Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Gerard With New Powers
Tubuh mereka tersentak mendengar ejekan yang jelas ditujukan untuk mereka. Urat-urat menegang, mata melotot—aura membunuh semakin pekat. Terutama pria botak tinggi itu. Cengkeraman tangannya menguat, buku-buku jari memutih. Tapi ia tetap diam, hanya tersenyum tipis yang terlihat bergetar menahan amarah.
"Berani juga kau," ucapnya dengan penekanan.
Gerard tersenyum melihatnya, sikap tenang masih tertanam di wajahnya. "Lagian, siang bolong pakai pakaian serba hitam. Nggak gerah?" sahutnya, nada mengejek yang jelas membuat mereka semakin terpompa amarah.
Si gondrong dengan linggis di tangan melangkah maju, namun segera ditahan oleh si botak. Mata mereka bertemu sesaat—percakapan singkat dalam isyarat yang hanya mereka pahami. Untuk sesaat, intensitas tiba-tiba menurun. Tapi masih mencekam bagi Gerard yang terlihat seperti semut di hadapan mereka.
Si botak diam, matanya mengamati Gerard dari atas sampai bawah—menilai, mengukur.
"Ikut kami, atau perlu paksaan?" tanyanya rendah. Bukan pilihan. Itu ultimatum. "Kau keliatan kayak orang kikuk. Masih berani, atau butuh keringanan?"
Tubuh Gerard sedikit menegang. Tapi keberaniannya tak pudar.
Benar. Aku memang belum ahli bela diri. Ini terlalu berisiko.
Tapi kemudian senyumannya semakin melebar.
Apa yang aku pikirkan? Mau menyia-nyiakan kemampuanku?
Selama di rumah sakit, ia tak hanya diam. Dengan kemampuan Si Jenius, ia menghabiskan waktu mempelajari teknik-teknik bela diri—terutama boxing, yang paling menarik minatnya. Gaya bertarung petinju legendaris, dari Muhammad Ali hingga Mike Tyson, ia pahami sampai ke detail terkecil. Simulasi demi simulasi ia jalani di dalam kepala, berkali-kali kalah tak berkutik, tapi perlahan tubuhnya tak lagi kaku.
Dan satu hal lagi: kemampuan barunya untuk membaca niat.
Dari semua orang di hadapannya, tak satu pun berniat membunuhnya. Mungkin melukai, mungkin menghajar—tapi tak ada niat fatal. Dengan celah itu, ia bisa bermain.
"Nggak perlu."
Gerard menjawab dengan santai. Perlahan, tubuhnya berubah rileks—lalu ia mengangkat tinju. Tangan kiri di depan, kanan di belakang, membentuk pertahanan klasik yang melindungi sebagian wajah. Sorot tajamnya mengintip dari balik sarung tinju imajiner itu.
Siap. Sangat siap.
Si botak mendengus, jelas tak senang dengan sikap itu. "Itu keputusan buruk," gumamnya, sikap tenang itu tiba-tiba berubah menjadi tajam. "Sekarang biar kami tunjukkan apa artinya menjadi cecunguk sejati."
Sekarang, tak ada lagi penahanan. Si botak melirik anak buahnya, tatapan terakhirnya jatuh pada si gondrong dengan linggis. Ia menggerakkan kepalanya ke samping, memberikan izin yang langsung diindahkan.
"Gitu, dong..." ucap si gondrong, linggisnya ia gusur di atas aspal, memberikan dominasi yang perlahan masuk ke dalam pertahanan Gerard.
Kreeet...
Suara linggis yang digesekan di aspal seolah menjadi simfoni mematikan untuk Gerard. Bergaris-garis hitam tertinggal di permukaan jalan, seperti ancaman yang tak terbantahkan.
"Sekarang, gua bakal kasih lu pelajaran yang pantas!" tambah si gondrong dengan seringai tajam. Sikapnya jauh dari ketenangan—ia bersungguh-sungguh dengan niatnya.
Tinju Gerard semakin menguat di depan wajah. Punggungnya sedikit membungkuk, berat tubuh bertumpu pada ujung kaki—postur klasik petinju yang siap menghadapi serangan. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok di depannya, mengamati setiap gerakan kecil, setiap perubahan berat badan.
Sampai akhirnya, si gondrong berlari.
Linggis di tangan kanannya terayun membelah udara, bahunya berputar setengah, menghasilkan ayunan cepat dan berbahaya yang mengarah langsung ke kepala Gerard.
Buss!
Linggis melesat, tapi hanya menemukan udara kosong. Dengan refleks tajam, Gerard menghindar—kepalanya merunduk cepat, lalu meliuk seperti ular yang menghindari serangan beruntun.
Huss! Huss!
Satu per satu ayunan linggis meleset. Si gondrong mulai kehilangan ritme, napasnya memburu, sementara Gerard semakin ringan bergerak. Tubuhnya sudah mulai membaca pola serangan. Kini ia tidak hanya menghindar—ia melangkah maju, masuk ke dalam jarak aman di mana linggis tak lagi efektif.
Sial!
Si gondrong terkejut. Matanya membulat, ia mencoba menjaga jarak, tapi Gerard terus mendekat seperti serigala yang mengancam. Tinjunya masih terangkat, belum sekali pun terayun—tapi itu justru lebih menakutkan.
Satu, dua, tiga ayunan lagi. Semua melesat tanpa hasil. Lengan si gondrong mulai letih, ayunannya melambat, posisinya semakin terpojok.
Gotcha.
Jarak tinggal setengah meter. Saat linggis terayun lemah sekali lagi, tubuh Gerard bergerak cepat—jab! jab! cross!—dua pukulan lurus dari kiri menghantam ulu hati, disusul pukulan kanan yang mendarat tepat di rusuk.
"Ahkk!"
Napas si gondrong tersendat. Mulutnya terbuka lebar, percikan liur keluar tanpa kendali. Linggis jatuh dari genggamannya, berdebum di aspal. Kedua tangannya secara naluriah bergerak menutupi perut—membuka pertahanan atas.
Gerard memanfaatkannya.
Kaki kiri berhentak, memutar tubuh. Pukulan penuh dengan seluruh berat badan meluncur deras, mendarat sempurna di rahang si gondrong.
BAK!
Tubuh itu terpelanting, jatuh bersimbah debu. Tak bergerak. Kesadaran langsung menghilang sepenuhnya dengan satu pukulan itu—matanya memutih, mulut terbuka lebar dalam kondisi paling mengenaskan.
Keheningan menguasai tempat itu untuk beberapa detik.
Kelima pria lainnya terkejut. Si botak mengangkat alisnya, masih mencoba mempertahankan kepercayaan diri. Tapi ketika melihat si gondrong—yang membawa linggis, yang paling besar di antara anak buahnya—jatuh begitu mudahnya, giginya berderak kuat. Rahangnya mengeras.
Gerard sudah menunjukkan taringnya.
Sikapnya masih belum goyah. Ia berdiri di sana dengan postur yang sama—kaki sedikit terbuka, tinju terangkat, pandangan tajam. Tapi kali ini, postur itu tidak lagi terlihat kikuk. Ia memberikan ancaman yang jauh lebih nyata.
Sial. Dia berbeda.
Si botak menggeram dalam hati. Matanya beralih ke anak buahnya yang tersisa—mereka masih shock, terpaku melihat temannya terkapar tak sadarkan diri. Tapi bukan itu yang ia butuhkan sekarang.
"Kalian!" tegasnya.
Tubuh mereka tersentak. Kepala menoleh ke arah bos, dan saat melihat amarah yang membara di wajahnya, mereka langsung mengerti. Lima pasang mata mengangguk bersamaan—siap.
Keempat pria itu memegang senjata berbeda—tongkat besi, kayu baseball, pipa paralon, dan satu lagi genggaman kosong tapi siap dengan tinju. Mereka mulai bergerak mendekat, menyebar membentuk setengah lingkaran yang mengurung Gerard.
Tubuh Gerard mundur perlahan, bergerak kanan-kiri dengan langkah kecil. Matanya berpindah-pindah, mencoba membaca dari mana serangan pertama akan datang.
"Kau sudah berhasil mengalahkannya," ucap si kurus sambil mengayunkan tongkat besinya, "Tapi sekarang, kau nggak akan bisa lawan kami berempat!"
Serangan akhirnya tiba.
Si kurus berlari cepat dari sisi kanan. Pukulannya rendah, tak mengarah ke kepala—tapi ke kaki Gerard. Serangan tak terduga yang nyaris mengenai. Gerard melompat kecil, tongkat itu meleset hanya beberapa senti dari betisnya.
Kali ini Gerard tak bertahan. Ia bermain agresif.
Melihat dua pria lain mulai bergerak dari arah berbeda, ia melakukan footwork cepat ke depan. Jarak dengan si kurus terpangkas dalam satu langkah. Tongkat besi itu kembali terayun, kali ini ke arah perutnya—tapi Gerard sudah meliuk ke kiri, tubuhnya berputar cepat.
Jab!
Pukulan lurus mendarat tepat di ulu hati si kurus. Keras. Tapi belum cukup untuk menjatuhkannya.
Swish!
Ayunan balasan datang cepat, tapi tak cukup cepat. Tubuh Gerard merunduk, bergerak ke kanan, dan celah terbuka lebar.
Bak! Buk! Bak!
Tiga pukulan bertubi-tubi—dua ke rusuk, satu ke pelipis. Si kurus terhuyung, tubuhnya mulai limbung, matanya berkunang-kunang. Tangan yang memegang tongkat melemah.
Gerard menarik napas pendek. Matanya menangkap peluang.
Take this!
Tubuhnya berputar setengah. Tangan kanannya terangkat dalam gerakan melingkar seperti jangkar yang ditarik—Hook. Tak secepat pukulan sebelumnya, tapi seluruh berat badan ikut di belakangnya.
Pukulan itu mendarat sempurna di pelipis si kurus.
BAGH!
Tubuh itu roboh seketika. Tongkat besi jatuh bergelinding, mengakhiri pertarungan pria kedua yang tak sadarkan diri di aspal. Dan di sana, Gerard masih berdiri dengan hanya napas yang sedikit berat.