Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dua hari berlalu dengan suasana yang begitu melankolis.
Luka fisik di wajah Linggar sudah mulai mengering, meski lebam keunguan masih samar terlihat di bawah polesan riasan tipisnya.
Bandara dipenuhi oleh hiruk-pikuk orang, namun bagi Linggar, dunianya terasa sunyi.
Ia berdiri di depan pintu keberangkatan, siap meninggalkan segala kenangan pahit di Jakarta.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang sangat ia kenali berdiri di antara kerumunan.
Rangga ada di sana, napasnya sedikit terengah seolah baru saja berlari jauh.
Penampilannya jauh lebih rapi dibanding malam tragis itu, namun sorot matanya tetap menyiratkan kerinduan dan penyesalan yang mendalam.
Rangga mendekat perlahan, ia tidak mencoba menarik tangan Linggar atau memohonnya untuk tetap tinggal. Ia tahu diri.
"Ini untuk kamu," ucap Rangga dengan suara rendah yang bergetar.
Ia menyodorkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang dibungkus dengan pita perak.
"Hadiah perpisahan. Sesuatu yang seharusnya aku berikan sejak lama, bukan sebagai bos kepada sekretarisnya, tapi sebagai pria yang mengagumimu."
Linggar menerima kotak itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia tidak membukanya sekarang, namun ia bisa merasakan ketulusan dari cara Rangga menatapnya.
Ketegangan yang selama ini menyelimuti mereka seolah mencair di bawah atap bandara.
Linggar menatap Rangga, lalu menganggukkan kepalanya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang tulus setelah sekian lama.
Senyum yang menandakan bahwa ia sudah mulai memaafkan, meski belum bisa melupakan.
"Terima kasih, Rangga," bisik Linggar.
"Jika kita jodoh, pasti ketemu lagi. Jaga kesehatan kamu ya."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Rangga, itu adalah secercah harapan di tengah badai.
Ia mematung, menatap punggung Linggar yang perlahan menjauh menuju gerbang keberangkatan.
Linggar berjalan dengan tegak, tanpa menoleh lagi, membawa koper dan hatinya yang baru menuju Yogyakarta.
Di tengah riuh bandara, Rangga berbisik pada angin, "Sampai jumpa lagi, Linggar. Aku akan menunggumu, seberapa lama pun itu."
Mesin pesawat menderu halus, membawa Linggar semakin jauh menembus awan, meninggalkan langit Jakarta yang penuh sesak dengan kenangan.
Di kursi penumpang yang nyaman, ia menatap ke luar jendela sejenak sebelum pandangannya jatuh pada kotak beludru biru tua di pangkuannya.
Dengan napas yang diatur perlahan, Linggar membuka kotak itu.
Matanya seketika berkaca-kaca. Di atas bantalan satin putih, tergeletak sebuah kalung emas putih yang sangat cantik dan elegan.
Liontinnya bukan sekadar inisial namanya, melainkan perpaduan dua huruf yang dijalin dengan sangat indah: LR. Linggar & Rangga.
Atau mungkin bagi Rangga, itu adalah simbol bahwa Linggar adalah satu-satunya nama yang kini terukir di hatinya.
Tidak ada lagi 'Nadya', tidak ada lagi bayangan. Hanya ada identitas asli Linggar yang kini diakui dan dihargai oleh pria itu.
Linggar menyentuh jemarinya pada liontin dingin itu.
Ia teringat kalimat terakhir Rangga di bandara tadi.
Ada ketulusan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Meskipun hatinya masih memiliki luka, namun pemberian ini terasa seperti obat penawar yang perlahan meredakan perihnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Linggar melepas kaitannya dan memasangkan kalung itu di lehernya.
Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela pesawat yang gelap.
Kalung itu melingkar dengan sempurna, berkilau indah di kulitnya.
"Terima kasih, Rangga," bisiknya lirih, hampir tak terdengar di antara suara mesin pesawat.
