"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dara masih tertegun saat Rafa memintanya untuk memanggil 'Mas'.
"Ayo coba panggil saya Mas Rafa," ujar Rafa.
'Ini dia kenapa? Kok makin ke sini makin aneh aja orangnya. Apa dia bener-bener mau coba jalanin hubungan ini?' Dara membatin, dia jelas heran dengan perubahan sikap Rafa padanya.
"Kenapa diem aja, hm?"
"Emmm ... Kan di sekolah juga panggilnya Pak Rafa," sahut Dara.
"Ini di rumah, bukan di
sekolah, Dara ...."
Dara memejamkan matanya, dia malah dibuat gagal fokus pada aroma tubuh sang suami. Benar kata Rafa, tidak ada bau sedikit pun. Yang ada kok dia malah suka sama aroma maskulin dari keringat yang bercampur sama parfum.
"M-mas Rafa," cicit Dara.
"Apa? Saya gak dengar." Rafa mendekatkan telinganya.
"Mas Rafa," ucap Dara masih dengan suara pelan.
"Agak keras dong."
"Ish. Mas Rafa!" Dara akhirnya berkata dengan agak keras dan pas di kuping Rafa.
Rafa tersenyum tipis. Dia kini malah semakin mendekatkan wajahnya dan Dara langsung memejamkan mata.
'Ya ampun ... apa dia bakal nyium gue?' batin Dara menjerit dalam hati.
'Dia pasti mengira aku akan menciumnya. Dasar gadis kecil.' Rafa pun bicara dalam hatinya.
Rafa menjauhkan tubuhnya, dia berdiri tegak dan memasukkan kedua tangan ke saku celana training yang dipakainya.
"Saya mau mandi dulu. Kamu mau nunggu di kamar saya? Silahkan," kata Rafa.
Dara membuka mata dan ikut
berdiri tegak. Dia membenarkan letak kacamata yang dipakainya. "Enggak. Aku tunggu di sofa sana aja!" tunjuknya ke arah sofa ada di sebelah kamar Rafa.
Dara pikir, akan sangat tidak aman untuknya nanti kalau tiba-tiba Rafa keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang.
Dara menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba memenuhi kepalanya.
'Astaga ... ada apa denganku? Mengapa aku jadi me-sum begini?'
Rafa menganggukkan kepalanya. "Ya sudah."
Setelah menyimpan buku di atas meja, Dara memutuskan untuk membuat minuman coklat hangat dulu ke dapur.
Tidak hanya membuat satu, Dara membuat untuk suaminya juga. Entah bakal diminum atau tidak, yang penting dia sudah berbaik hati membuatkan minuman untuk suaminya itu.
Dara duduk sambil bermain ponsel. Dia menonton video-video reels yang menayangkan idol k-pop. Tersenyum, tertawa bahkan sampai tidak sadar kalau Rafa sudah berdiri di sampingnya. Memperhatikan apa yang ditonton oleh istrinya itu.
"Ck. Gak ada faedahnya nonton begituan!" celetuk Rafa yang kemudian duduk di sebelah Dara.
"Eh, jangan salah. Bagi kami kaum perempuan, menonton video berisi pria-pria tampan itu katanya bisa meningkatkan mood baik," balas Dara.
Rafa langsung menatap tajam tapi istrinya itu malah tertawa. "Apa saya kurang tampan? Saya gak masalah kok kamu mau ngeliatin saya sampai kamu bosan juga," ucapnya.
Glek!
Dara langsung dibuat menelan ludah karena kembali melihat wajah tampan Rafa dari jarak
dekat. Iya, suaminya memang tampan. Malah sangat tampan.
Dara mengalihkan tatapannya. Dia menyimpan ponsel dan mulai membuka buku tugas dengan perasaan gugup. Bahkan pensil yang dia bawa saja sampai jatuh.
Rafa kembali tersenyum saat melihat Dara yang gugup dan salah tingkah. Senang sekali membuat istri kecilnya seperti itu.
"Eh, tadi aku buatin coklat hangat," ucap Dara sambil menunjuk ke arah mug warna hitam yang ada di atas meja.
Rafa mengambil mug tersebut dan meminum coklat hangatnya. "Emm ... pas. Gak kemanisan.
Kamu pinter bikin apa pun."
Dara tersenyum senang mendengar pujian Rafa. Senyum yang langsung dia sembunyikan saat Rafa melanjutkan ucapannya.
"Termasuk pinter bikin saya yang awalnya kesel jadi suka sama kamu," ucap Rafa.
Bisa Rafa lihat kedu pipi Dara yang memerah. Dia kembali tersenyum saat Dara kembali memalingkan wajahnya.
