Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Laura dan Lexi melanjutkan jalan sore mereka di taman, tetapi suasana di antara mereka terasa tebal, jauh dari santai. Lexi berjalan di samping Laura, jaraknya sengaja ia jaga, sebagai pengakuan atas 'kemenangan' sementara Laura. Namun, tatapan matanya tidak pernah meninggalkan Laura, seolah-olah ia bisa membaca setiap pikiran pemberontak yang ada di kepala wanita itu.
Lexi mengakui kekalahan kecil, tetapi ia tahu bahwa ia memegang kendali penuh. Ia telah menanamkan benih kecemburuan dan rasa bersalah dalam diri Alex, dan ia juga tahu bahwa tubuh Laura telah kecanduan pada dominasinya.
Malam itu, setelah makan malam, Alex mengajak Laura ke kamar. Ia tampak bertekad untuk menebus waktu yang hilang dan menghilangkan rasa cemburu yang ia rasakan.
"Sayang," kata Alex, menangkup wajah Laura. "Aku tidak suka perasaan ini. Aku merasa jauh darimu. Malam ini, mari kita lupakan segalanya dan kembali menjadi kita."
Laura menatap mata suaminya. Penuh cinta, tulus, dan kini, sedikit putus asa. Ia tahu ia tidak bisa menolak lagi. Ia harus mengakhiri penolakan ini, setidaknya di mata Alex, meskipun itu berarti mengkhianati dirinya sendiri di hadapan Lexi yang pasti memantau.
"Aku juga merindukanmu, Alex," bisik Laura, suaranya tercekat.
Ia memaksakan diri, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah tugasnya sebagai istri, ini adalah perisai terbaik untuk melindungi suaminya dari Lexi.
Alex terkejut, namun matanya langsung bersinar. Ia mendekati Laura, gerakannya lembut dan penuh kasih.
Laura membiarkan suaminya memasukinya. Ia memejamkan mata, mencoba fokus pada kehangatan dan kelembutan Alex. Namun, tubuhnya merespons dengan cara yang menyakitkan—ia merasakan hampa, tanpa gairah, hanya memikirkan perbandingan yang tak terhindarkan antara sentuhan penuh kasih Alex dan dominasi Lexi yang liar.
Ia memaksakan desahan, memaksakan gerakan membalas, tetapi itu semua adalah kebohongan yang pahit.
Saat Alex mencapai puncaknya dan berbisik 'Aku mencintaimu' di telinganya, air mata Laura menetes. Ia merasa dirinya adalah pengkhianat terbesar.
Tepat setelah Alex tertidur, ponsel Laura bergetar. Pesan dari Lexi.
Lexi: Sandiwara yang bagus, Nyonya Alex. Kamu terlihat sangat menikmatinya. Sayang sekali, aku tahu kamu hanya berpura-pura. Tubuhmu tidak bisa berbohong padaku.
Laura menarik napas tajam. Ia mengunci mulutnya agar tidak menjerit.
Laura: Kau memata-matai kami? Kamu gila!
Lexi: Aku hanya memastikan investasi dan keponakanku baik-baik saja. Dan aku melihat apa yang terjadi. Kamu membiarkan Alex menyentuhmu, tetapi sentuhan itu kosong. Kamu memaksakan gairahmu. Kamu tahu kenapa? Karena tubuhmu kini hanya merespons kekejaman tiranmu.
Lexi mengirim pesan lain, yang membuat Laura gemetar hebat.
Lexi: Tidur malammu yang baru saja kamu nikmati bersama suamimu, aku akan menghukummu untuk itu besok.
Keesokan paginya, Alex benar-benar tampak berbeda. Ia tidak lagi murung. Ia tampak bahagia, tetapi di matanya tersimpan sesuatu yang baru: kecurigaan yang diselingi kebanggaan.
Saat sarapan, Lexi kembali duduk, santai, dan penuh kendali, tetapi matanya memancarkan api cemburu yang dingin.
"Pagi, Laura. Bagaimana tidur malammu? Kuharap perutmu sudah benar-benar pulih," sapa Lexi, matanya menatap Laura dengan penuh makna, mengabaikan Alex yang duduk di sampingnya.
"Pagi, Kak," jawab Laura dingin, menolak bertemu pandang.
Alex, yang merasakan ketegangan aneh itu, tiba-tiba memecah keheningan. "Kak, bisakah kita bicara sebentar?"
Alex menarik Lexi menjauh dari meja, ke sudut ruang tamu.
"Ada apa, Alex? Kamu terlihat aneh," tanya Lexi, pura-pura khawatir, namun rahangnya sedikit mengeras karena kecemburuan yang ia rasakan.
"Aku bertekad akan membahagiakan Laura kak,untuk itu aku akan semakin giat bekerja,agar aku bisa membelikan Laura rumah,"
Lexi membiarkan Alex berbicara, kemarahan membara di dalam dirinya. Alex baru saja bercerita tentang Laura, dan Lexi mendidih karena kecemburuan.
"Alex, aku hanya peduli pada keponakanku," Lexi membalas, suaranya hampir tidak berbisik karena amarah. "Aku tidak bisa membiarkan istri dari adikku tidak mendapatkan nutrisi dan perhatian yang layak. Aku mencintaimu, Alex, dan aku akan melakukan apa pun untuk memastikan kebahagiaanmu. Tapi jika kamu merasa aku terlalu mengganggu..."
Lexi memutar otaknya, harus memberikan hukuman pada Laura, dan sekaligus menenangkan Alex.
"Aku akan menjaga jarak," Lexi menawarkan, pengorbanan palsu yang ia tahu akan membuat Alex merasa bersalah. "Aku akan tinggal di apartemenku malam ini. Dengan begitu, kamu bisa fokus pada Laura tanpa merasa tertekan oleh kehadiranku."
Alex tampak bimbang. "Astaga,,apa yang kakak katakan? Ini adalah rumahmu! Kami yang menumpang disini,kenapa kakak yang pergi? Kalaupun ada pergi,itu pasti kami kak,bukan kakak," Alex jadi merasa bersalah.
"Apapun akan kulakukan demi kebahagiaan mu,," Lexi berjanji, tetapi matanya menatap Laura dengan pandangan yang membakar. "Aku hanya pergi untuk satu malam. Aku akan kembali besok pagi. Dan Alex," Lexi menahan adiknya. "Pastikan kamu mengajak Laura ke dokter kandungan besok. Aku sudah menjadwalkannya. Aku ingin melihat hasil pemeriksaan kandungan langsung saat aku kembali."
Lexi tahu, pemeriksaan kandungan adalah cara yang tidak bisa ditolak oleh Alex untuk tetap mengawasi Laura, dan itu akan menjadi alasan sempurna baginya untuk kembali dan mengambil alih kendali.
Alex mengangguk, merasa bersalah dan berterima kasih. Lexi kembali ke meja sarapan, menatap Laura dengan tatapan mengancam yang hanya bisa dipahami oleh Laura: Kau akan membayar mahal untuk kebahagiaan suamimu semalam.
Laura tahu, Lexi akan menggunakan jeda ini untuk merencanakan hukuman yang lebih kejam. Ia kini harus bersiap untuk menghadapi kunjungan dokter kandungan, yang pasti akan menjadi alat baru Lexi untuk memegang kendali.
Bersambung...