NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Ketidakberdayannya

Sudah hampir dua minggu aku beristirahat di rumah. Kakiku sudah bisa dipakai berjalan walau tertatih-tatih, dan aku masih bisa melakukan aktivitas harian walau kecepatannya menurun sepuluh kali lipat dari kondisiku yang biasanya.

Sebagai karyawan agensi, rasanya bahagia ketika aku tidak harus menyentuh laptop dan harus berpikir keras mencari ide demi ide untuk setiap event brief yang datang silih berganti. Angan-angan untuk menghabiskan waktu seharian membaca buku dan tidur dengan sukses tercapai di saat seperti ini. Namun, kenyataannya di minggu pertama aku sudah bosan tak karuan. Keinginanku untuk segera berjalan-jalan dengan skuter kesayangan hanya buaian mimpi. Aku harus bersahabat dengan kasur yang kini menjadi pulau serba ada bagiku. Aku bagai putri raja selama dua minggu. Minim gerak namun maksimal maunya.

Aku menatap layar ponsel yang sudah diperbaiki Fedi seminggu yang lalu dengan tatapan nanar. Walaupun setiap hari aku mendapatkan kabar Fedi, namun rasanya kali ini ia jauh berubah. Ia tidak lagi semena-mena seperti biasanya, tidak juga seintens saat awal-awal mengenalku dalam menghampiriku yang waktunya bisa secepat kilat tanpa bisa aku duga. Rasanya, kini Fedi seperti menjauh dariku tanpa alasan.

Ataukah mungkin, alasannya adalah bahwa kini ia melihat Vanya begitu ringkih sehingga rela mati hanya karena Fedi membencinya? Apakah ia menyesal mengatakan hal tersebut pada Vanya sehingga ia berusaha untuk memperbaiki hubungan dengannya? Bagaimana pun keadannnya, kaitan di antara mereka berdua sangat kuat di mana aku tidak bisa memisahkannya.

Ngomong-ngomong soal Vanya, ia tidak masuk penjara. Karena koneksi orang tua dan sebagainya, ia selamat dari jeratan pasal pembunuhan atau hal yang sehubungan dengan hal tersebut. Walaupun aku setengah mati membencinya, aku tahu bahwa Vanya tidak sengaja mendorongku. Ia memang begitu ingin menabrakkan diri sehingga berusaha menyingkirkanku. Tapi, semua kebenciannya membuatnya hilang akal dan membuatku jatuh ke jalan raya begitu saja.

Rasanya menyakitkan. Aku tak pernah mau lagi mengulangnya.

Kubuka dan kututup aplikasi chat sebanyak sepuluh kali, juga melihat foto Fedi di profilnya dalam jumlah yang sama. Aku merasa gundah pertama kalinya untuk Fedi. Aku begitu kalut tentang ketakutan diriku bahwa ia bisa saja melupakanku hanya karena kini Vanya adalah prioritas utamanya.

“Fedi, di mana?”

“Di kantor. Kenapa?”

“Nope. Cuma penasaran.”

“Oh, udah baikan? Udah bisa jalan?”

“Udah kok.”

“Oke. Take care.”

Apakah nasibku akan sama seperti kejadian dua tahun lalu? Apakah aku akan ditinggal lagi oleh orang yang menganggapku begitu berarti?

Aku membuka pintu rumah dan berjalan pelan menuju taman bunga daisy. Sejenak kulihat diriku dan Fedi sedang berdansa dikelilingi oleh dua motor skuter kami dan juga bunga-bunga yang menari. Kulihat mata Fedi yang begitu hangat menatap mataku tanpa ragu. Kulihat juga wajahku yang sembab karena menangis seharian namun merasa damai karena sedang dijaga oleh tubuh Fedi yang sigap. Aku terlihat begitu nyaman berada di pelukannya. Aku merasa momen tersebut adalah momen yang sangat indah sebanyak apapun aku akan mengenangnya lagi.

Akhirnya aku sadar, sudah tidak ada lagi Aga dalam bayangan imajinasiku. Sudah tidak ada lagi wajah Aga yang tersenyum manis menyambutku ketika aku menghampirinya sembari berlari dan melambai tangan. Tak ada lagi Aga yang memegang tanganku untuk berlari ketika hujan tiba-tiba turun di tengah perjalanan.

Sudah tidak ada lagi Aga yang menangisi nasibku karena mencintainya tanpa bisa memilikinya. Aga sudah menjadi memoriku yang putih dan tak menyedihkan lagi seperti saat-saat biasa aku mengingatnya.

Kini Fedi yang jelas kulihat di depanku. Ia yang berlari ke arahku dan memelukku tanpa tanya. Ia yang membelikanku es krim dan meminta bagianku seperti anak kecil. Fedi yang menarik tanganku dan tak akan pernah melepasnya meskipun di depan orang banyak. Ia yang selalu menatap mataku dengan hangat dan terlihat sangat menarik ketika senyum gigi kikirnya mengarah langsung ke wajahku.

Fedi yang paling sering melihatku menangis dibanding siapapun di dunia ini.

Tuhan, aku begitu merindukannya. Tapi, bagaimana aku menghubunginya jika tampaknya ia mencoba menjauh dariku?

Najma, kamu sungguh tidak berdaya.

