Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Dasar Anak Mami!
Daripada memijit suaminya yang menyebalkan, Kenzie memilih membereskan sisa sarapan Kenzo. Sementara itu suaminya masih belum mau keluar kamar dengan alasan tidak bertenaga.
"Aku makan apa?" gumam Kenzie melihat isi kulkas.
Tidak lama kemudian, bel pintu berbunyi, dan Kenzie langsung mempertajam pendengarannya karena terakhir di sini belum ada bel.
"Sudah pasang bel?" gumam Kenzie.
Kenzie langsung bergegas ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Pak satpam?" gumamnya setelah mengintip dari balik jendela.
"Permisi, antar pesanan atas nama Kenzo." ujarnya karena pesanan kecil hanya sampai di pos keamanan, sedangkan Kenzo sudah menghubungi satpam yang bertugas untuk mengantar kerumahnya.
"Oh, iya, sudah dibayar kah, Pak?" tanya Kenzie.
"Sudah lunas,"
"Terima kasih, Pak." ucap Kenzie.
Kenzie menebak isi paket yang dimaksud, karena terlihat dari kemasan dan aromanya tercium sehingga membuat cacing-cacing diperutnya menari-nari.
"Beli cuma satu!" gerutu Kenzie sambil menutup pintu.
"Ehh! panggil-panggil dong kalau butuh bantuan!" protes Kenzie saat melihat Kenzo keluar dari kamar berjalan dengan meraba dinding.
"Sudah manggil, tapi, kamu nggak dengar." jawab Kenzo.
Kenzie meletakkan kotak tersebut dan membantu memapah langkah Kenzo dengan memegangi lengannya.
"Mau keluar atau kamar mandi?" tanya Kenzie.
"Kamar mandi dulu, baru ke belakang."
Empatinya sedang berjalan, Kenzie dengan sabar membantu Kenzo yang masih lemas, wajahnya pun pucat dan terasa panas karena menempel di bahu Kenzie.
"Jangan jauh-jauh dari pintu, nanti nggak dengar." pinta Kenzo.
"Hem, bisa sendiri' 'kan?" balas Kenzie.
"Bisa, tapi, kalau mau bantuin juga boleh." jawab Kenzo sebelum menutup pintu.
Senyum serta kedipan sebelah mata itu membuat Kenzie ingin memukul Kenzo. Tetapi suaminya sigap menutup pintu.
"Ternyata laki-laki di dunia ini semua sama saja, kalau sakit serasa dunia mau berakhir! manjanya minta ampun! tapi, masih sempat-sempatnya buat mikir m3sum!" gerutu Kenzie.
Kenzie langsung membayangkan bagaimana selama ini, apakah pacarnya yang akan menemani Kenzo ketika sakit, atau saat ini hanya sedang berpura-pura. Tapi, melihat wajah Kenzo yang pucat dan panas, rasanya tidak mungkin jika hanya berpura-pura.
"Au ah! ngapain juga mikirin itu! nggak penting banget!" bathin Kenzie menggerutu.
"Kenzie,"
"Iyaa!"
"SUDAH BELUM?!" tanya Kenzie sedikit berteriak.
"Sudah,"
"ASTAGHFIRULLAH!"
Saking sibuknya dengan pikiran, sampai tidak sadar ternyata Kenzo sudah ditengah pintu.
"Awas pelan-pelan," ujar Kenzie kembali memapah Kenzo ke belakang.
Kenzo memberikan senyuman setelah duduk dengan baik.
"Pesanan tadi, sarapan buat kamu," ujar Kenzo setelah duduk.
"Hm, terima kasih." ucap Kenzie.
"Kirain nggak peduli," bathin Kenzie.
"Eh, wait! dia peduli karena masih butuh kamu buat melanjutkan dramanya, Kenzie! jangan kepedean ente!" imbuhnya.
Kenzie menjadi semakin kesal sendiri.
"Kenzie,"
"Iya, apa?"
Belum sempat sampai pintu dapur, Kenzo sudah memanggilnya lagi.
"Makannya bawa sini, jangan kabur."
"Orang sakit, masih aja ngeselin!" umpat Kenzie.
"Siapa juga yang mau kabur!" bantahnya.
Kenzie membuka kotak tersebut dan isinya nasi uduk. Kenzie membawa ke belakang sesuai dengan permintaan Kenzo dan juga membawa air mineral.
"Eh heh!"
"JANGAN MEROKOK!" seru Kenzie langsung merebut rokok dari tangan Kenzo dan mematahkannya tanpa ragu.
Sikap Kenzie mungkin akan terkesan menyebalkan karena terlalu berani untuk kedekatan yang sebatas pernikahan terpaksa. Namun, Kenzo hanya nyengir saat kepergok.
"Lagi sakit malah mau merokok, nanti aku juga jadi ikut sakit! kamu nggak sembuh-sembuh!" omel Kenzie.
"Emak-emak banget!"
Kenzie langsung melotot.
"Hehe, sudah-sudah buruan sarapan, jangan melotot, makin jelek lu."
Laki-laki itu memang sangat menyebalkan bagi Kenzie. Dalam kondisinya yang masih sakit, bukan hanya bercanda m3sum, tetapi masih sempat-sempatnya menghina. Namun, karena lapar, Kenzie langsung menyantap nasi uduk yang dibelikan Kenzo.
"Duduk sini," pinta Kenzo agar Kenzie duduk disebelahnya.
