NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 19

Setelah Harry mengantar Aura pulang dari rumah sakit malam itu, suasana di rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ibunya sudah tidur. Lampu ruang tamu menyisakan cahaya temaram. Aura masuk ke kamar dengan langkah pelan, tubuhnya masih lemas tapi pikirannya justru terlalu penuh.

Di luar pagar, suara motor Harry belum langsung menjauh.

Ia masih di sana beberapa detik.

Seolah memastikan Aura benar-benar masuk.

Aura berdiri di balik tirai kamarnya, melihat siluetnya di bawah lampu jalan. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Ini bukan lagi soal gengsi. Bukan soal siapa yang lebih dulu menjauh.

Ini soal kenyataan bahwa Harry tetap datang.

Keesokan harinya Aura tidak masuk kelas. Dokter menyarankan istirahat penuh. Ibunya yang biasanya tidak banyak bertanya kali ini duduk di tepi tempat tidurnya.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini kelihatan capek banget?” tanya pelan.

Aura menggeleng kecil. “Cuma kecapekan, Bu.”

Ibunya tidak langsung percaya. Tapi tidak memaksa.

Siang menjelang sore, ponselnya bergetar.

aku di luar.

Aura membaca pesan itu dua kali.

Ia turun pelan ke ruang tamu. Ibunya sedang di dapur. Ketika Aura membuka pintu, Harry berdiri dengan kantong plastik kecil di tangannya.

“Ini obat tambahan sama buah,” katanya tenang. “Tadi aku tanya apotek lagi.”

Aura menatapnya beberapa detik. “Kamu nggak ada kelas?”

“Ada. Udah selesai.”

Ia tidak masuk. Hanya berdiri di teras.

Aura sadar, Harry tidak ingin melewati batas. Tidak ingin terlihat terlalu masuk ke ruang pribadinya. Ia hanya memastikan.

“Harry,” panggil Aura pelan.

Harry mengangkat wajahnya.

“Kenapa kamu masih baik sama aku?” tanyanya.

Bukan nada menantang. Bukan curiga. Hanya benar-benar ingin tahu.

Harry terdiam sebentar sebelum menjawab, “Karena perasaanku nggak ikut berubah cuma karena kamu minta jarak.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Justru tenang.

Aura menunduk.

Ia sadar selama ini ia mencoba mengendalikan situasi dengan cara yang paling aman menurutnya. Tapi yang tidak ia perhitungkan adalah kenyataan bahwa Harry tidak pernah setengah hati.

“Aku cuma nggak mau kamu sakit,” lanjut Harry pelan.

Aura mengangkat wajahnya. “Kalau aku yang sakit karena kamu?”

Harry tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata, “Kalau kamu sakit karena aku, aku di situ. Bukan pergi.”

Jawaban itu sederhana. Tapi untuk pertama kalinya Aura merasa tidak sendirian dalam ketakutannya.

Ibunya memanggil dari dalam rumah. Aura sedikit menoleh.

Harry melangkah mundur satu langkah. “Istirahat yang bener. Jangan mikir aneh-aneh dulu.”

Aura mengangguk.

Sebelum benar-benar berbalik, Harry berkata pelan, “Aku nggak pernah benar-benar pergi, Aura. Kamu yang nyuruh aku mundur.”

Dan kali ini, Aura tidak merasa tersinggung.

Karena ia tahu itu benar.

Saat pintu tertutup, Aura berdiri beberapa detik di baliknya. Tangannya menggenggam kantong plastik yang masih hangat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memilih antara menjauh atau bertahan.

Yang ia rasakan hanya satu hal yang jauh lebih jujur.

Ia belum siap kehilangan Harry.

Dan mungkin… ia tidak perlu berpura-pura siap lagi.

Dua hari setelah Harry datang ke rumah membawa obat dan buah, kondisi Aura berangsur membaik. Demamnya sudah turun, meski tubuhnya masih mudah lelah. Ibunya tetap mengawasinya dengan cermat, memastikan ia benar-benar sarapan sebelum kembali beraktivitas. Aura lebih banyak diam akhir-akhir ini. Bukan karena sakitnya, tapi karena pikirannya terus dipenuhi satu orang yang memilih tetap tinggal tanpa memaksa.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!