**

Tiga minggu sudah berlalu. Aku berjalan cukup hati-hati mengingat pergerakan para manusia di kantorku begitu cepat dan dinamis hingga aku menjaga jarak sekenanya dari mereka semua. Hari ini adalah hari pertama aku kembali bekerja. Aku berdoa agar tidak banyak yang bertanya tentang drama insiden yang menimpa diriku mengingat semua teman kantorku penasaran setengah mati dan sudah menagih cerita dariku jika aku sudah datang ke kantor lagi. Aku masih tidak siap.

Kutekan jempolku di mesin dan kudengar pintu berbunyi untuk mengizinkanku masuk. Ku melangkah dengan segan dan kulihat semua timku membentuk barikade tatap muka sehingga aku bisa berjalan menengahi mereka. Ketika aku melewati mereka semua hingga habis, mereka hanya diam dan memandangiku sambil tersenyum. Tak paham situasi, aku hanya berjalan menuju mejaku dan menaruh tasku sambil sesekali menengok apa yang sedang mereka lakukan.

“Najma!!!!” seru mereka kencang hingga aku kaget dan ikut menjerit.

“Congrats! Lo masih hidup dan makin cakep!” Gian berseru nyaring sambil berlari dan memelukku dari belakang. Aku mencoba melepaskannya namun ternyata serangan kedua datang bersamaan. Aku dikepung semua orang sampai tubuhku tak terlihat dari permukaan.

“Eh, udah! Mbak Najma nggak bisa nafas tuh!” pertolongan kemudian datang dari Icana. Aku menghela nafas dan menarik dalam-dalam hingga lancar kembali semua peredaran darah dalam badan.

“Duduk, Najma. Eh, mana minum? Najma, mau susu coklat dingin? Sebentar, ya!” Teriak Rasya pada seseorang sambil memposisikan diriku penuh perhatian. Dengan sekejap semua sudah mengepungku dengan posisi melingkar. Mereka benar-benar berharap banyak padaku hari ini.

“Gue nggak mau cerita apapun, oke? Ini hari pertama gue di kantor, jadi tolong biarkan gue bebas hari ini. Ya, ya, yaaaa?”

Semua menggeleng dan tersenyum bersamaan. Mereka mengerikan.

“Ya udah, apa yang kalian pengen tahu?” sahutku pasrah.

“Gue dulu!” Pinky mengacungkan tangannya, “lo tuh emang sengaja didorong sama si Vanya ke jalan, ya?”

Aku menggeleng.

“Jadi, lo tuh ketabrak karena kepeleset atau gimana sih?”

Aku kembali menggeleng pada Pinky.

“Gue mau nanya!” Gian mengacungkan tangannya, “Jadi lo udah jadian sama klien Sambung itu? Namanya Fedi, kan?”

“Hah? Lo tahu darimana?” Aku balik bertanya padanya. Rasa heran pada semua orang di kantor ini kusampaikan lewat pandangan yang kulayangkan satu persatu pada mereka semua.

“Najma, kisah drama lo sudah tersebar begitu tenarnya. Lo nggak inget, lo kan artis Facebook sekarang.” Jelas Rasya tenang.

“Maksud lo, sekarang kisah gue nggak hanya tentang cyber bullying itu? Ada penambahan yang lainnya?”

“Ada.” Jawab mereka serentak, begitu tenang dan terstruktur.

“Makanya, kita butuh konfirmasi lo sejelas-jelasnya. Kita nggak mau lo digosipin sekejam itu di sosial media. Harus ada klasifikasi yang sahih dari sumbernya langsung.” Pinky membantu menjelaskan padaku. Aku bisa melihat dia sangat antusias dengan kisah hidupku, padahal di dalam pekerjaan dia paling sering menunda desain yang kupinta hanya karena asyik main game online.

“Oke, kalau emang kalian begitu tertarik dengan kisah gue. Tapi gue nggak akan cerita super detail, ya. Singkat aja.”

Semua mengangguk cepat bersamaan.

“Vanya emang nggak suka sama gue karena dia cinta mati sama Fedi. Tapi sayangnya, Fedi nggak bisa membalasnya. Makin kesini, gue sama Fedi memang dekat dan hal tersebut nggak bisa diterima oleh Vanya. Jadi, dia selalu berusaha membuat gue nangis dan kesal setengah mati. Udah ya, itu aja.”

“Yaaaahhh….” Penonton kecewa.

“Jadi, kasus Facebook, handphone Mbak yang dicelup di air, dan insiden lobi hotel sampai Mbak Najma jatuh, itu semua karena satu alasan?” Icana bersuara. Semua pun menoleh ke arah Icana yang tak begitu terlihat dari kerumunan. Posisinya kurang cantik di antara kepungan yang ada di depanku.

“Iya. Bahkan, dia yang nelpon Pak Bos untuk ganti Creative buat proyek AMD kemarin.”

“Ih, cantik kok sinting!” seru Mas Isa menggelegar. Semua riuh berkomentar dengan orang-orang di sampingnya.

“Tapi, Mas Isa kayaknya seneng waktu itu deket-deket dia.” Ujarku.

“Iya sih, tapi kan itu sebelum gue tahu kalau dia nggak waras.”

Aku tersenyum merespon ucapan Mas Isa. Ia benar, Vanya memang tak waras. Tapi mereka tak perlu tahu seberapa besar kegilaannya mengacaukan hidupku. Bagaimana pun, aku pernah begitu putus asa menyukai seorang pria walaupun takdir sulit untuk menyatukan kami berdua. Di dalam sanubari, aku paham perasaan Vanya.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!