Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana bertemu orang tua
Keduanya langsung bergegas meninggalkan Indira disana, sementara Indira sendiri langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah tersebut. Dirinya benar benar capek hari ini dan Ingin segera istirahat saat itu juga, karena tubuhnya sendiri juga sudah mulai merasa sangat lelah dan butuh istirahat.
"Datang datang marah, nggak salam nggak apa. Eh pulangnya salam," Guman Indira kesal.
Ia lalu mematikan lampu ruang tamu dan langsung bergegas menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket baginya. Setelah semuanya selesai dirinya pun langsung masuk kedalam kamar, ia lalu merebahkan tubuhnya yang sangat kelelahan disana dan memainkan ponselnya sebelum tidur.
Rasanya tubuh itu mampu bernafas dengan lega setelah bersentuhan dengan kasur kamarnya, sudah sekian lama tubuhnya itu menantikan hal satu ini. Namun karena banyak kendala yang harus Indira alami, sehingga merebahkan tubuh disana harus di pending terlebih dahulu.
*Bun, apakah Bunda sudah tidur?* Indira lalu mengirimkan pesan kepada Ibunya.
*Ada apa? Belom tidur, habis nemenin Ayahmu makan tadi, ada apa Dira?* Tanya Ibunya membalas pesan tersebut.
*Kirain sudah tidur, aku mau bilang sama Bunda, aku habis didatangi RT disini, dia marah marah katanya aku melanggar aturan entah apalah itu.*
*Terus gimana? Nggak kamu jelaskan kalo yang datang kesana itu biasanya Ayah? Kalo nggak percaya kamu tunjukkan surat nikah Bunda sama Ayah ke mereka,*
*Udah tak bilangin, tapi mereka bilang suruh laporan kalo ada apa apa.*
Indira pun curhat kepada Ibunya mengenai kejadian yang telah dirinya alami saat ini, hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah mulai tertidur dengan nyenyak. Karena tubuhnya yang kelelahan, hal itu membuatnya mudah sekali untuk tertidur walaupun niatnya belum mau tidur.
******
Ketika Indira berada didalam rumah sendirian, Indira tengah sibuk dengan ponsel miliknya itu. Tak lama kemudian ia mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah, dan Indira langsung bergegas untuk melihat siapa yang datang berkunjung kerumah tersebut hari itu.
"Siapa ya?" Tanya Indira setelah selesai membuka pintu.
"Kamu keponakannya Mbak Ana kan?" Tanya wanita itu.
"Iya, kenapa?"
"Mau ngobrol sebentar,"
"Boleh."
Indira langsung mempersilahkan wanita itu untuk masuk kedalam rumah, karena tidak enak apabila mengobrol didepan pintu seperti itu. Disana Indira dikenal dengan wanita yang kalem karena jarang berinteraksi dengan suara keras kepada siapapun, dan tidak banyak orang yang bisa bergaul dengannya.
"Ini soal perjodohan itu, kamu setuju kan?" Tanya wanita itu setelah keduanya duduk.
"Belum bisa memutuskan, soalnya aku juga belum terlalu kenal dengannya," Jawab Indira.
Indira juga tidak bisa memutuskannya karena dirinya sendiri juga takut, ia takut menerima jika orangnya salah dan takut menolaknya jika memang benar itu jodohnya. Indira sendiri juga belum sepenuhnya mengenal orang yang dimaksud itu, namun dari cerita orang orang bahwa memang lelaki itu sudah berumur namun belum menikah juga.
Indira sendiri tidak mau menikah dengan orang hanya dengan rasa kasihan, daripada mengasihani orang lain sehingga membuatnya kehilangan diri sendiri, lebih baik dia mengasihani dirinya sendiri. Pernikahan bukanlah hal yang main main, dan tanpa seizin dari Indira sendiri lelaki itu sudah menyiapkan tanggal lamaran.
"Kemaren Ibunya aku beritahu kalo aku jodohkan kamu dengan keponakanku itu, dia kayaknya bahagia banget gitu loh." Ucap wanita itu.
"Benarkah?" Tanya Indira.
"Benar, terus keponakan Bude itu disuruh ngajak kamu datang kesana. Jadi kalo ada waktu luang jangan lupa berkunjung kesana juga,"
Wanita itu pun menceritakan semua tentang kebaikan lelaki itu kepada Indira, tanpa menceritakan sedikitpun sisi negatif dari lelaki itu. Seolah olah lelaki itu begitu baik sehingga tidak ada cela sedikitpun yang bisa membuat lelaki itu terlihat buruk, dan hal itu sama sekali tidak disukai oleh Indira.
