NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga Tetap Dekat

Pagi itu, area kantin agensi masih cukup tenang. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang. Takara duduk di salah satu sudut dengan beberapa lembar dokumen teknis di depannya. Ia sesekali melirik jam tangan, menunggu sosok yang akan menjadi partner kerjanya selama satu tahun ke depan.

"Selamat pagi, Takara?"

Sebuah suara bariton yang tenang namun mantap memecah konsentrasinya. Takara mendongak dan sedikit tertegun. Pria yang berdiri di depannya mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu yang pas di badannya yang tegap, dipadukan dengan celana kain gelap yang memberikan kesan rapi namun modern. Rambutnya tertata rapi, dan matanya kini tidak lagi tersembunyi di balik kacamata tebal yang dulu sering melorot ke hidung.

"Oh! Arlo ya? Silakan duduk," ucap Takara, mencoba menyembunyikan rasa panglingnya.

"Akhirnya saya ketemu lagi sama arsitek yang selalu dibanggakan oleh para senior di Brisbane," kata Arlo sambil menarik kursi di hadapan Takara. Senyumnya kini terlihat lebih percaya diri, jauh dari kesan anak magang yang dulu sering gugup saat Takara memberikan revisi tajam.

"Ah, bisa aja... saya masih perlu banyak belajar," jawab Takara rendah hati, meski dalam hati ia merasa bangga melihat perkembangan Arlo.

Arlo meletakkan tas laptopnya dan langsung beralih ke mode serius. "Saya sudah membaca seluruh blueprint yang Anda kirimkan semalam. Secara estetika, jembatan kayu dan kolam di lantai tengah itu adalah sebuah mahakarya. Tapi secara teknis sipil, itu adalah tantangan besar, Takara."

Takara menopang dagunya, tertarik. "Tantangan besar dalam hal apa? Beban airnya?"

"Bukan cuma beban air," Arlo membuka tabletnya dan menunjukkan simulasi struktur bangunan. "Seoul punya zona seismik yang berbeda dengan Brisbane. Kita harus memastikan getaran sekecil apa pun tidak membuat sambungan kayu jembatan itu retak atau, lebih buruk lagi, menyebabkan kebocoran kolam ke lantai bawah yang berisi studio rekaman mahal."

Takara mengangguk perlahan. Inilah alasan mengapa ia membutuhkan Arlo. Ketajaman analisis teknik pria itu akan menjadi penyeimbang bagi visinya yang artistik.

"Tapi tenang saja," Arlo tersenyum kecil, melihat raut wajah Takara yang mulai serius.

"Itu alasan saya di sini. Saya akan pastikan desain Anda berdiri kokoh tanpa mengubah satu senti pun nilai seninya."

Obrolan teknis tentang beban struktur dan material kayu perlahan mencair menjadi percakapan yang lebih santai. Arlo menutup tabletnya, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap Takara dengan ekspresi yang lebih hangat.

"Oh iya, Takara. Saya baru tahu dari manajemen firma di Brisbane kalau apartemen yang disiapkan buat kita itu ternyata bersebelahan. Satu lantai di gedung yang sama," ujar Arlo sambil tersenyum tipis.

Takara sedikit terkejut, namun merasa lega.

"Oh ya? Wah, itu bakal memudahkan koordinasi kita kalau ada revisi mendadak di malam hari."

"Benar. Tapi selain kerjaan..." Arlo menjeda kalimatnya sejenak, menatap Takara dengan sungguh-sungguh. "Gimana kalau kita Seoul hunting bareng? Maksud saya, kita berdua sama-sama orang baru di sini setelah sekian lama di Australia. Pasti banyak tempat seru yang belum kita coba."

Takara sempat teringat janji jalannya dengan Jake yang gagal total kemarin. Ada sedikit rasa getir di hatinya, namun tawaran Arlo terdengar sangat logis dan aman. Arlo adalah rekan kerjanya, mereka tinggal di gedung yang sama, dan yang paling penting, Arlo tidak punya jadwal latihan yang super ketat atau pengawasan manajer yang menyeramkan.

