ini adalah kelanjutan cerita dari Dinda dan sistem,,dimana ini tentang kehidupan akhir bahagia wanita yang bernama Dinda Kirana,,setelah banyak rintangan dalam hidupnya,, akhirnya dia menemukan cinta yang benar-benar dia harapkan.
jangan lupa mampir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyelamatkan dan rencana
Dinda yang saat ini berada di pemukiman warga menatap sekitarnya dengan tajam. Dia melihat sebuah rumah yang bersih, dan dari dalam terdengar suara tangisan.
Dengan wajah datar dia berjalan ke arah rumah itu dan masuk dengan tubuh transparan. Saat ini dia menggunakan sihirnya agar tidak terlihat.
Setelah masuk, dia melihat seorang pemuda sedang memukuli istrinya dengan kayu.
"Kamu masih memikirkan laki-laki itu? Kamu wanita tidak tahu diri! Aku ini suamimu dan kamu seharusnya memikirkan ku, bukan laki-laki lain!" bentaknya marah.
Plak!
Pemuda itu menampar wajah wanita yang duduk di lantai. Dia membuang kayunya lalu menjambak rambut panjang wanita yang menangis itu.
"Hiks... ampun, Mas. Maafkan aku. Aku hanya melihat fotonya saja. Dan aku tidak pernah menemuinya atau berselingkuh dengannya. Aku tetap setia padamu! Tidak sepertimu, Mas, yang tega membawa wanita lain ke rumah ini," teriak wanita itu marah sambil menangis.
"Kamu mulai berani melawanku! Sudah kubilang, jangan pernah mengatur hidupku! Hidupku, aku yang berhak mengaturnya karena kamu sekarang istriku yang harus menuruti kata suamimu!" ucapnya dingin.
"Lepaskan aku, Mas. Ini sakit. Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa kamu menyakitiku seperti ini?" ucapnya lirih.
Pemuda itu melepas cengkeramannya dari rambut wanita yang terlihat memprihatinkan. Lalu dia menendang wanita itu tanpa perasaan.
"Apa pun yang kamu lakukan, semua salah bagiku! Dan lihat saja, aku akan memberi pelajaran pada pemuda itu. Karena dia kamu terus melawan dan membantah ucapanku!" ucapnya licik.
Wanita itu menggeleng dengan wajah pucat. Dia bersujud memohon pada suaminya.
"Jangan... jangan... Aku mohon jangan lakukan itu. Dia... dia tidak bersalah dan tidak melakukan apa pun. Aku berjanji akan membuang semua fotonya," ucapnya memohon.
Tapi pemuda itu tidak peduli. Dia menendangnya lagi hingga kepala wanita itu terbentur dan mengeluarkan darah. Setelah itu, tanpa rasa kasihan dia pergi meninggalkan rumah.
Dinda yang melihat dan mendengar semua itu merasa sakit hati. Air matanya menetes. Dengan tatapan membunuh, dia mengejar pemuda itu dengan tangan mengepal.
Sementara pemuda yang berjalan di gang kecil itu merasa suasana mencekam. Gelap dan sunyi membuat dia mengelus tengkuknya.
"Kenapa malam ini terasa beda dari biasanya? Aku merinding. Apa cuma perasaanku saja?" gumamnya.
Syuttt...
Langkah pemuda itu terhenti. Dia menatap seorang wanita yang berdiri di ujung jalan. Wanita itu menatapnya bengis, tangannya memegang sesuatu.
Dan dia merasakan jantungnya sakit. Sontak dia memegang dadanya yang sudah berlumuran darah segar.
"Siapa kamu?" tanyanya terbata-bata. Napasnya tersengal.
Dinda berjalan anggun. Sorot matanya sangat menakutkan.
"Adik yang ingin kamu beri pelajaran," ucapnya dingin.
Mata pemuda itu melotot. Dia terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya. Belum sempat bicara, pemuda itu sudah jatuh dan tewas di tempat.
Dinda mengarahkan jarinya sehingga tubuh pemuda itu menghilang. Melihat semua beres, Dinda kembali ke rumah sederhana itu.
