NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

belanja gila-gilaan

Pagi itu, Lin Yan terbangun dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya terasa ringan, segar, seolah semalam ia tidur seratus tahun dan bangun sebagai manusia baru. Matahari pagi menyelinap lewat tirai, membuat ruangan terasa hangat dan nyaman.

Ia meregangkan tubuh di atas ranjang, sendi-sendinya berbunyi kecil namun terasa nikmat. "Hah... enaknya tidur. Rasanya seperti habis dipijat seribu tukang pijat."

【Itu efek pil pembersih sum-sum. Racun dan kotoran dalam tubuhmu sudah dikeluarkan. Metabolisme meningkat, sel-sel beregenerasi. Pokoknya, fisikmu sekarang jauh lebih baik dari manusia normal.】

"Berarti aku bisa malas-malasan tanpa capek?" tanya Lin Yan penuh harap.

【...Jangan memutarbalikkan fakta. Kau tetap harus latihan. Tapi iya, recovery tubuhmu cepat. Sekarang bangun, mandi, kita ada misi hari ini.】

Lin Yan mendengus malas, tapi tetap bangkit. Tubuhnya bergerak lincah, tidak ada rasa pegal seperti biasanya. Ia melangkah ke kamar mandi, menikmati pancuran air hangat yang menyegarkan. Setelah selesai, ia berdiri di depan lemari pakaian besar berwarna putih dengan ukiran naga dan burung phoenix—khas desain mewah Tiongkok modern.

Ia membuka kedua pintu lemari itu dan matanya terbelalak.

Semua pakaian di dalamnya didominasi dua warna: hitam dan merah.

Di sisi kiri, tergantung rapi gaun-gaun mahal dari sutra hitam, beberapa dengan sulaman benang merah berbentuk bunga mawar atau naga kecil. Ada juga gaun merah menyala yang terlihat seperti untuk acara resmi. Di sisi kanan, rak-rak berisi pakaian sehari-hari: kaos oblong hitam, kemeja hitam, celana jins hitam, celana olahraga hitam, jaket kulit hitam. Dan di rak aksesoris, tas-tas bermerek semuanya hitam, beberapa dengan aksen merah.

"Pemilik tubuh ini benar-benar pencinta hitam dan merah," gumam Lin Yan. "Seperti partai politik saja. Atau seperti... aku suka!"

Ia tertawa kecil, lalu mengambil kaos hitam polos dan celana olahraga hitam. Pakaian itu nyaman dan tidak mencolok. Ia mengikat rambut putih panjangnya menjadi ekor kuda tinggi, tampak segar dan praktis. Di zaman modern seperti sekarang, rambut putih bukanlah hal aneh—banyak anak muda mewarnai rambut dengan berbagai warna. Mata merah delima? Orang akan menganggapnya softlens atau kontak lens biasa.

Ia memilih sepasang sepatu putih bersih—satu-satunya warna putih di lemari itu—mengambil tas selempang hitam, dan sebuah kunci dengan logo mobil sport terkenal.

【Kau bisa bawa mobil?】

"Pemilik tubuh ini penggemar balap liar," jawab Lin Yan sambil melangkah keluar kamar. "Dia suka ngebut di jalan tol tengah malam. Aku dapat ingatannya, jadi secara otomatis bisa. Magis, ya?"

【Bukan magis. Itu salah satu keuntungan transmigrasi: kemampuan dan ingatan pemilik tubuh bisa diakses secara instan. Tapi hati-hati, kau belum pernah nyetir beneran.】

"Ah, masa bodoh. Yang penting seru."

Lin Yan turun ke basement parkir pribadi apartemen mewah itu. Saat pintu lift terbuka, matanya benar-benar terbelalak lebar.

Ini bukan parkir biasa. Ini showroom mobil mewah pribadi!

