NovelToon NovelToon
Agen Paling Dingin

Agen Paling Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Action / Komedi
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan dan penyusupan

Untuk sesaat kita kembali ke markas, tempat di mana komandan berada dan di temui oleh seseorang.

Di ruangannya, terlihat ada seorang pemuda yang memiliki perangai sangar dan tegas.

Sorot matanya juga menunjukan ancaman nyata pada siapapun yang berhadapan dengannya.

"Jadi. Ada apa anda memanggil saka ke sini, komandan!?" Tanya pemuda itu dengan nada yang datar.

Komandan kemudian menjadi. "Lukman. Sekarang kita sedang mengalami krisis serius yang dampaknya bisa mengancam kedamaian nasional!"

Alis mata Lukman seketika turun.

Ekspresinya berubah menjadi sangat serius. "Krisi macam apa itu?!"

Komandan pun menceritakan apa yang telah ia cerita pada Wawan dan Raisya beberapa waktu yang lalu.

Lukman yang notabenenya adalah senior di markas ini bisa langsung paham dengan betapa seriusnya masalah ini.

"Jadi, anda mau saya membantu dua agen baru itu!?" Segera komandan mengangguk kepalanya.

"Ya, saya mau kamu bantu para junior kamu itu!"

"Selain dari mereka yang masih baru, mereka juga kekurangan orang untuk menjalankan tugas yang berat ini!"

Tanpa banyak bicara lagi Lukman langsung mengangguk menyetujui permintaan ini. "Baik. Dimana mereka? Biar saya susul sekarang!"

"Tadi Raisya telah mengirimkan lokasi tempat mereka akan menangkap seseorang, jadi kamu susul ke sana saja!" Sebuah kertas di berikan oleh komandan pada Lukman.

Lukman hanya membaca sejenak sebelum akhirnya ia berangkat ke lokasi.

Sendirian ia menaiki sebuah motor bebek dengan kecepatan penuh menyusuri jalan-jalan yang tidak terlalu ramai.

Kembali pada Lukman.

Pada saat ini ia sudah berdiri di antara para pengusaha ternama di dalam satu ruangan.

Ruangan itu begitu megah dan di penuhi oleh makanan yang belum pernah Wawan lihat apa lagi merasakannya.

Maka dari itu. Wawan dengan cepat mengambil piring dan mengambil apapun yang dia mau coba hingga piringnya penuh.

Tapi piring yang penuh itu dengan cepat kosong kembali karena saking dekatnya Wawan memakan makanan yang ada di atasnya.

Seorang perempuan muda dan cantik kemudian menghampiri Wawan karena mereka tertarik dengan penampilan dan perangainya.

"Permisi!"

"Nama saya Sasya. Bisa saya tahu nama anda!?" Ia langsung memasang senyuman menawan guna menarik perhatian Wawan.

Ia berharap kalau Wawan akan tertarik padanya.

Namun, Wawan yang tidak peka hanya menjawab. "Nama saya Wawan!"

"Apa anda punya urusan dengan saya!?" Ekspresi Wawan yang datar dan dingin membuat Sasya merasa sangat terkejut.

Baginya, itu bukan sikap yang sering ia hadapi ketika ia berbicara dengan seorang pria.

Biasanya pria-pria yang bicara dengannya akan langsung melontarkan kata-kata manis dan gombalan.

Tapi yang satu ini tidak sama sekali.

Malahan. Ia terlihat tidak begitu peduli pada Sasya meskipun ia begitu cantik dan menawan.

Dan ke tidak pedulian itu adalah daya tarik tersendiri untuk Sasya.

"Tidak ada. Saya cuma mau sedikit mengenal anda apalagi anda adalah tamu di rumah saya!" Wawan agak terkejut.

Tapi itu cuma dalam hati.

Ada bagusnya ekspresi datar Wawan itu.

Jika tadi Wawan bereaksi terkejut ia pasti akan di curigai karena tidak mengenal anak dari pemilik rumah ini sendiri.

Wawan pun bersikap sok kenal dengan Sasya tapi tidak begitu dekat juga.

"Begitu...!"

"Saya tidak keberatan kalau cuma mau mengobrol, tapi saya mau ingatkan kalau saya cuma orang kecil yang tidak begitu penting di sini!"

"Jadi jangan berharap terlalu banyak dari saya!" Kata Wawan dengan wajah datarnya.

Sasya yang mendengar perkataan Wawan itu tampak tak percaya.

