NovelToon NovelToon
Legenda Manik Penciptaan

Legenda Manik Penciptaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Light Novel
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Slycle024

Di bawah bayang-bayang aturan feodal-kultivasi, di mana jenius dari kalangan bawah pada akhirnya akan terkubur, Chen Yuan memilih mengamati.

Mengetahui bahwa sang ibu angkat telah dimanipulasi dan bahkan menganggapnya, pecahan kesadaran anak kandungnya sendiri, ia memilih untuk membayar hutang budi itu—bukan dengan darah, tetapi dengan memainkan peran untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan saudaranya.

Di dunia yang kejam dan penuh kepentingan, ia memilih mencoba lagi untuk merasakan arti ketulusan, bukan pertukaran.

Demi membuatnya bahagia dan mampu berdiri di dunia ini, ia bahkan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan eksistensinya.

Namun semua itu hanyalah awal.

Di balik semua itu, misteri tentang dirinya sendiri sangat rumit, apalagi segala sesuatu di sekitarnya.

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang ingin mencoba lagi–bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menemukan arti kehidupan yang tak sempat ia miliki.

Kelanjutan World of Cultivation: Aimless Journey

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slycle024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemburu tambahan

Menyadari bahwa Chen Yuan masih hidup, Nomor 8 mendesah pelan. Ia tahu bahwa meskipun tubuh Chen Yuan telah hancur, jiwa barunya mungkin akan merebut tubuhnya.

Tak lama kemudian seorang wanita mendekat. “Kenapa wajahmu pucat?” tanyanya sambil menatap tanah yang hancur dan masih memancarkan panas membara. “Ulahmu?”

Nomor 8 mengangguk. “Kenapa kau kemari?”

Wanita itu, Nomor 9, mengeluarkan sebuah bola kecil dari lengan bajunya.

Nomor 8 langsung mengerti. 

“Alat untuk menangkap jiwa baru, kan? Aih, bos benar-benar plin plan. Andai setiap anggota punya alat komunikasi semuanya.”

Ia segera menutup mata dan merasakan jejak Qi spiritual yang menempel pada tubuh Chen Yuan. Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan menunjuk ke arah barat daya.

Di sisi lain, Chen Yuan bersandar pada batang pohon hitam legam sambil menggertakkan gigi. Ia menggunakan rasa sakit yang datang untuk menjernihkan pikirannya.

Setelah kulit besi terbentuk, bagian luarnya memang kuat dan tahan api. Bahkan hampir tidak ada darah yang keluar. Namun dampak kehancuran itu masih merembes ke dalam daging dan organ-organnya, membuatnya tetap muntah darah.

“Aku tidak menyangka bagian dalam tubuhku berantakan seperti ini.”

“Kau sengaja melakukannya,” kata Lingxue’er dengan nada tidak puas. “Meskipun aku bilang kau tidak perlu menahan diri, tetap saja kau hanya praktisi tempering fisik. Qi spiritualmu masih kasar dan butuh tiga kali lipat usaha untuk menahan serangan mereka.”

Setelah berkata demikian, cahaya hijau mulai menyelimuti tubuh Chen Yuan dan perlahan memperbaiki luka-lukanya.

Setelah pulih sekitar 70 persen, Chen Yuan berdiri sambil merentangkan tubuhnya. 

“Senangnya punya istri yang perhatian.”

Tiba-tiba proses penyembuhan berhenti. Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan canggung, “Kak Xue’er, aku hanya bercanda. Kau kan peri dingin sembilan surga, kenapa seperti anak kecil.”

“Peri dingin? Kau pasti menggunakan namaku sebagai referensi. Lain kali jangan lontarkan kotoran lagi. Jika tidak, Aku akan tidur dan membiarkan Yan’er yang bangun. Aku ingin lihat apakah kau tahan dengannya,” kata Lingxue’er.

Tiba-tiba angin menderu di antara pepohonan. 

Chen Yuan mengernyit. Ini dua orang?

