NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Kepala ku terasa seperti sedang dihantam palu godam berukuran raksasa secara berulang-ulang. Setiap kali aku mencoba membuka kelopak mata, cahaya lampu kamar yang biasanya terasa hangat kini menyengat seperti jarum-jarum api yang menusuk langsung ke saraf otak. Tubuh ku, yang biasanya aku paksa bekerja sepuluh jam sehari di kantor, kini terasa seberat timah. Tulang-tulang ku ngilu, dan napas ku terasa panas, seolah-olah paru-paru ku baru saja menghirup uap mendidih.

“Sial. Benar-benar tumbang,” Keluh ku dalam hati, suara ku bahkan tidak sanggup keluar dari tenggorokan yang terasa kering dan berduri. “Deadline kemarin, kencan yang dipaksakan, dan janji-janji malam itu... sepertinya fisik manusia ku sudah mencapai batasnya. Tubuh ini berontak.”

Aku mencoba menggerakkan lengan untuk meraih segelas air di nakas, namun sebuah tekanan lembut tapi tak tergoyahkan menahan bahu ku.

"Jangan bergerak, Dimas."

Suara itu rendah, dingin, dan penuh otoritas. Aku menoleh perlahan, mendapati Linda duduk di tepi tempat tidur. Dia tidak lagi memakai gaun musim gugur atau kemeja kantor ku. Dia memakai yukata hitam longgar, telinga rubahnya tegak sempurna dengan ujung yang sedikit bergetar, dan ekor tebalnya melingkar di atas selimut yang menutupi tubuh ku, seolah sedang mengunci posisi ku agar tidak bisa melarikan diri.

"Linda... aku hanya... ingin minum," bisik ku parau.

"Aku yang akan memberi mu minum. Aku yang akan memberi mu makan. Aku yang akan mengatur setiap napas yang kau ambil hari ini," Linda meraih gelas air, menyodorkannya ke bibir ku dengan sangat hati-hati, namun matanya yang hijau berkilat tajam, campuran antara kecemasan yang mendalam dan dominasi yang mutlak.

Aku meminumnya rakus. Air dingin itu terasa seperti anugerah, tapi begitu gelas kosong, Linda langsung menekan ku kembali ke bantal.

"Sekarang, tidur lagi."

"Aku harus menelepon kantor, Linda. Ada laporan pengiriman yang—"

"Kantor?" Linda memotong kalimat ku dengan tawa hambar yang membuat bulu kuduk ku berdiri. Ia mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah ku. Aroma melatinya yang kuat kini bercampur dengan bau obat-obatan herbal yang entah sejak kapan ia siapkan. "Kau masih memikirkan tumpukan kertas itu saat suhu tubuh mu bisa digunakan untuk merebus telur? Manusia benar-benar makhluk yang tidak tahu prioritas."

"Tapi ini tanggung jawab ku..."

"Tanggung jawab mu adalah tetap hidup untuk ku!" Linda mendesis, taring kecilnya sedikit menyembul. Ia membelai pipi ku dengan punggung tangannya yang dingin. "Kau tahu apa yang aku lakukan tadi pagi? Aku mengambil ponsel mu dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah kau temukan. Aku juga sudah mengirimkan pesan singkat ke bos mu, menggunakan jari mu saat kau pingsan tadi, bahwa kau sedang sakit parah dan tidak boleh diganggu selama tiga hari ke depan."

“Dia melakukan apa?” pikir ku panik. “Habislah reputasi ku sebagai manajer teladan. Tapi melihat tatapan matanya sekarang... protes adalah pilihan terakhir yang ingin aku ambil jika aku masih ingin melihat matahari esok hari.”

"Linda, kau tidak perlu sampai sejauh itu..."

"Aku perlu, Dimas! Kesehatan manusia itu sangat lemah, sangat rapuh," suaranya mendadak melunak, ada getaran luka di sana. Ia membenamkan wajahnya di dada ku, menghirup aroma tubuh ku yang sedang demam. "Kau bisa mati hanya karena kelelahan, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau adalah milik ku. Setiap sel darah mu, setiap napas mu, adalah properti ku. Jika kau rusak, itu berarti kau telah merusak barang milik ku secara tidak bertanggung jawab."