Ia menyandarkan kepala pada kursi, memejamkan mata dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Kalung itu kini menjadi satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan masa lalu yang ingin ia sembuhkan.
Di bawah sana, daratan Yogyakarta sudah menanti untuk memberinya babak baru, tempat di mana ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik foto siapa pun.
Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sutjipto.
Udara Yogyakarta yang terasa lebih tenang dan hangat menyambut Linggar saat ia melangkah keluar dari pintu kedatangan.
Di sana, Pak Richard sudah berdiri dengan senyum kebapakan yang tulus, melambaikan tangan ke arahnya.
"Selamat datang di rumah, Linggar," ucap Pak Richard hangat sambil membantu membawakan kopernya.
Linggar dibawa menuju sebuah rumah asri bergaya klasik Jawa di dekat kawasan Keraton.
Suasana tenang dengan suara burung dan pepohonan hijau seketika memberikan kedamaian yang selama ini ia rindukan.
Setelah merapikan barang-barangnya, Linggar duduk di teras rumah dan melakukan panggilan video kepada Nadya.
"Mbak! Sudah sampai?" wajah ceria Nadya muncul di layar ponsel.
"Sudah, Nad. Mbak sudah di rumah baru. Nyaman sekali di sini," jawab Linggar sambil tersenyum.
Saat ia bergerak, kilauan dari lehernya tertangkap kamera.
Linggar secara tidak sadar menyentuh liontin LR yang melingkar indah di sana.
"Wah, apa itu Mbak? Kalung baru?" tanya Nadya penasaran.
Linggar mendekatkan kamera ponselnya, memperlihatkan inisial yang terjalin manis tersebut.
Nadya terdiam sejenak, matanya membelalak menyadari itu adalah pemberian Rangga.
Ia menghela napas panjang, menatap kakaknya dengan pandangan haru sekaligus prihatin.
"Aahh Mbak Linggar, jadi Mbak memakainya?" bisik Nadya.
"Sampai kapan Mbak mau menghukum Mas Rangga? Dia benar-benar hancur sejak Mbak pergi. Dari tadi ia menghubungiku hanya untuk memastikan Mbak sampai dengan selamat."
Linggar terdiam, jemarinya mengusap lembut huruf R pada kalungnya.
Ia menatap langit Yogyakarta yang mulai menguning oleh senja.
"Mbak tidak menghukumnya, Nad. Mbak hanya sedang mencoba mencintai diri Mbak sendiri dulu. Kalau memang takdir, jarak Jakarta-Yogya tidak akan berarti apa-apa," jawab Linggar pelan namun pasti.
Nadya mengangguk di layar ponsel, memberikan senyum penyemangat.
"Ya sudah, Mbak istirahat dulu ya. Besok kan hari pertama kerja sama Pak Richard. Jangan begadang!"
"Iya, Nad. Kamu juga ya," jawab Linggar sebelum mematikan panggilan video tersebut.
Linggar merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Suasana Yogyakarta yang tenang membuat matanya mulai terasa berat. Namun, tepat saat ia akan memejamkan mata, ponselnya bergetar di atas nakas.
Rangga mengirimkan sebuah foto ruangan kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja yang remang-remang.
Di atas meja itu, masih ada satu cangkir kopi yang isinya tinggal separuh.
Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat tertulis:
"Kantor ini terasa sangat luas dan hampa tanpa suaramu, Linggar. Jakarta terasa sepi sekali malam ini."
Melihat pesan itu, Linggar tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya.
Perasaan kesal yang dulu ada kini berganti dengan rasa geli yang aneh.
Ia pun mengetikkan balasan singkat dengan jemari yang lincah:
"Gombal! Sudahlah, Pak Rangga, lekas istirahat!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Linggar meletakkan ponselnya, menarik selimut, dan memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Di lehernya, kalung LR itu masih melingkar, menjadi saksi bisu sebuah awal yang baru.