NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Jantung Arga berdegup kencang, tetapi wajahnya tetap sedatar tembok.

“Mangkuk kotor begini mau dijual? Berapa harganya?” tanya Tiara ketus tanpa minat.

Yuda mengambil mangkuk itu, pura-pura mengamati dengan saksama. Kilatan licik melintas di matanya sebelum ia bertanya, “Bapak mau lepas berapa?”

“Kata bapak saya, ini pusaka turun-temurun. Kami tidak akan jual kurang dari 3 juta,” jawab si pria paruh baya.

“Gila! 3 juta? 3 ribu pun aku ogah beli barang rongsokan ini!” bentak Rendi.

Wajah pria itu langsung memerah karena tersinggung. Ia segera membungkus kembali mangkuknya dan hendak berbalik pergi. Yuda buru-buru menahannya sambil memasang senyum ramah.

“Sabar, Pak. Jangan emosi. Saya akui ini memang barang tua, mungkin peninggalan kerajaan lama.”

Ekspresi pria itu sedikit melunak.

“Tapi jujur saja, ini cuma peralatan makan rakyat jelata zaman dulu. Harga pasarnya mentok di 3 juta. Saya kasih 2 juta tunai sekarang, anggap saja saya ambil untung sedikit. Bagaimana?”

“Tapi ini...” pria itu ragu.

“Kalau Bapak merasa kerendahan, silakan tanya ke toko lain. Lihat saja apa ada yang berani kasih lebih tinggi dari harga saya,” tekan Yuda dengan nada meremehkan.

Pria itu tampak goyah dan hampir mengangguk setuju. Namun, sebuah suara tenang namun tegas terdengar dari arah belakang.

“Pak, mangkuk itu saya beli seharga 3 juta tunai!”

​Mendengar ucapan itu, Rendi tak kuasa menahan tawa mengejek.

​“Arga, kamu punya 3 juta? Mimpi di siang bolong ya?”

​Yuda Perdana mencibir dengan penuh penghinaan. Dalam pandangannya, Arga pasti sengaja membual demi menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur di depan mantan kekasihnya.

​Dengan nada tidak sabar, Yuda berkata, “Kenapa kamu tidak pergi saja? Aku sedang berbisnis dan tidak punya waktu meladeni omong kosong gembel sepertimu!”

​Bu Lastri menambahkan dengan nada lebih meremehkan, “Lihat dirimu, kekanak-kanakan sekali! Demi menarik perhatian keluarga kami, kamu sampai pakai trik murahan begini. Mau pamer kok tanggung?”

​Tiara memutar bola matanya, wajahnya penuh rasa jijik. “Arga, aku mohon, jangan mempermalukan dirimu sendiri di sini, bisa? Kita sudah putus, putus, putus! Kamu tidak mengerti bahasa manusia, ya?”

​Pria paruh baya pemilik mangkuk itu menatap Arga dengan ekspresi aneh, lalu berkata tidak sabar, “Mas, saya ini sedang butuh uang cepat buat biaya berobat Ibu di kampung. Tolong jangan main-main.”

​“Pak, saya tidak bercanda. Saya sungguh ingin membeli mangkuk itu,” jawab Arga dengan sangat tenang.

​“Kalau begitu, berani bayar berapa?”

​“Bukankah Bapak tadi minta 3 juta? Saya ambil, tidak pakai tawar.”

​Alis Yuda Perdana berkerut tipis. Apa mungkin orang ini benar-benar punya uang sebanyak itu? Demi mencegah barang itu lepas, Yuda segera bersuara lantang.

​“Pak, jelas dia cuma mau mengacau. Begini saja, demi niat baik Bapak buat orang tua, saya tambah 500 ribu. Jadi 2,5 juta. Tunai! Bagaimana?”

​Tiara berbisik pelan, “Mas Yuda, apa mangkuk kusam itu benar-benar ada harganya?”

​Yuda membalas dengan suara rendah, “Seharusnya bisa laku 4 juta. Kalau hoki, 5 juta pun tembus di tangan kolektor Jakarta.”

​Pria paruh baya itu tampak ragu. Tiara segera menyambar dengan senyum manis, “Pak, pria itu mantan pacar saya. Saya putusin karena dia pengangguran, sekarang dia sengaja mau cari gara-gara sama pacar saya yang sekarang. Dia itu miskin, Pak. Kami putus saja gara-gara dia tidak mampu bayar mahar.”