Rafa baru sadar. Setelah lima tahun hidup penuh dengan kemuraman, dia juga jadi jarang tersenyum, sekarang jadi kembali terasa berwarna dan dia juga jadi sering tersenyum gara-gara Dara.
"Om-eh Mas Rafa gombal terus perasaan dari tadi. PRku gak beres-beres jadinya ini." Dara mencoba mengalihkan perhatian. Jantungnya sudah tidak aman karena berdetak cepat terus dari tadi.
Rafa akhirnya tertawa. Dia menghentikan tawanya saat Dara memberengutkan wajahnya.
"Maaf. Sini mana bukunya. Saya bantu terangin lagi materi yang tadi," ucap Rafa.
Rafa mengambil buku pelajaran milik Dara. Dia menjelaskan ulang bagian yang tidak dimengerti oleh istri kecilnya itu.
"Sudah paham, 'kan sekarang? Ayo kerjain, saya tungguin." Rafa menggeser buku tersebut dan dia sendiri langsung bersandar ke sofa.
Dara malah menatap Rafa dengan tatapan mengiba, membuat Rafa mengerutkan keningnya karena bingung. "Ada apa? Kamu masih belum ngerti?" tanyanya.
"Bisa dong dikit aja bantu aku kasih jawabannya langsung," jawab Dara.
Tuk!
"Aww! Iiih. Nanti keningku benjol gimana?" Dara mengomel sambil mengusap kening yang kembali diketuk oleh Rafa.
"Mau manfaatin kesempatan dalam kesempitan, iya? Gak ada. Kamu kerjain sendiri, saya tungguin," ujar Rafa kembali menyeruput coklat yang sudah hangat kuku di gelasnya.
Dara memanyunkan bibirnya. Dia rasanya malas belajar dan ngerjain PR malam ini. "Sama istri sendiri aja gak ada toleransi," gumamnya.
"Jangan manyun begitu bibirnya. Apalagi di depan pria lain," ucap Rafa.
"Tarungin!"
"Saya bilang jangan!" kekeh Rafa.
"Emang kenapa sih? Nih!" Dara malah sengaja memanyunkan bibirnya ke arah Rafa, bahkan dia
sampai memejamkan matanya.
Rafa menelan ludahnya kasar. Ingin rasanya dia mencium bibir tipis dan menggoda milik istrinya itu.
'Kamu bahkan boleh melakukan lebih dari hal yang sedang kamu inginkan sekarang, Rafa!' batinnya.
Cup!
Rafa mengecup bibir Dara yang sedang manyun itu. Dara melotot dan langsung menutup mulutnya saat Rafa menjauhkan wajahnya.
"Itu yang bakal saya lakuin kalau bibir kamu manyun begitu. Makanya jangan kayak gitu apalagi kalau di depan pria lain," ujar Rafa
dengan raut wajah tidak bersalah.
Sedangkan Dara. Dia memegang dadanya yang berdebar kencang karena perlakuan Rafa barusan.
'Ya ampun Dara! Kalau kayak gini caranya, lama kelamaan lo bisa punya penyakit jantung!' jeritnya dalam hati.
"Ayo kerjain!" titah Rafa. Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Menurut, Dara pun mengambil pensil dan mulai mengerjakan PR-nya.
Beberapa menit kemudian, Dara menegakkan tubuhnya. Dia menyerahkan buku itu pada Rafa
yang masih setia menunggunya.
"Udah selesai. Coba periksa, bener apa enggak?"
"Ya sudah. Besok saya periksa," jawab Rafa.
"Kok besok? Gak sekarang aja? Biar kalau salah bisa aku benerin," sahut Dara kemudian kembali menutup keningnya dengan kedua tangan, takut Rafa akan mengetuknya lagi.
Rafa tertawa pelan. "Gak ada, nanti ya paling nilai kamu di bawah 0," ucapnya.
Kedua bahu Dara melemah. Sulit sekali membujuk suaminya itu. Rafa tetap tegas bahkan di rumah sekali pun kalau masalah
pelajaran.
Tiba-tiba ponsel Dara yang ada di atas meja bergetar. Tertera MySuperHero yang artinya adalah Ayah Aldi yang menghubungi.
Dara menolak panggilan itu dan membalik ponselnya. Dia masih marah karena sang ayah ternyata masih suka bermain wanita di belakang ibunya.
Sejak tadi, yang membuat Dara kesulitan konsentrasi belajar juga ayah dan ibunya yang terus menghubungi.
"Mau cerita?" tanya Rafa.
Dara menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Saya suami kamu. Kamu juga
bisa anggap saya sahabat kamu. Jangan pendem semuanya sendiri, kamu boleh cerita apa pun sama saya, Dara."
