Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-16
Perjalanan menuju Puncak dimulai saat fajar masih menyisakan semburat jingga di ufuk timur. Kalandra sengaja memilih waktu keberangkatan yang sangat pagi untuk menghindari kemacetan dan yang lebih penting itu untuk menghindari kemungkinan pengintaian di jalan raya.
Dua mobil SUV hitam melaju beriringan. Di mobil depan, Kalandra duduk di kursi belakang bersama Elisa dan Aris, sementara mobil di belakang berisi tim keamanan yang dipimpin oleh salah satu orang kepercayaan Bimo.
Aris sudah tertidur lagi sejak mobil melewati pintu tol, kepalanya bersandar nyaman pada bantal leher kecil. Sementara itu, Elisa hanya menatap ke luar jendela. Wajahnya masih pucat, dan sesekali ia menghirup minyak kayu putih dari botol kecil yang digenggamnya.
"Masih mual?" tanya Kalandra pelan. Tangannya bergerak ragu, hendak menyentuh bahu Elisa namun ia mengurungkan niatnya.
Elisa menoleh sedikit. "Hanya pusing karena mobilnya bergerak, Mas. Tapi udara AC-nya membantu."
Kalandra mengambil sebuah kotak kecil dari samping kursi. "Ini manisan jahe tanpa gula tambahan. Kata Mama, ini bagus untuk mabuk perjalanan di awal kehamilan. Coba satu."
Elisa menerima manisan itu. Saat ujung jarinya bersentuhan dengan telapak tangan Kalandra, ada sengatan listrik kecil yang membuat jantungnya berdegup tidak keruan. Ia segera memasukkan manisan itu ke mulutnya. Rasa hangat jahe perlahan menyebar, meredakan gejolak di lambungnya.
"Terima kasih," bisik Elisa.
Kalandra mengangguk, lalu ia sendiri menyandarkan kepalanya. Sebenarnya, Kalandra sedang menahan rasa pusing yang luar biasa. Setiap kali mobil berbelok atau mengerem, perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Inilah fenomena aneh yang ia alami, ia seolah menjadi cermin fisik bagi apa yang dirasakan Elisa. Jika Elisa pusing, Kalandra mual. Jika Elisa mual, Kalandra kram.
"Mas Landra juga pucat sekali," ujar Elisa menyadari perubahan wajah suaminya. "Apa Mas juga mabuk perjalanan?"
Kalandra memaksakan senyum tipis. "Sepertinya anak kita sedang ingin ikut menyetir, jadi dia membuat saya merasa sedang berada di dalam roller coaster."
Elisa tidak bisa untuk tidak kaget di saar mendengar kalandra menyebut “anak kita” akhirnya ia hanya bisa menahannya dengan senyum kecilnya, Ia merasa aneh melihat pria yang biasanya memerintah ribuan orang kini tampak tak berdaya hanya karena guncangan mobil dan gejala kehamilan simpatik.
Villa keluarga Mahendra di Puncak terletak jauh dari keramaian pasar atau pusat wisata. Bangunan itu bergaya kolonial dengan halaman rumput yang sangat luas dan dikelilingi oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Udara di sini sangat bersih, dingin, dan membawa aroma tanah basah yang menenangkan.
Begitu sampai, Aris langsung terbangun dan berlari keluar mobil dengan semangat. "Wah! Dingin banget! Kak, liat! Ada kabutnya!"
Elisa turun perlahan, menghirup udara dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, rasa mual yang biasanya menyergap di pagi hari terasa sedikit berkurang. Oksigen yang segar seolah menjadi obat alami bagi paru-parunya yang selama ini terbiasa dengan polusi Jakarta.
Kalandra menghampirinya, dan membawa jaket tebal milik Elisa. "Pakai ini. Udaranya bisa menusuk tulang kalau kamu tidak terbiasa."
Kalandra membantu Elisa mengenakan jaket itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Elisa bisa mencium aroma sabun mandi Kalandra yang lembut dan satu-satunya aroma maskulin yang tidak membuatnya mual. Kalandra merapikan kerah jaket Elisa dengan gerakan yang sangat telaten, seolah Elisa adalah porselen retak yang harus dijaga agar tidak pecah.
"Terima kasih, Mas," gumam Elisa, wajahnya sedikit memerah karena perhatian yang begitu intens.
