Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14) luka
Pintu kayu kontrakan baru berderit pelan saat Sea mendorongnya masuk. Tas ransel yang penuh dengan barang-barangnya terasa semakin berat di pundaknya, seolah menambah beban yang sudah ia pikul sejak meninggalkan Malang tiga hari yang lalu. Udara di dalam rumah masih terasa segar dari cat baru yang digunakan untuk mengecat dinding berwarna krem muda. Namun bagi Sea, tempat ini tidak lebih dari sebuah tempat berlindung yang dingin dan sunyi.
Tanpa berhenti untuk meletakkan barang atau melihat sekeliling ruangan, ia melangkah cepat menuju kamar di bagian dalam kontrakan. Jendela kamar hanya dihiasi tirai tipis yang belum sempat dipasang dengan rapi, dan kasur yang disewakan pemilik hanya dilapisi seprai putih polos yang baru dibuka kemarin. Sea mendorong pintu kamar dengan kekuatan terakhir yang ia punya, lalu mengunci dari dalam dengan suara klik yang terdengar jelas di dalam kamar yang sunyi.
Segera setelah itu, tubuhnya patah lemah dan ia jatuh di tepi kasur. Kedua tangan segera meraih bantal dan menekannya erat ke wajahnya, seolah ingin menyembunyikan diri dari dunia luar. Tangisan yang sudah lama ia tahan akhirnya keluar dengan suara keras dan teredam, menggema di dalam kamar kecil itu.
Rayyan... mengapa kamu lakukan ini padaku?
Lembaran-lembaran kenangan dengan Rayyan muncul dengan jelas di benaknya—ketika mereka pertama kali bertemu di aula kampus saat acara orientasi mahasiswa baru, ketika Rayyan menghampirinya dengan senyum hangat dan menawarkan untuk membantunya membawa barang-barang, ketika mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon beringin di kontrakan lama Sea, berjanji untuk selalu bersama meskipun segala rintangan menghadang.
Ia ingat betul bagaimana Rayyan pernah mengangkat tangannya ke atas langit malam dan berkata, "Saya bersumpah dengan semua bintang di langit ini, Sea. Hanya kamu yang akan selalu ada di sisi saya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Namun semua janji itu hanyalah omong kosong. Tiga hari yang lalu, Sea datang ke kontrakan Rayyan untuk memberitahukan bahwa ia telah lulus dengan predikat sangat memuaskan dan ingin merayakannya bersama. Namun yang ia temukan bukanlah wajah Rayyan yang penuh senyum, melainkan sebuah amplop putih yang terletak di atas meja tamu. Di dalamnya ada surat dan sebuah foto—foto Rayyan berdampingan dengan wanita cantik berambut panjang bergelombang yang mengenakan gaun malam mewah. Tulisan di belakang foto membuat hati Sea hancur berkeping-keping: "Rayyan & Amara – Perjanjian Cinta Sejak Lama. Resepsi Pernikahan Bulan Depan."
Dalam surat itu, Rayyan menulis bahwa keluarganya telah menjodohkannya dengan Amara sejak masa kanak-kanak. Ayahnya adalah mitra bisnis ayah Amara yang mengelola perusahaan properti terbesar di Jawa Tengah. Rayyan mengatakan bahwa ia tidak punya pilihan lain selain menerima pernikahan itu agar bisnis keluarga tidak runtuh. Ia meminta maaf dan berharap Sea bisa memaafkannya.
Tangisan Sea semakin keras, menusuk kedalaman malam yang mulai menghampiri. Luka yang torehkan Rayyan bukan hanya luka pada hati, melainkan juga pada kepercayaannya terhadap cinta dan janji. Ia merasa seperti orang yang telah ditipu dan ditinggalkan begitu saja, seolah tidak berharga sama sekali.
Keringat dan air mata membasahi wajahnya. Ia menggenggam seprai di bawahnya dengan kuat, sampai jari-jari nya menjadi pucat. Waktu seolah berhenti berjalan di dalam kamar itu, hanya ada suara tangisan yang terus keluar dari dalam dadanya yang sakit.
Ia tidak tahu berapa lama ia menangis, tapi ketika akhirnya kekuatan tubuhnya terkuras habis, Sea terbaring lemas di atas kasur dengan mata yang sudah merah dan bengkak. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar yang polos. Di benaknya hanya terpampang satu kalimat yang terus berulang-ulang: Saya tidak akan pernah mempercayai cinta lagi.
JEJAK YANG DITINGGALKAN
Hari berikutnya pagi, suara ketukan lembut di pintu kamar membuat Sea terkejut dari tidur yang tidak nyenyak. Ia merasa kepalanya berdenyut dan tubuhnya terasa sangat lelah.
"Bu Sea? Saya, Bu Wati, pemilik kontrakan ini," suara wanita yang lembut terdengar dari luar pintu. "Saya bawa sarapan untuk Anda. Apakah Anda baik-baik saja?"