Di ruangan luas berpenerangan baik, berjejer puluhan mobil dengan berbagai tipe. Semuanya didominasi warna hitam dan merah. Ada SUV besar hitam dengan modifikasi berat—kaca anti peluru, ban run-flat, dan plat baja di beberapa bagian. Ada mobil rumah mewah berwarna hitam dengan garis merah di sisinya. Ada beberapa mobil sport Eropa: Ferrari hitam, Lamborghini merah, Porsche hitam, dan banyak lagi. Di sudut, terparkir beberapa kendaraan militer: jip tangguh dengan cat hitam doff, bahkan sebuah truk taktis berukuran sedang.

"Gila... pemilik tubuh ini benar-benar gila kolektor," gumam Lin Yan berjalan di antara mobil-mobil itu, tangannya menyusuri kap mesin yang dingin. "Dia punya kekayaan luar biasa, tapi lebih suka kumpulin senjata dan mobil daripada bersosialisasi. Pantas dianggap gila."

【Orang gila versi masing-masing. Tapi ini keuntungan buatmu. Semua ini bisa disimpan di ruang dimensi.】

"Oh iya!" Lin Yan berhenti. "Sistem, ruang dimensimu bisa muat semua ini? Termasuk mobil-mobil besar?"

【Tentu saja. Ruang dimensi dasar sudah kau miliki sejak hadiah pemula. Itu bukan kantong kecil, tapi dunia mini. Ada gunung, hutan, sungai. Luasnya puluhan kilometer persegi. Kau bisa simpan apa pun di sana, makhluk hidup maupun benda mati.】

Mata Lin Yan berbinar. "Berarti aku bisa simpan semua mobil ini? Dan senjata-senjata di apartemen?"

【Iya. Tapi ingat, untuk makhluk hidup, mereka butuh udara dan makanan. Jadi jangan simpan manusia hidup tanpa persiapan.】

"Ah, mana ada manusia hidup yang mau kusimpan. Kecuali adikku nanti." Lin Yan melambaikan tangan. "Oke, kita pindahin semua!"

Ia berlari kembali ke apartemen, masuk ke ruang penyimpanan senjata, dan mulai menyentuh satu per satu rak. Setiap kali ia menyentuh dan berpikir "simpan", benda itu lenyap dalam sekejap, muncul di ruang dimensi. Rak-rak kosong, senjata-senjata pindah. Ia melanjutkan ke basement, menyentuh mobil-mobil satu per satu. Prosesnya cepat, tapi karena jumlah mobil puluhan, butuh waktu setengah jam.

Pada akhirnya, hanya tersisa satu mobil di basement: sebuah mobil sport hitam, merek Porsche, dengan garis-garis merah halus di kapnya. Mobil ini cukup sederhana dibanding koleksi lainnya, tidak terlalu mencolok, cocok untuk keluar kota tanpa menarik perhatian.

"Yang ini buat hari ini," kata Lin Yan puas. "Sekarang, sistem, misi apa yang kau maksud tadi?"

【Misi: Persiapan Kiamat Fase 1.】

【Kau harus mengumpulkan persediaan untuk bertahan hidup minimal satu tahun. Makanan, air, obat-obatan, benih tanaman, generator, panel surya, peralatan masak, pakaian, perlengkapan medis, dan perlengkapan bertahan hidup lainnya. Jangan lupa bahan bakar: bensin, solar. Dan juga... hewan ternak.】

"Hewan ternak? Maksudnya?"

【Untuk sumber protein jangka panjang. Ayam, bebek, kambing, sapi. Juga bibit ikan untuk kolam. Lebih baik punya sumber makanan hidup daripada cuma kaleng.】

"Masa aku harus bawa sapi hidup ke dimensi?"

【Kau punya gunung dan padang rumput di sana. Bisa. Tapi nanti, urusan belanja dulu.】

"Banyak banget! Masa aku harus belanja satu per satu?"

【Ada gudang milik pemilik tubuh. Cek ingatanmu.】

Lin Yan memejamkan mata, mengakses ingatan pemilik asli. Sebuah lokasi muncul: gudang besar di kawasan industri pinggiran kota, dekat pelabuhan. Pemilik asli membelinya bertahun-tahun lalu untuk menyimpan koleksi mobil dan barang-barangnya yang terlalu besar untuk apartemen. Luasnya sekitar 2000 meter persegi, dengan sistem keamanan canggih dan pintu baja tebal.

