NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Sabotase Elena

Abu di Atas Kelopak

Cairan penawar yang baru saja diminum Elara meninggalkan rasa dingin yang merayap di tenggorokannya, namun rasa nyeri di tangan kanannya tetap tidak mau pergi. Ia duduk di depan meja rias, menatap pantulan wajahnya yang pucat. Sarung tangan sutra yang ia gunakan saat menghadapi Valerius semalam telah ia lepas, memperlihatkan pola hitam yang kini merambat melampaui pergelangan tangan, tampak seperti akar pohon yang mati di bawah kulitnya. Keheningan paviliun yang seharusnya menjadi tempat istirahat justru terasa seperti tekanan yang berat di telinganya.

"Nyonya, Anda harus memejamkan mata sebentar saja," bisik Rina sambil merapikan bantal di tempat tidur. "Wajah Anda tampak lebih putih dari kain linen ini."

"Aku tidak bisa tidur, Rina. Setiap kali aku memejamkan mata, aku merasakan mata-mata di setiap sudut bayangan istana ini," Elara menyentuh lengannya yang mati rasa. "Bagaimana kondisi di luar? Apakah kaisar sudah bangun?"

"Pelayan baru saja membawa air mandi ke kamarnya, seperti yang Anda perintahkan. Namun, ada keributan kecil di arah taman. Saya belum sempat—"

Belum sempat Rina menyelesaikan kalimatnya, suara pintu paviliun yang digebrak dengan kasar mengejutkan mereka berdua. Seorang pelayan muda berlari masuk dengan napas tersengal dan wajah yang penuh air mata. Ia adalah salah satu orang yang ditugaskan Elara untuk merawat tanaman Asteria yang baru saja ia tanam sebagai simbol pemulihan batinnya di tengah istana yang penuh racun ini.

"Nyonya! Tolong... Taman Asteria... semuanya hancur!" teriak pelayan itu sambil bersimpuh di lantai.

Elara berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh ke belakang. Rasa lemas di saraf kakinya mendadak hilang, digantikan oleh lonjakan adrenalin yang panas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyambar jubah tipisnya dan melangkah keluar paviliun dengan langkah yang lebar. Rina mengikuti di belakang dengan wajah cemas, mencoba mengejar langkah Elara yang kini dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan.

Begitu Elara sampai di gerbang taman, ia berhenti mematung. Dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpit pernapasannya. Pemandangan di hadapannya adalah sebuah penghinaan yang nyata. Bunga-bunga Asteria yang kemarin masih berwarna biru cerah dan beraroma harum, kini telah menghitam dan layu. Kelopak-kelopaknya hancur menjadi serpihan abu kelabu yang berhamburan ditiup angin pagi yang dingin. Bau hangus yang tidak alami—bau belerang dan kimia yang tajam—memenuhi udara, memicu kilas balik instan dalam benak Elara tentang api yang membakar istananya sepuluh tahun lalu.

"Siapa yang melakukan ini?" suara Elara terdengar sangat rendah, hampir seperti desisan yang mematikan.

"Kami tidak tahu, Nyonya... pagi tadi saat kami datang, semuanya sudah seperti ini. Ada kabut hitam yang menyelimuti taman selama beberapa saat," pelayan itu menangis tersedu-sedu di samping rumpun mawar yang kini tinggal batang berduri yang mengering.

Elara melangkah masuk ke tengah taman yang rusak itu. Ia berlutut di tanah yang kini terasa panas, tidak seperti tanah biasanya. Ia menyentuh tanah tersebut dengan jemarinya yang terbalut sarung tangan sutra baru. Resonansi Void di dalam tubuhnya segera bereaksi, berdenyut keras sebagai tanda bahwa ada sisa energi sihir hitam yang sangat kuat di sana. Ia mengenali jejak ini; ini adalah sihir korosif milik Elena, sebuah energi yang dirancang untuk menghancurkan kehidupan hingga ke tingkat molekuler.

"Dia ingin aku tahu bahwa dia bisa menghancurkan apa pun yang kucintai," gumam Elara.

