menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
BAB 34: Retakan di Balik Kabut Berlin
Musim dingin di Berlin seolah tak mau beranjak, membalut kota dengan selimut abu-abu yang menekan. Namun, di belahan bumi lain, di sebuah mansion minimalis yang berdiri angkuh di pinggiran Tokyo, suhu politik dan personal jauh lebih membara. Keheningan di rumah keluarga Tanaka bukan lagi simbol kedamaian, melainkan tanda dari badai yang siap meledak.
Hana Asuka berdiri di depan jendela besar kantor pribadinya di rumah, menatap rintik hujan yang membasahi taman zen di bawahnya. Di atas meja mahoninya, tersebar laporan keuangan yang menunjukkan penurunan tajam pada beberapa lini bisnis Asuka-Tanaka Group. Namun, bukan itu yang membuat napasnya sesak.
Pintu terbuka dengan kasar. Kaito Tanaka melangkah masuk, wajahnya merah padam, rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan. Ia membanting sebuah map ke atas meja Hana.
"Kau pikir aku tidak tahu, Hana?" suara Kaito bergetar oleh amarah yang tertahan selama bertahun-tahun. "Intelijen kita melaporkan kau mencoba menghubungi jaringan perbankan di Berlin secara rahasia. Untuk apa? Untuk menyelamatkan perusahaan, atau untuk mencari celah menemui dia lagi?"
Hana tidak berbalik. Suaranya datar, sedingin es di kutub. "Ini urusan bisnis, Kaito. Kita butuh likuiditas, dan bank-bank Jerman memiliki suku bunga yang lebih bersahabat untuk ekspansi energi kita."
"BOHONG!" Kaito berteriak, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia melangkah maju, mencengkeram bahu Hana dan memutar tubuh istrinya agar menghadapnya. "Sejak kepulangan kita dari Singapura, kau seperti mayat hidup! Kau tidak pernah lagi memandangku, bahkan sebagai rekan bisnis sekalipun. Anak itu... Maximilian... dia merusak segalanya, bukan? Melihat wajahnya membuatmu sadar bahwa kau terjebak bersamaku!"
Hana menatap mata Kaito dengan tatapan kosong yang menyakitkan. "Lepaskan tanganmu, Kaito. Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri."
"Pernikahan ini sudah berakhir, Hana," desis Kaito, air mata frustrasi menggenang di matanya. "Hanya status yang tersisa. Dan aku bersumpah, jika kau mencoba melewati batas lagi, aku akan menghancurkan apa pun yang tersisa dari kenanganmu tentang Aurelius."
Kaito keluar dari ruangan dengan bantingan pintu yang keras. Hana jatuh terduduk di kursinya, jemarinya gemetar. Retakan di rumah tangganya kini telah menjadi jurang yang tak mungkin lagi diseberangi.
Berlin, Pemakaman Keluarga Hohenzollern.
Aurelius Renzo berdiri di depan gundukan marmer hitam yang megah. Salju tipis menutupi ukiran nama Sophia von Hohenzollern. Di tempat ini, angin berhembus lebih tajam, seolah membawa bisikan-bisikan dari masa lalu yang tak pernah selesai.
Aurelius meletakkan seikat bunga mawar putih—bunga yang sama yang diminta Sophia saat ia meregang nyawa. Pria itu berdiri diam selama beberapa menit, membiarkan salju hinggap di bahu mantel hitamnya yang mahal.
"Max mulai bertanya tentangmu, Sophia," ucap Aurelius, suaranya rendah, hampir tertelan oleh deru angin. "Dia memiliki ketajamanmu. Dia bisa melihat melalui topeng yang kupakai. Terkadang, aku melihatmu dalam caranya menatap dunia—begitu angkuh, begitu yakin akan haknya."
Aurelius mengusap nisan dingin itu dengan sarung tangan kulitnya.
"Dia tumbuh menjadi anak yang luar biasa, namun dia terlalu dingin. Aku takut aku telah menularkan kegelapanku padanya. Aku mencoba menjadi ayah yang baik, tapi di kastil itu... semuanya terasa seperti ruang hampa tanpa keberadaanmu yang selalu menuntut perhatian."
Aurelius terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke malam di Singapura, saat ia mengusir Hana dengan kata-kata paling kejam yang pernah ia ucapkan. Rasa bersalah dan kehampaan berperang di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa selama ini, Sophia adalah perisainya. Dengan adanya Sophia, ia punya alasan untuk membenci dunia. Tanpanya, ia hanya sendirian menghadapi bayang-bayang Hana.
Sebelum ia berbalik pergi, Aurelius menunduk dalam, bibirnya bergerak pelan di dekat nisan.
"Terima kasih telah memberiku Maximilian. Terima kasih telah memilih untuk memberikan hidupmu untuknya. Aku... aku mencintaimu, Sophia. Dengan caraku sendiri yang rusak, aku mencintaimu sebagai ibu dari putraku."
Kata-kata itu adalah bentuk perdamaian terakhirnya. Aurelius bangkit, menegakkan bahunya, dan berjalan kembali menuju limosin yang menunggunya di gerbang pemakaman. Ia telah mengunci satu bab dalam hidupnya, meski ia tahu bab yang lain masih menganga lebar.
