NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

parfum dari Pak Abian

Haruna mengekor di belakang Abian yang berjalan dengan langkah tegap, seolah-olah ia adalah pemilik seluruh mal tersebut.

Seorang pramuniaga dengan seragam rapi langsung menyambut mereka dengan bungkukan rendah. "Selamat malam, Pak Abian. Pesanan Bapak sudah kami siapkan di private room."

Abian hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Ia masuk ke ruangan mewah tersebut, sementara Nana berdiri di ambang pintu, ragu apakah ia harus ikut masuk atau menunggu di luar seperti ajudan pada umumnya.

"Masuk, Na. Jangan berdiri di sana seperti patung selamat datang," tegur Abian tanpa berbalik.

Nana masuk dengan canggung. Di dalam ruangan itu, sebuah gaun malam berwarna emerald green terpajang cantik di manekin. Potongannya elegan, dengan detail kristal yang minimalis namun terlihat sangat mahal.

"Menurutmu bagaimana?" tanya Abian tiba-tiba.

Nana mengamati gaun itu sejenak. "Sangat cantik, Pak. Potongannya klasik, warnanya juga memberikan kesan berkelas. Cocok untuk acara formal."

"Bukan untuk acara formal. Itu untukmu," potong Abian santai sambil memeriksa jam tangannya.

Nana tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Untuk saya? Maaf Pak, saya rasa ada salah paham. Saya tidak sedang ulang tahun, dan saya tidak punya cukup sisa limit kartu kredit untuk menebus benang di gaun itu."

Abian menghela napas panjang, menatap Nana dengan tatapan 'kenapa-sekretarisku-tiba-tiba-lemot'.

"Malam ini rekan bisnis saya dari Singapura mendadak ingin makan malam. Dia membawa istrinya. Tidak sopan kalau saya datang sendiri tanpa pendamping. Dan karena kamu yang ada di depan mata, kamu yang harus ikut."

"Tapi Pak, saya punya janji makan malam dengan Rian..."

Wajah Abian langsung mengeras saat mendengar nama itu. "Batalkan. Anggap saja ini lembur. Saya bayar tiga kali lipat dari tarif lembur biasamu. Lagipula, makan malam dengan pria itu paling cuma berakhir di tukang nasi goreng pinggir jalan, kan? Di sini kamu akan makan wagyu A5."

Nana ingin membantah. Memang benar Rian sudah mengajaknya makan di warung penyetan favorit mereka, tapi ini soal janji.

"Baik, Pak. Tapi saya harus kirim pesan dulu ke dia," gumam Nana menyerah.

Satu jam kemudian, Haruna Kojima bertransformasi. Gadis yang biasanya hanya menguncir rambutnya dengan gaya ponytail praktis itu kini tampil memukau. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dengan gelombang lembut di ujungnya. Gaun hijau itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan kulit putihnya yang merupakan warisan sang ibu.

Abian yang sedang sibuk membalas email di ponselnya sempat tertegun saat Nana keluar dari ruang ganti. Ia memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Tidak buruk," ucap Abian singkat, berusaha menyembunyikan kekagumannya. "Setidaknya sekarang kamu terlihat seperti asisten CEO."

"Terima kasih, Pak. Saya anggap itu pujian tulus," balas Nana dengan nada sarkas yang halus.

Makan malam di restoran rooftop itu berjalan lancar. Nana menjalankan perannya dengan sempurna. Ia bisa mengimbangi pembicaraan bisnis dalam bahasa Inggris dengan fasih, bahkan sesekali menyisipkan humor ringan yang membuat suasana cair. Abian memperhatikan bagaimana Nana dengan luwes memotong steak-nya tanpa suara, sebuah etiket yang jarang dimiliki orang sembarangan.

Setelah tamu mereka pamit, suasana kembali ke setelan pabrik, dingin dan kaku. Mereka berjalan menuju parkiran.

"Kerja bagus, Na. Saya akan masukkan bonus ke rekeningmu besok," kata Abian saat mereka sudah di dalam mobil.

"Terima kasih, Pak. Tapi kalau boleh jujur, saya lebih memilih makan penyetan tadi," celetuk Nana tanpa sadar.