"Wah, ada gudang juga. Oke, rencananya: aku belanja besar-besaran, minta semua barang dikirim ke gudang itu. Nanti setelah semua terkumpul, aku pindahkan ke dimensi. Simpel!"

【Tapi kau butuh alasan. Belanja sebanyak itu pasti mencurigakan.】

Lin Yan tersenyum lebar. "Gampang. Aku bilang mau buka mall. Atau supermarket besar. Atau toko grosir. Siapa peduli? Yang penting barangnya sampai."

Dua jam kemudian, Lin Yan sudah meluncur dengan mobil sport hitamnya menuju pusat grosir terbesar di kota. Rambut putihnya terikat rapi, kacamata hitam besar menutupi mata merahnya. Dari luar, ia tampak seperti putri konglomerat yang sedang bosan.

Tujuan pertama: pasar grosir bahan makanan.

Ia masuk ke toko grosir terbesar, berjalan langsung ke bagian pelayanan pelanggan. Dengan gaya bicara malas tapi tegas, ia berkata pada manajer toko, "Saya mau beli semua stok beras kalian. Semua. Juga minyak goreng, kecap, saus, bumbu dapur, mie instan semua rasa, gula, tepung terigu, garam. Semua yang ada di gudang."

Manajer toko, pria paruh baya berkacamata, terbelalak. "S-Semuanya, Nona? Itu... jumlahnya sangat besar. Untuk apa?"

"Aku mau buka supermarket. Cabang baru. Butuh stok banyak." Lin Yan mengeluarkan kartu hitam—kartu kredit premium tanpa batas dari pemilik tubuh. "Ini uang muka. Kirim semua ke alamat ini."

Ia menyerahkan kartu nama gudang. Manajer menerimanya dengan tangan gemetar. Transaksi sebesar ini jarang terjadi. Dalam satu jam, semua dokumen ditandatangani, dan truk-truk mulai dipesan untuk mengantar barang.

Tujuan kedua: pasar seafood dan daging.

Lin Yan berhenti di pasar induk seafood. Ia bernegosiasi dengan beberapa pedagang besar, membeli berton-ton ikan beku, udang, cumi, kerang. Semua langsung dipesan untuk dikirim ke gudang.

Dari sana, ia ke pasar hewan hidup. Di sinilah tantangan sebenarnya.

" Saya mau beli ayam seribu ekor. Bebek lima ratus ekor. Kambing seratus ekor. Sapi lima puluh ekor."

Pedagang hewan, pria tua dengan topi jerami, hampir jatuh dari kursi. "N-Nona... ini untuk apa? Mau buka peternakan?"

"Iya, peternakan modern. Di luar kota." Lin Yan tersenyum manis. "Bisa anter ke alamat ini? Nanti ada tim yang terima."

"B-Bisa, Nona. Tapi butuh beberapa truk khusus."

"Gapapa. Saya bayar ekstra. Pokoknya hari ini semua sampai."

Tujuan ketiga: toko peralatan outdoor dan bertahan hidup.

Lin Yan masuk ke toko khusus peralatan camping dan survival. Ia menunjuk ke tenda, sleeping bag, kompor portabel, water filter, pisau survival, senter, radio tenaga surya, dan ratusan item lainnya. "Semua yang kau punya. Stok penuh. Kirim ke alamat ini."

Pemilik toko, pria muda dengan jenggot tipis, hampir jatuh dari kursi. "Nona, ini... ini bisa untuk seratus orang setahun!"

"Iya, aku mau buka toko outdoor juga. Cabang baru." Jawaban itu sama, diucapkan dengan wajah datar. "Ada masalah?"

"T-Tidak, Nona. Siap!"

Tujuan keempat: toko peralatan medis.

Lin Yan membeli ribuan kotak P3K, obat-obatan umum, antibiotik, vitamin, perban, alat suntik, bahkan perlengkapan bedah darurat. Lagi-lagi alasan "buka toko obat".

Tujuan kelima: toko pertanian dan perikanan.