Ia mendongak ke arah balkon sayap kanan istana, tempat kamar Selir Elena berada. Benar saja, di sana berdiri sesosok wanita dengan gaun merah yang mencolok, sedang memegang secangkir teh dengan keanggunan yang dibuat-buat. Elena menatap ke arah taman dengan senyum tipis yang merendahkan. Ia tidak berteriak, ia tidak memaki, namun tatapannya seolah berkata: Kau hanyalah tawanan yang mencoba menanam bunga di tanah milikku.

"Nyonya, haruskah kita melaporkan ini pada Yang Mulia Kaisar?" Rina berbisik di sampingnya, suaranya gemetar karena takut. "Sihir ini... ini jelas-jelas perbuatan faksi militer lama yang mendukung Selir Utama."

"Melapor?" Elara tertawa dingin, sebuah tawa yang membuat pelayan di sekitarnya merinding. "Jika aku melapor, Valerius hanya akan melihatnya sebagai pertengkaran dua wanita yang berebut perhatian. Itu hanya akan membuatku tampak lemah dan butuh perlindungan. Elena ingin aku menangis di depan kaisar agar dia bisa menyebutku sebagai wanita yang tidak kompeten merawat pemberian istana."

Elara berdiri tegak, membiarkan angin pagi menerbangkan abu kelopak bunga ke arah wajahnya. Dilema martabatnya bergejolak; hatinya menjerit melihat sisa-sisa tanah airnya dihancurkan lagi, namun otaknya bekerja dengan kecepatan tinggi untuk mencari solusi ketiga.

"Rina, panggil semua pelayan taman. Suruh mereka mundur sepuluh langkah dan jangan biarkan siapa pun mendekat," perintah Elara.

"Tapi Nyonya, apa yang akan Anda lakukan? Tanaman ini sudah mati total. Akarnya sudah terbakar oleh sihir korosif itu," Rina mencoba memperingatkan.

"Sesuatu yang mati tidak selalu harus tetap mati, Rina. Elena memberikan racun, maka aku akan menjadikannya pupuk," Elara melepaskan jubah luarnya, hanya menyisakan gaun tipis yang memudahkannya bergerak.

Resonansi Kehidupan yang Dipaksa

Elara kembali berlutut di pusat taman, tempat di mana konsentrasi sihir korosif paling pekat berada. Ia melepas sarung tangan kanannya, memamerkan jemarinya yang menghitam kepada dunia yang sunyi. Para pelayan yang melihatnya terkesiap, namun Elara tidak peduli. Ia menempelkan telapak tangannya langsung ke tanah yang terkontaminasi.

"Sakit..." Elara merintih dalam hati saat sihir korosif Elena mulai mencoba memakan kulitnya. Rasanya seperti ribuan jarum api yang ditusukkan ke pori-porinya.

Namun, Elara tidak menarik tangannya. Ia justru membuka segel Void-nya lebih lebar (Void Lv 1.2). Ia menggunakan teknik penyerapan yang telah ia pelajari selama masa pemulihannya. Alih-alih menolak sihir korosif itu, ia menariknya masuk ke dalam sirkuit energinya sendiri. Ia membiarkan tubuhnya menjadi wadah bagi racun tersebut. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dan napasnya menjadi pendek-pendek.

Analisis struktur... batinnya memerintah. Sihir logam korosif, frekuensi rendah, ikatan molekul tidak stabil. Serap. Pecah. Konversi.

Di mata para pelayan dan Elena yang menonton dari jauh, apa yang terjadi selanjutnya tampak seperti mukjizat yang mengerikan. Kabut hitam yang tadinya menyelimuti tanah mulai tersedot masuk ke dalam telapak tangan Elara. Perlahan tapi pasti, warna hitam pada batang-batang mawar mulai memudar, berganti menjadi warna hijau pucat yang kemudian menguat menjadi hijau zamrud.

Elara merasakan dadanya sesak luar biasa. Menahan energi korosif Elena di dalam tubuhnya sambil mengubahnya menjadi energi vital adalah beban yang hampir melampaui batas kemampuannya. Namun, ia membayangkan wajah Valerius yang obsesif dan wajah Elena yang angkuh. Ia membayangkan api yang membakar punggungnya. Amarah itu menjadi bahan bakar bagi sihir Void-nya.

"Hiduplah..." Elara berbisik, suaranya serak.