Ia merasa kalau Wawan cuma sedang merendah. 'Jika menilai dari sikapnya... Kemungkinan dia bukan pemuda sembarangan!'

'Ketenangan, ekspresi yang datar dan juga wibawa yang dia punya jelas bukan sesuatu yang akan di milik orang biasa.'

'Aku yakin. Dia ini adalah orang yang sangat hebat terlepas meskipun dia masih sangat muda.' Entah kenapa malah muncul kesalahpahaman.

Padahal Wawan cuma mengatakan yang sebenarnya.

Tapi.... Sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat menguntungkan bagi Wawan.

Meskipun, pada saat ini Wawan tidak menyadari munculnya kesalahpahaman itu.

Tak lama, orang menjadi tuan rumah pesta ini muncul dan menjadi pusat perhatian seketika.

Ia berdiri dan mengucapkan beberapa patah kata pada para tamu yang hadir di pesta ini dan setelah itu ia mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua orang.

Kecuali dari Wawan.

Setelah selesai berpidato, di tuan rumah atau lebih tepatnya Arman Setiawan pergi untuk menyapa teman-teman dekatnya.

Di sisi lain Sasya yang masih ada di samping Wawan punya ide untuk memperkenalkan Wawan pada ayahnya.

Harapannya si ayah bisa mengakrabkan hubungan keduanya.

"Ngomong-ngomong. Bagiamana kalau kita pergi dan berbicara ayahku?!" Kata Sasya sambil tersenyum.l menggoda.

Wawan yang melihat ada kesempatan untuk mendekati target tentu saja tak melepaskan kesempatan ini.

"Tentu!" Ia pun ikut dengan Sasya untuk mendekati Arman Setiawan yang kini sedang sibuk dengan sirkelnya.

"Pah! Ada seseorang yang aku aku kenalkan sama papah!" Ucap Sasya ketika mereka sampai di tempat Arman Setiawan berada.

Arman yang melihat putri semata wayangnya datang bersama seorang Pemuda tampak terkejut.

Itu karena jarang sekali ia akan memperkenalkan seorang pemuda padanya.

Bukan karena Sasya tidak punya banyak kenalan laki-laki, tapi karena Sasya terbiasa hanya mempermainkan laki-laki kemudian ia buang setelah Sasya bosan.

"Ini siapa?!" Tanya Arman Setiawan sambil melirik ke arah Wawan.

Salam hati, Arman Setiawan merasa agak kagum dengan penampilan Wawan yang tidak hanya tampan tapi juga berwibawa.

"Ini Wawan, pah. Ia tamu di sini dan karena ia kelihatan menarik jadi aku kenalkan sama papah!" Sambil tersenyum ia menjelaskan tentang Wawan yang baru ia temui itu.

Sejenak Arman Setiawan diam untuk mengamati Wawan yang sekarang sedang berdiri diam dengan wajah datarnya.

Dalam hati Arman Setiawan... 'Hm... Anak ini memang kelihatan menarik.'

'Tidak banyak orang yang akan tetep berdiri diam dengan wajah datar ketika berdiri di hadapan orang yang lebih kaya darinya.'

"Jadi, kamu ini anak siapa?!" Tanya Arman Setiawan dengan nada yang lebih lembut.

Seakan-akan ia telah menunjukan kalau ia tertarik dengan anak muda yang ada di hadapannya itu.

Dan perilaku Arman Setiawan itu di sadari teman-temannya hingga membuat mereka juga penasaran pada sosok Wawan.

"Orang tua saya telah meninggal lama sekali. Kalaupun saya sebutkan anda juga tidak akan tau!" Jelas lah.

Mana mungkin Arman Setiawan akan tahu orang tua Wawan sedangkan mereka bukan kenalan sama sekali.

"Begitu, ya... Kenalanku memang banyak dan tidak semuanya aku ingat!"

"Bahkan, orang-orang yang ada di sini sebagian besarnya aku tidak tahu meskipun mereka semua adalah tamuku!"

"Kalaupun ada orang asing yang ikut nimbrung di sini aku juga tidak akan sadar!" Dan orang asing itu adalah Wawan sendiri.

"Ngomong-ngomong. Usaha apa yang sedang kamu jalankan sekarang ini?!" Wawan pun pank dalam hatinya.

Ia hanya seorang agen biasa, ia tidak punya perusahaan apapun di sini.

'Waduh... Aku harus jawab apa ini?!...'

1
Ai_Li
Saya mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!