Logika silumannya benar-benar unik. Dia tidak melihat ini sebagai 'merawat orang sakit', tapi sebagai 'perbaikan aset berharga'.

"Aku hanya butuh istirahat sebentar, Sayang. Sore nanti aku pasti sudah baik-baik saja."

"Tidak. Kau tidak akan turun dari tempat tidur ini sampai aku yang mengizinkan," Linda bangkit, ekornya mengibas-ngibas kuat, memukul udara. "Aku sudah memasang sihir pelindung di ambang pintu kamar. Jika kau mencoba melangkah keluar, kau akan merasa lemas seketika. Aku tidak bercanda, Dimas."

Aku hanya bisa menghela napas pasrah. “Beginilah rasanya dikurung oleh istri rubah. Posesifitasnya mencapai level maksimal saat dia merasa posisinya sebagai pelindung terancam oleh 'kelemahan' fisik ku.”

Tak lama kemudian, Linda kembali dengan mangkuk porselen berisi bubur aromatik yang baunya sangat asing namun menggugah selera.

"Makan ini. Ini ramuan dari ras kami. Akar tanaman gunung yang dicampur dengan sari madu hutan. Ini akan memaksa suhu tubuh mu turun, meski mungkin rasanya sedikit... liar."

Ia menyuapi ku sesendok demi sesendok. Rasanya pahit, manis, dan pedas secara bersamaan. Setiap suapan membuat perut ku terasa hangat, seolah-olah ada energi yang merambat ke seluruh pembuluh darah ku.

"Enak?" tanyanya, matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik ku.

"Aneh, tapi terasa membantu," jawab ku. "Terima kasih, Linda."

"Jangan berterima kasih. Cukup patuhi perintah ku," ia meletakkan mangkuk kosong dan mulai membasuh kening ku dengan kain hangat. "Tadi saat kau mengigau, kau memanggil nama 'Elkan'. Kau memimpikan anak itu lagi?"

Aku mengangguk lemah. "Mimpi yang sama. Dia bertanya kenapa Papanya selalu sibuk."

Wajah Linda mendadak berubah sayu. Ia mengelus telinga rubahnya sendiri dengan tangan gemetar. "Mungkin itu peringatan. Jika kau tidak bisa menjaga diri mu sendiri, bagaimana kau bisa menjaga Elkan nanti? Manusia yang sakit-sakitan tidak akan kuat menggendong anak siluman yang energinya meluap-luap."

“Dia menggunakan rasa bersalah ku,” Keluh ku. “Taktik yang cerdik, Linda. Kau tahu persis di mana titik lemah ku.”

"Aku akan sehat, Linda. Aku janji."

"Kau harus sehat," bisiknya. Ia kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur, menyelinap ke bawah selimut bersama ku. Ia memeluk ku erat, menyandarkan kepalanya di bahu ku. "Aku akan membagikan sebagian energi ku pada mu malam ini. Ini akan membuat ku sedikit lemas besok, tapi aku tidak peduli. Aku lebih suka aku yang lemas daripada melihat mu terbaring tidak berdaya seperti ini."

"Jangan, Linda. Itu berbahaya buat mu."

"Diamlah, Manajer. Di sini, aku yang memegang kendali atas kesehatan mu."

Aku merasakan hawa hangat yang tidak biasa mulai mengalir dari tubuhnya ke tubuh ku. Rasanya seperti dibungkus oleh selimut wol yang sangat lembut di tengah badai salju. Rasa sakit di kepala ku perlahan memudar, digantikan oleh rasa kantuk yang sangat nyaman.

Namun, di tengah rasa kantuk itu, aku menyadari sesuatu. Linda tidak hanya memeluk ku. Ekornya melilit kaki ku dengan sangat kencang, dan tangannya mencengkeram kemeja kaus ku seolah-olah jika dia melepaskannya sedetik saja, aku akan menghilang ke alam baka.