Kuncup-kuncup bunga yang tadinya menjadi abu mulai tumbuh kembali secara tidak alami. Mereka mekar dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang, namun warnanya kini berbeda. Mawar Asteria yang tadinya berwarna biru cerah, kini mekar dengan warna biru yang lebih gelap, hampir mendekati ungu, dengan gurat-gurat perak di tepi kelopaknya—sebuah tanda bahwa mereka kini hidup dari energi Void yang telah dimurnikan.

Elena, yang menonton dari balkon, menjatuhkan cangkir tehnya hingga pecah di lantai marmer. Senyumnya hilang, digantikan oleh ekspresi horor dan tidak percaya. Ia telah menggunakan sebagian besar cadangan sihir hitamnya untuk sabotase ini, dan sekarang ia melihat korbannya justru menggunakan sihir itu untuk mempercantik diri.

Elara bangkit dengan perlahan, tubuhnya gemetar hebat. Ia segera mengenakan kembali sarung tangannya sebelum ada yang melihat bahwa pembuluh darah di tangannya kini tampak menonjol dan berwarna ungu gelap. Ia menatap ke arah balkon, tepat ke arah mata Elena yang membelalak. Elara tidak tersenyum; ia hanya memberikan tatapan yang sangat datar dan penuh kemenangan.

"Nyonya... ini luar biasa. Taman ini... jauh lebih indah dari sebelumnya," Rina mendekat dengan tidak percaya, menyentuh salah satu kelopak mawar yang kini terasa lebih kuat dan tebal.

"Keindahan yang lahir dari racun akan selalu lebih tangguh, Rina," Elara berkata dengan suara yang dipaksakan tetap stabil. "Pastikan semua orang tahu bahwa taman ini pulih karena berkah yang diberikan oleh Dewa kepada saya. Jika Selir Elena bertanya, katakan padanya saya berterima kasih atas 'pupuk' istimewa yang dia kirimkan semalam."

Para pelayan segera membungkuk dengan rasa hormat yang kini bercampur dengan ketakutan yang suci. Mereka tidak lagi melihat Elara sebagai tawanan yang lemah, melainkan sebagai entitas yang memiliki kendali atas hidup dan mati.

Namun, hanya Elara yang tahu harga yang harus ia bayar. Saat ia berjalan kembali menuju paviliun, ia harus berpegangan pada bahu Rina karena pandangannya mulai kabur. Rasa sakit di dadanya semakin menusuk, dan ia bisa merasakan setetes darah hangat mengalir dari hidungnya.

"Nyonya! Anda berdarah!" Rina panik.

"Diam. Jangan biarkan mereka melihat," Elara menyeka darah itu dengan sapu tangan dengan gerakan cepat. "Bawa aku masuk. Segera."

Begitu pintu paviliun tertutup, Elara ambruk di lantai. Sihir Void Lv 1.2 yang ia paksakan tadi telah mengikis sebagian jiwanya, meninggalkan rasa hampa yang dingin di dalam batinnya. Namun, ia tahu sabotase ini adalah awal dari kehancuran mental Elena. Elena sekarang tidak hanya membencinya, tapi mulai takut padanya. Dan ketakutan adalah celah terbaik untuk memulai penghancuran faksi militer yang mendukung selir itu.

"Dia akan mencoba menyerangku secara fisik setelah ini," bisik Elara di pelukan Rina. "Dia tidak akan tahan melihat kekuatannya sendiri dipecundangi oleh tawanan. Bersiaplah, Rina. Badai yang sesungguhnya belum dimulai."

Di luar, matahari telah naik tinggi, menyinari taman yang kini mekar dengan warna-warna yang tidak lazim, sebuah monumen bisu atas kemenangan pertama Elara dalam perang sihir di istana ini.

Pupuk dari Kebencian

Dinding paviliun terasa seolah berputar di mata Elara saat Rina membantunya duduk di kursi kayu ek yang kokoh. Rasa logam dari darah di pangkal tenggorokannya masih tersisa, sebuah pengingat bahwa tubuh manusia Elara hanyalah wadah rapuh bagi kekuatan Void yang menuntut bayaran nyawa. Di luar, keajaiban taman yang mekar kembali dalam warna ungu perak telah menciptakan kegemparan di antara para penjaga dan pelayan rendah. Elara bisa mendengar bisik-bisik mereka dari balik jendela, suara-suara yang penuh dengan ketakutan sekaligus kekaguman.

