NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Impian Siman Terwujud

Hingga tiba saatnya, Siman mengarahkan angkot sewaannya itu berhenti di depan sebuah rumah kecil. Mungil, bersih, dan asri. Bau bunga melati yang Siman ceritakan kepada Murni tercium samar. Terasnya lumayan luas. Bahkan di situ Siman melihat tetangga baru Siman sedang tersenyum ramah.

"Man... ini rumah siapa?" Ibu Siman berbisik, matanya membesar karena tak percaya. Raut wajahnya dipenuhi rasa kagum. Beliau seperti melihat istana kecil yang Siman sewa itu. Itu hal mustahil.

"Rumah kita, Bu," jawab Siman, suaranya tenang, namun dadanya bergemuruh menahan emosi. Ia membuka pagar kayu, mempersilakan kedua orang tuanya masuk.

Ibu Siman melangkah perlahan, matanya menyapu setiap sudut rumah. Dinding-dindingnya dicat warna krem terang, jendela kaca yang bersih, dan lantai keramik yang sejuk. Tidak ada lagi celah-celah untuk tikus berlalu-lalang, tidak ada lagi retakan. Dan yang terpenting, tidak ada suara kereta yang menusuk telinga, atau bau oli bekas. Itu seperti istana. Tempat yang selalu Ibu Siman impi-impikan.

"Ya, Allah, Siman... ini... ini rumah kita?" bisik Ibu Siman, tangannya menutup mulutnya, menahan isak tangis yang mulai menyeruak. Bapak Siman juga tampak terpaku, matanya beredar, dan senyum tipis, bangga, tak bisa lagi ia sembunyikan. Keringat yang berlimpah di dahi Siman sudah membuatnya merasa jauh lebih baik. Lebih sejuk dan menenangkan. Perasaan gembira Murni yang pernah Siman berikan padanya kembali.

Siman mengangguk. "Iya, Bu. Siman sewakan setahun. Ini jauh dari rel, udaranya bersih. Dan Ibu nggak perlu cemas sama suara kereta lagi." Suaranya tercekat. Kenangan-kenangan pahit saat ancaman penggusuran datang, saat ibunya cemas akan masa depan mereka, semuanya sirna digantikan kebahagiaan ini.

Ibu Siman memeluk anaknya erat. Kali ini, air matanya tak terbendung. "Terima kasih, Nak. Ibu... Ibu nggak tahu harus bilang apa. Kamu... kamu sudah melakukan segalanya buat Ibu sama Bapak." Pelukannya itu begitu erat, melebihi semua kasih sayang Siman. Itu sebuah pilar. Siman bersyukur akiknya tidak lepas dari tangannya.

Bapak Siman mendekat, menepuk bahu Siman, air mata mengalir dari mata tuanya. "Kamu memang hebat, Man. Bapak bangga sekali sama kamu."

Seketika itu juga, rasa sesak yang bertahun-tahun Siman pendam, karena ketidakmampuannya, karena rasa mindernya, dan kehinaan dari orang-orang seperti Dina, seolah lepas. Terhapus oleh air mata bangga kedua orang tuanya. Ini adalah kemenangannya, jauh lebih berarti daripada proyek-proyek besar.

Mereka kembali ke rumah lama, tapi kali ini dengan semangat baru. Proses pindahan berlangsung cepat, dibantu oleh Murni dan beberapa tetangga yang tampak kagum dengan "rezeki" yang mendadak Siman dapatkan. Mengosongkan rumah lama memang tidak mudah. Ada kenangan yang Siman lepaskan di setiap sudut, setiap dinding yang penuh coretan, dan setiap paku berkarat yang menjadi saksi bisu masa kecilnya. Ada juga momen saat ia menemukan goresan kecil di salah satu kusen kayu—sebuah kenangan masa kecil Murni.

"Ah, Murni kecil pernah menggambar bunga di sini, ya," gumam Siman, mengusap goresan itu. Murni tersenyum, "Iya, itu waktu kita janji mau membangun rumah pohon. Tapi tidak pernah kesampaian." Ada melodi kehangatan di dalamnya, melodi pahit yang mengingatkannya akan kenangan di situ.

"Sekarang kita sudah punya rumah. Nanti kita bisa bikin rumah pohon, Man." Murni membalasnya dengan ucapan lembut, menenangkan Siman yang seolah tenggelam dalam lautan nostalgia. Ia menggenggam erat tangan Siman, mengalirkan kekuatan tanpa kata.

