akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 – Anak yang Direnggut Waktu
Subuh baru saja menyentuh langit ketika Rey terbangun oleh firasat aneh.
Udara di sekitar perkemahan terasa sunyi… terlalu sunyi.
Biasanya, Deva sudah duduk di dekat api unggun kecil bersama Sila, memainkan batu atau potongan kayu dan melatih kekuatannya.
Namun kali ini, tempat itu kosong.
“Deva?” panggil Rey pelan.
Tidak ada jawaban.
Sila keluar dari tenda dengan wajah mengantuk. “Kak… Deva belum bangun?”
Rey tidak menjawab.
Ia berjalan cepat ke arah tas kecil milik Deva yang selalu dibawa anak itu.
Tas itu tergeletak… terbuka.
Isinya berserakan.
Jantung Rey berdetak lebih keras.
“Leoni!” teriak Rey.
“Boy!”
Beberapa detik kemudian, mereka berkumpul.
Leoni berjongkok memeriksa tanah.
“Ada jejak sepatu… bukan monster.”
Boy menggeram. “Manusia.”
Sila mulai panik. “Maksudnya…?”
Rey mengepalkan tangan.
“Pemerintah, mereka pasti menculiknya setelah mengetahui kekuatan miliknya."
Beberapa kilometer dari sana, sebuah kendaraan lapis baja melaju di jalan rusak.
Di dalamnya, Deva duduk di kursi besi dengan borgol energi di pergelangan tangannya.
Ia tidak menangis.
Hanya menatap kosong ke luar jendela.
“Maaf, Nak,” kata seorang tentara muda.
“Ini perintah.”
Deva berbisik pelan, hampir tidak terdengar.
“Paman Rey… akan datang menjemputku.”
Di perkemahan, kemarahan Rey mulai terasa nyata.
Udara di sekitarnya bergetar.
“Tenang,” kata Leoni cepat.
“Kita bisa kejar mereka.”
“Tidak,” jawab Rey.
“Kalau kita mengejar sekarang, mereka sudah siap, kita takkan berhasil.”
Boy memukul pohon terdekat. “Sialan…! Pemerintah memang tidak bisa dipercaya”
Sila menunduk, giginya gemetar.
“Ini salahku… aku yang harusnya menjaga Deva.”
Rey memegang bahu adiknya.
“Ini bukan salahmu.”
Ia menatap semua anggota tim.
“Mulai sekarang… kita anggap pemerintah sebagai musuh potensial.”
Leo yang berdiri di belakang mereka menelan ludah.
“Kalau mereka berniat memakai Deva sebagai senjata…”
Rey menutup mata.
Bayangan masa depan yang pernah ia lihat terlintas kembali.
Deva… dewasa… menghentikan waktu dalam radius satu kilometer.
Senjata paling menakutkan di dunia.
Rey membuka ruang dimensinya.
Harta karun dari Gerbang Keemasan terlihat berkilau di dalamnya.
Pedang, baju zirah, botol ramuan, dan sebuah kotak kecil bercahaya biru.
“Aku belum sempat menguji semuanya,” gumam Rey.
Ia meraih kotak kecil itu.
Ketika dibuka, di dalamnya ada gelang perak dengan ukiran simbol jam pasir.
Saat Rey memakainya, tubuhnya terasa ringan.
Layar status muncul di hadapannya.
ITEM: GELANG PENAHAN WAKTU
EFEK: Memperkuat kemampuan pertahanan dan memperlambat serangan musuh dalam radius kecil
Rey terkejut.
“Jadi… ada juga fungsi seperti ini.”
Ia mengangkat tangannya.
Tameng transparan muncul…
Namun kali ini, di permukaannya terlihat pola cahaya berputar seperti jarum jam.
Leoni melotot. “Tamengmu… semakin keren saja.”
Boy tersenyum tipis. “Sudah upgrade, ya.”
Rey menatap ke arah jalan yang mengarah ke kota berikutnya.
“Kita tetap lanjutkan misi ke kota berikutnya,” katanya tegas.
“Kalau kita berhenti, semakin sedikit yang bisa kita selamatkan.”
“Dan sambil jalan… kita cari petunjuk tentang Deva.”
Kota berikutnya adalah kota pelabuhan yang hampir runtuh.
Bangunan miring, kapal terdampar di jalan.
Monster tipe baru berkeliaran:
makhluk bertubuh seperti anjing laut, tapi dengan gigi berlapis dan sirip tajam.
“Siap tempur,” kata Rey.
Pertarungan pecah dengan cepat.
Sila melepaskan kilat dari kedua tangannya.
Leoni menembak dari atap bangunan dengan presisi.
Boy membakar monster yang mencoba mendekat.
Namun, satu monster melompat terlalu cepat.
Ia menerjang Boy dari samping.
Cakar tajam menembus bahunya.
Boy terlempar ke dinding.
“Boy!” teriak Sila.
Darah mengalir deras.
Boy batuk. “Heh… kayaknya… ini parah…”
Rey segera membuat tameng di depannya, menahan monster lain.
“Leo!” teriak Rey.
Leo berlari dengan wajah pucat.
Ia berlutut di samping Boy.
“Aku… aku belum pernah menyembuhkan luka separah ini…”
“Lakukan saja,” kata Leoni cepat.
Tangan Leo gemetar saat menyentuh luka Boy.
Cahaya putih muncul… lebih terang dari sebelumnya.
Boy menjerit kesakitan.
Luka itu perlahan menutup.
Daging yang robek menyatu kembali.
Beberapa menit kemudian, darah berhenti mengalir.
Boy terengah-engah.
“…Hebat dalam hitungan menit, lukaku sudah sembuh?”
Leo terduduk lemas.
“Berhasil… tapi… energiku habis.. tolong jangan ada yang terluka lagi”
Leoni melanjutkan menyerang, tetapi dia tersandung ekor monster dan terhempas jalanan aspal. kulit lengan kiri dan kaki kiri nya terkelupas, darah mulai membasahi aspal.
"Leo!" teriaknya lemah.
"Lagi...?" Dengan terhuyung Leo kembali mengumpulkan energi dan menyembuhkan luka Leoni.
Dalam hitungan menit, luka Leoni kembali menutup seperti tidak pernah ada luka disana.
"Thanks." Leoni kembali menyerang, kali ini dia lebih ber hati-hati.
Rey menahan monster terakhir dengan tamengnya yang bercahaya jam pasir.
Sila menghancurkannya dengan petir besar.
Pertempuran usai.
Boy berdiri perlahan.
Ia menatap bahunya yang kini hanya menyisakan bekas luka samar.
“Leo…” katanya pelan.
“Kau… menyelamatkanku.”
"Kau hebat Leo." Leoni mendekatinya.
"Sekali lagi terimakasih."
Leo tersenyum lemah.
“Aku… cuma dokter.”
Rey menatap mereka bertiga.
“Tidak. Kau sangat membantu Leo.”
Malam itu, di atap gedung pelabuhan, Rey berdiri sendirian.
Ia memandang langit kelabu.
“Deva bertahanlah… tunggu aku.”
Ia mengepalkan tangan.
“Pemerintah mungkin punya pasukan…
tapi aku juga punya rekan-rekan tim yang luarbiasa.”
Dan untuk pertama kalinya, Rey merasa…
perang yang sebenarnya baru saja dimulai.