"Aku senang aja kalau kamu ajak jalan. Kebetulan kayaknya aku nggak berani deh kalau harus muter-muter sendirian, apalagi Seoul udah banyak berubah sejak terakhir aku di sini," jawab Takara jujur.

"Sip. Berarti sudah diputuskan ya. Akhir pekan ini kita mulai misi pencarian kopi terbaik di Seoul," balas Arlo dengan nada riang.

———

Takara menatap layar ponselnya yang masih gelap dengan perasaan campur aduk. Pesan yang ia kirim satu jam lalu bahkan belum menunjukkan tanda-tanda dibaca. Padahal, tadi Jake terlihat sangat "aktif" saat mengirimkan pesan sindiran soal Arlo.

"Mungkin dia beneran latihan tambahan," pikir Takara mencoba berpikiran positif, meski rasa kecewa mulai merayap di hatinya.

Suasana agensi mulai sepi karena jam kerja staf kantor sudah berakhir. Takara masih duduk di lobi, memegangi perutnya yang sudah mulai mengeluarkan suara protes. Di saat itulah, langkah kaki yang tenang mendekat.

"Belum pulang, Takara?" tanya Arlo. Ia sudah mengganti tas kantornya dengan tas punggung, tampak siap untuk keluar. "Teman lama kamu nggak jadi datang?"

Takara tersenyum canggung, menyembunyikan ponselnya ke dalam tas. "Kayaknya dia tiba-tiba sibuk banget. Biasalah, urusan mendadak."

Arlo memperhatikan wajah Takara yang sedikit pucat. "Kamu kelihatan lapar banget. Gimana kalau kita cari makan malam aja? Di dekat apartemen kita ada kedai Gukbap yang katanya legendaris. Daripada kamu nunggu sesuatu yang nggak pasti sambil kelaparan."

Kalimat "nunggu sesuatu yang nggak pasti" entah kenapa terasa sangat menohok bagi Takara. Ia melirik ponselnya sekali lagi. Tetap nihil.

"Oke deh. Ayo makan. Aku udah kelaparan setengah mampus," jawab Takara akhirnya sambil berdiri.

Mereka berdua berjalan keluar menuju area parkir. Di saat yang bersamaan, di dalam ruang latihan yang tertutup rapat, Jake baru saja menyelesaikan sesi monitoring evaluasi yang sangat ketat. Ponselnya sengaja disita oleh manajer selama dua jam penuh karena ia dianggap tidak fokus saat latihan tadi siang.

Begitu ponsel dikembalikan, Jake langsung membuka pesan dari Takara dengan napas memburu.

📲 Jake: JADI! JADI BANGET, RA! Maaf tadi ponsel gue disita.

📲 Jake: Gue udah di parkiran basement sekarang, di mobil biasa. Lo turun ya, kita langsung cabut.

Jake menunggu dengan jantung berdebar. Namun, saat ia melongokkan kepalanya dari jendela mobil yang gelap, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya mencelos.

Di seberang sana, Takara baru saja masuk ke dalam mobil SUV perak milik Arlo. Ia melihat Arlo membukakan pintu untuk Takara, dan Takara memberikan senyum terima kasih yang manis. Mobil itu kemudian melaju pergi, meninggalkan Jake yang mematung di dalam kegelapan basement.

Jake melempar ponselnya ke kursi samping dengan frustrasi. Ia merasa dunia sedang mempermainkannya. Saat ia punya waktu, Takara pergi dengan pria lain. Saat Takara menunggunya, dia malah terkurung.

📲 Jake: Gue telat ya? Gue liat lo baru aja pergi sama dia.

📲 Jake: Selamat makan malam, Takara. Maaf gue selalu jadi orang yang bikin lo nunggu.

