Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah Cepat
Sementara David sedang menghubungi orangtuanya untuk melaksanakan pernikahan antara dia dan Sophia dipercepat. Bukan hanya orangtuanya, kepada mami Ester dan Papi Julius juga.
Akibatnya Sofi mendapat telephone dari orangtuanya. Menanyakan kebenaran tentang kejadian semalam dan kedekatan Sophia anak mereka dengan laki - laki lain.
"Mami percaya sama mas David??? Mami dan papi memberi kebebasan buat Sophia tentang hubungan ini kan??"
"Tetapi kamu kenapa bersama laki - laki lain nak??"
"Mami, apa Sofi tidak bisa berteman dengan laki - laki?"
"Mami ngak mau tahu, yang mami tahu menantu mami hanya David tidak ada laki - laki lain."
"Sebenarnya anak mami siapa sih?? Kalau mami tahu keadaan Sofi sebenarnya mami pasti akan memilih Sofi." Kalimat terakhir Sofi membuat maminya menjadi berpikir panjang.
Sofi sudah berada di ruangannya di lantai sepuluh Xander Company. Untuk melupakan kelakuan David, dia menyibukan dirinya dengan bekerja. Sosok yang dia benci datang membawa tas belanja dari salah satu branded terkenal yang mahal harganya. Melihat bayangan itu. Sofi mengangkat mukanya.
"Maafkan sikapku semalam sayang." Sofi kembali sibuk bekerja dia malas merespon. David meletakan kantong belanja itu diatas meja kerja Sofi.
"Aku bukan perempuan yang muda di sogok."
"Iya aku tahu itu. Maafkan aku. Apapun yang kamu mau akan aku penuhi, asalkan maafkan aku sayang."
"Apapun???"
"Iya. Kecuali membatalkan pernikahan kita." David yang sadar, langsung memberi penegasan.
"Hanya itu yang aku mau."
"Apa lebihnya dokter itu?? Sadar Sofi dia seorang duda?? Bagiamana jika mami Ester dan Papi Julius tahu?? Apa perasaan mereka, kamu sadar tidak??"
"Jangan coba - coba kamu mencampuri urusan saya. Kamu pikir kelakuanmu baik selama ini???" David tersenyum dan mendekat di meja kerja Sofi.
"Aku laki - laki Sophia Abigail Stevanus calon istriku. Dan kamu di takdirkan untuk aku. Dan kalau kamu macam - macam, maka orangtua dan anaknya dokter Nathan akan menjadi sasaran utama." Lalu David meninggalkan Sophia. Dan teriak Sophia bergema dilantai sepuluh sumpah serapah yang dilontarkan kepada David terdengar begitu merdu. Dengan suara bergetar. Hal ini membuat Max menegur David sahabat merangkap bosnya.
"Terlalu kejam bro. Kamu yang buat kesalahan itu pertama." David tidak peduli, dia terus berjalan menuju ruangannya. Kejadian semalam pelecehan David kepada Sophia yang tidak kesampaian, membuat dia mabuk - mabuk dan kembali jatuh dalam pelukan Theresia, mereka menghabiskan malam bersama.
David yang kembali terjebak dalam permainannya akhirnya kembali memperkerjakan Theresia sebagai sekretaris di lantai sepuluh. Otomatis pertengkaran David dan Sophia didengar olehnya. Senyum liciknya mengembang ada sukacita dihatinya.
Jam makan siang, Sophia keluar ruangannya dan dia begitu kaget ada sosok Theresia di meja sekretaris. Dia tidak bertanya lagi, dia tahu itu ide siapa. Dia langsung menghubungi Max dan memerintahkan agar semua pekerjaannya tidak boleh melewati Sekretaris langsung ke dia saja. Tidak lama David keluar dan diikuti oleh Max dan Theresia yang bejalan bersamaan menuju life, disana ada Sophia.
"Aku kembali mempekerjakan Theresia, dia akan membantu pekerjaan dilantai ini."
"Aku tidak butuh. Nanti ada asistenku sendiri." David tidak menyadari jika Sophia akan merespon seperti itu. Sampai lantai tiga dimana kantin perusahan berada. Hanya David, Max dan Theresia keluar. Dengan cepat Sophia menutup lifenya dan berjalan turun ke lantai satu. David kalah cepat, dia mengira Sophia akan makan bersama.