Indira lebih menyukai sebuah kejujuran meskipun itu pahit dan Indira menyukai seseorang yang bisa menjadi dirinya sendiri dihadapannya dengan kata lain bisa memperlihatkan kebaikan dan keburukannya tanpa ada yang disembunyikan dibelakangnya agar dirinya bisa menilai nilai diri didalamnya.
"Tapi maaf ya, rumahnya nanti sedikit kotor, namanya juga tidak punya anak cewek jadi rumahnya kotor. Sebelum kamu kesana Bude kasih tau kamu, jangan kaget kalo sampek disana,"
"Maksudnya?" Indira tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.
"Jarang dibersihkan aja, kalo kamu sudah menikah kesana pasti rumahnya akan jadi bersih."
Indira merasa sedikit tidak enak hati dengan ucapan dari wanita itu, seolah olah mengatakan bahwa Indira menikah di keluarga itu hanya untuk dijadikan pembantu oleh mereka saja. Entah betapa menderitanya dirinya nantinya, dan seharusnya rumah tangga itu dibangun oleh keduanya bersama sama bukan menderita salah satunya.
Dari hal hal kecil seperti ini saja sudah mampu menunjukkan bagaimana karakter dari keluarga tersebut, mereka tidak membutuhkan seorang menantu melainkan membutuhkan seorang pembantu. Jika ingin rumahnya bersih kenapa tidak mempekerjakan pembantu saja? Padahal mereka sendiri juga termasuk orang kaya.
Indira hanya bisa tersenyum pahit mendengarnya, ingin sekali dirinya memutuskan perjodohan itu namun ia belum memiliki alasan yang cukup untuk bisa melakukan itu. Jika hanya mendengar penjelasan kecil ini, Ana dan suaminya pasti akan menyalahkan Indira, karena Indira terlalu pemilih.
"Nanti nikahannya dimana? Jangan besar besar ya, kasihan juga kalo dibuat besar,"
"Emang kenapa Bude?"
"Ya kamu tau sendirikan, kasihan orang tuamu juga nantinya kalo keberatan. Kamu kan juga nyari uang sendiri toh kehidupan setelah menikah itu panjang, kalo terbuang sia sia kan sayang uangnya,"
"Hemm iya."
Dari perkataan itu saja sudah membuat Indira sangat yakin bahwa ia tidak akan bahagia nantinya, dan bahkan bisa saja kebebasannya akan direnggut darinya kedepannya. Kebebasan yang selama ini dirinya nantikan pun akan semakin jauh, dan Indira tidak ingin hal itu terjadi.
Mungkin ini sebuah petunjuk dari sang pencipta bahwa lelaki itu menang tidak pantas baginya, sehingga sebelum beranjak serius ada petunjuk petunjuk kecil untuk Indira bertindak. Tinggal dirinya saja yang harus memikirkan bagaimana caranya untuk memutuskannya, sebelum semuanya benar benar terjadi.
"Kamu nggak menolaknya kan? Dia bener bener serius denganmu loh, kasihan dia juga sudah pernah dikhianati oleh wanita. Hanya dia saja yang belum menikah hingga sekarang,"
"Insya Allah,"
"Kalo gitu aku mau ngasih tau keluarganya saja kalo kamu sudah setuju, biar mereka juga senang,"
"Iya."
Wanita itu langsung berpamitan untuk pergi dari sana, Indira sendiri langsung menutup pintu rumahnya setelah wanita itu pergi. Awalnya memang Indira setuju untuk dijodohkan, namun semakin kesini lama lama hal itu semakin membuatnya menjadi ragu, dan bahkan tidak ingin melanjutkan perjodohan itu.
******
Beberapa hari kemudian, orang yang tengah dijodohkan dengan Indira pun datang untuk berkunjung, dan Indira dipaksa oleh Budenya untuk menemuinya. Melihat postur tubuh Indira untuk yang pertama kalinya, terlihat bahwa lelaki itu seperti seakan akan ingin memiliki Indira.
"Bagaimana dengan keponakan saya? Ya beginilah apa adanya dirinya," Ucap Budenya.
"Cantik kok Bu," Ucap lelaki itu.
Indira pun hanya bisa diam sambil mendengarkan obrolan keduanya, beberapa kali lelaki itu terus memuji Indira hingga membuat Indira merasa malu dibuatnya. Apalagi Indria sendiri juga paham bahwa apa yang dikatakan oleh lelaki itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Lelaki itu pun mengajak Indira pergi menemui kedua orang tua Indira seperti kesepakatan sebelumnya, keduanya memang sudah bertukar kontak sebelumnya. Dan sekarang adalah kesepakatan keduanya untuk datang menemui kedua orang tua Indira, Indira sendiri juga tidak memiliki pilihan lain selain menurut sama Budenya untuk mengajak lelaki itu datang menemui Ibunya.