Dara menatap wajah Rafa, dan bisa Rafa lihat kalau kedua mata Dara nampak berkaca-kaca dibalik kacamata besar yang digunakan olehnya itu.
"Aku hanya kecewa sama ayah. Kenapa ayah gak berubah? Kasian juga sama ibu dan aku sebagai anak gak bisa ngelakuin apa pun. Karena pada kenyataannya ucapan aku ke ayah pun udah kayak dianggap angin lalu. Ayah gak sayang sama aku." Dara mulai terisak. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dara juga membiarkan saja Rafa memeluknya. Rafa mengusap punggungnya dengan lembut. Karena memang dirasa dia sangat membutuhkan sandaran sekarang.
"Saya tau ini mungkin sulit untuk kamu. Kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Jangan salahkan dirimu. Terkadang, orang dewasa juga butuh waktu untuk menyadari kesalahan mereka. Kamu harus percaya, suatu saat nanti ayah akan sadar dan memperbaiki diri."
Masih dipelukan Rafa, Dara menggelengkan kepalanya. "Katanya selingkuh itu penyakit, bukan khilaf atau semacamnya. Apalagi dilakuin berulang-ulang. Bakal susah sembuhnya. Ayah juga
kayaknya bakal kayak gitu. Apa aku suruh ibu buat cerai aja sama ayah?"
"Hus. Jangan memberikan saran yang mungkin bakal kamu sesali nantinya," balas Rafa.
"Kamu tahu, katanya ada 3 wanita yang doanya sangat mustajab, doa seorang ibu untuk anaknya, doa seorang anak perempuan untuk ayahnya, juga doa seorang istri untuk suaminya. Sebagai seorang anak perempuan, apalagi satu-satunya, kamu terus aja doain ayah supaya segera disadarkan hatinya," ucap Rafa memberi nasehat.
Dara diam. Meski masih sedih, setidaknya dia merasa bebannya sedikit berkurang setelah berbagi dan mendengarkan nasehat dari Rafa.
Sedangkan di kediamannya, Erina dan Aldi tidur di kamar yang berbeda. Lebih tepatnya Erina yang tidak mengizinkan suaminya itu untuk tidur bersamanya.
Aldi sudah minta maaf, tapi mungkin kesalahannya sudah terlalu sering dan Erina mulai lelah padanya.
Aldi duduk di sofa, hatinya berdenyut nyeri saat panggilan telepon ditolak oleh putrinya sendiri. Putri semata wayangnya.
"Maafkan ayah, Dara. Maafkan ayah," gumam Aldi.
Ucapan Erina sejak tadi terasa memenuhi pikirannya. Sebagai seorang ayah, tentu dia tidak akan rela kalau nantinya Dara diperlakukan dengan tidak baik, bahkan hatinya disakiti oleh Rafa yang memilih untuk berselingkuh, sama seperti dirinya.
Katanya kelakuan dia yang sekarang bisa menjadi karma untuk keturunannya kelak dan dia tidak ingin Dara mengalami apa yang dialami oleh Erina.
Aldi membuka chat dengan wanita yang jadi selingkuhannya. Dia menuliskan dua kata yang mungkin akan membuat wanita itu murka nantinya.
Aldi sudah bertekad, dia akan
menghentikan kebiasaan buruknya. Erina tentu jauh lebih cantik dan menarik dari wanita yang jadi selingkuhannya sekarang.
Tapi hatinya saja yang seolah buta dan mudah tergoda oleh wanita lain.
Besoknya, Rafa membantu Dara membuat sarapan. Meski hanya melihat saja tentunya.
"Udah. Tunggu aja di sana, ngapain di sini juga cuman bantu ngeliatin doang!" usir Dara.
"Setidaknya saya bisa menjadi semangat untuk kamu," jawab Rafa yang entah mengapa jadi semakin narsis menurut Dara.
'Mungkin itu sifat aslinya,' batin Dara.
Cup!
Rafa mencuri kecupan di pipi Dara yang sebelah kiri. "Saya mandi dulu. Itu kecupan semangat dari saya," ucapnya kemudian pergi.
Dara langsung histeris tertahan karena perlakuan manis Rafa. "Ya Tuhan. Lama kelamaan aku bakal jatuh cinta sama suamiku sendiri kalau begini caranya!"
Mereka berangkat bersama lagi. Dara langsung menggunakan baju olahraga karena pelajaran pertama memang olahraga.
Dara sempat minta diturunkan
sebelum gerbang, tapi Rafa tidak menghiraukan ucapan istrinya itu.