"Kau tahu, Dimas..." Linda berbisik di telinga ku, suaranya kini terdengar sangat posesif dan dalam. "Saat kau pingsan tadi pagi, aku sempat berpikir untuk mengubah mu menjadi siluman saja. Agar kau abadi, agar kau tidak bisa sakit, agar kau bisa menemani ku selamanya tanpa batas usia manusia yang pendek."

Jantung ku berdegup kencang. Itu adalah pikiran yang menakutkan sekaligus menggoda.

"Tapi aku tahu kau mencintai kemanusiaan mu," lanjutnya dengan nada sedih. "Kau mencintai kantor mu, kawan-kawan mu, dan cara mu melihat dunia sebagai manusia. Jadi, aku memutuskan untuk menjaga mu tetap hidup sebagai manusia, selama mungkin. Tapi harganya adalah... kau harus menuruti semua aturan ku. Termasuk larangan turun dari tempat tidur ini selama tiga hari ke depan."

"Tiga hari? Linda, itu terlalu lama!"

"Satu kata protes lagi, dan aku akan menambahnya menjadi satu minggu," ancamnya sambil menggigit daun telinga ku pelan, sebuah gigitan peringatan.

Aku menutup mata, menyerah sepenuhnya pada dominasi istri siluman ku. “Mungkin ini adalah cara alam semesta memaksa ku untuk berhenti sejenak. Berhenti mengejar target, berhenti memikirkan klien, dan mulai mendengarkan kebutuhan wanita yang rela memberikan energinya hanya agar aku bisa bernapas lebih lega.”

"Baiklah... tiga hari," gumam ku.

"Pintar," Linda mencium kening ku yang mulai mendingin. "Sekarang tidur. Aku akan menjaga mu. Jika ada nyamuk yang berani mendekati mu, aku akan mematahkan sayapnya. Jika ada telepon yang berani berdering, aku akan menghancurkannya. Hanya ada aku dan kau di dunia ini sekarang."

Dalam kondisi setengah sadar, aku merasakan Linda terus membisikkan kata-kata klaim kepemilikannya. Dia benar-benar memperlakukan ku seperti harta karun yang rapuh, sebuah permata manusia yang harus ia lindungi dari kerasnya dunia luar. Rasa posesifnya yang biasanya membuat ku sesak, kali ini terasa seperti benteng yang paling aman di dunia.

“Tidur saja, Dimas,” Keluh terakhir ku sebelum benar-benar terlelap. “Biarkan ratu rubah mu memerintah hari ini. Toh, tidak ada tempat yang lebih baik untuk jatuh sakit selain di dalam dekapan siluman yang mencintai mu sampai ke titik paling gila.”

Suhu tubuh ku akhirnya stabil. Napas ku menjadi teratur. Di dalam mimpi, aku melihat Elkan kecil lagi. Kali ini dia tidak berlari. Dia sedang duduk di samping tempat tidur ku, memegang tangan ku dengan tangan kecilnya, sementara Linda berdiri di belakangnya dengan ekor yang mengembang megah, menjaga kami berdua dari bayang-bayang dunia luar.

Kesehatan manusia memang lemah, tapi cinta seorang siluman... itu adalah obat yang paling mujarab dari segala ramuan medis yang pernah ada.

Malam itu, apartemen nomor 404 menjadi sunyi senyap. Tidak ada dering telepon, tidak ada ketukan pintu, tidak ada gangguan. Hanya ada detak jantung dua makhluk yang berbeda ras, yang sedang bertukar energi dan janji di bawah perlindungan malam.

Linda tidak pernah melepaskan pelukannya. Bahkan dalam tidurnya, telinganya tetap waspada, menangkap setiap frekuensi yang mungkin bisa mengganggu istirahat suaminya. Bagi dunia, aku adalah manajer yang sedang sakit. Bagi Linda, aku adalah dunianya yang sedang butuh perbaikan. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun menginterupsi proses itu.

"Cepat sembuh, Manajer ku," bisik Linda dalam tidurnya, ekornya membelit ku semakin erat. "Masa depan kita tidak bisa menunggu terlalu lama."

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘSang Senja @☠️⃝🖌️M⃤
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!