Saat koper dan perabotan seadanya diangkut, Siman melirik rel kereta. Sebuah kereta melaju di kejauhan, bunyinya sudah tidak memekakkan lagi. Ada rasa haru. Kini Siman tidak lagi tinggal di situ. Dia akan jauh lebih kuat. Dia tidak lagi takut dengan suara kereta itu, ia malah rindu.

Sore itu, di teras rumah baru, Siman dan keluarganya menikmati udara yang lebih segar. Matahari perlahan terbenam, mewarnai langit dengan spektrum oranye yang menenangkan. Ibu Siman tersenyum sambil memandangi bunga melati di halaman. Bapak Siman duduk di sampingnya, tatapannya menyiratkan kedamaian yang Siman tak pernah lihat sebelumnya. Itu semua berasal dari keberanian Siman. Siman menyandarkan badannya ke tiang, matanya menerawang. Menggosok akiknya yang memancarkan ketenangan.

Akik itu terasa tenang, seperti lautan damai yang telah dilewatinya. Ini semua... bukan hanya tentang kekuatan akik. Tapi tentang kerja keras dan kepercayaan dari orang-orang yang tulus mendukungnya.

"Akhirnya, semua janji terbayar, ya, Man?" Murni, entah dari mana, tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, dengan secangkir kopi hitam dan biskuit. Ia menyodorkan salah satunya pada Siman.

"Iya, Mur." Siman mengangguk. "Tapi ada satu janji lagi yang belum kutepati, padamu, dan... untuk seseorang di masa lalu." Siman menoleh, tatapannya lekat ke Murni, kemudian pandangannya beralih ke kejauhan, ke arah kota tempat Dina berkeliaran.

Murni mengikuti arah pandang Siman, ada kilatan di matanya. "Maksudmu...?"

*

Dua bulan telah berlalu. Setelah keluarga Siman berpindah ke rumah sewaan mereka yang baru, kehidupan memang berjalan layaknya skenario yang ia dambakan selama ini. Akik Creative Studio bukan lagi sekadar impian atau studio kecil di pojok usaha fotokopi Pak Hartoko. Dengan dukungan tak putus dari Bapak Trisno, proyek demi proyek besar berhasil ia rampungkan dengan gemilang. Kantornya kini terbilang mewah, dihiasi meja kayu mahoni besar dengan dua komputer Mac keluaran terbaru dan interior minimalis, jauh dari bising rel kereta, jauh dari deru mesin dan aroma oli yang selama ini menyelimuti dirinya.

Siang ini, Siman tidak berada di kantornya yang serba modern. Ia duduk di sebuah kedai kopi ternama di bilangan Jakarta Selatan, "Lalu Coffee Roasters", yang sibuk namun elegan. Aroma kopi arabika panggang berpadu apik dengan wangi kue-kue premium, mengisi udara. Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya, rapi dengan setelan jas mahal, senyum ramahnya terukir tipis. Bapak Harsono, pemilik salah satu butik terbesar di pusat perbelanjaan. Ini adalah proyek kesekiannya setelah Siman mendapatkan proyek dari Bapak Trisno.

"Jadi, Pak Siman. Bagaimana menurut Anda untuk kampanye koleksi musim gugur ini? Apakah warna tanah liat yang kita sepakati sudah cukup?" Bapak Harsono menghela napas. Dia memang memercayai Siman, namun ada kekhawatiran karena usia Siman masih terbilang muda.

Siman menyesap kopi Americano di cangkirnya, tatapannya lekat pada Bapak Harsono, tidak goyah. Jari manis kirinya, yang kini dibalut akik biru laut, terasa hangat. Rasa tenang yang selalu ia rasakan kini seperti bantal yang nyaman. Ia belajar tidak lagi terlalu bergantung pada akiknya, namun keberadaan benda itu tetap memberinya semacam sandaran, semacam kepercayaan diri yang mendalam.

"Warna tanah liat memang memberikan kesan hangat dan autentik, Pak Harsono," Siman memulai, suaranya tenang, penuh keyakinan. Bahasa tubuhnya, gestur tangannya yang memegang pena dengan luwes, semuanya menunjukkan profesionalisme yang jauh berbeda dari Siman yang dulu gampang gugup. "Namun, untuk koleksi musim gugur, apalagi jika kita menargetkan pasar milenial yang peduli dengan sustainability, kita perlu menambahkan sentuhan warna hijau zamrud di beberapa aksen digital. Ini akan memperkuat citra bahwa butik Bapak juga ramah lingkungan dan alami."

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!