novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Di dalam mobil sport putih yang mewah itu, suasana bukannya romantis malah makin rusuh. Lyra duduk dengan napas yang masih naik-turun karena harus lari marathon dari ruang operasi ke parkiran demi mengejar Pharma yang tidak punya perasaan itu.
"Pelan-pelan dong bawa mobilnya! Lo mau bikin gue muntah sebelum sampai hotel?!" protes Lyra sambil berpegangan erat pada dashboard. "Tadi pagi hampir mati diculik, sekarang mau mati gara-gara bos yang nyetir kayak pembalap liar!"
Pharma tetap tenang, satu tangannya memutar kemudi dengan santai sementara tangan lainnya bersandar di jendela. "Mobil ini didesain untuk kecepatan, Dokter Lyra. Kalau kamu mau pelan, naik delman saja di Bandung."
> Dih, dia tahu Bandung ada delman?! Batin Lyra makin dongkol. Dokter syalan! Mulutnya bener-bener nggak ada filter.
Tapi tiba-tiba, Pharma melakukan aksi yang sangat "caper". Bukannya fokus ke jalan, dia sengaja melakukan pengereman mendadak di lampu merah yang sebenarnya masih kuning, membuat tubuh Lyra terdorong ke depan.
"ASTAGA, PHARMA!" teriak Lyra.
Tanpa diduga, Pharma mengulurkan tangannya dengan cepat ke arah Lyra. Bukannya membantu, dia malah sengaja menarik tali seatbelt Lyra agar lebih kencang, sambil mendekatkan wajahnya sangat dekat ke arah Lyra.
"Lihat? Kamu bahkan tidak bisa memakai sabuk pengaman dengan benar," ucap Pharma dengan nada meremehkan, tapi matanya menatap bibir Lyra sejenak sebelum kembali ke jalan. Ia sengaja berlama-lama membetulkan posisi sabuk itu, membuat aroma parfumnya kembali mengunci napas Lyra.
"G-gue bisa sendiri!" Lyra menepis tangan Pharma dengan wajah merah padam. "Lo sengaja kan ngerem mendadak biar bisa sok pahlawan begini? Caper banget sih jadi bos!"
Pharma menyeringai tipis, tipe seringai yang menunjukkan kalau dia sangat menikmati kekesalan Lyra. "Saya tidak perlu cari perhatian, Lyra. Perhatian yang selalu datang ke saya. Termasuk kamu yang tadi bilang saya 'cakep' di ruangan itu."
"I-itu kan khilaf! Gue tarik lagi omongan gue!" balas Lyra cepat.
Pharma kemudian sengaja menyalakan musik di mobilnya bukan musik klasik yang membosankan, tapi lagu pop-rock yang volumenya sengaja dikencangkan setiap kali Lyra mau bicara.
"Pharma! Kecilin dikit! Gue mau nanya soal prosedur besok!" seru Lyra.
Pharma malah ikut mengetukkan jarinya di setir mengikuti irama lagu, mengabaikan protes Lyra dengan gaya yang sangat angkuh namun terlihat... ya, harus diakui, keren. Ia sesekali melirik Lyra lewat spion tengah sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah menantang Lyra untuk terus marah.
> Sumpah ya, ini orang aslinya tukang caper kelas kakap! Lyra menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dengan frustrasi. Ganteng-ganteng kelakuan kayak bocah SD yang suka narik kuncir cewek yang dia taksir. Mana besok harus operasi bareng lagi. Kuatkan hamba, ya Allah!Mobil sport putih itu berhenti dengan derit ban yang halus tepat di depan lobi hotel mewah tempat Lyra menginap. Begitu mesin mati, suasana hening sejenak, tapi ketegangan di antara mereka masih terasa sangat kental.
Lyra sudah siap-siap mau kabur dari kursi penumpang, tapi central lock mobil itu masih terkunci rapat.
"Buka pintunya, Pharma! Gue mau turun!" Lyra menarik-narik tuas pintu dengan gusar.
Pharma tidak langsung membuka kunci. Ia malah memutar tubuhnya, bersandar pada setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan sengaja menyugar rambut pirangnya yang sedikit berantakan karena memakai topi bedah tadi. Ia menatap Lyra dengan intensitas yang bikin Lyra salah tingkah lagi.
"Kamu lupa sesuatu, Dokter Lyra," ucap Pharma dengan nada suara yang sengaja dibuat lebih berat.
"Apaan? Perasaan laporan medis udah gue balikin!" sahut Lyra sewot.
Tiba-tiba, Pharma mencondongkan tubuhnya ke arah Lyra. Jarak mereka sangat dekat sampai Lyra bisa melihat pantulan wajahnya yang panik di kacamata tipis pria itu. Tangan Pharma bergerak pelan, melewati wajah Lyra menuju... dashboard.
KLIK.
Pharma mengambil sebuah cokelat batang kecil dari laci mobil dan meletakkannya tepat di depan dada Lyra.
"Gula darahmu rendah. Kamu gemetaran tadi pas jahit jantung simulasi," ucap Pharma sambil menaikkan sebelah alisnya, gayanya beneran caper maksimal. "Jangan sampai besok pas operasi Lord Sterling kamu pingsan dan nimpa pasien saya. Itu bakal merepotkan."