"Kalo berangkat hati hati," Ucap Ana.
"Siap Bude," Jawab Lelaki yang bernama Sugik itu.
Dia adalah lelaki yang dibilang kakek kakek oleh Mas dari Rania sebelumnya, dan memang terlihat bahwa wajahnya juga sudah mulai keriput namun dia masih perjaka dan belum pernah menikah. Lelaki itu terlihat bersemangat ketika mengajak Indira pergi, hanya Indira yang tahu di mana keberadaan rumah dari Ibunya saat ini.
Setelah menikah dengan suaminya yang kedua, semua keluarga Yanti tidak ada yang mengetahui keberadaan dia tinggal dan hanya Indira saja yang tahu. Yanti sengaja menyembunyikannya dari semua orang agar dirinya bisa merasa tenang, apalagi kebanyakan saudaranya sering mengganggu kehidupannya dan bahkan terkadang mengirimkan ilmu ilmu hitam kepadanya.
Oleh karena itu hanya Indira saja yang tahu tempat di mana Ibunya berada, yang lainnya tidak ada yang mengetahui di mana Ibunya tinggal dan di mana rumah barunya. Indira sendiri tidak pernah mengatakan keberadaan Ibunya kepada siapapun, karena Indira juga ingin Ibunya merasa bahagia dan tidak tertekan seperti sebelum sebelumnya.
Akhirnya mereka pun melesat menuju ke rumah tempat di mana Ibunya tinggal, setelah sekian lama perjalanan akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuan. Di dalam perjalanan itu sama sekali tidak ada obrolan yang terdengar, keduanya membisu hingga mereka tiba di tempat tujuan.
Di sana Ibunya langsung menyambut dengan hangat kedatangan dari keduanya, rumah yang nampak sederhana sangat berbeda jauh dari rumah lelaki yang ada di hadapan Indira saat ini. Lelaki itu termasuk orang kaya dan memiliki segalanya, sementara Indira hanyalah anak dari wanita sederhana yang bahkan tidak berlinang harta.
"Silahkan masuk," Ucap Yanti.
"Iya Bu," Jawab Lelaki itu.
Mereka pun langsung mempersilahkan untuk keduanya masuk ke dalam rumah, di sana Yanti sudah menyiapkan berbagai jenis makanan untuk menyuguhi tamu yang datang. Namun tak satupun dari makanan itu dimakan oleh lelaki tersebut, nampak terlihat lelaki itu terlihat malu malu untuk memakannya.
Biasanya lelaki yang ingin merebut hati seorang wanita akan memulainya terlebih dulu merebut hati kedua orang tuanya, kamu lelaki itu nampak sangat berbeda daripada kebanyakan laki laki pada umumnya. Ia datang ke rumah itu tanpa membawa apa apa, meskipun Yanti sekeluarga tidak mengharapkan apapun diberi oleh lelaki tersebut.
"Ya beginilah keadaan rumah Indira," Ucap Yanti.
"Maaf jika rumahnya kurang nyaman," Ucap Indira.
"Rumahnya nyaman gini loh, kenapa harus malu?" Ucap lelaki itu.
Sebelum mereka berangkat ke sana sebelumnya, Indira sudah menjelaskan mengenai rumahnya kepada lelaki tersebut, bukannya malu terhadap rumahnya namun Indira takut kedua orang tuanya dihina oleh orang lain. Indira sama sekali tidak merasa malu mengenai keberadaan dari kedua orang tuanya itu, baginya harta tidaklah begitu penting selain kebahagiaan.
Mereka pun mengobrol santai dan ditemani oleh Ayah dari Indira, dalam obrolan itu Indira melihat bahwa ayahnya berkali kali menawari rokok kepada lelaki tersebut. Namun Indira memperhatikan bahwa lelaki itu membawa rokoknya sendiri, ia terlihat tidak menawari ayahnya dan seakan akan tidak memiliki attitude.
"Dira, ikut Bunda kebelakang sebentar," Ucap Yanti.
"Baik Bunda," Ucap Indira dan langsung bangkit dari duduknya.
Indira langsung bergegas untuk mengikuti kemana Ibunya membawanya, hingga tibalah keduanya didapur rumah itu. Disana sudah terdapat masakan yang telah selesai dimasak oleh Ibunya, ayam goreng dengan se cobek sambel ditambah lagi dengan soto buatan Ibunya. Nampak masakan itu terasa harum, dan bahkan membuat Indira merasa lapar.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.