"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
"Violet, teh Ayah sudah kamu siapkan belum?"
Suara itu datang dari ruang makan, nyaring dan tidak sabar seperti biasanya. Violet meletakkan kain lap di tepi wastafel dapur, mengeringkan tangannya, lalu mengangkat nampan berisi cangkir teh dan sepiring kue kering tipis yang sudah ia tata sejak sepuluh menit lalu.
"Sudah, Bu. Sebentar."
Tidak ada yang menjawab.
Violet melangkah keluar dari dapur dengan nampan di tangan, melewati lorong yang dindingnya dipenuhi foto keluarga Hartawan dalam bingkai emas. Foto pernikahan Jenderal Hartawan dan istrinya. Foto Teresa waktu wisuda SMA dengan gaun putih dan mahkota bunga di kepala. Foto liburan keluarga mereka ke luar negeri tiga tahun lalu.
Tidak ada satu pun foto Violet di dinding itu.
Ia sudah berhenti memperhatikan hal itu sejak lama.
Ruang makan pagi itu sudah penuh. Jenderal Hartawan duduk di kepala meja dengan koran terbuka di tangan, seragam dinasnya terpasang rapi meski hari ini hari Minggu. Di sebelah kirinya, Bu Hartawan menyentuh-nyentuh rambut yang sudah sempurna dengan ekspresi perempuan yang tidak pernah benar-benar puas. Dan di kursi paling ujung, Teresa duduk dengan ponsel di tangan dan earphone di satu telinga, separuh kesadarannya jelas sedang berada di tempat lain.
Violet meletakkan teh di depan Jenderal Hartawan tanpa suara. Lalu kue kering. Lalu serbet yang dilipat rapi di sebelah kiri cangkir. Tangannya bergerak dengan urutan yang sudah ia hafal bertahun-tahun, otomatis dan tanpa perlu dipikir.
"Gulanya kurang," ucap Bu Hartawan tanpa menoleh.
"Dokter bilang gula Ayah harus dikurangi, Bu."
Barulah bu Hartawan menoleh, berdecak pelan. "Kau ini kalau dibilangin kenapa ada saja bantahannya? Lagipula dokter tidak tinggal di rumah ini."
Violet menghela napas pelan, memilih untuk tidak membalas. Ia mengambil tempat gula dari credenza di pojok ruangan, menuangkan satu sendok ke dalam cangkir, mengaduknya, lalu mundur ke posisi semula. Sedangkan Jenderal Hartawan tidak pernah mengangkat kepala dari korannya.
Teresa akhirnya melepas earphone-nya saat Violet meletakkan segelas jus jeruk di depannya. "Kak Vi, kamu beli croissant tadi pagi tidak?"
Violet menggeleng. Enggak. Tidak ada yang mintaku untuk membeli itu.."
"Ya tapi kamu kan tahu aku suka croissant di Minggu pagi." Teresa mengernyit kecil, bukan marah, lebih seperti seseorang yang tidak mengerti kenapa hal yang menurutnya sudah jelas harus dilakukan malah tidak dilakukan oleh kakaknya itu. "Dari dulu juga begitu."
Violet menatap adik angkatnya itu sebentar. Teresa menatap balik dengan ekspresi perempuan yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa perlu mengucapkan tolong, dan yang benar-benar tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan cara ia meminta.
Itulah yang selalu membuat Violet tidak bisa marah padanya dengan cara yang utuh.
Teresa bukan jahat. Ia hanya tidak pernah diajarkan untuk melihat perbedaan antara meminta dan memerintah.
"Nanti aku keluar beli," kata Violet akhirnya.
Teresa hanya tersenyum kecil dan singkat seolah tidak niat, lalu kembali memasang earphone-nya.
Violet yang menghela napas kecil hanya bisa menggeleng lalu kembali melenggang ke dapur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Violet, bawa sarapan tambahan dan croissant untuk adikmu!"