"Ayo masuk. Bi Inah sudah menyiapkan sarapan yang ya saya harap, tidak membuat kamu dan saya lari ke kamar mandi," ajak Kalandra.
Di dalam villa, suasananya sangat hangat. Perapian kecil dinyalakan untuk mengusir hawa dingin. Bi Inah, pelayan setia keluarga Mahendra di villa tersebut, menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Selamat datang, Den Landra, Non Elisa. Aduh, akhirnya villa ini ramai lagi," ujar Bi Inah. "Mari, sarapannya sudah siap. Ada bubur ayam Cianjur yang nasinya lembut sekali, tanpa santan, dan jahe hangatnya juga sudah ada."
Elisa duduk di meja makan kayu jati yang besar. Saat mencicipi sesendok bubur, ia merasa perutnya menerima makanan itu dengan baik. Aris makan dengan lahap sambil bercerita tentang rencana eksplorasinya di halaman belakang.
Sementara itu, Kalandra hanya mengaduk-aduk buburnya. Ia merasa lapar, tapi setiap kali hendak menyuap, bayangan tekstur bubur itu membuat kerongkongannya menyempit.
"Mas, kenapa tidak di makan?" tanya Elisa.
"Hanya... belum nafsu," dalih Kalandra.
Elisa mengambil mangkuk kecil, mengisi beberapa sendok bubur dan memberikan sedikit kerupuk yang dihancurkan di atasnya. "Coba sedikit saja, Mas. Supaya lambungnya tidak kosong. Kalau kosong malah makin mual, lho."
Kalandra menatap mangkuk yang disodorkan Elisa. Ia melihat mata Elisa yang penuh perhatian, tersirat sebuah perhatian yang tulus, bukan karena kewajiban. Dengan perlahan, Kalandra mulai menyuap. Ajaibnya, perhatian kecil dari Elisa itu seolah menjadi penawar. Ia berhasil menghabiskan setengah mangkuk tanpa merasa ingin muntah.
Sore harinya, setelah Aris asyik bermain dengan penjaga villa di kebun, Elisa duduk di teras belakang yang menghadap langsung ke lembah. Ia membawa buku catatan Nyonya Siska. Di sana tertulis
...“Bulan kedua adalah masa di mana emosi akan naik turun seperti cuaca di pegunungan. Jangan menahan tangis jika ingin menangis, dan jangan menahan keinginan makan jika memang ingin makan. Karena bayi di dalam sana belajar mengenal dunia lewat perasaan ibunya.”...
Elisa mengusap halaman buku itu. Emosinya memang sedang tidak stabil. Terkadang ia merasa sangat bersyukur bisa selamat dari kekejaman Pak Danu, namun di saat sisi yang lain, ia merasa sangat berdosa karena harus mengikat Kalandra dalam pernikahan yang tidak diinginkan pria itu.
Kalandra muncul dari dalam villa, membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di kursi sebelah Elisa.
"Apa yang sedang kamu baca?"
"Catatan Ibu Siska, Mas. Ternyata hamil itu... proses yang sangat ajaib ya?" Elisa menoleh ke arah Kalandra. "Mas Landra benar-benar tidak menyesal melakukan semua ini?"
Kalandra menatap lembah yang mulai tertutup kabut tipis. "Jika kamu tanya apakah saya menyesali malam di hotel itu, jawabannya iya. Saya sangat menyesal karena menyakitimu. Tapi jika kamu tanya apakah saya menyesal menikahimu dan menjaga anak ini... jawabannya tidak."
Kalandra menatap Elisa dalam-dalam. "Awalnya mungkin ini hanya soal tanggung jawab. Tapi melihat kamu berjuang melawan mual setiap pagi, melihat bagaimana kamu menjaga Aris, saya sadar bahwa saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik lewat kamu, Elisa."
Elisa tertegun. Kalimat Kalandra begitu tenang namun bermakna dalam. Pria ini tidak pernah merayu dengan kata-kata manis, namun setiap tindakannya bicara lebih keras.
Malam harinya, saat mereka sudah bersiap untuk tidur masih dengan pembagian ruang yang sama, Elisa di ranjang yang besar dan Kalandra di sofa panjang, sebuah keinginan aneh mendadak muncul di kepala Elisa.
"Mas..." panggil Elisa lirih di tengah kegelapan.
