NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kristal Darah

 Magnitius mendekat ke arah kristal itu, dan dengan gerakan yang cepat dan presisi, ia mengeluarkan jurus yang membuat kristal itu melayang dari tugu altar ke tangannya. Aira merasa seperti dia sedang menyaksikan sebuah sulap yang nyata.

Kristal itu berkilau di tangan Magnitius, dan Aira bisa merasakan energi yang kuat yang keluar dari dalamnya. "Aira, ini adalah kristal darah, dengan ini, aku akan memberikanmu kekuatan yang kamu butuhkan."

 Rasa takut Aira menyeruak. Mata Aira melebar dengan rasa takut ketika dia menatap kristal itu. "Darah... darah siapa?" ulangnya dengan suara bergetar.

Magnitius mendekat ke arah Aira, dan dengan suara yang lembut, dia berkata, "Darah itu milik keluargamu, Aira." .

Degg...

"Keluargaku?" Aira bergerak mundur perlahan.

Magnitius mengangguk, dan dengan suara yang lembut, dia berkata, "Ya, Aira. Darah itu milik keluargamu yang telah lama hilang. Dan dengan kristal ini, kamu akan mendapatkan kekuatan mereka kembali."

Aira merasa seperti dia sedang terjebak dalam sebuah mimpi buruk. Dia tidak tahu apa yang harus dipercaya,tapi satu hal yang pasti, dia tidak ingin menjadi bagian dari rencana Magnitius.

 Aira merasa sedang diserang oleh kenangan yang menyakitkan. "Tapi... bukankah keluargaku ikut terbakar saat raja Ignis membakar kerajaanku?"

"Ya, itu benar. Kerajaanmu memang telah dibakar oleh raja Ignis. Tapi, ada satu hal yang kamu tidak tahu, Aira. keluargamu tidak benar-benar mati."

 "Apa maksudmu?". Dada Aira kembang kempis menahan amarah.

"Keluargamu tidak mati, Aira. Mereka hanya terikat dalam sebuah kurungan kuat yang di buat oleh raja Ignis. Dan kamu adalah satu-satunya yang bisa membebaskan mereka."

Aira merasa seperti dia sedang terjebak dalam sebuah labirin yang rumit. Dia harus tahu jalan keluar untuk bisa memecahkan segala kerumitan ini.

"Bagaimana cara agar aku bisa membebaskan mereka?" Aira sedikit menggebu, seolah rasa takut yang ia rasa menghilang seketika.

 "Dengan kristal ini, aku bisa membebaskan mereka dari kurungan. Tapi, ada satu syarat. Kamu harus menjadi bagian dari rencana kita, Aira."

Aira tahu bahwa dirinya akan dihadapkan dengan pilihan yang sulit. "Apa rencana kamu?"

 "Rencana kita adalah mengambil kembali kekuasaan yang seharusnya milik keluargamu, Aira. Kami akan menggulingkan raja Ignis yang telah membakar kerajaanmu, dan mengembalikan kejayaan keluargamu."

Mendengar penuturan Magnitius membuat Aira berambisi. "Bagaimana cara kita menggulingkan raja api?"

"Dengan kekuatan kristal darah ini, kita bisa membangkitkan kekuatan keluargamu yang lama hilang. Dan dengan kekuatan itu, kita bisa mengalahkan raja api."

"Itu berarti, aku yang harus mengendalikan kristal darah itu?". Ucap Aira

"Benar, Aira. Kamu adalah keturunan terakhir dari keluargamu, dan kamu adalah satu-satunya yang bisa mengendalikan kekuatan kristal darah itu. Dengan kristal itu, kamu bisa membangkitkan kekuatan keluargamu dalam dirimu dan kamu bisa mengalahkan raja api."

"Apa yang akan terjadi jika aku tidak mau?"

Magnitius menambahkan, "Jika kamu tidak mau, Aira. Maka kristal darah ini akan terus bercahaya, dan keluargamu akan tetap hidup dalam kurungan. Tapi, jika cahaya kristal ini memudar, maka keluargamu akan hancur, dan kesempatanmu untuk membangkitkan mereka akan hilang selamanya."

"Berapa lama waktu yang aku punya?"

Magnitius melihat ke arah kristal darah. "Cahaya kristal ini akan memudar dalam waktu 7 hari. Jika kamu tidak menerima tawaran ini sebelum itu, maka semuanya akan musnah."

"3 hari? Itu tidak cukup waktu untukku berlatih dan menguasai kekuatan kristal darah!" serunya,

"Aku tahu, Aira. Tapi, itu adalah waktu yang kamu punya. Aku bisa membantu kamu berlatih, tapi keputusan ada di tanganmu."

