Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23
Juned duduk bersila dilantai dengan kamera di pangkuannya. Untuk pertama kalinya sejak datang ke desa itu, kameranya mati bukan low battery atau error tapi mati total, dan itu justru membuatnya tidak nyaman. Ia beberapa kali menekan tombol power, berharap layar menyala. Tidak ada respon.
“Biasanya aku lebih tenang kalau bisa rekam,” gumamnya.
“Biasanya orang tenang kalau nggak lihat apa-apa,” balas Juleha sambil melipat sajadah kecilnya.
Kamera itu terasa lebih berat dari biasanya. Juned membaliknya, membuka penutup baterai, lalu menutupnya lagi. Ia menepuk-nepuk bodi kameranya pelan, seperti orang yang mencoba membangunkan teman yang pingsan tanpa mau panik di depan umum. Juned menghela napas. Ia baru sadar betapa selama ini kamera itu bukan sekadar alat, tapi semacam perisai. Selama ada lensa, dunia terasa punya jarak aman. Tanpa kamera, semua terasa terlalu dekat.
Di dapur, Anang masih sibuk mengaduk sesuatu di panci kecil. Gerakan tangannya pelan serta hati-hati, seperti takut suara sendok mengenai panci akan memanggil sesuatu yang tidak diundang.
“Kamu masak apa?” tanya Susi dari jauh, sambil membenarkan kerudung dan mengecek pantulan wajahnya di layar ponsel yang gelap.
“Mi instan.”
“Jam segini?”
“Kalau takut,” jawab Anang tenang, “perut laper itu pengalih perhatian.”
“Kalau tiba-tiba ada yang berdiri di belakang kamu pas lagi masak?” tanya Moren tanpa niat jahat, yang justru membuat pertanyaannya jahat.
Anang berhenti mengaduk, ia terdiam diam selama dua detik. Sendoknya masih menggantung di atas panci, lalu ia berkata.
“Kalau dia ikut nunggu, berarti sopan.”
Tidak ada yang tertawa, bahkan api kompor terdengar terlalu jelas. Bunyi desis kecilnya seperti bisikan yang belum memutuskan akan menjadi apa. Bau mi instan mulai menyebar dengan akrab, tapi malam ini bau itu terasa seperti tamu yang datang ke alamat yang salah. Udin berdiri dekat pintu, tidak benar-benar menjaga, tapi juga tidak mau duduk. Tangannya sesekali meremas saku celana, seperti memastikan kunci pintu masih ada. Ia melirik jam dinding. Angkanya tidak berubah cepat, tapi perasaan di dada berubah lebih cepat dari detik.
Bodat menyandarkan punggung ke lemari tua posko. Lemari itu sudah ada sebelum mereka datang, dan kemungkinan besar akan tetap ada setelah mereka pergi. Kayunya berdecit pelan saat Bodat menggeser posisi. Ia berhenti bergerak, takut bunyi itu disalahartikan oleh malam. Palui duduk paling dekat dengan Susi, bukan karena berani, tapi karena Susi terlihat paling grounded. Ia menunduk, memeriksa saku celana, memastikan dompetnya masih ada. Ia tidak mau membahas kaus kaki lagi.
Dan di tengah sunyi itulah Ani berdiri. Sebenarnya, ia sudah berdiri sejak lima menit lalu. Tapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan, karena di desa ini, berdiri bukan hal aneh. Yang aneh adalah cara Ani berdiri sekarang. Posturnya tegak, kepalanya sedikit miring, matanya berbinar dengan kilat yang terlalu hidup untuk jam segini dan aura kepo-nya terasa berbeda.
“Eh,” katanya santai, seolah hanya akan bertanya soal camilan. “Kalian sadar nggak?”
Beberapa orang langsung menegang. Yang lain pura-pura tidak mendengar dengar. Semua orang tahu, kalau Ani sudah pakai nada itu, berarti sesuatu yang seharusnya diabaikan akan segera diangkat ke permukaan.
“Sadar apa?” tanya Udin waspada.
Ani mengangkat tangan, menunjuk ke arah jendela.
“Di seberang posko.”
Tidak ada yang langsung menjawab, beberapa orang sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dan mereka tidak menyukainya.
“Rumah kosong itu,” lanjut Ani, jari telunjuknya terlalu percaya diri untuk situasi seperti ini. “Yang lampunya mati dan jendelanya kebuka dikit.”
“JANGAN DILIHAT!” bentak Udin.
Rumah itu berdiri tepat di seberang jalan lebih kecil dari posko. Catnya mengelupas, tapi tidak sepenuhnya mati. Kayunya kusam, tapi tidak rapuh seolah rumah itu masih dirawat. Satu jendelanya terbuka. Tirainya bergerak pelan tertiup angin dan yang paling mengganggu, pintunya terbuka setengah.
“Kenapa pintunya kebuka?” tanya Aluh lirih.
“Biar sirkulasi,” jawab Moren otomatis.
“Jam segini?”
“Biar… angin malam masuk.”
“ANGIN MALAM ITU NGGAK BUTUH UNDANGAN,” bentak Bodat.
Kalimat itu menggantung lama, karena sayangnya memang benar. Ani melangkah mendekat ke jendela posko.