"Nyonya, minumlah ini. Ramuan ini akan menstabilkan sirkuit energi Anda," Rina menyerahkan cangkir berisi cairan hangat beraroma akar-akaran.

Elara meminumnya dengan tangan yang gemetar hebat. Setiap tegukan terasa seperti memadamkan api yang membakar jalur syaraf di dadanya. "Elena tidak akan tinggal diam setelah ini, Rina. Dia melihat sihir hitamnya sendiri 'ditelan' dan dimurnikan. Bagi seorang penyihir sombong seperti dia, itu adalah penghinaan yang lebih menyakitkan daripada tamparan di wajah."

"Tetapi Anda sudah memulihkan taman itu. Bukankah itu berarti Anda menang?" Rina bertanya sambil menyeka keringat di dahi Elara.

"Dalam politik istana, kemenangan hanyalah jeda sebelum serangan yang lebih keji," Elara menyandarkan kepalanya, matanya menatap tajam ke arah pintu. "Dia telah gagal secara mistis. Sekarang, dia akan menggunakan faksi militer lamanya untuk menekanku secara fisik. Panglima Vane pasti sudah menerima laporan tentang apa yang terjadi di taman pagi ini."

Benar saja, hanya beberapa saat setelah Elara mulai merasa kekuatannya kembali stabil, suara langkah kaki yang berat dan denting zirah logam terdengar mendekat ke arah paviliun. Bukan langkah kaki pelayan, melainkan langkah sepatu bot militer yang terukur. Elara segera menarik sarung tangan sutranya, menutupi tanda hitam yang masih berdenyut di jemarinya, lalu berdiri tegak. Ia memaksa tubuhnya untuk tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan.

Pintu paviliun terbuka tanpa ketukan. Elena masuk dengan wajah yang merah padam karena amarah, diikuti oleh dua pengawal bersenjata lengkap. Di belakang mereka, Panglima Vane berdiri dengan tangan di gagang pedangnya, matanya menyipit menatap Elara dengan kecurigaan yang mendalam.

"Sihir apa yang kau gunakan, Tawanan?" suara Elena melengking, memecah ketenangan paviliun. "Taman itu seharusnya sudah mati! Tidak ada tanaman yang bisa bertahan dari korosi jiwaku kecuali jika kau menggunakan sihir terlarang dari Sekte Void!"

Elara berjalan perlahan mendekati Elena, mengabaikan pedang para pengawal yang sedikit terangkat. Ia berhenti tepat di depan selir utama itu, cukup dekat hingga ia bisa melihat retakan kecil di riasan wajah Elena yang menunjukkan betapa goyahnya mental wanita itu saat ini.

"Sihir terlarang?" Elara bertanya dengan nada rendah yang mengejek. "Saya pikir Anda seharusnya berterima kasih, Selir. Saya melihat taman itu layu karena 'hama' yang tidak sengaja lewat semalam. Saya hanya memberikan sedikit perhatian, dan tampaknya tanah Asteria jauh lebih mencintai keberadaan saya daripada racun yang mencoba merusaknya."

"Kau berbohong! Aku melihatmu menyerap energi itu!" Elena menunjuk wajah Elara dengan jari yang gemetar. "Vane! Lihat dia! Tangan yang ia sembunyikan di balik sutra itu pasti sudah busuk oleh dosa. Dia adalah penyihir gelap yang menyusup ke tempat tidur kaisar!"

Panglima Vane melangkah maju, auranya yang berat menekan udara di dalam ruangan. "Nyonya Elara, sebagai pelindung keamanan internal istana, saya memiliki hak untuk memeriksa setiap individu yang diduga menggunakan energi yang mengancam stabilitas kekaisaran. Lepaskan sarung tangan Anda."

Dilema martabat menghantam Elara. Jika ia melepas sarung tangannya, rahasia Void-nya akan terbongkar dan ia akan dieksekusi sebagai ancaman. Jika ia menolak, ia akan dianggap memberontak. Namun, Elara adalah seorang ahli strategi yang selalu menyiapkan solusi ketiga.