Sea terdiam sejenak sebelum berusaha untuk duduk. Wajahnya masih terasa panas dan lengket karena air mata kemarin malam. Ia berjalan pelan menuju pintu dan membukanya sedikit, hanya cukup untuk melihat wajah Bu Wati yang penuh perhatian.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja membuat Anda khawatir," ucap Sea dengan suara yang masih serak.
Bu Wati menggelengkan kepala dengan ramah. "Tidak apa-apa, nak. Saya melihat Anda datang sendirian kemarin malam dan langsung masuk kamar. Saya khawatir Anda tidak makan apa-apa."
Wanita berusia sekitar lima puluhan itu memberikan mangkuk berisi bubur ayam hangat dan segelas teh hangat. Sea menerima dengan tangan yang sedikit gemetar, rasa syukur muncul di dalam hatinya meskipun rasa sakit masih sangat mendalam.
Setelah Bu Wati pergi, Sea mencoba untuk makan sedikit demi sedikit. Rasa lapar yang ia rasakan tidak bisa menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya, tapi ia tahu bahwa ia harus kuat. Ia tidak bisa terus-terusan terbaring dan menangis seperti itu.
Setelah selesai makan, ia mulai membersihkan diri dan keluar ke ruang tamu. Barang-barangnya masih tertumpuk di sudut ruangan, belum sempat diatur. Ia mengambil sebuah kotak kardus kecil dari tas ranselnya dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada beberapa foto bersama Rayyan dan sebuah gelang perak yang pernah diberikan Rayyan sebagai hadiah ulang tahunnya yang lalu.
Ia mengangkat gelang itu dan melihatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. Namun kali ini, ia tidak menangis. Sebuah rasa keputusasaan perlahan berubah menjadi tekad yang kuat. Ia tidak akan pernah memaafkan Rayyan untuk apa yang telah dilakukannya, dan ia akan membuktikan bahwa ia bisa hidup dengan baik tanpa kehadiran pria yang telah mengkhianatinya.
Dengan teliti, Sea meletakkan foto-foto itu ke dalam sebuah amplop dan menyimpannya di bagian terdalam lemari yang kosong. Gelang peraknya ia tarik dan juga menyimpan di sana. Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan ruang tamu dengan penuh semangat, seolah ingin membersihkan semua jejak masa lalu yang menyakitkan dari kehidupannya yang baru.
Namun ketika ia sedang menyapu sudut kamar, sesuatu yang terjatuh dari balik sebuah bantal yang terlupakan di kursi kayu menarik perhatiannya. Ia membungkuk dan mengambilnya—sebuah amplop putih kecil dengan nama Sea yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenal.
KATA-KATA YANG TERLAMBAT
Dengan tangan yang gemetar, Sea membuka amplop kecil itu. Di dalamnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan Rayyan yang rapi:
Untuk Sea yang tercinta,
Saya tahu bahwa surat ini akan menemukan Anda ketika sudah terlambat. Saya tidak punya hak untuk meminta maaf atau mengharapkan pemahaman dari Anda. Tapi saya perlu Anda tahu bahwa setiap kata cinta yang saya ucapkan padamu adalah benar dari hati saya.
Orang tua saya memang telah menjodohkan saya dengan Amara sejak lama. Ketika mereka memberitahu saya tentang hal itu tiga bulan yang lalu, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menolaknya. Saya bahkan mencari bantuan dari pengacara untuk melihat apakah ada cara untuk membatalkan perjanjian itu. Tapi mereka mengatakan bahwa jika saya tidak menikahi Amara, perusahaan keluarga akan bangkrut dan puluhan orang akan kehilangan pekerjaan.
Saya tidak bisa melihat itu terjadi. Saya tidak punya pilihan lain selain menerima.
Tetapi Sea, jangan pernah berpikir bahwa saya meninggalkanmu karena tidak mencintaimu. Cinta saya untukmu akan selalu ada di sini—di dalam hati saya yang terluka.
Semoga suatu hari nanti, Anda bisa menemukan seseorang yang layak untukmu. Seseorang yang bisa memberikanmu semua cinta dan kebahagiaan yang pantas kamu terima.
Dengan cinta yang tak pernah pudar,
Rayyan
Setelah selesai membaca, air mata Sea kembali mengalir, tapi kali ini bukan karena rasa sakit atau dendam. Ia merasa bingung dan hampa. Semua yang ia pikirkan selama ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Rayyan tidak menipunya—ia hanya terpaksa memilih antara cinta dan tanggung jawab yang besar.
Namun apapun alasannya, luka yang telah dibuat tidak bisa begitu saja hilang. Sea menyimpan surat itu bersama dengan foto-foto dan gelangnya. Ia tahu bahwa masa lalunya tidak bisa diubah, tapi ia juga menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam rasa sakit dan dendam.
Dengan hati yang masih bergetar, Sea keluar ke teras kontrakan baru nya. Matahari mulai bersinar terang di langit Yogyakarta, menyinari dunia dengan cahaya baru. Ia menarik napas dalam-dalam dan melihat sekeliling lingkungan sekitar yang masih asing baginya. Meskipun luka dalam hatinya masih belum sembuh, ia merasa bahwa ada harapan kecil yang mulai muncul—harapan untuk bisa memulai hidup baru dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.