Di dalam rumah, terlihat wanita itu duduk sambil menatap foto seorang pemuda yang tersenyum manis. Dia tidak peduli darah yang mengalir dari kepalanya. Dia menatap foto itu dengan air mata mengalir.
"Maafkan aku karena tidak pernah berani menemuimu, hiks... Maafkan aku. Apa kamu tahu aku sebenarnya sangat mencintaimu, tapi takdir tidak menyatukan kita. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Aku selalu berharap kamu mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus," ucapnya, lalu memeluk foto itu erat.
"Ikutlah denganku. Kakakku sudah menunggu kedatanganmu. Dan aku berjanji akan mempersatukan kalian berdua. Dan yang harus kamu tahu, kakakku juga sangat mencintaimu." Suara seorang wanita membuat dia tersentak. Dia menatap wanita cantik bergaun cokelat yang tersenyum manis padanya.
"Siapa kamu...?" tanyanya waspada.
Dinda berjalan mendekatinya, membuat wanita itu mundur.
"Jangan takut. Aku anak dari pemuda di foto itu. Dan aku akan membawamu menemui kakakku," ucapnya yakin. Belum sempat wanita itu menjawab, Dinda membuatnya pingsan dan memasukkannya ke dalam ruangnya.
"Malam ini aku akan bersaksi untukmu, Kak. Dan juga aku akan mempersatukan cinta kalian berdua. Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan untuk wanita ini," gumamnya, lalu menghilang dari sana.
*_**_**
Di mansion Erlangga, tamu sudah berdatangan. Banyak rekan bisnis Verick yang menghadiri resepsi Morgan. Di sana terlihat Verick menyambut tamu sambil tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih karena berkenan hadir di pesta pernikahan putra saya, Tuan," ucap Verick pada salah satu rekan bisnisnya.
"Justru saya yang merasa terhormat karena Anda mengundang saya dan keluarga, Tuan," ucap pria paruh baya itu dengan ramah.
Verick mengangguk dan tersenyum. Dia melirik ke arah tangga, heran karena putrinya belum juga terlihat.
"Di mana anak itu? Apa dia masih tidur?" gumamnya dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Silakan menikmati acara pestanya," ucap Verick pada pria paruh baya itu, yang dibalas senyum.
Di sisi Gara dan Alexia yang sedang berbincang, mereka melihat kedatangan Verick dengan wajah murung. Keduanya heran.
Sesampainya di hadapan mereka, Verick menatap Gara serius.
"Di mana kakakmu? Kenapa dia belum terlihat? Acara resepsi kakakmu akan segera dimulai tapi dia belum turun," ucap Verick resah.
Gara menatap istrinya lembut.
"Sayang, sebaiknya kamu bersama Kak Wiwi. Aku ingin bicara dulu dengan Ayah," ucap Gara serius.
Alexia mengangguk dan pergi meninggalkan ayah dan suaminya. Gara yang melihat kepergian istrinya menatap ayahnya serius.
"Ayah, apa mungkin Kakak kelelahan? Atau dia sedang bersama pemuda yang mengaku kekasihnya itu? Dari tadi aku juga belum lihat pemuda itu," ucap Gara serius.
Verick terdiam dan menatap putranya dingin.
"Cepat lihat apa yang kakakmu lakukan di kamar! Soal pemuda itu, dia di kamarnya dan bilang tadi pada Ayah akan turun bersama kakakmu. Mungkin putri Ayah belum bangun sehingga pemuda itu masih di kamarnya," ucap Verick yakin.
Gara mengangguk dan pergi meninggalkan ayahnya. Dia melihat tamu yang sudah ramai.
"Semoga saja pernikahan Kak Morgan lancar. Aku berharap tidak ada yang mengacaukan resepsinya malam ini," gumamnya dalam hati, lalu berjalan menuju kamar kakaknya.
berbagai peran dan kisah di ceritakan menjadi 1 dengan peran yang tegas dan sakti..
suka banget sama ceritanya, recommended deh pokoknya..