NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kepergian Fahmi di Tengah Malam

Jam dinding kayu yang tergantung miring di ruang tengah berdentang pelan menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara dentingnya yang monoton seolah menjadi penanda bahwa keriuhan singkat di panti asuhan itu telah benar-benar usai.

Suasana yang tadinya riuh dengan suara denting sendok plastik kini perlahan mereda seiring kembalinya anak-anak panti ke kamar mereka. Langkah-langkah kecil itu menghilang di balik pintu kayu, menyisakan keheningan yang kembali menyergap ruangan yang mulai mendingin.

Lantai tikar plastik hijau kini sudah kosong, menyisakan ruang luas yang nampak semakin rapuh di bawah temaram lampu bohlam. Bayu masih berdiri diam di dekat saklar yang baru saja ia perbaiki, merasakan sisa-sisa adrenalin yang perlahan mulai turun dari nadinya.

Ia menatap ujung jemarinya yang masih sedikit hitam karena bekas debu kabel, sebuah noda yang kini justru membuatnya merasa sedikit lebih hidup. Bayu menyadari bahwa kepuasan saat ini jauh lebih murni daripada keberhasilan menutup proyek properti bernilai miliaran di ibukota.

Fahmi bergerak dengan sangat tenang sembari merapikan kembali sisa-sisa kotak nasi ke dalam kantong plastik sampah berukuran besar. Ia membungkuk dengan telaten, memastikan tidak ada sebutir nasi pun yang tertinggal di atas lantai keramik agar tidak mengundang semut.

Gerakan Fahmi nampak sangat mekanis namun penuh kasih, sebuah kebiasaan yang lahir dari tahun-tahun pengabdian tanpa pamrih di tempat ini. Ia tidak nampak seperti seorang pemilik bisnis logistik yang sukses, melainkan hanya seorang kakak yang peduli pada kebersihan rumah adik-adiknya.

Nayla membantu melipat tikar plastik dengan gerakan yang sangat telaten, sesekali ia melirik ke arah Fahmi dan Bayu secara bergantian. Keheningan yang menyelimuti mereka bertiga terasa begitu damai, sebuah jeda yang sangat berharga setelah melewati badai emosi sejak sore tadi.

Nayla menyeka sedikit peluh di dahinya, matanya menunjukkan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata kepada kedua sahabat lamanya tersebut. Ia merasa pundaknya sedikit lebih ringan malam ini, meskipun ia tahu hari esok akan tetap membawa tantangan yang sama beratnya.

"Semuanya sudah beres, Nay. Kantong sampah ini biar aku bawa ke depan sekalian pas keluar nanti," ucap Fahmi sembari mengikat ujung plastik.

Suara Fahmi terdengar rendah namun mantap, memecah kesunyian ruang tengah yang kini hanya menyisakan bayangan mereka bertiga yang memanjang di dinding. Ia mengangkat kantong plastik yang nampak berat itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraih jaket kulit di kursi.

Fahmi mengenakan jaket kulitnya yang tersampir di sandaran kursi kayu dan mengenakannya dengan gerakan yang nampak sangat letih namun dipaksakan tegak. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan kunci motor dan ponselnya sudah berada di tempat yang aman sebelum benar-benar berpamitan pulang.

Bayu memperhatikan setiap gerakan Fahmi, menyadari bahwa sahabatnya itu sudah mengorbankan seluruh energinya untuk panti ini sepanjang hari yang panjang. Ia merasa sangat kecil jika dibandingkan dengan dedikasi Fahmi yang tidak pernah mengeluh meski noda lumpur masih mengering di celananya.

"Gue selama ini sibuk ngejar angka di layar, sementara Fahmi ngejar keberkahan di jalanan becek," batin Bayu dengan rasa getir yang merayap. Ia menunduk sejenak, menatap bayangannya sendiri yang nampak kuyu namun mulai menemukan kembali sedikit harga diri yang sempat hilang.