Benih-benih sayuran, buah-buahan, padi, jagung, kedelai. Pupuk, peralatan bercocok tanam, sistem hidroponik portabel. Juga bibit ikan air tawar: nila, lele, gurame, mas. "Buka toko pertanian modern dan kolam ikan."

Tujuan keenam: toko elektronik dan generator.

Generator bertenaga bensin dan solar, panel surya dalam jumlah besar, baterai kering, power bank, lampu tenaga surya, kabel, inverter, kipas angin portabel, kulkas mini tenaga surya. "Buka toko elektronik."

Tujuan ketujuh: toko onderdil dan bengkel.

Ban semua ukuran, oli mesin, aki, busi, filter udara, onderdil berbagai merek, peralatan bengkel lengkap. "Buka bengkel umum."

Tujuan kedelapan: SPBU grosir.

Ini yang paling rumit. Lin Yan harus bernegosiasi dengan manajer SPBU khusus industri untuk membeli ribuan liter bensin dan solar dalam drum-drum besar. Alasan: "Perusahaan transportasi keluarga."

Tujuan kesembilan, kesepuluh, kesebelas...

Hari itu Lin Yan bolak-balik ke puluhan toko. Di setiap tempat, ia meninggalkan jejak kartu hitam dan alamat gudang. Para pedagang bergembira, mendapat rezeki nomplok. Rumor mulai beredar: ada gadis kaya gila yang membeli semua barang untuk "membuka mall raksasa" atau "membangun kompleks pertokoan".

Sore harinya, saat matahari mulai condong, Lin Yan memutuskan mampir ke SPBU terakhir untuk mengisi bensin mobilnya. Ia lelah tapi puas. Di SPBU itu, sambil menunggu tangki terisi, ia melihat sesuatu yang menarik perhatian.

Di seberang jalan, sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan toko swalayan. Liu Ming turun dengan wajah kesal, diikuti dua temannya yang bergaya preman. Mereka masuk ke toko, lalu keluar beberapa menit kemudian dengan beberapa kantong belanjaan.

Lin Yan memicingkan mata. Dari ingatan pemilik tubuh, Liu Ming ini memang sering "meminjam" uang tanpa izin. Dan sekarang, ia masih hidup nyaman dengan uang curian itu.

【Itu dia. Liu Ming.】

"Iya, liat." Lin Yan tersenyum tipis. "Kayaknya lagi belanja pakai uang hasil curian."

【Mau diapain?】

"Main dikit."

Lin Yan membayar bensin, lalu dengan santai menyebrang jalan. Liu Ming baru saja akan masuk ke mobil ketika melihat bayangan Lin Yan di depannya.

"Wah, Yanyan. Belanja?" sapa Liu Ming dengan senyum sinis. "Liat, aku juga belanja. Pake uang yang dari ATM-mu dulu. Ingat? Lumayan buat jajan."

Lin Yan menatapnya datar. Matanya merah delima, tidak berkedip. Lalu tiba-tiba ia tersenyum. Senyum lebar yang sama seperti saat di simulasi zombie—indah tapi mengerikan.

"Oh, jadi itu uangku? Wah, makasih udah jagain." Suaranya lembut, hampir manja. "Tapi sekarang, gue pinjam balik, ya."

Liu Ming mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Dalam sekejap, Lin Yan sudah di sampingnya. Gerakannya cepat, tak terlihat. Tangannya menyelinap ke saku celana Liu Ming, mengambil dompet dan juga ponsel yang ada di saku jaket. Liu Ming baru sadar saat benda-benda itu sudah berpindah tangan.

"Hei! Kembalikan!" teriak Liu Ming, mencoba meraih.

Tapi Lin Yan sudah mundur tiga langkah, lincah seperti kucing. Ia membuka dompet, mengambil semua uang tunai—sekitar 50 ribu Yuan—dan memasukkannya ke sakunya sendiri. Kartu ATM dan kartu ID juga ia ambil, sisanya dompet kosong dilempar kembali. Ponsel ia lihat sekilas, lalu dimasukkan ke tasnya.

