Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Cahaya keemasan matahari pagi menerobos masuk dari celah tirai yang tidak tertutup sempurna, menimpa tepat di wajah Kaelan.
Sang Ketua Klan Obsidian itu mengerjap perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma khas yang sangat familiar—aroma sampo stroberi murahan bercampur wangi sabun mandi yang segar. Hal kedua yang ia rasakan adalah... kepalanya bersandar pada sesuatu yang hangat, empuk, dan sangat nyaman. Bukan bantal bulu angsanya yang biasa.
Kaelan membuka matanya sepenuhnya. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah kaus oblong bergambar dinosaurus hijau yang sedikit memudar.
Otak Kaelan yang biasanya tajam dan mampu menyusun strategi pembunuhan dalam hitungan detik, mendadak blank. Ia berkedip sekali lagi, menaikkan pandangannya secara perlahan.
Di sana, tertidur dengan mulut sedikit terbuka dan napas teratur, adalah Anya. Gadis tomboy itu duduk bersandar di kepala ranjang, kepalanya terkulai ke samping. Tangan kanan Anya masih bersarang nyaman di sela-sela rambut Kaelan, sementara tangan kirinya tergeletak lemas di atas selimut.
Dan yang paling mengerikan bagi harga diri seorang Kaelan Obsidian adalah... ia sedang memeluk erat pinggang Anya, dengan kepalanya bertengger manis tepat di atas pangkuan paha gadis itu.
Tubuh Kaelan membeku. Matanya melebar horor.
Apa... apa yang terjadi semalam?! rutuk Kaelan dalam hati, jantungnya mulai berdetak secepat drummer band metal yang sedang solo. Ia ingat pergi tidur di kamarnya sendiri karena kelelahan luar biasa setelah berenang. Ia tidak ingat berjalan ke kamar Anya, apalagi sampai tidur meringkuk seperti anak kucing di pangkuan gadis itu.
Sial. Sialan. Milo pasti mengambil alih lagi tadi malam.
Kepanikan menyergap Kaelan. Ia harus segera pergi sebelum gadis itu bangun dan menjadikannya bahan olokan seumur hidup. Dengan gerakan super pelan yang dilatihnya dari kelas stealth mafia, Kaelan mencoba melepaskan pelukannya dari pinggang Anya. Ia menggeser kepalanya satu milimeter demi satu milimeter dari paha gadis itu, menahan napas agar dada bidangnya tidak bergerak terlalu mencolok.
"Hnnng..."
Satu erangan pelan lolos dari bibir Anya. Gadis itu mengernyitkan dahi dalam tidurnya, kepalanya sedikit bergoyang.
Kaelan langsung berhenti bergerak bagai patung lilin. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Ia berdoa kepada dewa mana pun yang mau mendengar agar Anya tidak membuka mata sekarang.
Namun, doa mafia sepertinya jarang dikabulkan.
Anya perlahan membuka mata cokelatnya yang masih berat karena kantuk. Ia mengerjap, mengumpulkan nyawa. Pandangannya turun, dan langsung bersinggungan dengan tatapan panik mata hitam legam Kaelan yang masih tergeletak di pangkuannya.
Keheningan melanda kamar itu selama beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi Kaelan.
"Pagi, Bos Es," sapa Anya dengan suara serak khas bangun tidur, wajahnya datar. "Tidurmu nyenyak di atas bantalan dagingku?"
Kaelan langsung melompat duduk seolah paha Anya baru saja dialiri listrik tegangan tinggi. Ia mundur hingga punggungnya membentur ujung kasur, wajahnya yang biasa sedingin es kini memerah padam hingga ke telinga. Ia menunduk menatap piyama sutra biru muda yang ia kenakan—piyama favorit Milo.
"Anya..." Kaelan berdeham keras, mencoba mengembalikan suara berat dan otoriternya yang entah kabur ke mana. "Aku... aku bisa jelaskan. Ini... ini pasti ulah—"
"Ulah bayi raksasa berotot yang semalam minta dibacakan dongeng Putri Preman dan dinyanyikan lagu pengantar tidur?" potong Anya santai, menyilangkan tangan di dada. Senyum tengilnya mulai merekah, melihat tingkah salah tingkah sang mafia yang sangat langka ini.