"Aku balik dulu ya, Nay. Bayu, lo jangan kemalaman di sini, Ibu lo pasti nungguin buat sahur nanti," ujar Fahmi sembari berjalan pelan.

Langkah kaki Fahmi yang berat beradu dengan lantai, menciptakan gema yang mengisi setiap sudut panti yang sudah mulai sepi dari aktivitas. Ia berjalan menuju pintu depan dengan bahu yang nampak sedikit merosot karena beban kelelahan yang akhirnya mulai menagih haknya.

Fahmi meraih helmnya yang diletakkan di atas meja tamu, lalu ia memakainya dengan tenang sembari merapikan tali pengikat di bawah dagunya. Ia nampak sudah sangat siap untuk menembus dinginnya udara malam desa yang seringkali menusuk tulang bagi siapa saja yang berkendara sendirian.

Namun, sebelum benar-benar melangkahkan kaki keluar dari pintu, Fahmi tiba-tiba berhenti dan kembali menoleh ke arah Bayu yang masih berdiri diam. Ia merogoh saku celananya sekali lagi dengan gerakan yang sengaja, seolah baru saja teringat akan sebuah mandat penting yang harus diserahkan.

Fahmi mengeluarkan sebuah kunci besi tua yang permukaannya sudah mulai berkarat namun nampak masih sangat kokoh dan fungsional di mata Bayu. Cahaya bohlam kuning yang redup memantul di permukaan besi kunci tersebut, memberikan kesan mistis seolah benda itu adalah pusaka yang berharga.

Fahmi mendekati Bayu, lalu ia menyerahkan kunci yang nampak sangat penting itu langsung ke telapak tangan Bayu yang masih sedikit kotor. "Ini kunci gudang panti, Bay. Lo pegang saja dulu selama lo masih sering main ke sini buat bantu-bantu."

Bayu menerima kunci yang terasa sangat dingin di kulit telapak tangannya itu, ia menatap benda tersebut dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Logam dingin itu seolah membawa berat tanggung jawab yang baru saja dipindahkan dari pundak Fahmi ke dalam genggaman tangannya yang bergetar.

Fahmi tersenyum tipis di balik kaca helmnya yang sudah terbuka setengah, sebuah senyuman yang mengandung rasa percaya yang sangat besar dan tulus. Ia menatap Bayu dengan binar mata yang tidak lagi menyimpan keraguan, sebuah tatapan yang mengakui Bayu sebagai bagian dari tim penyelamat panti.

"Di dalam gudang samping itu ada beberapa perkakas pertukangan peninggalan almarhum pengurus lama yang masih bisa lo manfaatin buat kerja," jelas Fahmi pelan. "Ada palu, gergaji, sama beberapa sisa semen kalau lo memang mau mulai perbaikan kecil di dinding yang retak tadi."

Bayu mengangguk pelan sembari menggenggam kunci besi tersebut dengan sangat erat, seolah benda itu adalah mandat resmi untuk menjaga rumah masa kecilnya. "Makasih, Mi. Gue bakal coba cek besok pagi, siapa tahu ada yang bisa gue selametin sebelum retakannya makin parah."

Fahmi menepuk bahu Bayu sekali lagi, sebuah gestur yang kini terasa sangat hangat dan tidak lagi mengandung rasa persaingan bagi batin Bayu. "Gue tahu lo ahli kalau soal struktur, meski biasanya lo cuma liat di layar komputer, tapi sekarang lo pakai tangan sendiri."

"Hati-hati, Bay. Kunci itu jangan sampai hilang, soalnya itu satu-satunya akses buat ngambil alat kalau ada keadaan darurat di malam hari," tambah Fahmi.

Bayu hanya bisa terdiam, merasakan kehangatan persahabatan yang kembali pulih setelah bertahun-tahun tertutup oleh kabut kesombongan dan gengsi yang semu.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!