"Nah, sekarang kita beres. Uangku kembali. Bunga ya buat capek ngambil." Lin Yan tersenyum manis. "ATM ini nanti gue ganti pin, ya. Makasih udah nyimpen selama ini."

Liu Ming dan teman-temannya terpaku. Mereka tidak percaya gadis itu berani. Liu Ming maju dengan tangan mengepal, wajahnya merah padam. "KAU—!"

Tapi Lin Yan tidak mundur. Ia malah melangkah maju, mendekat hingga wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Liu Ming. Matanya yang merah delima bersinar aneh di bawah sinar matahari sore. Ia berbisik, pelan, hanya untuk didengar Liu Ming:

"Dengar, Ming. Aku punya pisau di saku. Dan aku tahu tepat titik di lehermu yang kalau digores, kau akan mati dalam 10 detik. Mau coba?"

Liu Ming membeku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia ingin bicara, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

Lin Yan tertawa kecil. Tawa yang sama, datar dan aneh. Lalu tiba-tiba tangannya bergerak, menepuk-nepuk pundak Liu Ming dengan lembut, seperti teman lama yang akrab.

"Jangan mati cepat ya, Ming. Nanti gue gak ada mainan lagi." Suaranya ceria, seolah sedang membicarakan cuaca.

Ia mundur, melambai kecil, lalu berbalik dan berjalan ke mobilnya dengan santai. Liu Ming hanya bisa terpaku, gemetar, menyaksikan mobil sport hitam itu melaju pergi.

Temannya yang satu berbisik, "Ming... tadi dia ngomong apa?"

Liu Ming tidak menjawab. Ia masih merasakan bekas tepukan di pundaknya, dan bisikan dingin itu terus bergema di kepalanya.

Dua jam kemudian, di gudang.

Lin Yan berdiri di tengah gudang yang mulai dipenuhi ribuan kardus dan peti kemas. Truk-truk datang silih berganti, sopir-sopir menurunkan barang dengan bantuan buruh angkut. Makanan kaleng, beras karungan, minyak drum, peralatan, generator, onderdil, semuanya. Di area terpisah, kandang-kandang besar berisi ayam, bebek, kambing, dan sapi mulai berjejer. Suara ribut hewan-hewan itu memenuhi gudang.

【Ini... gila. Jumlahnya luar biasa.】

"Masih kurang," kata Lin Yan sambil mengecek daftar di ponsel—ponsel baru, bukan punya Liu Ming. "Masih ada beberapa toko yang belum anter."

【Kau sudah belanja: 100 ton beras, 30 ton minyak goreng, 10 ton gula, 20 ton tepung, ribuan kaleng makanan, 500 tenda, 200 generator, 500 panel surya, 100.000 liter bensin, 100.000 liter solar... ayam 2000 ekor, bebek 1000 ekor, kambing 200 ekor, sapi 100 ekor, bibit ikan puluhan ribu... dan masih banyak lagi.】

"Wah, sistem bisa hitung juga, ya?"

【Gue sistem, emangnya harus goblok? Tapi serius, ini cukup untuk seribu orang setahun lebih.】

"Kan buat jaga-jaga. Nanti kalau ada orang lain yang selamat, kita bisa bagi."

【...Lu yang pemalas dan egois, mau bagi-bagi?】

"Hei, gue kan baik hati." Lin Yan cemberut. "Tapi ya, yang gak kenal gak gue kasih. Yang nyebelin kayak Liu Ming, gue kasih lihat aja udah bagus."

Saat malam tiba dan truk terakhir pergi, Lin Yan memastikan tidak ada siapa pun di sekitar gudang. Kamera pengawas sudah ia matikan, lampu-lampu ia padamkan. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat ventilasi atas.

Ia berdiri di tengah gudang, dikelilingi ribuan tumpukan barang dan ratusan hewan dalam kandang. Lalu ia mengangkat kedua tangannya, konsentrasi.

"Simpan."

Satu per satu, benda-benda itu lenyap. Kardus, peti, drum, kandang, hewan. Semua tersedot ke ruang dimensi. Prosesnya cepat, seperti video yang dipercepat. Dalam waktu setengah jam, gudang yang tadinya penuh sesak kini kosong melompong. Hanya debu dan bekas-bekas roda yang tersisa.