"Aku akan mempertimbangkannya". Ucap Aira. "Bolehkan aku mencoba menyentuhnya?" . Aira sangat penasaran.

Tetapi, baru saja Magnitius mendekatkan kristal darah itu kepada Aira, ia terpental ke belakang. Magnitius terlihat terkejut dan dia mencoba untuk menangkap Aira, tapi terlambat.

Aira jatuh ke lantai, dan dia merasa seperti dia sedang kehabisan napas. "Apa...apa yang terjadi?" .

"Kristal darah tidak menerima kamu," kata Magnitius, "Kamu masih memiliki jiwa lemah dan energi kristal darah terlalu besar. Kamu tidak akan bisa mengendalikannya".

"Kamu ingin menggunakan aku untuk sesuatu, bukan?". Tiba-tiba rasa curiga Aira terhadap Magnitius kembali meningkat.

"Benhenti mencurigaiku, dan pergilah berlatih". Ujar Magnitius mengembalikan kristal darah ke tempatnya.

"Berlatih?" tanya Aira

"Kamu memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi kamu belum tahu cara menggunakannya. Aku akan membantumu berlatih, dan mempertemukanmu dengan seorang ksatria."

"Baiklah,"

"T-tunggu..."

"Ksatria?" . Aira bingung dengan ucapan Magnitius di akhir.

"Kamu perlu belajar ilmu pedang dari ksatria terbaik di kerajaan ini. Dia akan membantumu meningkatkan kemampuanmu."

Aira mengangguk, merasa sedikit lebih percaya dengan rencana Magnitius. "Baiklah,"

Magnitius mengangguk, lalu dia meninggalkan Aira yang merasa sedikit lebih lega ketika dia sendirian, tapi dia masih merasa waspada. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi dia siap untuk menghadapinya.

"Loh? Kapan kita keluar dari ruangn itu? ". Teriak Aira menatap punggung Magnitius.

Magnitius berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, ia tersenyum manis. "Kita sudah keluar dari ruangan itu sejak 5 menit yang lalu, Aira," katanya dengan nada santai.

"Hah?!" dia melihat sekeliling, menyadari bahwa mereka sudah berada di koridor istana yang luas. "G-gak kerasa," gumamnya, merasa sedikit bodoh.

Magnitius tertawa, "Aku tahu, Aira. Kamu terlalu fokus dengan percakapan kita. Aku akan membawamu ke tempat ksatria itu sekarang. Ikuti aku!" katanya, lalu melanjutkan berjalan.

"Sekarang? bukankah ini sudah larut malam?". tanya aira mencoba menyusul langkah kaki magnitius yang lebar.

Tapi langkahnya terhenti saat seorang panglima perang menghap Magnitius. Lalu panglima itu membisikkan sesuatu.

"Aira, pergilah beristirahat. kita bertemu esok". Titah Magnitius dengan nada yang berwibawa.

Aira merasa sedikit frustrasi, tapi dia tahu bahwa Magnitius pasti memiliki alasan. "Baiklah, sampai esok," , l

Aira menyaksikan Magnitius pergi bersama panglima perang sampai punggungnya hilang tertelan kegelapan. "Suaranya berubah. Hi...hi...". Aira geli sendiri melihat perubahan Magnitius.

Aira merasa sedikit lelah, dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Dia berjalan sebentar seorang diri di koridor istana yang sepi, mencoba memproses semua yang telah terjadi hari ini.

Saat dia tiba di kamar, dia langsung rebah di tempat tidur, merasa pikirannya masih berputar. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Kemudian Aira bangkit dari posisi tidurnya. Dia mencari Nocturna di belakang cermin, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Aira merasa frustrasi, tapi dia juga merasa bahwa Nocturna mungkin bisa membantunya.

Aira kembali ke cermin, dan dia melihat bayangan Nocturna lagi. "Aira, aku ada di sini," kata Nocturna, .

Aira merasa lega, dan dia bertanya, "Apa yang kamu maksud dengan Solara dalam tubuhku?"

Nocturna tersenyum, dan dia menjawab, "Solara adalah adikku. Dia memiliki kekuatan yang sama denganmu, Aira. Aku percaya bahwa kamu bisa membantuku mengembalikan kerajaan ini ke tangan yang tepat."

"Apa yang harus aku lakukan, Nocturna? Bahkan aku saja merasa frustasi dengan usahaku mengembalikan kerajaanku" tanyanya, suaranya yang sendu.

"Maafkan aku Aira". Ucap Nocturna merasa bersalah. "Apa yang terjadi setelah menemuinya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!