NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11.5 : Apa yang Dilihat Lelaki, Apa yang Direncanakan Perempuan

[PoV Xiao Lu]

“Bangsat. Semuanya bangsat!”

Ikal hitam itu menarik kulit kepala saat kusimpul erat dengan pita biru. Rasa sakit yang tajam dan akrab di ubun-ubun. Bayangan di cermin perunggu itu menunjukkan garis alis yang terlampau runcing, lengkung bibir yang selalu mencibir sebelum sempat menyungging senyum. Dua puluh tahun. Napas ini menguap di sekte sialan ini, tertelan debu latihan dan hawa dingin kemunafikan.

Tanganku meraih dada. Montok. Padat. Laki-laki di sekelilingku, matanya selalu tersangkut di sini, sebelum melompat ketakutan saat kutatap balik. Aset. Begitulah. Di dunia pedang dan kitab suci ini, tubuh ini adalah belati tumpul yang paling mudah digunakan.

“Xiao Lu.”

Suara itu menusuk dari balik kain tenda. Dingin. Rata. Shifu Sheng.

“Masuk.”

Kain tenda tersibak. Dia berdiri di ambang, biru tuanya memenuhi pintu. Matanya, bukan mata, hanya dua bilah es yang menyapu dari rambutku yang masih berantakan hingga ke ujung sepatu latihanku. Tidak ada nafsu. Hanya kalkulasi. Seperti menimbang barang dagangan.

“Laporan patroli malam.” Gulungan kertas itu meluncur di udara, mendarat di pangkuanku. “Xue Gou hilang. Jejak terakhir sepuluh li ke utara.”

Kujepit gulungan itu, tidak bangkit. “Berarti sudah selesai. Si petani itu bisa pulang mencangkul.”

“Belum.” Langkahnya mendekat. Bayangannya menutupi cahaya lilin, menelanku bulat-bulan. “Anak itu ... Ling Feng. Ada yang lain padanya.”

“Selain wajah polos dan otak kosong?”

“Selain itu.” Tatapannya menancap. “Manik batu di lehernya. Pola pertahanan yang menyembul saat nyaris mati. Petani yang bisa memanggil amarah bumi.” Nafasnya berhenti sejenak. “Aku mau kau awasi dia.”

Tawa pendek melompat dari kerongkonganku. Kering. “Aku bukan mata-mata, Shifu. Aku muridmu. Dulu.”

“Dan sebagai murid, kau akan lakukan perintah.” Suaranya tidak naik, tetapi udara di tenda ini tiba-tiba lebih berat, menekan tulang rusuk. “Ikuti dia. Laporkan hal aneh. Dan jika dia menunjukkan tanda jadi ancaman ...”

“Kubunuh?” sela ku, satu alis melengkung.

“Jika terpaksa.” Tapi matanya berkata lain. “Tapi lebih baik ... rekrut. Bawa ke pihak kita.”

“Dengan cara apa? Pedangku?”

Shifu Sheng memandangku lama. Terlalu lama. Sorot matanya turun, menyusuri lekuk bajuku, lalu naik lagi ke wajahku. Sebuah senyum tipis, hampir tak kelihatan, muncul.

“Kau tahu caranya. Kau perempuan. Dia lelaki muda. Petani yang tak pernah keluar dari lumpur desanya.” Dia berhenti. “Jangan pura-pura tak paham.”

Sesuatu di dalam dadaku membeku, mengeras seperti batu kali. Tapi otot wajahku tetap lemas. Hanya anggukan datar.

“Jadi aku jadi umpan. Tugas mulia untuk murid kesayangan.”

“Jangan banyak bicara. Ini untuk sekte. Untuk kita semua.” Dia berbalik, lalu berhenti. “Oh, dan Xiao Lu?”

“Ya?”

“Jangan sampai kau betulan jatuh cinta. Itu akan ... memalukan.”

Kain tenda terkulai lagi. Dia pergi.

“Bangsat tua,” bisikku pada udara yang kini kosong. Gulungan laporan itu mendarat di sudut tenda dengan suara tak berarti.

Boneka.

Selalu begitu.

Boneka Shifu.

Boneka sekte.

Boneka untuk menggoyang nalar lelaki-lelaki yang berpikir dengan kemaluan mereka.

Kuberdiri, kembali ke cermin. Kali ini yang kulihat bukan Xiao Lu. Yang kulihat adalah senjata. Sepasang mata yang bisa berpura-pura berbinar. Bibir yang bisa berujar janji kosong. Tubuh yang bisa membuat nama mereka sendiri terlupa.

“Ling Feng,” kucoba namanya di lidah. “Petani kecil yang merasa hidup punya jawaban.” Hidungku mendengus. “Kau bahkan tak tahu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan.”