"Panglima Vane, Anda adalah seorang ksatria tingkat logam yang terhormat," Elara berkata dengan tenang, matanya menatap langsung ke dalam pupil Vane. "Anda tahu betul bahwa menyentuh atau memaksa seorang penasihat pribadi kaisar untuk bertelanjang di depan umum tanpa izin tertulis dari Yang Mulia adalah tindakan pengkhianatan. Apakah Anda ingin mempertaruhkan kepala Anda hanya karena Selir Elena sedang berhalusinasi akibat kurang tidur?"

Vane ragu-ragu. Ia melirik Elena, lalu kembali ke Elara. "Hanya pemeriksaan tangan, Nyonya. Bukan seluruh tubuh."

"Tangan ini adalah tangan yang tadi malam memijat dahi Yang Mulia hingga beliau bisa tidur nyenyak setelah berbulan-bulan menderita insomnia," Elara melangkah lebih dekat ke arah Vane, menurunkan suaranya hingga hanya pria itu yang bisa mendengar. "Jika Anda memaksa, saya akan memastikan Yang Mulia tahu bahwa Anda mencoba mencemari 'ketenangan' yang baru saja beliau dapatkan. Apakah faksi militer Anda siap menghadapi kemarahan kaisar yang sedang jatuh cinta?"

Vane menarik napas tajam. Ia tahu obsesi Valerius sedang berada di puncaknya. Mengganggu Elara sekarang adalah bunuh diri politik. Ia menarik kembali tangannya dari gagang pedang.

"Mohon maaf atas gangguan ini, Selir Elena," Vane membungkuk kaku. "Tanpa bukti fisik yang jelas atau perintah langsung dari Kaisar, saya tidak bisa menahan Nyonya Elara."

"Vane! Kau pengecut!" Elena berteriak histeris.

"Saya hanya seorang prajurit yang logis, Selir," jawab Vane dingin, lalu berbalik dan meninggalkan paviliun diikuti oleh para pengawalnya.

Elena berdiri mematung, dikhianati oleh sekutu militernya sendiri di depan musuhnya. Elara mendekat, membisikkan kata-kata yang menjadi paku terakhir pada peti mati kepercayaan diri Elena hari ini.

"Kau terlalu banyak menggunakan sihir hitam, Elena. Ingatanmu mulai memudar, dan sekarang kau mulai kehilangan kendali atas orang-orangmu sendiri," Elara menatap mata Elena dengan kekosongan yang mengerikan. "Malam ini, saat kaisar memanggilku lagi, aku akan bercerita padanya tentang betapa indahnya taman Asteria yang baru mekar... dan betapa menyedihkannya seorang selir yang mencoba membakar bunga karena ia tidak bisa menanamnya sendiri."

Elena mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan lari keluar dari paviliun, meninggalkan aroma mawar beracun yang memuakkan di udara.

Elara segera ambruk kembali ke kursinya setelah Elena pergi. Tubuhnya bergetar hebat. Ia telah berhasil memenangkan konfrontasi ini, namun ia tahu bahwa ia telah mendorong Elena ke titik nadir. Dan seorang wanita yang tidak lagi memiliki harga diri akan melakukan hal yang paling berbahaya: konfrontasi fisik langsung yang brutal.

"Rina... siapkan jubah hitamku," bisik Elara, suaranya hampir hilang. "Elena akan menyerangku di koridor saat aku menuju kamar kaisar nanti malam. Dia tidak akan menggunakan sihir lagi. Dia akan menggunakan belati."

"Tetapi Anda terlalu lemah untuk bertarung, Nyonya!" Rina menangis.

"Aku tidak perlu bertarung, Rina," Elara menatap tangannya yang hitam di balik sutra. "Aku hanya perlu membiarkan dia menunjukkan kepada dunia siapa monster yang sebenarnya."

Matahari mulai terbenam, menyisakan gurat merah di langit yang menyerupai luka terbuka. Elara duduk di kegelapan paviliunnya, menunggu malam tiba, menunggu konfrontasi terakhir yang akan menentukan siapa yang akan tetap berdiri di istana ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!