Dia menghubungi bagian HRD, memberitahukan bahwa dia ada dinas diluar. Dan tidak kembali ke kantor. Hal ini terdengar oleh David. Dia memijit kepalanya yang tidak begitu sakit.
"Kamu sakit sayang."
"Menjauh, jangan mendekat." David membentak Theresia yang berusaha menenangkannya. Hal ini membuat dia malu, karena dilihat oleh seluruh karyawan perusahaan.
David menghubungi Sophia namun teleponnya tidak diangkat, bahkan handphonenya di matikan total. Hari ini memang Sophia hanya keluar menggunakan taksi yang dia pesan. Tempat tujuannya adalah hotel di sebuah mall. Dia ingin sendiri. Nathan yang kuatir juga tidak bisa menghubungi Sophia sampai pesan email yang masuk di akunnya memberitahukan dia berada di sebuah hotel.
Nathan tidak mau gegabah, dia tahu bahwa pasti David tunangan Sophia menempatkan orang - orang untuk membuntuti dia. Direstoran tempat Nathan makan dia melihat gerak - gerik orang yang aneh. Dan Nathan pun mengulur waktu sambil menikmati makanan, sambil tetap berhubungan dengan Sophia lewat email. Nathan menuju ke toilet dan langsung cepat keluar menuju life yang sedang menuju ke lantai atas tempat dia bisa menyebrang menuju ke bangunan hotel.
David begitu marah, ketika mendapat informasi orang suruhannya kehilangan jejaknya atas Nathan. Sementara Nathan sudah berada di kamar yang di pesan oleh Sophia.
Begitu pintu kamar dibuka, Sophia langsung memeluk Nathan dan menangis. Nathan memeluk Sofi begitu erat.
"Apa dia kembali menyakiti kamu??"
"Dia terlalu egois kak."
"Egois???"
"Dia kembali menjalin hubungan dengan mantan sekretarisnya??"
"Bagus dong, kamu cemburu??"
"Cemburu bagaimana?? Cinta saja tidak??"
"Terus. Kenapa kamu tersiksa."
"Harga diriku tidak di indahkan, kak. Itu yang membuat ku kecewa."
Nathan merasa ada yang tidak beres dengan perasaan Sophia. Sore sampai malam Sophia tertidur dalam pelukan Nathan.
"Kalau kamu ingin mempermainkan persaaanku Sophia Abigail, kamu salah besar. Kamu sudah tidak bisa keluar dari perangkapku. Kamu tahu itu sayang??" Nathan yang mengira Sofi masih tertidur dikagetkan dengan suaranya merespon apa yang diucapkan oleh Nathan.
"Maksud kakak apa??"
"Aku mencintai kamu. Itu maksudku."
"Tetapi kak, aku sudah menjadi tunangan David."
"Batalkan??? Kamu tidak inginkan menikah tetapi tidak mencintai."
"Bagaimana caranya???"
"Kita bertemu orangtuamu. Tetapi jawab pertanyaan ku dahulu. Do you love me??"
"Yes, i love you too. Aku merasa nyaman bersamamu kak."
"Itu yang mau aku dengar. Aku akan mengantarmu pulang."
Sampai di apartemen Sophia sudah ada David yang menunggu kedatangannya. Nathan ikut turun.
"Kak????"
"Percayalah kepadaku."
"Jangan kamu merasa orangtua Sophia akan menerima kamu."
"Apa maksudmu??"
"Identitas kamu akan diketahui oleh orangtuanya." David membeberkan foto - foto kebersaman mereka bertiga waktu berlibur ke bogor.
"STOP MAS."
"Aku akan berhenti jika kamu menyerah sayang." Sophia semakin membenci David.
"Aku tidak mengira, kamu seperti ini. Aku pikir sedari aku kecil kamu adalah sosok pelindungku, ternyata kamu jahat!!!" Mendengar kata - kata yang diucapkan Sofi membuat hati David hancur. Namun tekat David adalah memperistri Sophia gadis yang sedari kecil dia lindungi. Nathan mencoba menenagkan Sofi. Kembali lagi Sofi menangis dalam pelukan Nathan.
Reaksi Sofi ini, sangat dimengerti oleh Max, dan dia sadar bahwa Sofi hanya menganggap David seperti saudara laki - laki. Bukan pasangan yang harus dia cintai. Makanya setiap perbuatan nakal David dia tidak perna melapor.