Lemari kecil kubuka. Kuambil baju biru sekte yang lain yang lebih ketat, yang jahitannya mengikuti setiap lekuk. Kancing teratas sengaja kubiarkan terbuka. Biar sedikit kulit terlihat. Biar imajinasinya yang kekanak-kanakan bekerja keras.

“Lihatlah aku, Ling Feng,” bisikku pada bayangan di cermin. “Lihat, dan jangan berpikir. Itu yang terbaik untuk lelaki sepertimu.”

Kulepaskan ikat rambut, kukikat kembali dengan lebih longgar. Biar beberapa helai jatuh menguar di pelipis. Tampak alami. Tampak tak sengaja. Seolah aku terlalu sibuk memikirkan hal besar untuk urusan penampilan.

Kebohongan. Semuanya lapisan kebohongan.

Tas kecil kusiapkan. Perbekalan. Lalu, jari-jariku meraih botol-botol kecil dari rak tersembunyi. Ramuan. Bukan racun. Terlalu ekstrem. Ini ... penguat suasana. Yang membuat darah mengalir lebih kencang. Yang mengaburkan pikiran. Aman. Nyaris tak terdeteksi. Efektif.

“Hidup dijalani untuk apa?” kutirukan dengan suara menjemukan. “Aku beri tahu, petani bodoh. Hidup dijalani untuk menang. Dan sekarang, permainannya adalah menjadikanmu bidakku.”

Bayangan di cermin menatap balik. Retakan kecil di sana. Ingatan yang memaksa masuk. Ibu. Lian. Duduk di bawah cahaya lilin, jemarinya menari-nari di alat tenun, suaranya berbisik tentang suku yang bisa mendengar bumi bernyanyi.

“Omong kosong,” desisku pada bayangan itu. “Dongeng pengantar tidur. Ibu mati karena percaya dongeng. Ayah mati karena mencintainya. Aku? Aku hidup karena menjadi nyata.”

Tapi perintah Shifu tadi … mengganjal. Bukan karena salah. Tapi karena itu pengingat, aku masih milik seseorang. Masih bisa disuruh-suruh.

“Baik, Shifu Sheng,” gumamku, memasukkan botol terakhir ke dalam tas. “Aku akan main sesuai aturanmu. Tapi jangan kaget kalau nanti papan permainannya kuganti.”

Aku keluar dari tenda. Angin fajar menyapu kulit wajah, dingin dan membangunkan. Untuk sesaat, hanya secepat kedipan, kubayangkan jadi Ling Feng. Bagaimana rasa tanah berbicara padamu, bukan sebagai siasat, tapi sebagai kebenaran.

Kusapu bayangan itu. Kelemahan. Sentimen. Itu yang bikin orang mati.

Kaki melangkah menuju hutan di utara. Efisien. Tenang. Tapi di dalam kepala, roda-roda bergerak cepat.

Rencana itu tak lagi berisik di kepalaku, ia telah berpindah, berakar di tempat yang lebih sunyi. Di luar kesadaran, ia tumbuh seperti kebiasaan lama yang dingin, otomatis, dan patuh, sebagaimana hidup yang telah lama kuterima tanpa perlu dipikirkan lagi.

Temui. Tampak rentan. Tampak tertarik.

Tubuh. Biar dia lihat, jangan sentuh. Belum.

Kepercayaan. Gali rahasia manik batu, pola, segala yang tersembunyi.

Putuskan, serahkan ke Shifu, atau … pakai dia untuk kabur dari semua ini.

Kusentuh baju. Kubetulkan belahan. Bibir bawah kugigit perlahan sampai warnanya memerah. Kemudian, dengan langkah yang sedikit terhuyung, lelah, rapuh, perempuan yang kewalahan, kumelangkah keluar dari bayangan pohon.

Pertunjukan dimulai.

Dan jauh di dalam, di tempat yang masih ingat ibu menenun dan mendongeng, ada suara kecil berbisik. Kapan terakhir kali kau bukan sandiwara, Xiao Lu?

Kuinjak suara itu sampai hancur.

Aku adalah apa yang telah kubuat, manipulator, pemain, penyintas. Ling Feng? Hanya langkah berikutnya.

Langkah-langkah itu akhirnya berhenti di tempat takdir sengaja dibiarkan setengah terbuka, di sana, di antara bau tanah basah dan jejak napas yang belum sempat mengendap, Ling Feng menunggu tanpa tahu bahwa bidak dan pemain kini berdiri di petak yang sama.

“Kau masih di sini,” ucapku, suara dibuat lembut, agak serak, seolah baru menempuh perjalanan jauh.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!