Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Biji Cahaya yang Memanggil Malapetaka.
[PoV Ibu Shen]
Malam ini aku tidak tidur.
Angin gunung menyapu atap rumah kami, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Aku duduk bersila di puncaknya, punggung tegak lurus, telapak tangan bertumpu ringan di lutut. Tubuhku diam, tapi dunia di sekelilingku terasa terlalu ramai untuk disebut sunyi.
Di balik kelopak mataku, gelap bukanlah gelap.
Ia penuh.
Getaran halus merambat melalui udara, seperti riak di permukaan danau yang disentuh sesuatu dari kejauhan. Bukan satu.
Dua.
Dua keberadaan asing berdiam di perbukitan sebelah barat. Mereka tidak bergerak, tidak menyentuh wilayah ini, tapi kehadirannya menekan seperti bayangan panjang menjelang senja. Bukan niat membunuh, belum, melainkan rasa ingin tahu yang sabar. Menimbang. Menghitung.
Seperti pemburu yang telah menemukan jejak, tapi memilih menunggu.
Dadaku tetap naik turun teratur. Aku tidak membiarkan napasku berubah. Ketakutan adalah undangan.
Aku mengalihkan kesadaranku ke dalam desa kecil ini.
Yu Yan.
Aura gadis kecil itu bergetar tak stabil, seperti nyala api di tengah angin dingin. Simpul gelap di dalam tubuhnya masih ada—padat, keras, menolak—tapi kini ada retakan halus di permukaannya. Benang-benang energi tipis berwarna pucat berusaha menembusnya, gagal, lalu mencoba lagi.
Setiap usaha meninggalkan rasa perih di tubuhnya.
Aku bisa merasakannya.
Rahangku mengeras.
Anak lima tahun seharusnya hanya mengenal rasa lapar dan kantuk, bukan rasa sakit yang berasal dari dalam jiwanya sendiri. Tapi dia tidak menyerah. Setiap kali benang itu runtuh, ia kembali terbentuk. Lambat. Keras kepala. Hidup.
Lalu ...
Kesadaranku terseret lebih dalam, seperti ditarik arus deras.
Shen Yu.
Aliran Qi anakku tidak bergerak seperti api atau angin. Ia mengalir seperti sungai yang baru lepas dari bendungan—tenang di permukaan, tapi dengan kekuatan yang bisa menggerus batu. Setiap denyut jantungnya mendorong energi ke seluruh tubuh mungilnya, membentuk sirkulasi yang terlalu… sempurna.
Terlalu cepat.
Darahku terasa dingin.
Aku mengenal pola ini.
Aku pernah melihatnya sebelumnya, bertahun-tahun lalu, pada seseorang yang berdiri dengan punggung menghadapiku, cahaya keemasan membakar udara di sekelilingnya, tertawa seolah dunia tak pernah bisa menyentuhnya.
Seseorang yang seharusnya sudah mati.
Biji cahaya di dahi Shen Yu berdenyut pelan, selaras dengan napasnya. Setiap denyutnya memantul keluar, seperti panggilan yang tak disengaja. Tidak keras. Tidak mencolok.
Tapi cukup.
Cukup untuk menarik perhatian hal-hal yang tidak seharusnya menoleh ke desa terpencil ini.
Itu bukan sekadar warisan.
Itu adalah beban yang tidak bisa dia tolak.
Dan magnet yang tidak bisa aku matikan.
Aku membuka mata.
Langit malam terbentang luas, bintang-bintang bertaburan seperti serpihan es. Indah. Jauh. Tak peduli. Mereka telah menyaksikan terlalu banyak kematian untuk bersimpati pada satu lagi.
“Kakak …” suaraku hilang ditelan angin. “Aku sudah mencoba memperlambatnya.”
Kata-kata itu terasa hampa bahkan di telingaku sendiri.
Ingatan itu datang tanpa permisi.
Tanah yang terbelah. Udara yang meraung. Cahaya yang menyilaukan sampai dunia kehilangan warna. Teriakan, terpotong di tengah napas dan bau darah yang begitu hangat hingga terasa tidak nyata.
Tangan yang gemetar. Kuat, tapi putus asa.
Sebuah bayi kecil, masih merah, masih menangis, didorong ke dalam pelukanku.
Lindungi dia.
Ninggalkan semuanya.
Jangan pernah kembali.
Aku berlari.
Aku tidak menoleh, bahkan ketika dunia di belakangku runtuh. Kakiku berdarah. Nafasku terbakar. Tapi aku terus berlari, menelan jarak dan waktu, sampai ketakutan itu berubah menjadi kebiasaan.
Sampai aku percaya tempat ini cukup jauh.
Ternyata aku salah.
Tanganku menyusup ke balik pakaian dan menggenggam liontin perak kecil. Logamnya dingin di kulitku, tapi ukiran bunga bulan di permukaannya terasa familier di ujung jariku. Setiap lekukannya mengingatkanku bahwa aku pernah memiliki keluarga yang utuh.
Aku menahan napas.
Lalu mengalirkan Qi.
Liontin itu menghangat seketika, denyutannya lembut namun tegas—sekali—seperti jantung yang terbangun setelah tidur panjang. Getaran itu merambat naik ke lenganku, lalu lenyap.
Senyap kembali.
Pesan itu sudah pergi.
Aku menutup genggamanku, menekan ketakutan yang tersisa jauh ke dalam.
Sekarang tidak ada jalan mundur.
Aku melompat turun dari atap. Tubuhku mendarat tanpa suara, tanah tidak sempat mengeluh. Rumah kecil ini berdiri diam, dinding kayunya tua, tapi masih melindungi apa yang ada di dalamnya.
Langkah kakiku berhenti di depan kamar Shen Yu.
Aku mendorong pintunya perlahan.
Anakku tidur nyenyak.
Bulu matanya bergetar ringan setiap kali dia bernapas. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada mimpi buruk. Cahaya bulan menyelinap melalui jendela, menyentuh wajahnya dan membuatnya tampak hampir… tidak nyata.
Biji cahaya di dahinya berdenyut pelan.
Hidup.
Aku menyentuh pipinya dengan ujung jariku. Hangat. Nyata. Jarinya bergerak sedikit, mencengkeram udara seolah mencari sesuatu.
Dadaku mengencang.
“Aku di sini,” bisikku, meski dia tidak bisa mendengarnya. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu.”
Kata-kata itu adalah sumpah.
Dan juga kebohongan kecil yang perlu kupercayai agar tetap berdiri.
Karena jauh di luar sana, di balik perbukitan yang gelap, roda takdir telah mulai berputar.
Dan Shen Yu bayi dengan biji cahaya, pewaris klan Ling akan menjadi pusat pusaran yang tidak bisa kuhentikan selamanya.