Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Bunga Kecil di Tanah Keras.
[PoV Yu Yan]
Sore itu matahari tidak terlalu panas. Cahayanya miring, masuk lewat daun-daun dan bikin tanah kelihatan berbintik-bintik terang. Rumputnya wangi, seperti habis disiram air. Aku suka bau itu.
Aku duduk di rumput sambil melipat kaki. Rumputnya agak gatal di betisku. Tidak jauh dariku, Shen Yu tidur-tiduran di atas selimut tipis. Dia membuka mata besar-besarnya dan menatap langit. Awan bergerak pelan, dan sepertinya itu sangat seru buat dia.
“Yu Yan, pegang ini,” kata Ibu.
Aku menoleh. Ibu memegang batu bulat. Tidak besar, hampir seperti telur. Warnanya hijau muda dan kelihatan halus. Aku belum menyentuhnya, tapi entah kenapa rasanya seperti tanah, berat dan tenang.
Ibu menaruh batu itu di tanganku.
“Ini batu Ling Shi,” kata Ibu pelan. “Isinya Qi. Tenang dan lambat. Cocok buat latihan awal.”
Batunya dingin. Tapi dinginnya enak, bikin tanganku terasa santai. Dadaku ikut terasa lebih pelan saat aku bernapas.
Aku memegang batu itu dengan dua tangan, lalu memejamkan mata.
“Aku harus ngapain?” tanyaku. Suaraku kecil.
“Rasakan saja,” jawab Ibu. “Jangan dimasukkan ke tubuhmu. Hanya rasakan.”
Aku mencoba diam. Aku memperhatikan tanganku. Awalnya cuma dingin. Lalu ada rasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak pelan sekali. Seperti air yang mengalir sangat pelan di dalam tanganku.
Aku tahu … itu Qi. Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku tahu.
Lalu dadaku terasa tidak enak.
Simpul gelap itu bergerak.
Rasanya seperti ditarik kuat dari dalam. Tidak pelan. Seperti ada yang menarik Qi itu paksa ke dadaku. Dadaku sakit. Napasku berhenti sebentar.
“Sakit …” kataku pelan. Tanganku memegang batu itu lebih kuat tanpa sadar.
“Hentikan.”
Suara Ibu jadi keras. Tangannya cepat menutup tanganku, lalu mengambil batunya. Rasa sakit di dadaku pelan-pelan pergi, tapi masih perih sedikit.
Aku membuka mata. Napasku jadi cepat.
“Aku tidak bisa,” kataku. Mataku terasa panas. “Simpul hitam itu selalu menarik semuanya.”
Ibu berlutut di depanku. Tangannya menyentuh bahuku. Hangat. Aku suka sentuhannya.
“Itu tidak aneh,” kata Ibu. “Simpul itu seperti lubang kecil. Dia menarik energi, tapi tidak bisa memakainya. Itu sebabnya kamu sakit.”
Aku menunduk. Rumput di depanku jadi buram.
“Berarti aku tidak bisa jadi kuat?” tanyaku. Suaraku hampir menangis.
Ibu diam sebentar. Aku bisa merasakan dia memikirkan sesuatu.
“Tidak bisa selamanya itu terlalu jauh,” katanya akhirnya.
Ibu melihat ke arah Shen Yu. Shen Yu masih tenang, mengeluarkan suara kecil seperti sedang senang.
“Shen Yu sudah membantu membersihkan sedikit simpul gelapmu,” kata Ibu. “Sedikit saja, tapi itu artinya bisa diperbaiki. Hanya butuh waktu.”
Aku mengangkat kepala.
“Bagaimana caranya?”
Ibu berdiri dan berjalan ke sudut taman. Dia memetik bunga kecil berwarna putih. Bunganya kecil sekali, tapi cantik.
Ibu memberikannya padaku.
“Lihat bunga ini,” katanya. “Akarnya kecil. Tapi dia bisa hidup di tanah keras. Karena dia tidak memaksa. Dia pelan-pelan mencari jalan.”
Aku memegang bunganya. Kelopaknya tipis dan lembut.
“Jangan melawan simpul gelapmu,” kata Ibu. “Jangan memaksa. Cari celahnya. Bersihkan pelan-pelan. Seperti Shen Yu.”
Aku melihat bunga itu, lalu melihat Shen Yu. Dia menatapku. Matanya berkilau kena cahaya matahari sore.
“Jadi aku harus seperti bayi?” tanyaku pelan.
Ibu tersenyum. Senyumnya lembut.
“Seperti anak yang sabar,” katanya. “Kuat bukan cuma soal tenaga. Tapi soal mengerti.”
Dadaku terasa hangat. Tidak sakit. Hangat seperti dipeluk.
“Aku akan mencoba,” kataku.
Sore itu aku tidak memegang batu lagi. Aku hanya duduk diam. Merasakan angin, matahari yang turun pelan-pelan, dan suara taman.
Dan simpul gelap di dadaku … terasa lebih diam. Tidak menarik. Tidak marah.
Mungkin Ibu Shen benar.
Mungkin aku tidak perlu berkelahi.