Di dalam mobil Arlo, ponsel Takara bergetar. Ia membaca pesan itu dan seketika selera makannya hilang. Ia melihat ke arah kaca spion, tapi mobil Jake sudah tidak terlihat.

———

Kedai itu terasa seperti pelukan hangat di tengah dinginnya malam Seoul yang mulai gerimis. Nuansanya sangat klasik, dinding kayu berwarna madu, cahaya temaram dari lilin-lilin kecil yang berdansa di atas meja, dan aroma Jjigae yang gurih memenuhi udara.

Tempat ini sebenarnya terlalu romantis untuk sekadar makan malam bersama rekan kerja, tapi kehangatannya berhasil meredakan rasa sesak di dada Takara.

Arlo dengan sigap menarikkan kursi untuk Takara sebelum duduk di hadapannya.

"Terima kasih ya," ucap Takara tulus. Ia meletakkan tasnya, mencoba melepaskan beban pikiran tentang Jake yang tertinggal di parkiran agensi tadi.

"Sama-sama. Kamu pantas mendapatkan makan malam yang tenang setelah hari pertama yang melelahkan," balas Arlo. Ia memesankan beberapa menu andalan kedai itu tanpa perlu banyak bertanya, seolah tahu apa yang bisa mengembalikan tenaga Takara.

Takara memperhatikan Arlo dari balik cahaya lilin. Pria ini sangat tenang. Setiap gerakannya sopan dan penuh perhitungan, ciri khas seorang insinyur, namun ada kehangatan yang tidak kaku. Meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka sebagai partner dewasa,

Takara merasa Arlo adalah pria yang sangat bisa diandalkan. Ada rasa aman yang instan saat berada di dekatnya, sesuatu yang sangat ia butuhkan saat dunianya dengan Jake terasa begitu penuh ketidakpastian.

Sambil menunggu makanan datang, Arlo memulai percakapan yang ringan, tidak lagi membahas soal beton atau beban struktur.

"Kamu tahu, Takara? Di Brisbane, aku itu sempat loh datang ke kantor, aku lihat ada staf baru, aku selalu segan mau ajak kamu ngobrol karena kamu kelihatan sangat fokus dan... sedikit menakutkan kalau sudah di depan maket," Arlo terkekeh pelan. "Tapi melihat kamu sekarang, di Seoul, kamu terlihat lebih 'manusiawi'. Mungkin udara Korea cocok untukmu."

Takara tersenyum tipis. "Mungkin. Atau mungkin karena aku sadar, di sini aku nggak punya siapa-siapa selain proyek ini dan... ya, partner kerja yang baik seperti kamu."

Mendengar itu, Arlo menatap mata Takara sedikit lebih lama. "Kamu punya aku sekarang. Setidaknya untuk urusan navigasi kota dan urusan teknis di lapangan."

Di saat suasana sedang sangat manis, ponsel Takara yang tergeletak di meja kembali bergetar. Sebuah notifikasi muncul, menyinari permukaan meja kayu itu.

📲 Jake: Gue masih di depan gedung apartemen lo. Gue nggak akan pergi sampai lo pulang. Gue mau minta maaf langsung.

Takara tertegun. Ia melirik Arlo yang sedang menuangkan teh hangat ke cangkirnya, lalu kembali menatap layar ponsel. Jake nekat. Dia benar-benar nekat menunggu di depan apartemen di mana Arlo juga tinggal di sana.

Jika Arlo dan Takara pulang bersama dan melihat Jake di sana, itu akan menjadi bencana besar.

"Takara? Makanannya sudah datang," suara Arlo membuyarkan lamunannya.

"Ah, iya. Kelihatannya enak banget," jawab Takara dengan nada yang sedikit bergetar. Ia mencoba menyuap makanannya, namun pikirannya kini terbelah antara pria baik hati di depannya dan pria keras kepala yang sedang menunggu di bawah guyuran hujan di depan apartemennya.

