"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Menanam di Tanah yang Kering
Aroma obat-obatan yang tajam dan pengap langsung menyambut Hana begitu ia melangkah melewati pintu otomatis rumah sakit pusat kota itu. Suasana di sini sangat kontras dengan kehangatan kayu dan aroma kopi di "Ruang Temu". Di sini, segalanya terasa putih, dingin, dan steril—seperti kehidupan Hana sepuluh tahun yang lalu.
Hana berjalan menyusuri lorong panjang Kelas III. Tidak ada lagi kamar VIP dengan sofa kulit dan pemandangan taman yang dulu biasa dipesan Aris untuk ibunya. Kini, Mama Sarah terbaring di sebuah bangsal yang hanya dibatasi oleh tirai kain tipis berwarna hijau pudar.
Hana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Di sampingnya, Raka menggenggam jemarinya sebentar sebelum melepaskannya. "Aku tunggu di kursi depan, Na. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saja," bisik Raka dengan tatapan yang memberikan kekuatan.
Hana mengangguk, lalu perlahan menyibak tirai itu.
Di atas ranjang besi yang sedikit berkarat, sosok wanita yang dulu selalu tampak megah dengan perhiasan berlian dan tas kulit buaya itu kini tampak begitu kecil. Mama Sarah terlihat sangat pucat, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini memutih di bagian akar dan berantakan. Matanya terpejam, namun napasnya terdengar berat dan pendek.
"Ma..." suara Hana hampir tidak terdengar.
Kelopak mata Mama Sarah bergerak perlahan, lalu terbuka. Butuh beberapa detik bagi wanita tua itu untuk mengenali siapa yang berdiri di hadapannya. Begitu ia menyadari itu adalah Hana, air mata langsung menggenang di sudut matanya yang keriput.
"Hana... kamu... kamu benar datang?" suara Mama Sarah serak, nyaris menyerupai bisikan yang putus-putus.
Hana duduk di kursi plastik di samping ranjang. Ia tidak meraih tangan mantan mertuanya itu, namun ia juga tidak menunjukkan kebencian. "Maya bilang Mama terus menanyakan saya. Bagaimana keadaan Mama sekarang?"
Mama Sarah terisak, tangannya yang kurus gemetar mencoba meraih ujung blazer Hana. "Maafkan Mama, Hana... Maafkan Mama. Mama baru sadar, setelah semua orang meninggalkan kami, setelah rumah itu disita, dan Aris di penjara... hanya kamu yang masih mengirimkan makanan dan obat-obatan setiap bulan. Teman-teman arisan Mama... tidak satu pun yang datang saat Mama jatuh."
Hana menatap pemandangan menyedihkan di depannya. Ada rasa perih yang sempat menyelinap, namun itu bukan rasa rindu, melainkan rasa iba melihat keangkuhan yang akhirnya hancur lebur oleh kenyataan.
"Saya melakukan itu karena saya manusia, Ma. Bukan karena saya ingin kembali menjadi bagian dari keluarga kalian," ujar Hana dengan nada yang sangat tenang dan terkontrol. "Saya sudah memaafkan Mama sejak lama, demi kedamaian batin saya sendiri. Tapi memaafkan tidak berarti saya melupakan bagaimana Mama memperlakukan saya seperti barang pajangan yang tidak punya suara."
"Mama tahu... Mama salah. Mama terlalu memanjakan Aris, Mama terlalu memikirkan apa kata orang..." Mama Sarah terbatuk kecil, wajahnya meringis menahan sakit di dadanya. "Sekarang Mama tidak punya siapa-siapa. Aris... dia bahkan tidak bisa menjengukku. Hana, bisakah kamu bicara pada pengacaramu? Tolong keluarkan Aris... Mama takut tidak punya waktu lagi untuk melihatnya."
Hana memejamkan mata sejenak, lalu menggeleng pelan. "Ma, soal hukum itu bukan ranah saya lagi. Aris harus mempertanggungjawabkan apa yang dia perbuat. Itu adalah satu-satunya cara agar dia benar-benar menjadi pria yang dewasa. Jika saya membantunya keluar sekarang, dia akan tetap menjadi pria yang sama yang menghancurkan hidupnya sendiri."
Mama Sarah menangis tersedu-sedu, namun kali ini Hana tidak goyah. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sini adalah untuk memberikan penutupan, bukan untuk menjadi penyelamat bagi mereka yang tidak mau belajar dari kesalahan.
"Saya akan memastikan biaya pengobatan Mama terpenuhi sampai Mama stabil," ucap Hana sambil berdiri. "Tapi itu batas terakhir yang bisa saya lakukan. Setelah ini, saya ingin Mama belajar untuk ikhlas dengan apa yang terjadi. Fokuslah pada kesehatan Mama."
Hana berbalik dan melangkah keluar dari balik tirai. Ia merasa langkahnya kini jauh lebih mantap. Bertemu dengan Mama Sarah adalah ujian terakhir untuk memastikan apakah ia masih bisa dimanipulasi oleh rasa bersalah. Dan ternyata, ia lulus. Ia tetap memiliki empati, namun ia sudah memiliki batasan yang sangat tegas.
Begitu keluar dari rumah sakit, udara luar terasa jauh lebih segar. Raka segera berdiri dan merangkul bahu Hana. "Bagaimana?"
