Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9: Hukuman Manis
Pagi setelah percobaan pelarian Aluna, mansion terasa berbeda.
Lebih mencekam. Lebih dingin. Lebih... terkurung.
Aluna terbangun dengan tubuh yang sakit lututnya memar karena jatuh saat mencoba memanjat pagar, lengannya masih terasa nyeri di tempat Arsen mencengkeramnya, dan bibirnya... bibirnya masih terasa sensasi dari ciuman possessive Arsen semalam.
Ia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sedikit bengkak di sana. Ciuman itu terlalu keras, terlalu intens, terlalu... menghantui.
Aluna menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. Ia tidak boleh memikirkan ciuman itu. Tidak boleh mengingat bagaimana tubuhnya merespons, bagaimana jantungnya berdetak kencang, bagaimana untuk sesaat yang menyedihkan ia membalas ciuman itu.
Itu hanya refleks tubuh, Aluna mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bukan berarti aku--
Ketukan keras di pintu memotong pikirannya.
"Nona Aluna, Tuan Arsen meminta Anda turun untuk sarapan," suara Bu Sinta terdengar dari luar.
Aluna tidak menjawab. Ia tidak ingin bertemu Arsen. Tidak sekarang. Mungkin tidak akan pernah.
Tetapi lima menit kemudian, pintu kamarnya terbuka dibuka oleh Arsen sendiri dengan kunci master yang ia punya.
Aluna tersentak, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya meski ia sudah mengenakan pakaian tidur yang sopan.
Arsen berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya, celana bahan hitam, dan rambut yang masih sedikit basah tanda ia baru saja mandi. Matanya langsung menemukan Aluna yang duduk di tempat tidur dengan ekspresi waspada.
"Aku bilang sarapan," ucapnya dengan nada yang terkontrol terlalu terkontrol. "Kenapa kamu tidak turun?"
"Saya tidak lapar," jawab Aluna dingin, tidak menatap mata Arsen.
Arsen terdiam sejenak, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya mengunci dari dalam.
Aluna langsung menegang.
"Apa yang Anda--"
"Kita perlu bicara tentang konsekuensi," potong Arsen sambil berjalan perlahan mendekat ke tempat tidur. "Tentang hukuman untuk percobaan pelarianmu semalam."
Jantung Aluna berdetak lebih cepat.
"Anda sudah mengurung saya di sini. Itu belum cukup?"
Arsen berhenti tepat di samping tempat tidur, menatap Aluna dari atas dengan tatapan yang membuat Aluna ingin menghilang.
"Tidak," jawabnya tegas. "Itu tidak cukup. Kamu hampir kabur, Aluna. Kamu hampir meninggalkanku. Dan itu... itu tidak bisa kubiarkan tanpa konsekuensi."
Ia duduk di tepi tempat tidur terlalu dekat dengan Aluna. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Aluna dengan lembut, membuat Aluna tersentak.
"Mulai hari ini," ucap Arsen dengan suara yang lembut namun penuh ancaman, "ada aturan baru. Hukuman... yang manis."
Aluna mengernyit, bingung.
"Hukuman manis?"
Arsen tersenyum tipis senyum yang tidak mencapai matanya.
"Pertama," ia mengangkat satu jari, "kamu akan makan semua makananmu bersamaku. Sarapan, makan siang, makan malam. Tidak ada pengecualian. Kamu akan duduk di sebelahku atau lebih tepatnya..." ia berhenti sejenak, tatapannya mengintensif, "Di pangkuanku."
Aluna terbelalak.
"Apa? Tidak! Saya tidak akan--"
"Kedua," Arsen melanjutkan tanpa menghiraukan protes Aluna, mengangkat jari kedua, "kamu akan menemani semua meeting-ku. Duduk di sisiku. Tanganmu akan kupegang sepanjang waktu. Aku ingin semua orang tahu... siapa yang kamu miliki."
"Maksud Anda siapa yang memiliki saya," koreksi Aluna dengan nada pahit.
"Sama saja," balas Arsen tanpa rasa bersalah. "Ketiga," jari ketiganya terangkat, "kamu tidak boleh menjauh lebih dari lima meter dariku saat kita di rumah. Kemana aku pergi, kamu ikut. Kamar mandi? Kamu tunggu di luar pintu. Ruang kerja? Kamu duduk di sofa menemani. Tidur?" Ia berhenti, tatapannya menjadi lebih gelap. "Kamu tidur di kamarku. Di tempat tidurku."
"TIDAK!" Aluna langsung melompat dari tempat tidur, mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. "Anda gila! Saya tidak akan--"
Arsen bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang tenang namun mengancam, berjalan mendekat hingga Aluna terkurung di antara tubuh Arsen dan dinding.
"Kamu akan," bisiknya sambil kedua tangannya bertumpu di dinding di samping kepala Aluna posisi yang sudah terlalu familiar, posisi yang membuat Aluna tidak bisa kemana-mana. "Atau kamu lebih suka aku menghubungi kampusmu dan memastikan kamu di-drop out? Atau menghubungi tempat kerja kakakmu dan memastikan dia dipecat? Atau..." suaranya menjadi lebih rendah, lebih berbahaya, "...memastikan Dimas kehilangan beasiswanya hari ini juga?"