Ia tidak menyerang, tetapi  langsung berbalik dan berlari semakin dalam ke hutan, menuju sungai kuning.

Di belakangnya, dua orang mengejar tanpa terburu-buru. Tiba-tiba, mata nomor 8 melebar, terkejut. “Dia hampir sembuh? Ini… aku bahkan belum memulihkan 50% kekuatanku.” 

Mengetahui Chen Yuan tidak memiliki dantian, alis nomor 9 terangkat. “Kuras dulu kekuatannya, baru segel…. Aku bermain duluan.”

Segera, ia mempercepat pengejaran.

Chen Yuan memancing mereka ke area yang dipenuhi pohon-pohon besar dan bebatuan raksasa, yang cocok untuk bertahan dan menyerang.

Tiba-tiba, Chen Yuan mengeluarkan ‘Pedang Tanpa Nama’. Ia melakukan tebasan dari atas ke bawah dan Qi pedang kemerahan meluncur.

Nomor 9 yang berada sekitar 50 meter darinya, terkejut. Ia segera mencabut cambuk besinya dan menggunakannya membentuk serangan setengah lingkaran.

BOOM!

Benturan kekuatan itu membuat Chen Yuan terlempar ke belakang, hampir menabrak pohon besar di belakangnya. Ia terdiam sejenak dan segera menyadari bahwa lawan kali ini benar-benar kuat.

“Cih, ternyata hanya segini,” ejek Nomor 9. “Patuhlah!”

Cambuk itu kembali berkelebat seperti ular, melesat menuju Chen Yuan. Pada saat yang sama, Nomor 8 menyerang dari sisi lain. Sebuah tombak api meluncur lurus ke arah jantung Chen Yuan.

Kini Chen Yuan berada dalam posisi terjepit.

Langkah Awan digunakan!

Tubuhnya menghilang seketika dan muncul kembali di udara setinggi lima puluh meter, namun tombak api dan cambuk itu berbelok tajam, terus mengejarnya seperti memiliki kesadaran.

Chen Yuan tidak mencoba menahan kedua serangan tersebut. Ia justru meluncur lurus menuju Nomor 8 yang tampak masih sedikit pucat, sambil melakukan gerakan menusuk dengan pedangnya.

Melihat itu, Nomor 8 tersenyum tipis dan sebuah tombak api terbentuk di tangannya lalu meluncur cepat.

Udara terbelah!

Keduanya bertabrakan dalam sepersekian detik. Tombak api itu hancur dan Chen Yuan terpental ke belakang.  

Pada saat yang sama, dua serangan sebelumnya hampir tiba. Ia berbalik dan melakukan tebasan.

DENTING!

Suara melengking tajam bergema di udara, tombak api hancur, namun cambuk besi menghantam pedang. Memanfaatkan sepersekian detik celah itu, Chen Yuan meluncur turun dan menghantam tanah dengan brutal. 

DUARRRR!

Gelombang kejut menyapu tanah ketika Chen Yuan menghantam permukaan bumi.  Debu dan kerikil langsung meledak ke segala arah.

Nomor 9 melompat mundur untuk melindungi matanya dari debu yang beterbangan. Ia tersenyum tipis saat ujung cambuk menyelinap masuk ke dalam kabut debu.

Di dalam kabut itu, Chen Yuan dengan paksa meningkatkan kekuatannya. Cahaya kemerahan menyelimuti tubuhnya. Tanpa ragu, ia meluncur ke arah Nomor 9 dan melancarkan Tinju Dominasi Naga Biru, berharap cambuk  itu berhenti mengejar.

Nomor 9 terkejut oleh serangan balik yang tiba-tiba itu. Dalam sekejap ia merasa seolah melihat seekor naga raksasa yang hendak menelannya. 

Ia segera membentuk segel tangan. 

Seketika akar-akar berduri berkelebat keluar dari tanah dan membentuk sebuah perisai di depannya.

BERDERIT!

Perisai tanaman itu melengkung seperti pegas akibat tinju Chen Yuan, terdorong hingga sekitar sepuluh meter dari posisinya. Namun pada saat yang sama, sebuah cahaya tajam meluncur dari celah perisai.

