Di dunia yang penuh dengan keajaiban, di mana yang Abadi mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung, di mana Akar Roh menjadi penentu antara yang fana dan yang Abadi, jiwa lain bangkit di tubuh manusia fana.
Dengan kitab harta karun yang ia peroleh, jiwa itu membawa tekad untuk bertahan di dunia yang kejam. Ia melangkah ke dunia kultivasi, menciptakan klan kultivasinya sendiri. Setiap langkah adalah perlawanan, setiap kemajuan dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan.
Namun ia ditakdirkan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja.
Ia ditakdirkan untuk mencapai sesuatu yang besar.
Saksikan bagaimana seorang manusia fana memulai jalan kebangkitan untuk klannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.3 - Bangkitnya Akar Roh!
Kamar itu sangat sederhana. Kasurnya terbuat dari tumpukan rumput kering dan jerami yang dibungkus kain dan dijahit. Meskipun tampak kasar, setidaknya tidak membuatnya gatal. Sisa perabotan adalah meja tua, kursi dan lemari yang pintunya berderit setiap kali Yan Lei membukanya.
Sewa kamar itu satu tael perak per malam. Penginapan termurah yang ia temukan, dan sudah termasuk makan malam dari penginapan. Yan Lei menganggapnya sepadan.
Sesuai dengan prediksinya, badai salju menghantam kota itu menjelang malam. Udara dingin menusuk hingga ke tulang-tulangnya. Setelah makan malam, Yan Lei duduk di tempat tidur, merapatkan pakaiannya dan menutupi tubuhnya dengan selimut kasar seraya membolak-balik buku itu.
Meski berasal dari pedesaan, Yan Lei tahu cara membaca dan menulis. Di desanya ada seorang cendekiawan. Dan karena Yan Lei tahu betapa pentingnya menjadi terpelajar, ia tanpa ragu sedikit pun mengeluarkan uang untuk belajar membaca dan menulis dari cendekiawan itu.
Yan Lei bahkan berdebat dan memaksa saudara-sudaranya untuk ikut belajar bersamanya.
Yan Lei membuka buku itu dalam diam. Isinya kebanyakan merupakan tulisan, disertai beberapa gambar cara memperagakannya. Namun bagaimanapun Yan Lei mencoba memahaminya, tulisan itu memang asal-asalan, dan bahkan alur logikanya pun berantakan.
“Apakah saya keliru?” Yan Lei merenung. Saat itu ia sangat jelas merasakan reaksi dari Kitab Ungu Surgawi.
“Tunggu..” Yan Lei tampaknya terpikir sesuatu dan segera menenggelamkan diri ke dalam pikirannya. Kitab Ungu Surgawi masih melayang dalam diam, memancarkan cahaya hangat keemasan.
Yan Lei membuka lapisan ketiga dan segera enam biji berwarna keemasan pucat terbang keluar dari dalam kitab itu. Biji-biji itu berkedip redup setiap saat, seolah akan menghilang, tampak seperti ilusi yang tidak nyata.
Yan Lei segera menggunakan pikirannya untuk menarik salah satu biji itu. Ketika ia membuka matanya dan kembali ke kenyataan, Biji Akar Roh Surgawi sudah di telapak tangannya.
Yan Lei tidak ragu sedikit pun dan segera menelannya. Seketika, sebuah dentuman samar berdengung di pikirannya dan energi spiritual di sekitarnya menyerbu tubuhnya melalui pori-porinya dengan gegabah. Ia mengerang pelan. Rasanya nyaman dan hangat.
Yan Lei tidak pernah menyadari keberadaan energi itu. Mata memang tidak bisa melihatnya. Hanya melalui persepsinya ia kini dapat meraba dan merasakan dunia dengan cara yang berbeda.
Energi itu ada di mana-mana, warrnanya pun bermacam-macam, dari hijau tua, kuning, cyan, jingga, biru, putih dan beberapa warna lainnya. Meskipun energi itu sangat tipis, Yan Lei mampu merasakannya.
Tubuhnya tampak seperti pusaran air tak berdasar, menyerap setiap energi spiritual di sekitarnya dengan rakus. Ada tiga warna energi spiritual yang bereaksi dengan tubuhnya; biru, kuning, dan hijau tua.
Yan Lei langsung tahu jenis Akar Roh apa yang ia bangunkan. Itu adalah Akar Roh tiga elemen! Adapun atributnya, warna biru mewakili air, kuning mewakili tanah dan hijau tua mewakili kayu.
Di dunia kultivasi, Akar Roh adalah penentu apakah manusia fana dapat memulai jalur menuju keabadian atau tidak. Dan Akar Roh sangat langka. Dari tiga ribu manusia, menemukan dua hingga tiga orang dengan Akar Roh sudah merupakan sebuah keberuntungan.
Dan konon, tubuh manusia paling banyak hanya mampu menampung lima atribut dalam dirinya. Belum pernah dalam sejarah seseorang membangunkan Akar Roh enam elemen.
Dan meskipun Akar Roh lima elemen terkesan mendominasi, itu adalah hal yang paling tidak diinginkan setiap kultivator. Faktanya, semakin banyak elemen yang dimiliki, semakin lambat pula kecepatan kultivasi seseorang.
Hal itu disebabkan karena setiap elemen memiliki karakteristiknya masing-masing, dan semakin banyak elemen yang dimiliki, semakin besar pula usaha yang harus dikeluarkan untuk menyeimbangkan setiap karakteristik elemen agar tidak saling menghancurkan.