> LAHHH?! Batin Lyra mau meledak. Ini orang beneran mau perhatian apa mau ngejek sih?! Pake kasih cokelat segala, tapi mulutnya tetep aja kayak bon cabe!
"Gue nggak gemeteran! Itu tadi... itu efek diculik!" bantah Lyra sambil menyambar cokelat itu dengan kasar. "Makasih cokelatnya, Bos Caper! Sekarang buka pintunya!"
Pharma menyeringai tipis, lalu menekan tombol kunci. CEKLEK.
"Istirahat, Lyra. Besok jam 5.30 saya jemput di sini. Kalau kamu telat satu detik..."
"Iya, iya! Kapal kargo kan?! Hafal gue!" potong Lyra sambil buru-buru keluar dari mobil.
Lyra berjalan cepat menuju lobi hotel tanpa menoleh lagi. Tapi, pas sudah sampai di pintu kaca, rasa penasarannya menang. Ia melirik sedikit ke arah mobil sport itu. Ternyata, Pharma masih di sana, menurunkan kaca jendela mobilnya, dan sengaja mengedipkan satu matanya ke arah Lyra sebelum melesat pergi dengan suara knalpot yang menggelegar.
> DOKTER SYALANNNN!!! Lyra mengacak rambutnya frustrasi di depan resepsionis. Bener-bener ya itu orang! Dia itu CMO apa artis sih?! Caper banget! Mana gantengnya nggak kira-kira pas lagi nyengir gitu... Eh, istighfar Lyra! Fokus! Besok ada operasi besar!
Sambil berjalan ke arah lift, Lyra menggenggam cokelat pemberian Pharma tadi. Ia tersenyum tipis tanpa sadar, meskipun dalam hati ia masih ingin menendang kacamata tipis pria pirang itu.Baru saja Lyra merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur hotel yang empuk, ponselnya tiba-tiba bergetar tanpa henti di atas nakas.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Lyra mengintip lewat sudut matanya. Sebuah nomor asing dengan kode negara Inggris (+44) membanjiri layar notifikasinya.
+44 7xxx-xxxx: Sudah makan cokelatnya?
+44 7xxx-xxxx: Jangan lupa pelajari lagi anatomi katup aorta Lord Sterling.
+44 7xxx-xxxx: Saya tidak mau melihat tanganmu gemetar lagi besok.
+44 7xxx-xxxx: Dan satu lagi...
+44 7xxx-xxxx: Pasang alarm tambahan. Saya tidak akan mengetuk pintu hotelmu kalau kamu belum turun jam 5.30.
Lyra langsung terduduk tegak. Matanya melotot menatap layar ponsel.
> LAHH ANJIRR!! INI SI PIRANG?! Batin Lyra berteriak kaget. Dapet nomor gue dari mana dia?! Dokter syalan! Mentang-mentang bos besar, tinggal liat data registrasi gue di RS langsung dapet nomornya ya? Mana nge-spam kayak anak ABG lagi caper!
Lyra mengetik balasan dengan jempol yang berapi-api karena kesal privasinya diganggu.
Lyra: Dokter Pharma? Dapet nomor saya dari mana?! Ini sudah jam istirahat, Sir. Tolong jangan spam, saya lagi konsentrasi... tidur!
Hanya butuh dua detik untuk status pesan itu menjadi centang biru.
Pharma: Dari berkas penculikanmu tadi pagi. Polisi mencatat nomor ponselmu. Dan konsentrasi tidur itu istilah yang bodoh.
Pharma: Cepat tidur. Kamu butuh fokus 100% besok. Kalau matamu berkantung, saya akan mengira kamu panda, bukan asisten bedah saya.
> IDIHHH!! CAPER BANGET SIH!! Lyra membanting ponselnya ke bantal. Panda katanya?! Sumpah ya, ini orang kalau nggak ganteng banget udah gue blokir sejak tadi sore!
Tapi baru saja ia mau memejamkan mata, ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah foto. Pharma mengirimkan foto segelas kopi hitam di samping tumpukan berkas bedah dengan latar belakang jendela kantornya yang masih menunjukkan pemandangan malam London.
Pharma: Saya masih bekerja untuk memastikan operasimu besok lancar. Jadi, setidaknya tidurlah dengan benar agar usaha saya tidak sia-sia.
Lyra terdiam menatap foto itu. Ada rasa hangat yang aneh muncul di dadanya, meskipun ia tetap merasa Pharma itu menyebalkan setengah mati.
> Dia masih di rumah sakit jam segini? Lyra menggigit bibirnya. Ternyata di balik sifat caper dan mulut pedesnya, dia beneran berdedikasi banget sama pasiennya... atau dia emang sengaja pamer biar gue makin ngerasa bersalah? Ah, dasar Pharma!
Lyra akhirnya membalas singkat sebelum mematikan koneksi internetnya.
Lyra: Terserah Bapak Bos. Makasih. Selamat kerja, jangan sampai kacamata Anda burem karena kurang tidur!
Lyra menarik selimutnya tinggi-tinggi. Meskipun hatinya masih dag-dig-dug karena dikirimi pesan oleh bos CMO-nya, rasa lelah akhirnya menang. Ia tertidur dengan bayangan Pharma yang sedang sibuk bekerja demi operasi mereka besok pagi.