Suara bu Dania menggema membuat Violet menghentikan gerakan tangannya di atas wastafel, dia baru saja mencuci perabotan rumah namun suara ibunya membuat ia segera bertindak untuk menyiapkan yang ibunya minta.
Violet mengerjakannya dengan cekatan lalu berjalan berhati-hati saat hendak melewati lantai dekat tangga yang memang sudah agak licin sejak kemarin, Violet sudah berniat mengepelnya pagi ini tapi belum sempat karena teh Jenderal Hartawan harus disiapkan duluan, lalu jus Teresa, lalu sarapan tambahan yang diminta Bu Hartawan setelah melihat menu utama tidak sesuai seleranya pagi ini.
Tapi tiba- tiba kakinya tergelincir tepat di tikungan lorong.
Nampan itu tidak jatuh sepenuhnya karena ia berhasil menstabilkan diri dengan memegang dinding, tapi cangkir teh kedua yang berada di ujung nampan tidak bisa diselamatkan. Jatuh dengan bunyi yang terlalu keras untuk pagi yang seharusnya tenang, pecah menjadi beberapa bagian, dan teh panas menyiram lantai lorong serta sisi bawah dinding.
Seisi ruang makan sunyi sedetik.
Lalu Bu Hartawan muncul di mulut lorong dengan wajah terkejut sekaligus ada kemarahan yang tertahan disana.
"Apa yang kamu lakukan?" sentaknya.
"Maaf, Bu. Lantainya licin, jadi aku tidak—"
"Cangkir itu satu set dengan yang lainnya." Bu Hartawan memandang pecahan porselen di lantai dengan cara yang membuat Violet merasa lebih kecil dari pecahan itu. "Satu set delapan belas pieces, hadiah dari Bu Komisaris waktu kami pindah ke sini dua belas tahun lalu." suaranya dingin.
Violet menunduk. "Maaf, Bu. Saya akan ganti—"
"Kamu mau ganti dengan apa?" Nada Bu Hartawan tidak naik, tidak berteriak, justru itulah yang membuatnya terasa lebih menyayat. Seperti seseorang yang berbicara tentang sesuatu yang sudah pasti dan tidak perlu didramatisasi. "Uang bulanan kamu bulan ini dipotong untuk gantinya. Wajar kan?"
Violet membuka mulutnya.
Menutupnya kembali.
Uang bulanan yang dimaksud bukan uang saku dalam pengertian yang mewah. Hanya sejumlah kecil yang diberikan setiap bulan, cukup untuk kebutuhan pribadi yang paling dasar. Dan kalau dipotong bulan ini maka ia tidak punya cukup untuk beli sabun cuci muka yang sudah hampir habis sejak tiga hari lalu.
"Baik, Bu," kata Violet.
"Makanya lain kali lebih hati- hati. "
Lalu setelah mengatakan itu bu Hartawan sudah berbalik dan kembali ke ruang makan sebelum Violet sempat membuka mulutnya lagi.
Violet berjongkok dan mulai memunguti pecahan porselen satu per satu dengan tangan kosong, tanpa sarung tangan, karena sarung tangannya ada di dapur dan bolak-balik untuk mengambilnya akan membuang waktu.
Dari ruang makan terdengar suara Teresa tertawa kecil karena sesuatu di ponselnya.
Kehidupan di sana berjalan terus seolah lorong ini tidak sedang ada seseorang yang memunguti pecahan dengan jari-jari yang harus hati-hati supaya tidak terluka.
Violet tidak menangis. Ia sudah lama tidak menangis untuk hal-hal seperti ini.
Tapi ketika sebuah pecahan kecil menyayat ujung jarinya dan darah kecil muncul di sana, ia berdiri, menatap jarinya sebentar, lalu pergi ke dapur untuk mengambil plester dengan langkah yang sama teraturnya seperti semua langkah lain yang ia ambil di rumah ini.
Tidak ada yang memperhatikan.
Tidak ada yang bertanya.
