Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara di Balik Meja
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar di aula utama kediaman Aeru terasa begitu menyilaukan, namun tidak sebanding dengan kilau mobil sport putih milik Jasen Admire yang sudah terparkir di depan lobi. Seldin berdiri di tangga teratas, menyesap kopi hitamnya dengan ekspresi puas. Baginya, pemandangan Jasen yang datang menjemput adiknya adalah simbol stabilitas bisnis yang sempurna.
"Sera, Jasen sudah di depan," ujar Seldin tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki Sera menuruni tangga.
Sera muncul dengan penampilan yang sangat memukau—gaun bodycon berwarna merah marun yang mempertegas lekuk tubuhnya dan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sembap karena tangisan semalam. Di belakangnya, Dareen berjalan dengan setelan kuliah yang rapi, tas ransel di bahunya, dan wajah yang lebih datar dari biasanya.
"Aku sudah siap, Kak," sahut Sera dengan suara yang luar biasa tenang.
Seldin sedikit terkejut dengan perubahan sikap adiknya yang mendadak patuh, namun ia tersenyum tipis. "Bagus. Kau mulai mengerti tanggung jawabmu sebagai seorang Aeru."
Sera melirik Dareen dari balik kacamata hitamnya. Maafkan aku, Babe. Aku harus mengikuti permainan busuk Kak Seldin agar kita bisa tetap bersama, batin Sera. Ia berencana untuk menguji sejauh mana Dareen bisa bertahan dalam api cemburu, sekaligus ingin membuktikan pada Seldin bahwa ia "jinak", agar pengawasan terhadap mereka sedikit melonggar.
"Dareen," panggil Seldin dingin.
"Ya, Tuan," sahut Dareen kaku.
"Mulai hari ini, kau berangkat ke kampus sendiri. Gunakan mobil operasional lain. Sera akan berangkat bersama Jasen sebagai bagian dari komitmen pertunangan mereka. Kau tetap memiliki tugas menjaganya di kampus, tapi jangan mengganggu privasi mereka selama perjalanan."
Dareen mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasakan sengatan amarah yang membakar dadanya. Namun, ia hanya menunduk hormat. "Dimengerti, Tuan."
Jasen keluar dari mobilnya, tersenyum lebar melihat Sera. Ia melangkah maju dan, dengan sengaja di depan mata Dareen, melingkarkan tangannya di pinggang Sera. "Siap untuk hari yang indah, Sayang?"
Sera tidak menolak. Ia bahkan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Jasen, memberikan senyuman maut yang biasanya hanya ia tujukan untuk Dareen. "Tentu, Jasen. Ayo berangkat."
Dareen hanya bisa berdiri mematung di teras, menatap knalpot mobil Jasen yang menjauh meninggalkan debu. Di dalam dadanya, api cemburu berkobar hebat, namun sebagai seorang prajurit yang sedang menjalankan misi penyamaran, ia harus menelan semua pahit itu bulat-bulat.
Saat Dareen tiba di ruang kuliah Fakultas Hukum tiga puluh menit kemudian, ia menemukan sesuatu yang membuatnya ingin menghancurkan apa pun di dekatnya. Tempat duduk favoritnya di barisan ketiga—tepat di samping Sera—telah ditempati oleh Jasen.
Jasen sedang duduk dengan santai, satu tangannya merangkul sandaran kursi Sera, sementara tangan lainnya memainkan ujung rambut gadis itu. Sera duduk diam dengan senyum tipis yang tak terbaca, seolah menikmati perhatian tersebut.
"Oh, Christ. Kau terlambat," ejek Jasen saat melihat Dareen masuk. "Aku sudah mengambil tempatmu. Lagipula, sebagai tunangannya, aku rasa akulah yang paling berhak duduk di sini, bukan?"
Dareen tidak membalas. Ia merasakan tatapan seluruh mahasiswa di ruangan itu tertuju padanya. Ia hanya melangkah menuju barisan di belakang mereka, duduk tepat di belakang punggung Jasen. Posisinya kini sangat menyakitkan; ia bisa melihat setiap interaksi kecil antara Sera dan pria yang ia benci itu.
Biasanya, di bawah meja yang sempit itu, Sera akan meraih tangan Dareen, menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan satu sama lain di tengah ceramah dosen yang membosankan. Namun sekarang, tangan Sera diletakkan di atas meja, sengaja dibiarkan untuk diusap-usap oleh jemari Jasen.
Ayo, Babe. Tunjukkan padaku kau tidak akan menyerah begitu saja, tantang Sera dalam hati. Ia bisa merasakan tatapan tajam Dareen yang menembus punggungnya, sebuah intensitas yang membuatnya merinding sekaligus merasa bersalah.
Profesor Aris memulai kuliahnya tentang Hukum Perdata dan Aliansi Bisnis, sebuah tema yang seolah sengaja mengejek situasi mereka. Sepanjang dua jam kelas berlangsung, Jasen tidak berhenti melakukan aksi provokatifnya.
"Sera, kau terlihat lelah. Apa kau kurang tidur semalam karena memikirkanku?" bisik Jasen cukup keras agar Dareen bisa mendengarnya. Jasen kemudian mencium pelipis Sera dengan gerakan yang sangat posesif.
Sera tidak menjauh. Ia justru memberikan respons yang membuat darah Dareen mendidih. Ia menoleh ke arah Jasen, memberikan tawa kecil yang manja, dan menyandarkan tubuhnya lebih dekat ke arah pria itu.
