Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SATU: MANGSA
Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula gala itu memuntahkan cahaya keemasan, menciptakan pantulan mewah di atas lantai marmer yang mengkilap. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, sesak oleh perpaduan aroma parfum mahal, cerutu kelas atas, dan dentingan gelas kristal berisi minuman keras yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup orang biasa selama setahun. Musik orkestra klasik mengalun lembut, namun melodi biola yang mendayu itu seolah-olah sedang berusaha menyembunyikan bisikan-bisikan konspirasi dan kesepakatan gelap yang terjadi di setiap sudut ruangan.
Orion Maximus Valentinus berdiri dalam diam di balkon lantai dua, menyatu dengan bayangan pilar megah yang menjulang. Jas hitam pesanan khusus itu membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna, mempertegas bahu lebarnya dan postur tubuh yang mengintimidasi. Di balik kain mahal itu, tersembunyi sebuah Glock yang selalu menemaninya, sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan ini, maut selalu mengintai. Tangannya yang besar menggenggam gelas berisi cairan amber, sesekali memutar isinya hingga es batu berdenting pelan.
Mata obsidian Orion menyapu kerumunan di bawah dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa pun merasa kerdil. Dia muak. Dia benci topeng-topeng sosial ini. Baginya, setiap orang di sana hanyalah bidak catur yang bisa dia hancurkan kapan saja. Namun, rasa bosan yang mencekik itu mendadak lenyap ketika matanya terpaku pada satu titik.
Di dekat jendela besar yang menampilkan panorama kota malam, seorang gadis berdiri di antara teman-temannya. Seraphina Elara Purnama. Dia tampak seperti setitik cahaya di tengah kegelapan yang pekat. Gaun sutra berwarna hijau zamrud yang dia kenakan tampak meluncur indah di kulit putih susunya, membungkus tubuh mungilnya dengan cara yang sangat elegan sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu yang berbahaya. Rambut hitamnya yang panjang tergerai, memantulkan cahaya lampu setiap kali dia tertawa renyah.
"Begitu murni," gumam Orion pelan, suaranya seberat bariton yang bergetar di tenggorokan.
Dalam benak Orion, sebuah kegelapan yang purba bangkit. Dia tidak melihat Seraphina sebagai seorang wanita cantik biasa; dia melihatnya sebagai kelinci putih yang tersesat di sarang serigala. Ada dorongan liar di dalam dadanya yang menuntut untuk memiliki, untuk menguasai, dan untuk mengotori kesucian yang terpancar dari wajah gadis itu. Dia membayangkan bagaimana ekspresi ketakutan akan menghiasi wajah cantik itu saat dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa melarikan diri darinya.
"Aku ingin mendengar suaramu yang bergetar saat menyebut namaku," batin Orion dengan seringai tipis yang mematikan. Pandangannya tidak lepas dari lekuk tubuh Seraphina yang terlihat samar di balik kain sutra. Dia bisa merasakan darahnya berdesir kencang, sebuah gairah yang sudah lama tidak dia rasakan kini meledak dengan hebat. Dia membayangkan bagaimana rasanya memiliki gadis itu di bawah kekuasaannya, mengklaim setiap jengkal kulitnya, dan memastikan bahwa tidak ada pria lain yang boleh menatapnya seperti yang dia lakukan sekarang.
Dia ingin merampas setiap tawa itu dan menggantinya dengan desahan pasrah yang hanya ditujukan untuknya. Baginya, kepolosan Seraphina adalah sebuah tantangan, sebuah kanvas putih yang sangat ingin dia nodai dengan warna hitam miliknya. Dia akan menghancurkan dinding pertahanan gadis itu, satu per satu, sampai yang tersisa hanyalah Seraphina yang memohon padanya.
"Jadilah milikku, kelinci kecil," bisiknya pada kegelapan.
Di bawah sana, Seraphina tiba-tiba menghentikan tawa kecilnya. Dia merasa merinding, seolah-olah ada sepasang mata predator yang sedang mengulitinya dari kejauhan. Dia menoleh ke arah balkon lantai dua, namun hanya kegelapan dan bayangan pilar yang dia temukan. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, sebuah perasaan asing merayap di perutnya, namun dia mencoba mengabaikannya dan kembali berbincang dengan Cika.
Orion meletakkan gelasnya di atas pagar balkon. Waktunya sudah tiba. Dia menuruni tangga marmer dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. Kehadirannya seolah membelah kerumunan. Orang-orang memberikan jalan, menatapnya dengan campuran antara rasa kagum dan ketakutan yang mendalam. Mereka tahu siapa dia—sang pangeran kegelapan dari keluarga Valentinus yang tidak pernah mengenal kata gagal.
Saat jarak di antara mereka terkikis, Orion merapikan ekspresi wajahnya. Dia menanggalkan tatapan predatornya dan menggantinya dengan topeng pria terhormat yang penuh karisma. Dia harus terlihat seperti penyelamat, sebelum dia menjadi sang penculik jiwanya.
"Maaf jika saya menganggu kalian," suara Orion terdengar merdu namun memiliki kekuatan yang tak terbantahkan.
Seraphina terkesiap, dia mendongak dan mendapati dirinya berhadapan dengan pria paling tampan yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Tinggi pria itu membuatnya harus mendongak, dan aroma kayu cendana serta tembakau mahal yang menguar dari tubuh Orion seolah menghipnotisnya seketika.
"Oh, tidak apa-apa," jawab Seraphina dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup. Pipinya merona merah di bawah tatapan intens pria di depannya.
"Saya Orion," pria itu mengulurkan tangannya yang besar.
Seraphina menyambut uluran tangan itu dengan ragu. "Saya Seraphina."
Saat telapak tangan mereka bersentuhan, sebuah sensasi seperti aliran listrik menjalar di seluruh tubuh Seraphina. Dia merasa tangan Orion begitu kuat, begitu protektif, namun ada sesuatu yang dingin dan menguasai di sana. Dia tidak tahu bahwa saat itu juga, dunianya yang tenang baru saja berakhir.
"Nama yang sangat indah, seindah pemiliknya," ucap Orion sambil mengecup punggung tangan Seraphina dengan gerakan yang sangat sopan namun terasa sangat intim. Dia menatap langsung ke dalam mata polos Seraphina, mengunci jiwanya di sana. "Saya rasa malam ini baru saja menjadi jauh lebih menarik bagi saya."
Seraphina hanya bisa terdiam, tersihir oleh senyum palsu sang predator yang kini sudah mengunci mangsanya dalam genggaman. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keramahan pria itu, Orion sedang merencanakan setiap langkah untuk menjadikannya tawanan dalam sangkar emas yang tak akan pernah terbuka lagi.