​“Oalah... begitu ya. Ya sudah, saya jual ke Bos saja,” pria itu menghela napas, lalu hendak menyerahkan mangkuknya ke Yuda.

​“Siapa bilang saya tidak punya uang?”

​BRAK!

​Arga menghantamkan tas ranselnya ke atas meja etalase kaca.

​“Pak, ini 3 juta.”

​Semua orang tertegun.

​“Pfft—hahaha!” Rendi menunjuk Arga sambil tertawa terbahak-bahak. “Kamu bercanda ya? Bawa tas isi batu bata terus ngaku isinya duit? Kalau benar di dalam tas itu ada 3 juta, aku bakal sujud dan panggil kamu Kakek!”

​Yuda mengangkat bahu, senyum mengejek menghiasi wajahnya. “Mas, mempermainkan orang tua itu tidak baik, lho.”

​Tiara semakin jijik. “Kalau kamu punya 3 juta, mana mungkin kamu kemarin tidak mampu bayar mahar? Pergi sana! Jangan ganggu rezeki orang!”

​Tanpa sepatah kata pun, Arga menarik resleting ranselnya. Di hadapan mereka semua, ia membalikkan tas itu dan mengguncangnya dengan kuat.

​Wuuuusshhh!

​Tumpukan uang kertas merah bergambar Soekarno-Hatta menyembur keluar, menutupi meja dan sebagian lantai toko! Suasana seketika hening. Di mata mereka hanya terpantul warna merah uang kertas seratus ribuan.

​3 juta tunai. Di tahun 2000, jumlah itu setara dengan harga motor baru atau gaji setahun buruh pabrik. Sangat mencolok!

​“Dia... benar-benar punya... 3 juta?!” mata Tiara membelalak, suaranya nyaris hilang.

​Jantung pria paruh baya itu berdegup kencang. Seumur hidup, ia belum pernah melihat uang sebanyak ini dalam bentuk tunai. “Ini... uang asli, Mas?”

​“Ada Bank BCA di sebelah. Kita setor langsung ke rekening Bapak, setelah itu mangkuknya jadi milik saya,” kata Arga.

​Mendengar tawaran itu, si pria paruh baya langsung mengangguk mantap. “Setuju! Saya jual ke Mas saja!”

​“Hei, tunggu! Jangan pergi!” Yuda panik. Peluang untung besar di depan matanya hampir terbang. “Oke, saya tambah 100 ribu lagi! Jadi 2,6 juta! Jual ke saya!”

​“Bos kira saya bodoh? Masa saya tolak 3 juta demi 2,6 juta?” balas pria itu sinis.

​Keduanya segera menuju bank, dan transaksi selesai dalam sekejap. Saat Arga keluar dari bank sambil memegang mangkuk tanah liat itu, keluarga Tiara sudah menghadangnya di trotoar.

​Dengan ekspresi dingin, Arga menatap mantan calon adik iparnya. “Rendi, silakan sujud dan panggil aku Kakek. Tapi maaf, aku tidak sudi punya cucu durhaka sepertimu.”

​Wajah Rendi memerah padam. Ia mengepalkan tinju dan membentak, “Katakan! Dari mana kamu dapat uang itu? Kemarin bilang tidak punya uang buat mahar, sekarang malah hamburkan 3 juta buat mangkuk rongsokan?!”

​“Apa hakmu tanya-tanya? Memangnya kamu siapa?” balas Arga datar.

​“Pasti kamu curi uang santunan Bapakmu, kan?!” teriak Rendi kalap. “Kamu tega pakai uang operasi Bapakmu cuma buat beli mangkuk kotor ini? Kamu gila, Arga!”

​Tiara menggeleng tidak percaya. “Arga, apa kamu masih bocah? Cuma demi buat aku kesal, kamu sampai pakai uang mahar yang harusnya buat aku untuk beli sampah ini?”

Arga memutar bola matanya, malas meladeni logika terbalik mereka. Ia hendak berbalik pergi.

​“Tunggu!” Tiara menghadang langkahnya. “Arga, berikan mangkuk itu padaku! Anggap saja itu uang ganti rugi karena kamu sudah buang-buang masa mudaku!”

1
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!