“Menurut kalian,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan, “itu rumah siapa?”
“Rumah yang nggak mau kita kenal,” jawab Susi cepat.
“Kayaknya kosong deh.”
“KENAPA KAMU BISA TAHU ITU KOSONG?” tanya Palui panik.
...🍃🍃🍃...
Ani menoleh pelan ke arah Palui, seperti baru menyadari ada orang lain di ruangan itu.
“Karena,” katanya sambil menunjuk rumah itu lagi, “kalau ada yang tinggal… harusnya ada tanda-tanda kehidupan.”
“Kayak apa?” tanya Juned spontan meski kameranya masih mati di pangkuan.
“Kayak suara TV. Batuk. Lampu nyala terus. Atau minimal… sandal di teras.”
Semua memperhatikan teras rumah itu. Tidak ada sandal, sepatu, pot bunga. Tidak ada kesan bahwa tempat itu memiliki penghuni yang masih peduli pada punggung kakinya sendiri.
“Bisa aja orangnya lagi keluar,” kata Udin, berusaha terdengar rasional.
“Jam segini?”
“Beli rokok.”
“Desa ini nggak ada warung yang buka malam,” sahut Susi cepat.
“Beli… udara,” tambah Palui lemah.
Tidak ada yang menimpali. Angin malam bertiup pelan, tirai di jendela rumah kosong itu bergerak lagi. Kali ini lebih lama, seolah ada yang berdiri terlalu dekat di baliknya. Juned spontan mengangkat kameranya, lalu teringat bahwa benda itu sudah tidak berguna. Tangannya turun lagi, lebih cepat dari yang ia mau. Ia merasa begitu hampa tanpa kamera nya.
“Kalau memang kosong,” gumam Moren, lebih ke dirinya sendiri, “kenapa sekarang pintunya terbuka?”
Tidak ada yang menjawab karena semua tahu, pertanyaan itu tidak mencari jawaban. Ia hanya ingin memastikan bahwa mereka semua sama-sama menyadari satu hal yang sama mengganggunya. Anang mematikan kompor. Api padam dengan bunyi kecil yang terdengar seperti desahan lega. Ia membawa panci mie ke meja, membagi dengan gerakan cepat, seolah ingin menyelesaikan ritual duniawi sebelum malam menuntut perhatian penuh.
“Udah,” katanya. “Makan dulu. Biar hangat.”
Tidak ada yang menolak. Bahkan rasa takut pun butuh jeda. Mereka makan dengan suara minimal. Sendok disentuhkan ke piring dengan hati-hati. Tidak ada yang bercanda. Tidak ada yang membahas rumah kosong itu lagi, meski mata mereka beberapa kali melirik ke arah jendela tanpa sadar. Selesai makan, piring diletakkan bertumpuk. Tidak ada yang langsung mencuci.
“Besok pagi aja cucinya.” kata Wati pelan.
Tidak ada yang protes, jam dinding berdetak menunjukkan sudah pukul 21.49.
TOK.
Ketukan itu datang dari arah yang sama seperti malam sebelumnya, pintu posko. Satu ketukan yang idak keras juga ragu seperti orang yang tahu pasti akan didengar. Udin menutup kedua mata.
“Jangan,” gumamnya, entah pada siapa.
TOK.
Ketukan ke dua terdengar dengan lebih dekat dan terdengar lebih jelas. Palui meraih lengan Susi. Susi tidak menepis, tapi juga tidak membalas. Ia hanya menatap pintu dengan rahang mengeras.
“Siapa?” tanya Udin, suaranya pecah tipis.
Namun tidak ada yang menjawab dari luar.
TOK.
Suara ketukan itu terdengar sekali lagi untuk ketiga kalinya. Ani menarik napas panjang. Wajahnya tidak panik, justru penasaran yang sama yang sejak awal membuat semua ini berjalan terlalu jauh.
“Kalau itu orang,” katanya pelan, “harusnya jawab.”
“Kalau bukan?” tanya Aluh hampir tak terdengar.
Ani tersenyum kecil.
“Berarti sopan,” katanya, menirukan logika Anang.
Udin melangkah mendekat ke pintu. Tangannya terangkat, tapi berhenti tepat sebelum tangannya mencapai gagang pintu. Dan di saat itulah, dari arah seberang jalan, rumah kosong itu, lampunya kini menyala. Meski hanya terlihat seperti cahaya redup tetapi cukup untuk bisa melihat dan memastikan, serta membuat mereka semua membeku. Bahwa pintu rumah kosong itu, yang tadi terbuka setengah, kini terbuka penuh, seolah seseorang baru saja masuk ke dalam sana. Udin menarik tangannya dari gagang pintu. Ia menolehkan pandangannya ke yang lain.
“Tidak ada yang buka,” katanya pelan tapi tegas. “Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang jawab.”
Ketukan di pintu posko berhenti, sunyi kembali hadir diantara mereka. Lampu di rumah kosong itu tetap menyala. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di desa ini, semua orang sepakat dalam satu hal yang sama, tanpa perlu diskusi panjang. Malam ini, rumah kosong itu tidak ingin hanya dilihat, Ia ingin dipilih untuk di kunjungi.
...🍃🍃🍃🍃...
Bersambung....