Nomor 9 membelalak ngeri. Ia segera menunduk untuk menghindari serangan tersebut. 

SLASH! SLASH!

Sesaat kemudian, dua Qi pedang bersilangan memotong perisai tanaman itu dan melesat ke arahnya. 

Ia menekan tanah dan tubuhnya langsung mundur, membiarkan Qi pedang itu menebas pepohonan.

Suasana kembali sunyi.

Nomor 8, yang paling dekat segera melihat Chen Yuan terjebak dalam jeratan akar pohon yang dipenuhi duri tajam. 

KRETEK!

Akar-akar itu perlahan menjerat tubuh Chen Yuan semakin kuat, hingga terdengar suara tulang yang bergerak. 

Setelah merasa yakin bahwa Chen Yuan telah kehilangan kesadaran secara total, ia berjalan lebih dekat.

“Kemarilah! Dia sudah terjebak!” serunya.

Nomor 9 mendekat. Namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang aneh. Cambuknya masih bergerak, seolah masih mengejar target. Matanya langsung membelalak ketika melihat Chen Yuan berdiri tepat di belakang Nomor 8.

“AWASSSS!!” teriaknya.

Nomor 8 kebingungan. 

BANG!

Ia bahkan tidak sempat membentuk pertahanan. Tinju itu menghantam dadanya seperti palu raksasa. Tubuhnya terpental dan menabrak perisai tanaman yang dipenuhi duri tajam.

“AAARGH! CEPAT KEJAR!!!” teriaknya kesakitan.

Sebelum bergerak, Nomor 9 melihat Chen Yuan menghilang seketika dan ia segera menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam. Cambuknya sudah tidak lagi mengunci posisi Chen Yuan. Artinya… Chen Yuan sudah berada lebih dari setengah kilometer dari posisi mereka.

Matanya melebar tak percaya.

Gerakan aneh apa itu? 

Satu lompatan… lebih dari setengah kilometer?

Ia mengangkat tangan dan perisai berduri itu pun menghilang. Nomor 8 yang tubuhnya kini dipenuhi lubang jatuh ke tanah.

Pada saat yang sama, tubuh Chen Yuan yang masih terjerat, yang merupakan tiruan dari teknik Satu Qi Tiga Perubahan—retak perlahan, berubah menjadi cahaya, lalu menghilang ke udara.

Nomor 8 melangkah mendekat ke arah Nomor 9, alisnya berkerut.

“Kenapa kita tidak mengejarnya?”

Nomor 9 hanya menggeleng pelan, tatapannya masih mengarah ke tempat Chen Yuan menghilang. “Sejak awal… dia bisa kabur kapan saja,” katanya tenang. “Kau tahu, dalam satu lompatan dia bisa berpindah hampir satu kilometer.”

Nomor 8 terdiam sejenak sebelum mendengus pelan. 

“Jadi maksudmu… tanpa menutup seluruh area di sekitar sini, kita tak mungkin menangkapnya?”

Nomor 9 mengangguk. Ia lalu menarik napas pelan.

“Sudahlah! Fokus pada lukamu dulu… 15 menit cukup, kan?” 

“Untuk saat ini, kita amati situasinya. Meski kita hanya pesuruh, tidak ada gunanya mati di sini. Tenang saja, aku sudah menandai bocah itu.”

Setelah berkata demikian,  ia duduk bersila di atas dahan pohon dan mulai merapikan penampilannya yang sedikit berantakan akibat pertarungan. 

Angin sore bertiup melewati hutan, membuat dedaunan berdesir panjang.

Perlahan, cahaya matahari mulai meredup. Sinar keemasan menembus sela-sela pepohonan sebelum akhirnya tenggelam.

Bayangan panjang terbentang di antara batang-batang pohon.

Di kejauhan, suara binatang iblis mulai terdengar satu per satu, sementara kegelapan perlahan menelan hutan yang sebelumnya porak-poranda oleh pertarungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!