"Melegakan, Ka. Aku menyadari bahwa aku tidak lagi memiliki ikatan emosional yang menyiksa dengan mereka. Aku hanya merasa kasihan, tapi tidak lebih," jawab Hana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Raka sejenak.
"Sekarang, mari kita fokus pada hal yang lebih penting," ajak Raka. "Rapat koperasi pertama kita dimulai satu jam lagi, bukan?"
Hana tersenyum cerah. "Ya! Aku tidak sabar bertemu dengan mereka."
Satu jam kemudian, di lantai dua "Ruang Temu", suasana sudah sangat hidup. Sekitar sepuluh wanita yang merupakan lulusan terbaik dari kelas literasi keuangan dan kreatif duduk melingkar. Di meja tengah, terdapat beberapa produk contoh: kerajinan tangan, paket kopi rumahan, dan desain pakaian yang unik.
Hana berdiri di depan mereka, namun kali ini ia memegang sebuah bagan organisasi yang berbeda.
"Ibu-ibu sekalian," buka Hana dengan semangat yang menular. "Selama ini 'Ruang Temu' adalah milik saya secara pribadi. Tapi hari ini, saya ingin memperkenalkan sistem Koperasi Pemberdayaan Wanita. Kita bukan lagi hanya sekadar komunitas belajar. Kita adalah mitra bisnis."
Para wanita itu saling pandang dengan binar mata penuh harap.
"Saya akan membuka cabang kedua di Jakarta Utara bulan depan," lanjut Hana. "Dan saya ingin cabang itu dikelola sepenuhnya oleh koperasi ini. Modal awal akan saya sediakan, namun kepemilikan sahamnya dibagi rata di antara kalian yang berkomitmen untuk mengelolanya. Kalian yang akan menentukan menu, kalian yang akan mengatur jadwal, dan kalian yang akan merasakan keuntungannya secara langsung."
Seorang wanita bernama Bu Endang, yang dulu merupakan korban PHK dan sempat putus asa, mengangkat tangan dengan gemetar. "Mbak Hana... apa kami sanggup? Kami ini hanya orang-orang yang dulu hampir menyerah pada hidup."
Hana menghampiri Bu Endang dan memegang bahunya dengan hangat. "Dulu saya juga wanita yang hampir menyerah, Bu. Saya bahkan tidak punya uang untuk membeli makan siang saya sendiri saat pertama kali keluar dari rumah besar itu. Tapi lihat kita sekarang. Kita punya kekuatan kolektif. Kita akan saling menjaga. Jika satu dari kita jatuh, yang lain akan menariknya ke atas. Itulah inti dari koperasi ini."
Diskusi berlanjut dengan sangat teknis namun penuh gairah. Mereka mulai menghitung estimasi biaya, merancang menu unik untuk cabang baru, dan mendiskusikan bagaimana cara merekrut wanita-wanita lain yang bernasib sama untuk menjadi staf di sana.
Raka, yang duduk di pojok ruangan sambil mencatat kebutuhan furnitur untuk cabang baru, merasa sangat terenyuh. Ia melihat Hana bukan lagi sebagai wanita yang butuh dilindungi, melainkan sebagai seorang pemimpin sejati. Hana telah mengubah rasa sakitnya menjadi sebuah gerakan sosial yang nyata.
Malam itu, setelah semua peserta rapat pulang dengan wajah penuh harapan, Hana dan Raka tetap berada di kafe untuk merapikan sisa-sisa pertemuan. Keheningan malam itu terasa sangat syahdu, ditemani suara jangkrik dari taman belakang.
"Na," panggil Raka saat mereka sedang mencuci gelas di belakang bar.
"Ya, Ka?"
"Aku sudah menyelesaikan pesanan meja-meja untuk cabang baru itu dalam pikiranku," Raka tersenyum tipis. "Tapi ada satu hal lagi yang ingin aku selesaikan."
Raka meletakkan lap tangannya, lalu merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang ia buat sendiri dengan ukiran yang sangat halus. Saat ia membukanya, sebuah cincin emas dengan permata kecil yang bersinar lembut tampak di dalamnya.
Hana tertegun, tangannya yang masih basah berhenti bergerak.
"Aku tahu kita sudah melewati banyak hal," suara Raka terdengar sangat tulus dan dalam. "Aku tahu kamu baru saja mendapatkan kebebasanmu kembali dan aku tidak ingin mengekangmu. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa dalam setiap rencana masa depan yang aku tulis, namamu selalu ada di sana sebagai pusatnya. Aku ingin menjadi pasangan yang berjalan di sampingmu, bukan di depanmu untuk mengatur, atau di belakangmu untuk membebani. Maukah kamu membangun sisa hidupmu bersamaku?"
Air mata Hana menetes, namun kali ini air mata itu terasa sangat manis. Ia teringat sepuluh tahun pernikahannya dengan Aris, di mana cincin kawinnya terasa seperti borgol emas. Tapi cincin di tangan Raka ini... cincin ini terasa seperti janji akan persahabatan dan dukungan yang abadi.
Hana mengangguk pelan, senyumnya merekah indah. "Ya, Raka. Aku mau. Karena bersamamu, aku tidak perlu pura-pura menjadi orang lain. Bersamamu, aku adalah Hana yang utuh."
Raka menyematkan cincin itu di jari manis Hana. Tidak ada kemewahan berlebih, tidak ada saksi kamera atau sorot lampu. Hanya ada mereka berdua, aroma kopi, dan janji yang tulus di bawah remang lampu kafe.