakkan pada pot tanah liat,
Bunga di dalamnya ditanam menggunakan tanah murni dari kebun mini milik Sura yang telah dicampur dengan pupuk kompos.
"Ini kubuat khusus untuk Raja. Apa kalian bisa mengantarnya?"
"Ng..." para pelayan itu terdiam dengan wajah ketakutan, saling menatap satu sama lain. Tampak ragu,
"Anu---kami tidak berani...sebenarnya patih Anubis melarang kami melihat bunga."
"Oh, ternyata ini ulah anjing itu?! Pantas saja mereka selalu datang di jam segini dan cuma mampir sebentar." batin Sura merasa geram,
"Beraninya mengganggu penggemarku!"
Tak kehabisan akal, Sura langsung menunduk lesu, memasang wajah memelas demi merayu para wanita di depannya.
"Hhh...sayang sekali, padahal aku sudah susah payah menyiapkannya untuk Raja. Aku bisa saja mengantar diam-diam saat patih sibuk menemui para tetua..."
"Tapi aku tidak bisa pergi karena harus mengurus bunga-bunga ini. Andai ada yang bisa menggantikanku, mengantarkan bunga ini kepada Raja---"
"Aku janji akan menyiapkan tanaman yang sama untuknya." membual dengan suara lirih,
"Kalau gitu biar aku saja!"
Salah satu pelayan berhasil terpancing, "Apa nanti aku bisa menyimpan tanaman ini di kamarku?"
"Tentu! Asal tidak terkena tanah dan selalu disiram, bunga ini akan mekar setiap hari."
"Ng, kalau aku ikut mengantarkannya pada Raja...apa aku akan mendapat tanaman juga?"
"Tentu saja," Sura tersenyum ramah.
"Kalau gitu, aku juga mau!" sontak pelayan lain,
Ketiga dari mereka akhirnya masuk ke dalam rayuan Sura.
"Ya sudah, akan aku siapkan langsung tanaman untuk kalian. Kembalilah kesini setelah mengantarnya kepada Raja,"
Mereka mengangguk, bergegas pergi menjalankan perintah. Sedangkan Sura masih berdiri tersenyum bangga,
"Ternyata wajah tampanku juga laris di kalangan siluman."