Di ruang dimensi, di tepi sungai yang mengalir jernih, terbentuklah sebuah perkemahan raksasa. Tumpukan persediaan tertata rapi di dataran. Kandang-kandang hewan ditempatkan di padang rumput luas, sapi dan kambing mulai merumput, ayam dan bebek berkeliaran di dekat kolam yang tiba-tiba muncul berisi ribuan bibit ikan.

Lin Yan tersenyum puas. "Rapi juga. Sistem, lu bisa atur tata letak di dalam?"

【Bisa. Kau tinggal perintah. Ini dimensi milikmu, kau dewa di sini.】

"Wah, enak. Nanti kalau bosen, gue bikin istana."

【...Jangan berlebihan.】

Lin Yan tertawa, lalu berjalan keluar gudang, mengunci pintu baja itu untuk terakhir kalinya. Ia naik ke mobilnya, meluncur perlahan meninggalkan kawasan industri yang sepi.

Di perjalanan pulang, ia berhenti di sebuah kedai mie sederhana. Ia memesan semangkuk besar mie daging sapi, duduk di sudut ruangan, dan makan dengan lahap. Pengunjung lain sesekali melirik—gadis cantik berambut putih makan sendirian dengan porsi besar pasti menarik perhatian. Tapi Lin Yan tidak peduli.

【Senang?】

"Senang sekali." Lin Yan menyuap mie dengan sumpit. "Hari ini produktif banget. Belanja gila-gilaan, ngerampok balik sepupu, makan enak. Hidup enak."

【Kau sadar kau baru saja mengancam akan membunuh sepupu sendiri?】

"Cuma ancam doang, sistem. Lagian dia perampok, gue perampok balik. Fair."

【...Logika macam apa itu?】

"Logika orang gila."

Lin Yan menyelesaikan makannya, membayar, lalu kembali ke mobil. Ia meluncur ke apartemen, naik lift, dan masuk ke rumah. Setelah mandi malam, ia duduk di balkon dengan segelas bubble tea, menikmati pemandangan kota Taipei di malam hari. Lampu-lampu berkelap-kelip, kehidupan normal berlangsung. Orang-orang lalu lalang di bawah, tidak tahu bahwa di atas sana, seorang gadis gila sedang menikmati ketenangan sebelum badai.

Ia memegang gelasnya, menghisap pelan. Di tangannya, ponsel Liu Ming bergetar—ada panggilan masuk. Ia melihat layar: "Mama". Ia tersenyum, menekan tolak, lalu melempar ponsel itu ke dimensi. Biar nyari di tong sampah besok.

【Emosi?】

"Sedikit. Tapi lebih penasaran." Lin Yan menatap langit malam yang cerah. "Besok dunia baru, sistem. Dunia di mana aturan mainnya aku yang buat."

【Kau siap?】

"Siap atau tidak, kiamat tetap datang. Lebih baik nikmati malam ini dulu."

Ia mengangkat gelasnya ke arah langit, seolah bersulang dengan bulan yang mulai naik.

"Untuk dunia baru. Untuk kebebasan. Untuk kegilaan. Dan untuk Liu Ming—semoga dia masih hidup besok, biar gue punya mainan."

 

Tengah malam.

Lin Yan tidur nyenyak di ranjangnya, rambut putih panjang tersebar di bantal. Napasnya teratur, damai.

Di luar, sirene ambulans mulai meraung-raung. Lebih sering dari biasanya. Di TV ruang tamu yang lupa dimatikan, berita breaking news muncul dengan tulisan merah besar:

【Breaking News: Wabah misterius merebak di Distrik Wanhua! Puluhan korban berjatuhan dengan gejala kejang-kejang dan perilaku agresif! Pemerintah mengimbau warga tidak keluar rumah! Rumah sakit kewalahan!】

Lin Yan berguling, menarik selimut, tidak peduli.

Besok akan menjadi hari yang panjang.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!