Air mata menggenang di pelupuk mata Aluna.
"Anda... monster," bisiknya dengan suara bergetar.
"Mungkin," Arsen mengakui tanpa ragu. Tangannya terangkat, ibu jarinya mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi Aluna. "Tetapi aku monster yang mencintaimu. Dan aku akan melakukan apa pun apa pun untuk memastikan kamu tetap di sisiku."
Ia mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh bibir Aluna.
"Sekarang," bisiknya dengan napas yang hangat, "kita turun untuk sarapan. Dan kamu akan duduk di pangkuanku seperti gadis baik-baik. Mengerti?"
Aluna tidak menjawab, hanya menatap Arsen dengan tatapan penuh kebencian dan air mata.
Arsen tersenyum tipis.
"Aku anggap itu iya."
Ruang makan terasa mencekam pagi itu.
Meja panjang yang biasanya dipenuhi berbagai hidangan mewah kini hanya diisi dua set piring satu untuk Arsen, satu untuk Aluna. Tetapi hanya ada satu kursi yang ditempati.
Kursi Arsen.
Dan di pangkuan Arsen, duduk Aluna dengan tubuh kaku dan wajah merah padam campuran malu dan marah.
Lengan kiri Arsen melingkari pinggang Aluna dengan erat, memastikan Aluna tidak bisa bergerak kemana-mana. Tangan kanannya bebas untuk makan atau lebih tepatnya, menyuapi Aluna.
"Buka mulutmu," perintah Arsen sambil mengangkat garpu berisi potongan pancake dengan sirup maple ke arah bibir Aluna.
Aluna menggeleng, bibirnya terkatup rapat.
"Aluna," suara Arsen menjadi peringatan. "Jangan buat ini lebih sulit dari yang seharusnya."
"Saya bisa makan sendiri," desis Aluna.
"Aku tahu," balas Arsen sambil tangan di pinggang Aluna menekan lebih erat, membuat Aluna lebih menempel pada tubuhnya. "Tetapi aku suka menyuapi mu. Aku suka... merawat mu."
"Ini bukan merawat. Ini mengontrol."
"Sama saja bagiku," ucap Arsen tanpa peduli. "Sekarang, buka mulutmu atau aku akan membuka dengan caraku sendiri."
Aluna tahu apa arti ancaman itu. Dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca, ia membuka mulutnya sedikit.
Arsen tersenyum puas dan memasukkan potongan pancake itu ke mulut Aluna dengan lembut.
"Bagus," gumamnya sambil ibu jarinya mengusap sudut bibir Aluna, membersihkan sedikit sirup yang menempel di sana. "Gadis baik."
Aluna mengunyah dengan perasaan terhina. Ini bukan sarapan. Ini adalah demonstrasi kekuasaan cara Arsen menunjukkan bahwa ia bisa membuat Aluna melakukan apa pun yang ia inginkan.
Sarapan berlangsung menyiksa setiap suapan diberikan oleh Arsen dengan penuh perhatian yang possessive, setiap gigitan diawasi dengan tatapan intens, dan sepanjang waktu, tubuh Aluna harus menempel pada tubuh Arsen yang hangat dan keras.
Yang membuat semuanya lebih buruk adalah tubuh Aluna mulai terbiasa dengan kehangatan itu. Mulai terbiasa dengan sentuhan tangan Arsen di pinggangnya. Mulai terbiasa dengan aroma cologne maskulin yang menguar dari Arsen.
Dan itu membuatnya takut.
Pukul 10.00 WIB, Arsen ada meeting dengan klien penting di ruang kerjanya pertemuan virtual melalui video conference.
Dan sesuai ancamannya, Aluna harus ikut.
Aluna duduk di pangkuan Arsen di kursi direkturnya yang besar, tubuhnya ditarik mundur hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Arsen. Lengan kiri Arsen melingkari pinggang Aluna dengan possessive, sementara tangan kanannya bebas untuk mengetik atau menggerakkan mouse.
Di layar laptop, klien seorang pengusaha paruh baya terlihat sedikit terkejut melihat Aluna di pangkuan Arsen, tetapi tidak berkomentar. Ia terlalu butuh investasi Arsen untuk mempertanyakan kehidupan pribadi pria itu.
Meeting dimulai membahas proyek gedung perkantoran baru di kawasan Jakarta Pusat. Arsen berbicara dengan profesional, suaranya tenang dan berwibawa, seolah tidak ada wanita yang duduk di pangkuannya saat ini.
Tetapi sesekali, di tengah penjelasan tentang ROI dan feasibility study, tangan Arsen yang melingkari pinggang Aluna bergerak jemarinya mengelus pinggang Aluna naik-turun dengan gerakan yang sangat... intim.
Aluna menegang, mencoba tidak bereaksi, tetapi sentuhan itu membuat kulitnya terasa terbakar meski terhalang kain blouse.