Saat keluar dari mobil, Aiden langsung menghampirinya.
"Hai, selamat pagi," sapa Aiden dengan senyum ramahnya.
"H-hai." Dara membalas sapaan Aiden dengan canggung, sadar kalau sang suami ada di dekatnya.
"Selamat pagi, Pak Rafa." Aiden juga menyapa Rafa yang baru keluar dari mobil.
Rafa memberikan tatapan tajam pada Aiden yang dia tahu betul menaruh hati pada Dara. "Hm, pagi," balasnya dengan raut wajah jutek.
Dara menunduk, dia tahu Rafa
sedang kesal dan tidak suka dia dekat dengan Aiden atau pria lain. Dia melihat Bebi yang baru datang dan memanggil sahabatnya itu.
"Aku duluan ya, Aiden." Dara langsung berlari kecil menghampiri Bebi dan merangkul lengan sahabatnya itu.
"Tunggu!" seru Aiden.
"Mau ngapain kamu? Sana pergi ke kelas! Sekarang jam pelajaran saya, 'kan?" Rafa mencegah Aiden yang akan menyusul Dara. Dia tidak akan membiarkan siswa yang memiliki tampang rupawan itu mendekati istrinya.
"Tapi kan masih ada setengah jam lagi, Pak," sahut Aiden.
"Saya masuk lebih awal. Kasih tau teman-temanmu!" ujar Rafa kemudian berlalu pergi meninggalkan Aiden yang masih bengong di tempatnya.
"Gimana kemarin, seru acaranya?" tanya Dara.
Bebi mengedikkan bahunya. "Seru buat pasangan pengantinnya. Tapi enggak buat gue," sahut Bebi dengan wajah murung.
"Kenapa? Ada masalah? Cerita sama gue," ucap Dara.
Bebi menghentikan langkahnya, dia berdiri menghadap ke arah Dara. "Penampilan gue, apa aneh ya?"
"Hah?"
"Jawab yang jujur, Dara."
"Lo cantik, Bebi."
"Ck. Bukan itu! Tapi penampilan gue."
Dara menghela napas pelan. "Waktu penampilan gue masih culun, apa yang lo liat dari gue?" tanyanya.
"Itu mah beda lagi, Dara. Lo ngerubah penampilan lo jadi culun karena ada tujuannya. Pada kenyataannya, lo cantik begini. Sedangkan gue? Ini penampilan gue dari dulu. Mana berat badan gue naik terus. Gue kek udah biasa diledek culun sama gendut. Padahal yang gendut juga cuman pipi gue
doang," balas Bebi.
"Lo nyaman sama penampilan lo ini?" tanya Dara.
Bebi berpikir sejenak. "Selama ini, gue nyaman-nyaman aja. Gue juga biasa aja pas gak ada yang mau jadi temen gue. Sekarang aja gue punya temen karena lo yang mau temenan sama gue. Apalagi ... ternyata lo cantik begini, beda jauh sama gue. Aiden aja gak pernah ngelirik gue. Dia nyapa gue kalau ada lo doang."
"Lo. Lo suka sama Aiden?" tanya Dara dengan raut wajah kaget yang tidak bisa dia sembunyikan.
Buru-buru Bebi menutup mulut Dara dengan kedua tangannya.
"Gak usah kenceng-kenceng juga ngomongnya!"
Dara nyengir. Dia kembali merangkul lengan Bebi dan mereka jalan lagi.
"Sejak kapan?" tanya Dara.
"Apanya?" Bebi balik bertanya.
"Ck. Sejak kapan lo suka sama dia?" tanya Dara.
"Kok malah jadi ngebahas gue sama dia sih? Pembahasan kita kan awalnya bukan itu!"
Dara terus menggoda Bebi yang ternyata menaruh rasa pada Aiden. Tanpa tahu kalau di belakang mereka ada seseorang yang mendengarkan obrolan keduanya.
Kini mereka sudah sampai di kelas, baru ada sekitar tiga orang di dalam kelas dan jarak bangkunya juga berjauhan.
Dara menyimpan tasnya di atas meja. Dia menyerongkan posisi duduknya jadi menghadap ke arah Bebi.
"Kalau lo emang ngerasa nyaman, gak ada alasan buat lo ngubah penampilan lo demi bikin orang lain senang. Yang terpenting adalah lo bahagia dan percaya diri sama diri sendiri," ucap Dara.
Bebi langsung merentangkan kedua tangan. Dia memeluk Dara dengan perasaan haru yang
menyeruak di dada. "Makasih banyak lo udah mau jadi temen gue. Gue seneng banget ada yang bilang kayak gitu selain ibu gue," ucapnya.