SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PENGUNGKAPAN BUKTI DAN KABAR MENGERIKAN
Di dalam ruang interogasi utama markas besar polisi, suasana terasa berat dan mencekam. Sinar matahari pagi yang biasanya hangat kini terasa dingin saat menembus jendela-jendela tinggi yang berjeruji. Di atas meja panjang yang tertutup kain hijau gelap, tumpukan bukti yang baru saja dibawa oleh Bang Rio dan Nina kini tersebar rapi, diperiksa oleh tim forensik dan ahli hukum yang ditunjuk oleh Detektif Rian.
Putri duduk di salah satu sisi meja, matanya tidak lepas dari kaset rekaman bukti utama yang kini sedang diproses untuk ditranskrip dan disalin ke dalam format digital agar bisa digunakan di pengadilan. Di sebelahnya, Rizky duduk dengan tubuh tegap, meski kantung mata dan wajah pucatnya menunjukkan betapa lelahnya dia secara fisik dan mental. Nina duduk sedikit di belakang, memegang laptopnya erat-erat, siap memberikan akses ke salinan cadangan bukti kapan saja dibutuhkan.
Detektif Rian berdiri di ujung meja, memegang sebuah berkas tebal dengan wajah serius. Dia sudah memeriksa sebagian dokumen tersebut, dan setiap halaman yang dia baca membuatnya semakin terkejut dengan luasnya jaringan kejahatan keluarga Adinata dan kelompok Pak Darmawan.
"Bukti yang kalian bawa ini... sangat lengkap dan kuat," kata Detektif Rian memecah keheningan, suaranya terdengar berat. "Dokumen pencucian uang, daftar rekening tersembunyi, catatan transaksi senjata ilegal, hingga laporan-laporan 'penyelesaian masalah' yang sebenarnya adalah pembunuhan terencana. Dan kaset rekaman ini..." Detektif Rian menatap Putri dengan tatapan penuh simpati. "Ini adalah kunci untuk membuka kasus kematian orang tuamu, Putri. Dengan ini, kita bisa membuktikan bahwa kematian mereka bukan kecelakaan."
Putri menelan ludah, merasakan dadanya sesak namun juga lega. Setelah bertahun-tahun menyimpan rahasia dan dendam, akhirnya kebenaran mulai terlihat jelas di depan matanya. "Terima kasih, Detektif. Kami berharap bukti ini cukup untuk menjerat mereka semua."
"Cukup? Ini lebih dari cukup," jawab Detektif Rian tegas. "Kita punya saksi mata, kita punya barang bukti fisik, dan kita punya korban yang selamat. Satu-satunya hal yang kita butuhkan sekarang adalah waktu. Tapi kita harus bergerak cepat. Pengacara-pengacara mahal Pak Darmawan pasti sudah tahu kalau bukti ada di tangan kita. Mereka akan mencoba segala cara untuk menggugurkan bukti ini atau menunda proses hukum."
Belum lama Detektif Rian mengucapkan kata-kata itu, pintu ruangan terbuka lebar. Seorang polisi beruniform masuk dengan wajah panik. "Detektif Rian! Ada masalah di luar! Sekelompok pengacara mengaku mewakili Pak Darmawan dan beberapa tersangka lainnya. Mereka menuntut akses ke barang bukti dan ingin bertemu dengan klien mereka sekarang juga! Mereka membawa surat perintah pengadilan!"
Detektif Rian mengerutkan kening, wajahnya memerah karena marah. "Mereka bergerak sangat cepat. Bagaimana mungkin mereka tahu begitu cepat?"
"Mereka punya mata-mata di mana-mana, Detektif," kata Rizky pelan, suaranya dingin. "Itu cara kerja mereka. Membeli orang, menyogok jabatan, dan memanipulasi hukum. Tapi mereka tidak akan mendapatkan bukti ini selama kita masih menjaganya."
"Benar," kata Detektif Rian. "Kalian tetap di sini. Ruangan ini dijaga ketat. Tidak ada yang boleh masuk kecuali tim penyelidikan. Aku akan keluar menghadapi mereka."
Detektif Rian berjalan keluar dengan langkah tegas, meninggalkan Putri, Rizky, dan Nina di dalam ruangan yang kembali hening. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponsel Rizky tiba-tiba berdering. Nomor yang muncul di layar adalah nomor rumah sakit militer di mana Pak Hidayat dirawat.
