Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badai di jantung sunyi
Rasa sakit yang merobek saraf tulang belakang Kala saat ia mencabut kabel-kabel simulasi itu bukanlah penghalang; itu adalah alarm yang membangunkan insting predatornya. Cairan emas yang tadinya membuai mimpinya kini tumpah di lantai logam yang dingin, menguap menjadi gas beracun yang berbau seperti belerang.
"Subjek 601 telah memutus sinkronisasi! Aktifkan Protokol Penahanan Tingkat Lima!" suara Kurator Utama menggema, namun kali ini penuh dengan nada panik yang jarang terdengar.
Pintu-pintu baja di sekeliling laboratorium raksasa itu bergeser terbuka. Puluhan unit Sentinel Realitas—robot tempur tanpa wajah dengan tubuh dari logam cair—meluncur masuk. Tangan mereka berubah menjadi bilah laser yang sanggup memotong atom.
Kala tidak melarikan diri. Ia berdiri tegak di depan tabung Arumi dan Naya. Matanya yang merah menyala bukan lagi tanda kerusakan sistem, melainkan tanda bahwa ia telah melampaui batasan manusia.
"Sentuh mereka," bisik Kala, suaranya terdengar seperti guntur yang tertahan, "maka aku akan menghapus detik ini dari sejarah kalian."
Dua Sentinel menerjang maju dengan kecepatan suara. Namun, bagi Kala, gerakan mereka tampak seperti siput yang merayap di atas lem. Kala tidak bergerak cepat; ia hanya menggeser ruang di sekitarnya. Dengan satu lambaian tangan, gelombang tekanan udara yang sangat padat menghantam kedua robot itu hingga hancur menjadi serpihan logam tak berguna.
Kala berbalik ke arah tabung Naya. Ia melihat putrinya gemetar hebat di dalam cairan biru itu. Mesin ekstraktor di atas tabung sedang bekerja keras, mencoba menyedot "Inti Waktu" yang ada di dalam nadi Naya.
"Kala! Matikan generator pusat di bawah meja operasi itu!" suara Vera tiba-tiba terdengar dari sebuah tablet medis yang retak di dekat kaki Kala. "Jika ekstraksi mencapai 100%, Naya akan menjadi cangkang kosong!"
Kala menghantamkan tinjunya ke lantai. Logam tebal itu robek seperti kertas. Ia menarik paksa rangkaian kabel optik yang menyuplai energi ke tabung-tabung itu. Percikan listrik biru dan merah meledak, membutakan kamera pengawas Dewan untuk sesaat.
BRAKK!
Tabung Naya pecah. Kala menangkap tubuh mungil putrinya yang basah kuyup. Naya terbatuk, mengeluarkan cairan biru dari paru-parunya, lalu menangis sekencang mungkin. Tangisannya bukan tangisan biasa; setiap jeritannya membuat lampu-lampu di markas itu pecah dan gravitasi di ruangan itu mulai kacau.
"Ayah..." bisik Naya di sela isak tangisnya.
"Sstt... Ayah di sini. Ayah tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi," Kala mendekap Naya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diarahkan ke tabung Arumi.
Kala mengalirkan energinya ke tangan kanannya. Ia tidak memecahkan tabung Arumi dengan kasar, melainkan melarutkan struktur kaca itu hingga menjadi debu. Arumi jatuh ke pelukan Kala, lemas dan pucat, namun denyut nadinya mulai menguat saat ia mencium aroma keringat dan amarah Kala yang nyata.
"Kala? Kita... kita benar-benar bangun?" Arumi mengerjap, menatap ruang laboratorium yang kini hancur berantakan.
"Belum sepenuhnya, Rum. Kita harus keluar dari sarang lebah ini," jawab Kala.
"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana!" Kurator Utama muncul di ujung lorong, dikelilingi oleh ratusan Pemulih yang bersenjata lengkap. "Kala, kamu pikir kamu bisa melawan seluruh tatanan semesta sendirian? Kamu adalah satu orang melawan keabadian!"
Kala menatap Kurator Utama dengan pandangan merendahkan. Ia merasakan kehadiran Vera yang sedang bekerja keras meretas gerbang dimensi di belakang mereka.
"Kamu salah satu hal, Kurator," Kala melangkah maju, membiarkan Arumi dan Naya berlindung di belakang punggungnya yang lebar. "Aku tidak sendirian. Aku membawa semua detik yang kalian curi dari orang-orang ini."
Kala menghentakkan kakinya ke lantai. Energi merah dari tubuhnya meledak keluar, membentuk kubah pelindung di sekitar keluarganya. Namun, energi itu tidak berhenti di sana. Ia menjalar ke ribuan tabung kaca lainnya di ruangan itu.
"Bangun!" teriah Kala.
Seketika, ribuan manusia yang terjebak dalam simulasi mulai tersentak bangun. Tabung-tabung pecah secara serempak. Markas Dewan Realitas yang tadinya sunyi dan steril kini berubah menjadi lautan kekacauan. Ribuan orang yang terbangun dari mimpi indah mereka kini dipenuhi amarah yang sama dengan Kala.
"Vera! Sekarang!" perintah Kala.
Sebuah gerbang dimensi berbentuk lubang hitam kecil terbuka di belakang Arumi. "Kala, cepat masuk! Aku hanya bisa menahan gerbang ini selama dua puluh detik!"
Kala mendorong Arumi dan Naya masuk ke dalam gerbang. Ia berbalik sekali lagi, menatap Kurator Utama yang kini kewalahan menghadapi ribuan subjek eksperimen yang mengamuk.
"Ini bukan akhir dari perjalananku," ucap Kala pada Kurator yang tertegun. "Ini adalah awal dari akhir kalian."
Kala melompat masuk ke dalam gerbang tepat saat sepasukan Sentinel meledakkan posisi berdirinya.
Dunia di sekitar Kala memutar gila. Ia merasa tubuhnya ditarik melewati lubang cacing yang sempit, sebelum akhirnya terhempas ke atas permukaan tanah yang kasar dan berdebu.
Saat ia membuka mata, ia melihat langit yang tidak lagi digital. Langit itu berwarna merah senja, gelap, dan penuh dengan menara-menara besi raksasa yang mengeluarkan uap hitam. Mereka berada di Zona Luar (The Outlands)—tempat di mana waktu tidak berjalan, tempat di mana para pemberontak dan sampah realitas dibuang.
"Kita di mana, Kala?" Arumi memeluk Naya, menatap pemandangan distopia di depan mereka.
Seorang pria dengan jaket kulit usang dan kacamata hitam muncul dari balik reruntuhan sebuah menara. Ia memegang senjata yang memancarkan cahaya biru.
"Selamat datang di Perlawanan," ujar pria itu. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan mata mekanik yang berputar. "Kami sudah menunggumu, Sang Pencuri Waktu. Vera bilang kamu adalah satu-satunya yang bisa memicu Kiamat Bagi Dewan."