"Sama aja, nggak usah rewel!" tolak Kenzie.
Posisi halaman belakang rumah Kenzo berada di timur, sehingga dari teras dapur sudah terkena sinar matahari.
"Nanti aku tetap pulang, besok kerja." ujar Kenzie.
"Berangkat dari sini bisa 'kan?" balas Kenzo santai.
"Seragamku di kontrakan!" balas Kenzie kesal.
"Ambil, tapi, sini lagi." suruh Kenzo.
Kenzie meletakkan box yang sudah kosong itu sembari menatap langit. Kemudian menatap Kenzo yang berbicara tetapi memejamkan matanya.
"Motorku aja di kontrakan!" ujar Kenzie.
"Aku tau kamu bisa pakai motorku," balas Kenzo.
Sikap manja Kenzo sangat diluar nalar Kenzie. Tidak sesuai dengan biasanya yang sombong dan sok keren. Ternyata sisi lain dari Kenzo semakin menyebalkan buat Kenzie.
"Sudah cukup belum berjemurnya?" tanya Kenzo yang sudah lelah duduk terlalu lama.
Kenzie melihat jam di ponselnya, kemudian mengangguk.
"Pelan-pelan," ujar Kenzie.
Dengan berat badan yang tidak seimbang, tentu saja Kenzie mengalami kesulitan dalam memapah Kenzo.
Kenzie sudah melepaskan tangannya, tetapi Kenzo masih menahan.
"Lepasin, kamu itu berat!" protes Kenzie.
"Terima kasih ya," ucap Kenzo setelah melepaskan tangannya.
Kenzie menjadi gugup ketika Kenzo terlihat ramah.
"Kamu istirahat, aku pulang ke kontrakan cuma buat ambil seragam kerja."
"He'em,"
Demam di tubuh Kenzo sepertinya sudah turun, ia tidak menggigil seperti tadi. Namun, ia meminta selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Dimana kunci motornya?" tanya Kenzie.
"Bufet TV," jawab Kenzo dari balik selimutnya.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya Kenzie membatalkan membawa motor Kenzo, karena ia harus berjaga-jaga jika keluarga mereka ada yang datang dan tidak melihat motornya.
Di halaman rumah Kenzo pun sudah ada 2 mobil, milih Kenzo dan Zaky, 1 motor, dan akan ditambah dengan motor Kenzie. Tapi, Kenzie tetap memikirkan bagaimana reaksi orangtua mereka jika sewaktu-waktu datang dan tidak melihat motornya.
"Aku nggak jadi bawa motormu, naik ojol aja, aku sekalian beli bahan buat dimasak nanti. Kalau bawa motormu, nanti tiba-tiba ada yang datang terus nanyain dimana motorku, kita yang bingung jawab apa."
Penyampaian Kenzie tidak mendapat respon, mungkin karena efek samping dari obat yang diminum oleh Kenzo sehingga ia sudah tidur.
"Lah, nggak dijawab!" omel Kenzie.
Kenzie langsung mendekati Kenzo.
"Dia nahan ngantuk sejak tadi, biarin aja deh daripada manja! pacarnya juga bukan!" gumam Kenzie.
Kenzie sudah memesan ojek melalui aplikasi sebelum berpamitan.
Dengan memesan ojek online, Kenzie langsung menuju ke kontrakan, karena untuk mampir-mampir sudah pasti lebih nyaman menggunakan motornya sendiri.
..
Meskipun masih mengomel dalam hati, Kenzie tetap berusaha untuk tidak meninggalkan Kenzo begitu saja.
"Kalau tadi malam nggak ketemu, dia sakit kayak gini dan nggak mau kasih tau pacarnya, terus gimana? siapa yang ngurus? apa dia nelpon emaknya suruh datang?"
Tiba-tiba Kenzie kepikiran.
Lamunannya disadarkan oleh suara ponselnya, Kenzie langsung bergegas menjawab karena terpampang kontak ibu mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma,"
(Wa'alaikumussalam, kamu dimana?)
"Masih belanja, Ma,"
(Oh, iya Mama sama Ibumu masih diperjalanan mau ke rumah kalian)
"APA!"
"Eh, itu Ma, maksudku sekarang sudah sampai mana, Ma?" lanjutnya.
Kenzie langsung bergegas mengambil beberapa item lagi untuk ia bawa ke rumah Kenzo.
"Dasar anak mami!" omel Kenzie dalam hati.
Mia menyebutkan nama daerah, dan Kenzie langsung memperkirakan jarak tempuh. Sepertinya masih cukup lama karena daerah tersebut masih dekat dengan rumah Mia.
(Ya sudah, nggak usah repot nyiapin apa-apa)
"Iya Ma,"
Kenzie meletakkan tas itu ke motornya dan langsung buru-buru ke tempat belanja sayuran yang sudah menjadi langganan.
"Arrgh sial-sial!"
Double Up Dong Pliiis🥰
semoga mangkin rukun dan samawa rumah tangga nya.
trus loncing dah baby ken nya🤣🤣🤣
Kalau besok ada kesempatan, author akan update pas waktu sahur ya, pastinya lebih seru 😁
Jangan lupa di subscribe 😍
sesuai harapan ku...
mangkin lama pasti si kenzo mangkin nempel Sama kenzi
kalau bisa cepet aja kebongkar keburukan pasangan gak halal mereka.
pengen liat nanti kenzo bucin sama kenzi...
kan seru couple ken..🤭