———

Takara mengabaikan rasa lezat makanan di depannya dan menelan suapannya dengan terburu-buru. Alasan klasik "menstruasi" dan nyeri perut yang tiba-tiba ia gunakan agar bisa segera pergi. Meski Arlo menunjukkan kekhawatiran yang sangat tulus dan bersikeras mengantarnya, Takara tetap menolak dengan halus, beralasan ingin mampir ke minimarket untuk membeli kebutuhan pribadi.

Begitu berhasil keluar dari kedai, ia segera menghentikan taksi. Di dalam mobil, jantungnya berdegup kencang karena cemas bercampur kesal.

"Jake ini emang benar-benar bikin ulah," gumam Takara sambil memijat pelipisnya.

Sesampainya di depan lobi apartemen, benar saja siluet tinggi yang sangat ia kenal berdiri di sana, terbungkus hoodie gelap dan masker. Tanpa membuang waktu, Takara meraih lengan Jake dan menariknya masuk ke dalam lift sebelum ada penghuni lain (atau Arlo) yang melihat.

Begitu pintu unit apartemennya tertutup rapat, Takara langsung melepaskan cengkeramannya dan berbalik dengan napas memburu.

"Jake, stop ya! Gue ke sini bukan mau recokin kegiatan lo. Gue ke sini buat kerja profesional. Kalau lo emang sibuk dan nggak bisa dateng, itu nggak masalah buat gue. Gue ngerti!" jelas Takara dengan suara tertahan namun tegas.

Jake melepas maskernya, wajahnya tampak lesu dan penuh rasa bersalah. "Ya gue kan udah lama nggak main sama lo, Ra. Gue cuma mau nebus waktu yang hilang di Brisbane dulu."

"Tapi dunia lo sama gue kan udah beda, Jake! Tolong pahami lah!" ucap Takara, matanya mulai berkaca-kaca karena akumulasi rasa lelah dan stres hari ini.

"Di Brisbane, lo cuma Jake. Di sini, lo adalah aset agensi. Setiap langkah ceroboh yang lo buat, kayak nunggu di lobi apartemen gue, itu bisa ngerusak karir lo, dan ngerusak posisi gue sebagai arsitek di sini."

Jake terdiam. Ia menatap Takara yang berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang masih setengah kosong itu. Ia menyadari bahwa ambisinya untuk menjaga "persahabatan" mereka tetap sama seperti dulu justru menjadi beban bagi Takara.

"Jadi... lo ngerasa gue cuma bikin susah?" tanya Jake pelan, suaranya terdengar serak.

Takara menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. "Bukan gitu, Jake. Gue cuma mau kita realistis. Gue nggak mau tiap kali kita janji ketemu, berakhir dengan gue nunggu berjam-jam atau lo harus sujud-sujud ke manajer. Itu nggak sehat."

Jake mendekat satu langkah, menjaga jarak yang sangat tipis. "Gue cuma takut, Ra. Gue takut kalau gue nggak berusaha keras, lo bakal makin jauh. Apalagi sekarang ada si Arlo itu yang bisa ada di sebelah lo kapan aja."

Takara tertegun. Jadi ini pangkal masalahnya?

"Arlo itu rekan kerja gue, Jake. Dia profesional," tegas Takara. "Dan lo harusnya percaya sama gue, sebagaimana gue percaya sama lo selama bertahun-tahun ini."

Suasana mereda sejenak. Jake tertunduk, meratapi kebodohannya sendiri. "Maafin gue. Gue emang egois. Gue janji bakal lebih hati-hati. Tapi tolong... jangan jauhin gue karena dunia gue yang berisik ini."

Baru saja Takara hendak menjawab, terdengar suara kode password pintu ditekan dari unit sebelah. Itu pasti Arlo yang baru saja sampai. Takara refleks menutup mulutnya, jantungnya kembali berpacu.

"Lo harus pergi sekarang lewat pintu belakang atau tunggu 10 menit lagi sampai suasana sepi," bisik Takara panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!