Jantung Rizky berdegup kencang. Dia segera mengangkatnya. "Halo? Ya, ini Rizky Adinata... Apa? Ayah? Bagaimana keadaannya?..."
Wajah Rizky yang tadinya pucat kini menjadi semakin pucat pasi. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar hebat. Putri segera meraih tangan suaminya, merasa ada sesuatu yang buruk terjadi.
"Rizky? Apa yang terjadi? Tanya Putri cemas.
Rizky menutup telepon perlahan, matanya menatap kosong ke depan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Ayah... kondisinya memburuk drastis semalam. Dokter bilang... dia baru saja menjalani operasi ulang, tapi luka tusukannya terkena infeksi parah. Dia sekarang dalam kondisi kritis, terbaring koma, dan dokter tidak memberi harapan banyak."
Putri terdiam. Meskipun Pak Hidayat adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tuanya, meski dia adalah pemimpin mafia yang kejam, melihat Rizky yang begitu terpukul membuat hati Putri terasa sakit. Dia adalah putranya, setelah semua.
"Rizky..." bisik Putri, mengusap punggung suaminya pelan. "Aku turut prihatin. Apakah kamu ingin pergi ke rumah sakit?"
Rizky menggeleng lemah, lalu menatap Putri dengan mata berkaca-kaca. "Tidak. Ayah sedang dijaga ketat oleh polisi. Tidak ada yang boleh masuk kecuali dokter dan perawat. Dan aku... aku harus menyelesaikan ini dulu. Ayah sendiri yang bilang, kalau dia ingin menebus kesalahannya. Mungkin... mungkin ini cara alam semesta memberinya hukuman. Tapi aku takut, Putri. Aku takut dia pergi sebelum sempat meminta maaf, sebelum sempat mengakui semuanya secara resmi."
Di tengah kesedihan yang melanda Rizky, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini bukan Detektif Rian, melainkan seorang polisi patroli yang wajahnya penuh keringat dan debu. Dia membawa sebuah kantong bukti plastik yang berisi beberapa barang yang tampak rusak dan berlumuran darah.
"Maaf mengganggu, Tuan Muda Rizky, Nona Putri," kata polisi itu terengah-engah. "Kami baru saja kembali dari lokasi kejadian di jembatan tadi pagi. Kami menemukan beberapa korban dan barang-barang ini. Ada satu hal yang kami rasa harus kalian lihat segera."
Polisi itu meletakkan kantong plastik itu di atas meja. Di dalamnya, terlihat sebuah jam tangan kasar yang tergores parah, sebuah lencana identitas tua yang sudah pudar, dan sebuah ponsel lama yang pecah layarnya.
Mata Putri terbelalak. Dia mengenali jam tangan itu dengan sangat baik. Itu adalah jam tangan yang selalu dipakai oleh Bang Rio. Dia pernah melihatnya berkali-kali saat Bang Rio berdiri di samping Pak Hidayat.
"Itu... itu milik Bang Rio!" seru Putri, suaranya bergetar. "Di mana dia? Apa kalian menemukannya?"
Polisi itu menundukkan kepalanya, wajahnya tampak sedih dan ragu. "Maaf, Nona... Saat tim kami tiba di lokasi, pertempuran sudah berhenti. Kami menemukan banyak mayat anak buah Pak Darmawan, dan... kami juga menemukan tubuh seorang pria paruh baya yang terluka parah di samping mobil yang penyok. Dia sudah tidak bernyawa saat kami menemukannya."
Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Putri dan Rizky. Nina menutup mulutnya dengan tangan, menahan teriakannya.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Rizky, suaranya pecah. Dia meraih kantong plastik itu dengan tangan gemetar, menatap jam tangan itu seolah tidak percaya. "Bang Rio... dia berjanji akan bertahan... dia berjanji..."
"Kami melakukan identifikasi cepat," lanjut polisi itu pelan. "Berdasarkan barang-barang ini dan ciri fisiknya... kami yakin itu adalah Bang Rio. Dia bertarung dengan sangat hebat, Nona, Tuan. Kami menemukan banyak peluru di tubuhnya, dan di sekelilingnya ada puluhan musuh yang dia kalahkan. Dia adalah pahlawan yang sebenarnya."