Kastil Hohenzollern, Ruang Keluarga Utama.
Suasana di dalam kastil terasa lebih hangat karena sistem pemanas pusat, namun atmosfernya tetap kaku. Di ruang keluarga yang luas, dengan langit-langit yang dihiasi lukisan fresco abad ke-18, Maximilian duduk diam di sebuah kursi armchair kulit yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
Televisi layar lebar di depannya menyala, menampilkan saluran berita internasional yang sedang membahas fluktuasi pasar saham di Asia. Max tidak bergerak. Matanya fokus pada layar, seolah sedang mencerna angka-angka rumit yang merayap di bagian bawah layar televisi.
Aurelius masuk ke ruangan itu, melepaskan mantelnya dan memberikannya pada pelayan yang segera membungkuk hormat. Ia melihat putranya yang tampak begitu dewasa dalam kesendiriannya. Ada rasa nyeri di hati Aurelius; di usia lima tahun, seharusnya Max menonton kartun atau bermain dengan mainan robotnya, bukan menonton berita ekonomi.
Aurelius menghampiri Max, berdiri di samping kursi putranya.
"Apa yang sedang anak Ayah tonton?" tanya Aurelius dengan nada lembut yang hanya ia simpan untuk Max.
Max tidak menyahut. Matanya tetap terpaku pada layar televisi. Ia tampak sangat serius, alis kecilnya bertaut saat melihat berita tentang merger perusahaan otomotif di Jepang.
Aurelius menghela napas, ia berlutut di samping kursi Max agar sejajar dengan mata putranya. Ia mematikan televisi menggunakan remote yang tergeletak di meja kecil.
Max akhirnya menoleh. Wajahnya datar, tanpa ekspresi kesal karena acaranya diputus. Ia hanya menatap ayahnya dengan mata abu-abu yang tenang.
"Ayah sudah kembali dari mengunjungi Ibu?" tanya Max pendek.
"Sudah," jawab Aurelius. Ia mengelus rambut pirang gelap Max yang kini tertata rapi. "Kau sendirian di sini? Di mana Paman Julian dan Bibi Elara?"
"Paman Julian sedang mencoba memperbaiki mesin di garasi, dan Bibi Elara sedang memilih gaun untuk pesta besok. Mereka berisik, Ayah. Aku lebih suka di sini," Max menjelaskan dengan logika yang sangat dewasa.
Aurelius menatap putranya lama. Ia melihat kesepian yang sama dengan yang ia rasakan. Ia ingin Max merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan sepenuhnya.
"Sayang, kamu mau apa?" tanya Aurelius langsung. Suaranya penuh kasih sayang, tangannya menggenggam tangan kecil Max. "Katakan pada Ayah. Apa pun yang kau inginkan di dunia ini, Ayah akan memberikannya padamu. Kau mau mainan baru? Seekor kuda poni? Atau kita pergi berlibur ke tempat yang tidak ada saljunya?"
Max terdiam. Ia menatap ayahnya, lalu menatap tangan ayahnya yang memegang tangannya. Ada jeda yang cukup lama sebelum bibir kecil itu terbuka.
"Aku tidak butuh mainan, Ayah," ucap Max pelan. "Aku hanya ingin tahu... kenapa Ayah selalu membawa kunci berkarat itu di saku jas Ayah? Dan kenapa Bibi di bandara kemarin punya kunci yang sama?"
Aurelius membeku. Pertanyaan itu adalah sesuatu yang paling ia hindari. Ia menyadari bahwa Max bukan sekadar anak kecil; dia adalah pengamat yang tajam yang bisa merasakan rahasia terdalam ayahnya.
"Ayah bilang kau boleh meminta apa saja," Max melanjutkan, matanya menatap tajam ke dalam mata Aurelius. "Aku mau Ayah menceritakan kebenaran tentang kunci itu. Dan aku mau... aku mau bertemu Bibi itu lagi tanpa ada Ayah atau Paman Kaito yang marah-marah."
Dunia Aurelius seolah runtuh seketika. Permintaan Max adalah hal yang paling mustahil sekaligus paling menakutkan baginya. Ia menatap putranya, menyadari bahwa tembok yang ia bangun di sekeliling Max mulai retak oleh rasa ingin tahu yang murni.
"Max, itu..." Aurelius mencoba mencari kata-kata.
"Ayah berjanji," potong Max datar. "Ayah bilang aku boleh minta apa saja. Apakah Ayah akan berbohong padaku seperti Ayah membohongi orang-orang di luar sana?"
Aurelius memejamkan matanya, merasakan denyut nyeri di pelipisnya. Di luar, salju mulai turun kembali dengan lebat, seolah ingin mengubur rahasia yang baru saja tergali. Di ruang keluarga yang mewah itu, sang kaisar Berlin menyadari bahwa ia tidak bisa lagi lari. Putranya telah menuntut harga dari sebuah janji, dan harga itu adalah kunci menuju masa lalu yang selama ini ia coba bakar habis.