"Ya? Apa kamu mual lagi? Mau saya ambilkan air?" Kalandra langsung terjaga, suaranya penuh kesiagaan.
"Nggak... saya... saya tiba-tiba ingin sekali makan jagung bakar," bisik Elisa dengan suara malu-malu.
Kalandra terdiam sejenak. Ia melihat jam di dinding, sudah pukul sebelas malam. Di luar, hujan rintik-rintik mulai turun dan udara pasti sangat dingin.
"Jagung bakar?" ulang Kalandra.
"Iya... jagung bakar yang pake mentega dan sedikit pedas. Tapi... lupakan saja Mas. Ini sudah malam, dingin pula. Saya cuma kepikiran saja." Elisa menarik selimutnya, merasa bodoh karena sudah meminta hal yang tidak masuk akal.
Namun, ia mendengar suara pergerakan. Kalandra berdiri dan mulai mengenakan jaketnya.
"Mas mau ke mana?" tanya Elisa kaget.
"Mencari jagung bakar," jawab Kalandra pendek sambil mencari kunci mobil.
"Mas! Di luar hujan dan gelap! Tidak usah, benar-benar tidak usah!" Elisa bangun dari ranjangnya.
Kalandra berhenti di depan pintu kamar, menoleh ke arah Elisa. "Dalam catatan Mama yang kamu baca tadi, bukankah tertulis jangan menahan keinginan jika menginginkan makan sesuatu? Saya tidak mau anak saya nanti ngiler karena ayahnya malas keluar rumah."
"Tapi Mas..."
"Tunggu di sini. Jangan ke luar kamar karena udaranya sangat dingin," perintah Kalandra dengan nada otoriter namun lembut.
Hampir satu jam Elisa menunggu dengan perasaan cemas dan bersalah. Ia mondar-mandir di dalam kamar, mendengarkan suara hujan yang semakin deras. Saat ia mulai berpikir untuk menelepon Kalandra, pintu kamar terbuka.
Kalandra masuk dengan rambut yang sedikit basah dan ujung celana yang lembap. Namun di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kertas payung yang masih mengepulkan uap panas. Aroma jagung bakar yang manis dan gurih langsung memenuhi ruangan.
"Hanya ada satu penjual yang masih buka di dekat pasar bawah," ujar Kalandra sambil mengatur napasnya. "Ini, masih panas."
Elisa menerima bungkusan itu. Saat ia membukanya, dua buah jagung bakar berwarna kuning keemasan tersaji di sana. Elisa mengambil satu dan menggigitnya. Rasanya... luar biasa enak. Rasa manis jagung bercampur dengan asin mentega seolah menjadi hal paling nikmat yang pernah ia rasakan seumur hidup.
"Enak?" tanya Kalandra, ia duduk di sofa sambil mengusap wajahnya yang kedinginan.
Elisa mengangguk dengan mulut penuh. Ia melihat Kalandra yang tampak kedinginan, bibirnya sedikit membiru. Tanpa pikir panjang, Elisa turun dari ranjang dan mendekati Kalandra. Ia memberikan sepotong jagung yang satunya.
"Mas juga makan ya. Ini enak sekali."
Kalandra menerima jagung itu. Saat mereka makan bersama di tengah malam yang dingin, di dalam villa yang sunyi, ada sebuah ikatan yang semakin erat. Mereka bukan lagi dua orang asing yang dipaksa bersama oleh skandal. Mereka adalah sepasang suami istri yang sedang menavigasi masa-masa sulit kehamilan pertama.
"Mas Landra... terima kasih ya," ucap Elisa tulus.
Kalandra menatap Elisa, ia melihat sisa mentega di sudut bibir gadis itu. Tanpa sadar, Kalandra mengulurkan ibu jarinya dan menyeka sudut bibir Elisa dengan sangat lembut. Elisa terpaku, napasnya seolah terhenti.
"Apapun untukmu, Elisa," bisik Kalandra.
Malam itu, di bawah rintik hujan Puncak, Elisa menyadari satu hal. Masa-masa ngidam dan mual ini mungkin memang berat, tapi memiliki seseorang yang bersedia menerjang hujan tengah malam demi sebuah jagung bakar... adalah bentuk kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang manapun.
Perlahan, rasa benci itu mulai memudar, digantikan oleh rasa kagum yang mulai bersemi di antara rasa mual yang mereka bagi bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca☺️🥰
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️