Toh ia siapa? hanya anak pungut yang beruntung besar di keluarga ini, seperti yang selalu orang-orang katakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jenderal Hartawan melipat korannya dengan gerakan yang terlalu rapi untuk sekadar gerakan pagi biasa. Violet mengenali itu. Gerakan orang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu.
Violet sudah kembali ke ruang makan dengan nampan pengganti dan sudah berdiri di posisinya yang biasa ketika laki-laki itu bersuara.
"Duduk, Violet."
Bukan ajakan. Kalimat itu keluar seperti semua kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu. Pernyataan yang bentuknya perintah.
Violet menarik kursi di sisi meja yang paling jauh dan duduk tegak.
"Ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan dengan kalian berdua." Jenderal Hartawan menyatukan jari-jarinya di atas meja, menatap bergantian ke arah Teresa lalu ke arah Violet. "Soal Teresa."
Teresa melepas earphone-nya untuk kedua kali. Kali ini dengan ekspresi yang berbeda.
"Ayah sudah berbicara dengan Jenderal Muda Adriel Voss minggu lalu."
Nama itu jatuh ke meja makan seperti sesuatu yang berat. Bu Hartawan menegakkan punggungnya sedikit. Teresa mematung. Bahkan Violet yang tidak tahu harus bereaksi apa pun merasakan sesuatu berubah di udara ruangan itu.
"Adriel Voss?" suara Teresa keluar tipis. "Yang itu?"
"Tidak ada Adriel Voss lain di kota ini."
"Ayah, dia..." Teresa menghentikan kalimatnya, memilih kata-kata dengan hati-hati dengan cara yang jarang sekali ia lakukan. "Orang-orang bilang dia—"
"Orang-orang bilang banyak hal." Jenderal Hartawan memotong tanpa nada tinggi, yang justru membuatnya terdengar lebih tegas. "Yang Ayah tahu, dia jenderal muda paling cepat naik pangkat dalam sepuluh tahun terakhir. Keluarganya terpandang. Posisinya kuat. Dan dia melamar kamu, Teresa."
Hening.
Teresa menatap ayahnya dengan ekspresi yang untuk pertama kali dalam hidup Violet tidak bisa ia baca dengan mudah.
"Kapan?" tanya Teresa akhirnya.
"Pernikahannya tiga bulan lagi. Sudah Ayah konfirmasi."
"Ayah sudah konfirmasi," Teresa mengulang kalimat itu dengan nada yang datar sekali, "tanpa tanya dulu ke aku."
"Ayah bertanya sekarang."
"Ini bukan pertanyaan."
Bu Hartawan menyentuh lengan Teresa dengan gerakan menenangkan yang tampak lebih seperti peringatan. "Teresa, ini kesempatan yang tidak semua orang bisa—"
"Aku tidak mau!"
Tiga kata itu keluar bulat dan keras. Teresa mendorong kursinya mundur dan berdiri, menatap ayahnya dengan tatapan sengit sekaligus hampir ingin menangis. "Aku tidak akan menikahi orang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya. Apalagi dia! "
Teresa meninggalkan ruang makan. Suara langkahnya di tangga terdengar sampai ruangan itu sunyi kembali.
Jenderal Hartawan tidak mengejar. Ia hanya membuka korannya lagi dengan gerakan yang sama rapinya seperti tadi ia melipatnya.
"Violet."
Violet mengangkat wajah.
"Pastikan adikmu makan siang dengan benar."
Itu saja. Seolah percakapan tiga menit lalu tidak pernah terjadi.
Violet kemudian bangkit, mengumpulkan piring-piring kotor dengan gerakan yang sudah ia hafal sejak bisa berjalan, dan membawa semuanya kembali ke dapur.
Di luar jendela dapur, langit pagi itu cerah sekali. Jenis cerah yang terasa seperti ejekan di hari-hari tertentu.
Violet menyalakan keran, menunggu airnya hangat, dan menatap gelembung sabun yang naik perlahan di permukaan wastafel.
Adriel Voss.
Bahkan dari dapur, nama itu masih terasa berat.
*****
BERSAMBUNG