Abian mengerem mobilnya mendadak di pinggir jalan yang agak sepi. Ia menoleh ke arah Nana dengan dahi berkerut. "Kamu ini tidak bersyukur ya? Orang lain berebut ingin makan di tempat tadi, kamu malah merindukan sambal ulek di pinggir jalan?"

"Bukan soal tempatnya, Pak. Tapi soal dengan siapa kita makan," jawab Nana tenang.

"Bapak mungkin punya segalanya, tapi Bapak tidak tahu rasanya makan di tempat gerah sambil tertawa lepas."

Abian tertawa sinis. "Tertawa lepas? Paling yang kalian tertawakan adalah cara menghemat uang supaya bisa makan besok pagi. Itu bukan bahagia, Na. Itu mekanisme pertahanan diri dari kemiskinan."

"Bapak benar-benar tidak punya filter ya?" Nana menghela napas.

"Bapak tahu tidak? Rian itu, meski Bapak bilang tampangnya seperti tukang galon, dia orang yang selalu ada saat saya butuh. Dia tidak pernah menghina saya meski saya melakukan kesalahan bodoh."

"Karena dia tidak punya standar, Na. Orang yang punya standar tinggi seperti saya memang akan terlihat jahat karena saya ingin yang terbaik untuk orang di sekitar saya," balas Abian egois.

Abian kemudian kembali melajukan mobilnya. Namun, bukannya menuju apartemen , ia justru berbelok ke sebuah kawasan yang sangat dikenal Nana.

"Lho, ini kan jalan ke arah kost saya? Kok Bapak tahu?"

"Saya CEO mu. Data alamatmu ada di HRD. Kamu pikir saya bos macam apa yang tidak tahu di mana karyawannya tinggal?"

Mobil mewah Abian berhenti tepat di depan gerbang kost Nana. Dan di sana, di bawah lampu jalan yang temaram, terlihat seorang pria duduk di atas motor matic tua sambil memegang dua bungkus plastik berisi makanan. Itu Rian.

Rian berdiri saat melihat mobil mewah berhenti. Wajahnya yang tadinya lesu berubah ceria, namun sesaat kemudian berubah bingung saat melihat Nana turun dari mobil itu dengan gaun malam yang sangat mewah.

"Nana?" panggil Rian ragu.

Belum sempat Nana menjawab, kaca mobil belakang turun. Abian menampakkan wajahnya yang angkuh. Ia menatap Rian dari atas ke bawah.

"Oh, jadi ini si Tukang Galon itu?" suara Abian menggelegar di keheningan malam.

Rian berkedip bingung. "Tukang galon? Maaf, Pak. Saya kurir paket, bukan tukang galon."

Abian mendengus keras. "Sama saja. Levelnya masih di bawah standar keamanan gedung saya." Lalu, ia menatap Nana.

"Masuk sana. Dan ingat, besok jangan telat. Saya tidak mau aroma sambal terasi tercium di ruangan saya."

Setelah itu, Abian melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan perasaan dongkol yang luar biasa di hati Nana.

Rian mendekat dengan wajah polos. "Na, itu tadi bos kamu? Kok mulutnya lemas banget."

Nana memijat pelipisnya. "Lebih parah dari itu."

"Oh... ya sudah. Nih, aku beliin nasi padang kesukaanmu. Tadi aku tungguin, tapi karena kamu bilang lembur, ya aku tunggu di sini aja. Belum makan kan?"

Melihat bungkusan nasi padang di tangan Rian, dan melihat kesabaran pria itu menunggunya berjam-jam, Nana merasa hatinya menghangat.

Keesokan paginya, Nana datang ke kantor dengan mata sedikit sembab karena kurang tidur. Saat ia meletakkan tasnya, ia melihat sebuah kotak kecil di atas mejanya. Tanpa kartu nama, tanpa tulisan.

Ia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah parfum bermerek ternama dengan aroma bunga sakura yang sangat lembut.

Tak lama, interkom di mejanya berbunyi.

"Na, ke ruangan saya. Dan pakai parfum itu. Saya tidak mau mencium aroma nasi padang dari tubuhmu hari ini."

Nana menggeram pelan. Abian Pangestu, kau benar-benar minta dikirim ke luar angkasa tanpa oksigen!

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!