"Dan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi seperti ini, saya yakin proyek ini akan memberikan return minimal 30% dalam tiga tahun pertama," ucap Arsen sambil tangannya di pinggang Aluna turun sedikit menyentuh tulang pinggul Aluna dengan lembut namun possessive.
Aluna menggigit bibir bawahnya, berusaha tidak bergerak, tidak bereaksi.
Tetapi Arsen merasakan ketegangan tubuhnya. Ia sedikit tersenyum senyum yang tidak terlihat di kamera karena wajah Aluna menghalangi.
"Apakah ada pertanyaan, Pak Hermawan?" tanya Arsen sambil dagunya sedikit menyentuh bahu Aluna gerakan kecil yang terlihat natural, tetapi sangat intim.
"Tidak, Arsen. Presentasimu sangat jelas. Aku... oh, maaf, siapa wanita cantik di sampingmu?" tanya Pak Hermawan dengan nada penasaran yang terlalu familiar.
Tangan Arsen di pinggang Aluna langsung mengerat possessive, protektif.
"Aluna Pradipta," jawab Arsen dengan nada yang tiba-tiba menjadi dingin. "Tunanganku."
Aluna tersentak mendengar kata itu. Tunangan?
Tetapi sebelum ia bisa protes, tangan Arsen sudah menekan pinggangnya sebagai peringatan diam.
"Oh! Selamat, Arsen! Wah, kamu beruntung sekali. Cantik sekali tunanganmu," ucap Pak Hermawan dengan senyum yang terlalu lebar.
"Aku tahu," balas Arsen sambil kepala menunduk sedikit, hidungnya menyentuh leher Aluna gerakan yang tidak terlihat di kamera, tetapi membuat Aluna menggigil. "Dan dia... hanya milikku."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada possessive yang membuat Pak Hermawan terdiam sejenak, lalu tertawa canggung.
"Tentu, tentu. Baiklah, Arsen. Aku akan kabari keputusan board minggu depan. Terima kasih untuk presentasinya."
"Sama-sama, Pak Hermawan."
Meeting berakhir. Layar laptop menjadi gelap.
Dan begitu meeting selesai, Arsen memutar kursinya hingga menghadap jendela besar membuat Aluna juga ikut berputar, masih terkunci di pangkuannya.
"Tunangan?" tanya Aluna dengan suara bergetar. "Anda bilang saya tunangan Anda?"
"Ya," jawab Arsen tanpa ragu. Tangannya bergerak dari pinggang Aluna ke belakang kepala Aluna, jemarinya terbenam di rambut Aluna. "Dan suatu hari nanti, itu akan menjadi kenyataan."
Ia menarik kepala Aluna hingga Aluna terpaksa mendongak menatapnya tatapan mata kelam yang intens, yang penuh dengan sesuatu yang gelap dan obsesif.
"Aku akan menikahimu, Aluna Pradipta," bisiknya dengan suara serak. "Aku akan membuat semua orang tahu bahwa kamu milikku. Secara hukum. Secara sosial. Secara... permanen."
"Saya tidak akan pernah menikah dengan Anda," bisik Aluna dengan air mata di pelupuk matanya.
Arsen tersenyum tipis senyum yang menyedihkan.
"Kita lihat saja," gumamnya sambil dahinya menyentuh dahi Aluna. "Kita punya waktu, sayang. Waktu yang sangat panjang. Dan aku... aku sangat sabar dalam mendapatkan apa yang aku inginkan."
Tangannya di belakang kepala Aluna menarik lebih dekat, bibirnya menyentuh kening Aluna dengan lembut ciuman yang kontras dengan kata-kata possessive-nya.
"Dan aku menginginkanmu," bisiknya di kening Aluna. "Selamanya."
Malam hari tiba dengan cepat.
Dan sesuai ancaman Arsen, Aluna harus tidur di kamar Arsen kamar utama yang sangat luas dengan tempat tidur king size yang bisa menampung lima orang.
Aluna berdiri di ambang pintu kamar itu, menatap tempat tidur besar itu dengan horor.
"Aku tidak akan menyentuhmu," ucap Arsen yang berdiri di belakangnya, suaranya lembut. "Tidak tanpa persetujuanmu. Aku hanya... ingin kamu dekat. Ingin tahu kamu aman. Ingin memastikan kamu tidak akan kabur lagi."
Ia melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh bahu Aluna dari belakang.
"Percayalah padaku, Aluna. Aku tidak akan menyakitimu. Tidak pernah."
Tetapi kata-kata itu terdengar hampa bagi Aluna. Karena Arsen sudah menyakitinya dengan cara yang berbeda. Dengan mengambil kebebasannya. Dengan mengurungnya. Dengan membuatnya bergantung.
Dengan tangan gemetar, Aluna melangkah masuk ke kamar itu memasuki sangkar emas yang lebih dalam.
Arsen tersenyum tipis melihat Aluna menurut.
Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Hukuman manis ini... baru saja dimulai.