"Mungkin saja, Jasen. Kau tahu aku selalu emosional tentang masa depan kita," sahut Sera sambil melirik Dareen melalui pantulan kaca jendela di samping mereka.
Dari kursinya, Dareen melihat segalanya. Ia melihat tangan Jasen yang mulai berani mengusap pundak Sera yang terbuka. Ia melihat bagaimana Sera merespons kemesraan itu dengan senyuman yang terlihat sangat tulus bagi orang awam, namun Dareen tahu itu adalah sandiwara maut. Meski begitu, melihat wanita yang ia cintai disentuh oleh orang lain adalah siksaan fisik yang lebih berat daripada latihan survival di hutan mana pun.
Dareen mencengkeram penanya begitu kuat hingga alat tulis itu retak di tangannya. Ia ingin berdiri, menarik Jasen keluar, dan menunjukkan siapa "pemilik" Sera yang sebenarnya. Namun, ia teringat janji semalam. Ia harus menjadi benteng, bukan penghancur.
"Christ, kau baik-baik saja? Penamu bocor," bisik seorang mahasiswa di sampingnya.
Dareen melihat tangannya sudah berlumuran tinta hitam, mirip dengan hatinya yang kini pekat oleh kegelapan cemburu. Ia segera menyeka tangannya dengan tisu, matanya tidak pernah lepas dari belakang kepala Jasen.
Di depannya, Jasen semakin menjadi-jadi. Ia mengambil tangan Sera dan mencium punggung tangannya berkali-kali. "Aku sudah bicara dengan ayahku. Pertunangan kita akan diumumkan secara resmi di pesta ulang tahun Phoenix Group minggu depan. Kita akan menjadi pasangan paling berkuasa di kota ini."
Sera hanya mengangguk pelan. "Aku tidak sabar, Jasen."
Kata-kata itu seperti belati yang menghunjam jantung Dareen. Ia tahu Sera sedang menguji kesetiaannya, sedang bermain peran di depan Seldin (yang mungkin memasang alat penyadap pada Jasen), tapi tetap saja, rasa takut kehilangan itu nyata. Dareen menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar robot atau pengawal; ia adalah seorang pria yang hancur karena cinta yang tidak boleh ia klaim di depan umum.
Saat jam kuliah berakhir, Jasen segera bangkit dan membantu Sera membawa tasnya. "Ayo, Sayang. Kita makan siang di tempat yang sudah kupesan. Hanya kita berdua."
Sera berdiri, merapikan gaunnya, dan untuk pertama kalinya sejak kelas dimulai, ia menatap Dareen langsung ke matanya. Ada sebuah pesan rahasia di sana—sebuah permohonan agar Dareen tidak menyerah pada rasa cemburunya.
"Kau bisa pergi duluan, Dareen," ujar Sera dingin di depan Jasen. "Aku tidak butuh penjagaan ketat saat bersama tunanganku. Jemput aku jam empat nanti."
Dareen berdiri, menatap Sera dengan tatapan yang sangat dalam, penuh luka namun juga penuh janji. "Baik, Nona. Saya akan tepat waktu."
Jasen tertawa kecil sambil merangkul pundak Sera dan membawanya keluar dari kelas. "Lihat itu, Sera. Bahkan anjing penjagamu tahu kapan harus minggir saat majikan aslinya datang."
Dareen tetap berdiri di kelas yang mulai kosong itu. Napasnya memburu, tangannya gemetar hebat. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat pada nomor rahasia yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan agen militer lamanya.
“Percepat pencarian data tentang keluarga Admire. Aku ingin tahu setiap kotoran yang mereka sembunyikan. Sekarang.”
Dareen menyadari bahwa ia tidak bisa hanya diam menjadi korban sandiwara ini. Jika Seldin dan Jasen ingin menggunakan strategi kotor untuk memilikinya, maka Dareen akan menggunakan kemampuannya sebagai operator elit untuk menghancurkan mereka dari dalam.
Kau sedang mengujiku, Sera? batin Dareen sambil melihat sosok Sera yang menghilang di koridor bersama Jasen. Maka lihatlah sejauh mana seorang monster akan pergi untuk melindungi hartanya yang paling berharga.
Malam itu, "sudut tersembunyi" Aeryon City yang biasanya menjadi tempat mereka bernaung akan terasa sangat sepi tanpa kehadiran Sera. Namun bagi Dareen, kesepian itu akan ia ubah menjadi energi untuk menyiapkan serangan balik yang mematikan. Perang ini bukan lagi tentang kasta atau bisnis; ini tentang siapa yang sanggup bertahan di tengah api tanpa terbakar habis.
Dan semoga Sera sdh sadar, dan bisa bahagia juga dengan Jasen..
Dan Sera, astaga,,, makin hari makin kelihatan sifat manipulatifmu jalang ... 😠
Darren jngn sampai goyah... hapus total perasaan pernah sukamu sama perempuan jalang itu...👊👊
Buktikan kepada Seldin Aeru yg sombong, bahwa kau bisa berharga sebagai manusia di luar kediaman megah mereka 💪
Kau terlahir dgn kecerdasan bisnis yg luar biasa, Kau pasti bisa... 💪💪
Dari awal kau yg gatal terhadap Darren. Saat Darren memutuskan berhenti jadi budak nafsu mu, kau ingin masih ingin menghancurkannya.
Kau salah... Lihat saja...Darren malahan akan perlahan membencimu...👊👊
Jangan biarkan Seraphina menang...👊👊
Ayo,, bicakan berdua, jngn buat celah utk wanita tak tau malu seperti Sera menghancurkan mimpimu...