Kebanyakan kultivator dengan Akar Roh lima atau empat elemen praktis menghabiskan waktu dan kekuatan mental mereka hanya untuk menyeimbangkan elemen-elemennya, dan sebelum mereka sempat menyerap cukup energi spiritual yang telah mereka stabilkan itu ke dalam dirinya, kekuatan mental mereka sudah terlanjut habis.
Itulah mengapa mereka yang memiliki Akar Roh satu elemen selalu disebut sebagai bakat surgawi, karena mereka tidak perlu membuang waktu menyeimbangkan elemen apa pun, sedangkan Akar Roh lima elemen dan Akar Roh empat elemen disebut sebagai Akar Roh semu dan praktis tanpa harapan untuk mencapai tahap Pembentukan Fondasi, yang dapat hidup selama 240 tahun.
Tapi seperti pepatah, setiap koin memiliki dua sisi. Setidaknya, mereka dengan banyak elemen lebih serba bisa dibanding yang lain.
Dan bakat tidaklah mutlak! Selama seseorang menghabiskan sumber daya puluhan kali lipat lebih banyak, maka bahkan Akar Roh lima elemen pun akan tidak akan jauh berbeda dengan Akar Roh satu elemen.
Sementara itu, Yan Lei telah memfokuskan pikirannya. Selain dari tiga atribut akar rohnya, ia dengan rasa penasaran mencoba menyerap elemen yang lain, tetapi tidak ada reaksi apa pun, tidak peduli seberapa keras ia mencoba.
Pada akhirnya ia menyerah dan dengan jujur menyerap elemen yang sesuai dengan Akar Rohnya.
Energi itu memasuki tubuhnya dan bersirkulasi dengan sendirinya melalui pembuluh darah, tulang dan seluruh jaringan otot sebelum menuju salah satu titik akupuntur pada perutnya, dan seperti tsunami yang ganas, energi spiritual itu menghantam penghalang spiritual di titik akupuntur tersebut.
Kerutan muncul di dahi Yan Lei. Ia berusaha menyeimbangkan ketiga elemen itu. Beruntung, mungkin karena jiwanya mengalami transmigrasi, selama ia tetap fokus, kekuatan mentalnya mampu mempertahankan keseimbangan di antara elemen-elemen itu agar tidak saling menghancurkan dan mencederai tubuhnya.
Gelombang demi gelombang energi spiritual mengalir, hantaman demi hantaman menerpa titik akupuntur, dan setelah beberapa saat, penghalang pada titik akupuntur itu menyerah dan runtuh.
Lalu energi spiritual dengan cepat menyerbu masuk, berputar-putar seolah bersorak dan gembira, sebelum perlahan mereda dan perlahan-lahan berkumpul dengan tenang di dalam titik akupuntur tersebut.
Kejadian tersebut berlangsung selama hampir empat jam, dan ketika Yan Lei hendak menerobos menuju titik akupuntur kedua, ia merasakan nyeri dan sakit di kepalanya.
Ia segera berhenti menyerap energi spiritual. Kekuatan mentalnya sudah habis. Memaksakannya hanya akan membuat dirinya kelelahan, dan bahkan dapat berujung pada cedera fatal.
Yan Lei perlahan-lahan membuka kelopak matanya, tatapannya cerah.
Otot dan tulang-tulangnya berderit pelan. Yan Lei turun dari kasur, mengepalkan tinjunya dan refleks meninju meja kayu di ruangan itu. Energi spiritual berwarna tiga warna di titik akupunturnya menyebar ke seluruh otot dan tulang-tulangnya.
Pukulan Yan Lei begitu cepat dan menghasilkan suara siulan di udara. Ketika tinjunya menghantam, dentuman keras terdengar, dan meja kayu itu penyok.
Yan Lei berdiri dengan tatapan kosong, matanya tertuju pada kepalan tangannya dengan takjub.
“Sa..saya sekuat ini?” Yan Lei bergumam tak percaya. Baru dua jam, dan ia sudah mengalami peningkatan kekuatan yang begitu besar.
“Apakah ini kekuatan para kultivator?”
Yan Lei tak kuasa menahan diri untuk takjub. Ia merasakan tulang-tulangnya semakin kokoh. Tubuhnya yang sedikit kurus kini menumbuhkan otot-otot yang ramping namun penuh dengan kekuatan.
Seketika juga, Yan Lei teringat buku itu. Ia segera meraihnya, namun tidak ada yang berubah. Buku tersebut masih sama. Yan Lei merenung selama sesaat sebelum dengan sadar mengedarkan energi spiritualnya untuk menyelimuti buku itu.
Lalu sesuatu terjadi. Buku itu bergetar saat bersentuhan dengan energi spiritual, dan simpul-simpul formasi tak kasat mata pada buku itu bereaksi dan menyala secara perlahan.
Lalu buku tersebut perlahan-lahan berubah dari buku lusuh yang tua menjadi buku dengan sampul berwarna hijau.
Dan pada sampul itu, terdapat tulisan “Sutra Aliran Sunyi’.
Rencana saya update 2 chapter/hari.
Bagi kawan2 yang menyukai cerita ini, bantu like dan komen skuyy.
Dukungan kalian jadi motivasi buat Author.
Salam membaca, Salam dari dunia kultivasi. Gua tunggu lu pada di sana.