Rizky jatuh terduduk di kursi, air mata akhirnya mengalir deras di pipinya. Pria yang sudah mengasuhnya sejak kecil, yang selalu ada untuknya, yang setia melayani ayahnya selama puluhan tahun, dan yang akhirnya berani berbalik arah demi kebenaran, kini telah tiada. Pengorbanannya sangat besar. Dia memberikan nyawanya agar Rizky, Putri, dan keadilan bisa selamat.
"Dia... dia bilang dia ingin menebus dosa-dosanya," bisik Rizky di antara isak tangisnya. "Dia bilang dia ingin melakukan hal terhormat sekali saja. Dan dia melakukannya... dia melakukannya dengan sangat luar biasa."
Putri memeluk Rizky erat-erat, ikut menangis. Hatinya hancur melihat kesedihan suaminya, dan juga merasakan kehilangan yang mendalam atas sosok Bang Rio. "Dia adalah orang yang hebat, Rizky. Dia tidak akan mati sia-sia. Kita akan pastikan bahwa semua kejahatan ini dihukum seberat-beratnya demi dia. Demi orang tuaku. Demi semua korban."
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi, dan Detektif Rian masuk kembali. Wajahnya tampak murka dan lelah. Dia melihat suasana di dalam ruangan, melihat air mata di wajah Putri dan Rizky, serta barang-barang milik Bang Rio di atas meja. Detektif Rian menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan, seolah dia sudah tahu kabar itu.
"Kami sudah dapat laporan," kata Detektif Rian pelan. "Saya turut berduka cita. Bang Rio adalah orang yang berani. Tapi dengar aku... kemarahan dan kesedihan ini harus kita jadikan bahan bakar. Pengacara-pengacara Pak Darmawan di luar sana mencoba menekan kita, mereka ingin membuat kita panik. Tapi kita punya bukti yang kuat. Dan sekarang, kita punya alasan yang lebih kuat untuk tidak menyerah."
Detektif Rian menatap mereka dengan tatapan tajam. "Saya akan memerintahkan untuk segera memindahkan Pak Darmawan dari penjara sementara ke tahanan isolasi di markas ini agar dia tidak bisa menghubungi anak buahnya lagi. Dan besok, kita akan mulai memanggil saksi-saksi. Putri, Rizky... kalian siap untuk bersaksi? Kalian siap untuk menghadapi mereka dan menceritakan semua kebenaran di depan umum?"
Rizky mengusap air matanya, lalu perlahan berdiri. Dia menatap barang-barang milik Bang Rio, lalu menatap Detektif Rian. Matanya yang tadinya penuh kesedihan kini berubah menjadi tekad yang membara.
"Kami siap, Detektif. Kami sudah siap sejak lama," jawab Rizky tegas. "Kami tidak akan takut lagi. Kami akan mengungkap semuanya. Untuk Ayahku yang mungkin sedang sekarat, untuk Bang Rio yang telah gugur, dan untuk semua orang yang telah menderita karena kejahatan ini."
Putri juga berdiri, menggenggam tangan Rizky erat-erat. "Kami akan melakukannya bersama-sama. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan. Kebenaran harus menang."
Detektif Rian mengangguk hormat. "Bagus. Istirahatlah sejenak di ruang tamu khusus yang sudah kami siapkan. Kalian butuh tenaga. Besok adalah hari yang panjang dan berat. Pertarungan di pengadilan akan lebih sengit daripada pertarungan di jalanan."
Mereka berjalan keluar dari ruang interogasi, meninggalkan tumpukan bukti yang kini menjadi simbol harapan. Di luar, matahari sudah tinggi, menyinari markas polisi. Namun, di hati Putri dan Rizky, ada perasaan campur aduk antara duka cita yang mendalam dan semangat juang yang tak tergoyahkan. Mereka tahu, perjalanan masih panjang, dan rintangan masih besar, terutama saat menghadapi mesin pengacara mafia yang licik. Tapi mereka berjanji pada diri sendiri, pada Bang Rio, dan pada orang tua Putri, bahwa mereka akan menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Kabar pahit datang bertubi-tubi: Pak Hidayat dalam kondisi kritis dan Bang Rio dikonfirmasi gugur setelah berkorban demi menyelamatkan mereka. Kesedihan dan kemarahan kini menjadi bahan bakar perjuangan Putri dan Rizky. Jika kamu berada di posisi mereka, bagaimana cara kamu mengelola kesedihan itu agar tidak menghancurkan fokusmu dalam menghadapi proses hukum yang berat di depan mata?