Wajah Kaelan makin memerah. Ia memejamkan mata dan mengusap wajahnya dengan kasar. Hancur sudah. Harga dirinya benar-benar telah rata dengan tanah. Ia, Ketua Klan Obsidian yang ditakuti seluruh dunia bawah tanah, semalam minta didongengi oleh seorang pelayan bar.
"Bunuh saja aku sekarang, Anya," geram Kaelan pasrah, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan dramatis. "Lempar aku ke laut. Atau tembak aku. Bebaskan aku dari rasa malu ini."
Anya tertawa terbahak-bahak. Tawa renyah yang memenuhi kamar itu membuat rasa malu Kaelan sedikit demi sedikit menguap, digantikan oleh getaran hangat di dadanya.
"Hei, jangan dramatis begitu," ucap Anya, masih terkekeh geli. Ia mencoba menggeser posisinya untuk duduk lebih tegap, namun tiba-tiba wajahnya berkerut menahan sakit. "Aduh! Aw, aw, aw!"
Kaelan langsung tersentak dari mode 'pasrah mati'-nya. Insting protektifnya kembali mengambil alih. Ia merangkak mendekati Anya dengan cepat, wajahnya memancarkan kepanikan yang berbeda.
"Kenapa?! Kau terluka? Bagian mana yang sakit?!" rentetan pertanyaan Kaelan meluncur cepat. Tangannya melayang di atas tubuh Anya, tidak berani menyentuh takut menyakiti.
Anya mendesis sambil memegangi kedua pahanya. Wajahnya meringis lucu.
"Kau pikir kepalamu yang sekeras batu itu seringan kapas, hah?!" omel Anya, menatap tajam Kaelan. "Kau menindih pahaku semalaman suntuk! Sekarang kakiku mati rasa! Kesemutan parah, tahu! Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum kecil!"
Kaelan terdiam. Matanya berkedip cepat mencerna omelan gadis itu. Pria itu menatap paha Anya yang tertutup piyama dinosaurusnya, lalu menatap wajah Anya yang menahan sakit namun tetap terlihat menggemaskan saat marah.
Rasa bersalah, bercampur dengan rasa geli yang aneh, menyergap Kaelan. Sang mafia es itu... mendengus pelan. Lalu, sebuah senyum lebar yang sangat langka dan luar biasa tampan—bukan seringai tipis, melainkan senyum tulus yang mencapai matanya—terukir di wajah Kaelan.
Ia tertawa. Tawa berat yang serak dan memabukkan, bergema di seluruh ruangan.
"Maaf, Nyonya Obsidian," ucap Kaelan lembut, tawa masih tersisa di nadanya.
Tanpa meminta izin, Kaelan menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangan besarnya yang hangat terulur, meraih salah satu kaki Anya, lalu dengan sangat hati-hati namun kuat, ia mulai memijat perlahan otot paha dan betis gadis itu yang kram.
Anya terkesiap. Sentuhan tangan Kaelan yang mantap itu langsung mengirimkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya, bukan lagi kesemutan, melainkan desiran aneh yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Rona merah kini berpindah ke pipi gadis tomboy itu.
"H-hei! A-apa yang kau lakukan?!" protes Anya gugup, mencoba menarik kakinya, namun tenaga Kaelan jauh lebih kuat.
"Memperbaiki kesalahanku, tentu saja," jawab Kaelan santai, sama sekali tidak melepaskan pijatannya. Mata hitamnya menatap lurus ke arah mata cokelat Anya yang panik. "Ini hukuman karena menindih paha Putri Preman semalaman, bukan? Diamlah, atau aku akan memijatnya lebih keras."
Anya menelan ludah. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Preman pasar itu tiba-tiba merasa sangat lemah. Ia yang biasanya bisa melumpuhkan pria berbadan besar dengan satu pukulan, kini tidak berkutik hanya karena pijatan lembut sang mafia di kakinya.
Sialan. Liburan di pulau ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya.