"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Satu bulan telah berlalu sejak "Gempa Senin Pagi" yang menghancurkan karier Abdi. Kini, rumah kontrakan yang dulunya hangat, berubah menjadi kotak beton yang dingin dan pengap. Abdi duduk di lantai ruang tamu, menatap tumpukan surat peringatan dari kantor lamanya yang kini sudah berubah menjadi ancaman pelaporan polisi jika uang delapan ratus juta itu tidak segera dikembalikan.
Kondisi Abdi sangat mengenaskan. Berat badannya turun drastis, matanya cekung, dan rambutnya berantakan. Selama sebulan ini, Disa benar-benar menjadi "orang asing". Disa tetap pulang, namun dia tidak pernah lagi menyentuh urusan Abdi. Tidak ada masakan, tidak ada cucian bersih, bahkan tidak ada tegur sapa. Disa hidup di dalam kamar dengan dunianya sendiri, sementara Abdi hanya dianggap hantu penunggu rumah.
Puncaknya adalah pagi ini. Abdi terbangun karena suara gaduh. Begitu membuka mata, dia melihat beberapa orang kekar sedang mengangkut kulkas, mesin cuci, dan sofa satu-satunya yang masih empuk ke dalam truk besar.
"Lho, Pak! Ini mau dibawa ke mana?!" teriak Abdi panik.
"Maaf Pak, Ibu Disa sudah menjual barang-barang ini. Beliau bilang ini milik pribadi," jawab petugas itu tanpa menoleh.
Abdi menoleh dan melihat Disa berdiri di ambang pintu kamar, menyesap kopi dengan ekspresi tenang. "Dis! Kamu keterlaluan! Aku mau makan apa kalau kulkas nggak ada? Baju aku gimana?!" raung Abdi frustrasi.
"Cuci pakai tangan, Mas. Dulu aku juga begitu selama tiga tahun saat kamu bilang uang sabun cuci mahal tapi kamu malah belikan Amel mesin cuci terbaru. Sekarang, rasakan sendiri. Lagipula, hari ini sewa rumah ini habis. Aku tidak memperpanjangnya."
Abdi ternganga. "Terus aku tinggal di mana, Dis?! Kita ini masih suami istri! Kamu nggak bisa telantarkan aku begini!"
Mendengar kata "suami istri", Disa tersenyum tipis sebuah senyuman yang lebih mirip ejekan. "Suami istri? Oh, kamu baru ingat status itu sekarang, Mas? Saat kamu butuh atap untuk berteduh?"
Disa melangkah mendekat, auranya begitu menekan. "Selama satu bulan ini, aku bekerja keras bukan untuk mempertahankan hubungan ini, tapi untuk memastikan aku punya cukup kekuatan untuk membuangmu. Kamu benar, kita masih suami istri secara hukum. Itu sebabnya aku tidak melaporkanmu ke polisi atas kasus penelantaran... belum."
Abdi mencoba meraih tangan Disa, berharap ada sisa belas kasihan. "Dis, kalau kita masih suami istri, ayo pindah bareng. Kita cari tempat yang lebih kecil, aku bakal cari kerja apa saja—"
"Siapa bilang aku akan pindah bersamamu?" potong Disa cepat. "Aku sudah punya tempat tinggal baru yang jauh lebih layak untukku dan Fikri. Kamu? Silakan cari perlindungan ke rumah 'mewah' Ibumu yang sudah kamu bangun pakai uang asuransi anakku. Bukankah itu tujuanmu selama ini? Membahagiakan mereka?"
"Tapi aku suamimu, Disa! Kamu wajib ikut aku!" Abdi mencoba menegaskan otoritasnya yang sudah runtuh.
Disa tertawa kecil. "Wajib? Mas, kewajiban itu lahir dari hak yang terpenuhi. Kamu sudah gagal memberikan hakku selama tiga tahun, jadi jangan bicara soal kewajiban padaku. Aku akan tetap memegang status ini untuk sementara waktu hanya untuk memastikan aku bisa melihatmu hancur perlahan tanpa ada wanita lain yang bisa kamu jadikan sandaran."
Disa melirik jam tangannya yang berkilau. Pencapaiannya di kantor baru dalam sebulan ini memberinya rasa percaya diri yang mutlak. "Waktuku habis, Mas. Truk sudah penuh. Selamat menikmati rumah kosong ini sampai pemiliknya datang mengusirmu siang nanti."
Disa berjalan keluar, meninggalkan Abdi yang terduduk di lantai ubin yang dingin. Abdi menyadari satu hal: Disa tidak sedang meninggalkannya, Disa sedang menyiksanya dengan membiarkannya tetap terikat dalam status pernikahan yang kini terasa seperti penjara tanpa jeruji.