"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyelesaian?...
Dengan sisa daya yang nyaris mustahil, lelaki itu memaksakan tubuhnya untuk kembali tegak. Ia menyandarkan punggungnya yang telah hancur pada bodi logam mobil dan sebuah struktur yang kini tak lebih dari seonggok besi tua.. yang berlubang di sana-sini akibat terjangan peluru.
Jemarinya bergetar hebat, sebuah pemberontakan fisik yang hampir tak terkendali karena mati rasa. Namun, melalui kabut rasa sakit yang mencekam, ia kembali memungut pistolnya. Logam dingin senjata itu kini terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam samudera kegelapan.
Napasnya memburu, berat dan pendek, sementara darah kental mulai menetes dari bibirnya yang pecah.
"Mengapa... mengapa harus sekarang?!" batinnya meronta, menggugat garis takdir yang terasa begitu tidak adil. Namun, detik berikutnya, Andersen menggelengkan kepala dengan keras—sebuah tindakan nekat untuk mengusir bayang-bayang maut yang mulai menutup pandangannya.
"Tidak... Fokus, Andersen! Kau punya janji yang harus ditepati. Kau punya nyawa yang harus dilindungi," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati. "Jangan biarkan rasa sakit ini menjadi pemenang. Kau tidak boleh kalah di sini!"
Di seberang sana, situasi berubah. Melihat Andersen yang bersandar tak berdaya dalam genangan darahnya sendiri, para pengejar itu mulai keluar dari balik bayang-bayang. Mereka melangkah dengan keangkuhan yang nyata... sebuah kesalahan fatal yang lahir dari rasa percaya diri yang berlebihan.
Mereka menurunkan moncong senjata, berasumsi bahwa lelaki di hadapan mereka hanyalah sisa-sisa raga yang sedang menunggu napas terakhirnya. Mereka mengira badai telah berlalu, tanpa menyadari bahwa seekor singa yang terluka justru adalah yang paling mengerikan saat terpojok.
“ARGHHHHH!”
Gema teriakan itu memecah kebisuan malam layaknya ledakan guntur yang membelah langit. Itu bukan sekadar suara... itu adalah manifestasi dari seluruh amarah, rasa, dan tekad yang diperas dari dasar jiwa seorang lelaki yang sedang menolak tunduk pada maut.
Dengan sisa tenaga yang melampaui logika manusia, Andersen mengarahkan senjatanya. Pistol di tangannya menyalak brutal, memuntahkan seluruh isi magasin terakhir dalam sebuah simfoni kematian yang mengerikan namun akurat.
Musuh-musuh yang tadinya melangkah dengan keangkuhan itu tersentak dalam keterkejutan yang fatal. Mereka terlambat menyadari bahwa singa yang mereka sangka telah sekarat, baru saja mengeluarkan taring terakhirnya.
Peluru-peluru Andersen bekerja lebih cepat dari kesadaran mereka, menjatuhkan Tubuh-tubuh itu satu per satu ke aspal yang bisu, bahkan sebelum mereka sempat mengangkat moncong senjata.
Kini, sunyi kembali merayap, hanya menyisakan kepulan asap mesiu yang mencekik dan aroma karat darah yang kental di udara. Di tengah kekacauan itu, Andersen tetap terduduk tegak, sebuah monumen keteguhan yang berselimut luka.
Napasnya kembali tersengal-sengal, berat dan kasar, seolah setiap tarikan oksigen adalah perjuangan hidup-mati yang melelahkan.
Ia telah menyerahkan segalanya.. setiap butir peluru, setiap tetes tenaga, dan mungkin sisa kewarasannya dan hanya demi satu tujuan.. memastikan ancaman itu sirna sebelum kegelapan benar-benar menjemputnya.
Drakk!
Pintu mobil terbanting menutup dengan dentuman yang berat, meninggalkan jejak telapak tangan merah pekat pada lapisan kulit interior yang mewah—sebuah noda abadi pada sebuah seni estetika kabin tersebut.
Andersen jatuh terduduk di kursi penumpang, disiksa oleh napas yang tersengal dan perasaan yang sangat berat, seolah oksigen di sekitarnya telah berubah menjadi duri.
Kemeja sutranya, yang beberapa jam lalu memancarkan keagungan, kini telah kehilangan martabatnya... hancur, terkoyak, dan jenuh oleh cairan hangat yang terus merembas tanpa henti.
“Andersen! Kamu... luka-lukamu...” suara Margarette pecah, bergetar hebat layaknya dawai yang nyaris putus saat matanya menangkap pemandangan mengerikan di sampingnya. Di bawah pendar lampu dasbor yang redup, wajah Andersen tampak seputih pualam.
“Maaf, Margarette... tapi kita tidak punya waktu untuk membicarakan ini,” sela Andersen. Suaranya parau, nyaris berupa bisikan, namun di dalamnya terkubur sebuah urgensi yang tak terbantahkan.
Sebuah perintah yang lahir dari sisa-sisa kesadaran yang kian menipis. “Kita harus ke rumah Sheila. Sekarang!”
“Apa maksudmu? Lihat dirimu! Kamu harus ke rumah sakit atau kau akan mati!” teriak Margarette. Jemarinya yang gemetar menyalakan mesin, membuat jantung mekanis sedan Margarette menderu kuat, siap membelah malam.
Namun Andersen hanya memejamkan mata, mencoba menahan dunia agar tidak runtuh di hadapannya. Baginya, rumah sakit adalah tempat untuk mereka yang ingin bertahan hidup, sementara saat ini, ia hanya punya satu misi: memastikan Seila tidak menjadi bagian dari kegelapan yang baru saja ia tinggalkan...
"Seperti yang lain, aku tidak ingin kehilangan gadis itu... Aku benar benar tidak ingin" ucap suara Andersen yang termakan oleh bisingnya suara mobil yang kembali dinyalakan.
Firasat itu bukan lagi sekadar bisikan; itu adalah jeritan yang mengoyak dinding batinnya.
"Aku punya firasat buruk... firasat yang sangat nyata," batin Andersen kembali berteriak, mengulang gema suara misterius yang tadi menyeretnya kembali dari ambang maut.
Ia menatap Margarette dengan mata yang mulai sayu karena kehilangan banyak darah, namun tetap menyimpan kilat ketajaman yang tak bisa dibantah.
"Maaf, Margarette, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan logika di balik ini semua. Aku hanya butuh bantuanmu... tolong, antarkan aku," bisiknya, sebuah permohonan yang terdengar seperti perintah dari seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan.
Tanpa membuang detik yang berharga, Margarette menghentak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil.
Jantung mekanis sedan mewah itu menderu buas, melepaskan tenaga kuda yang besar untuk melesat menjauh dari lokasi pembantaian yang kini tertinggal sebagai memori kelam di spion tengah.
Ban mobil memekik di atas aspal, mencabik sunyinya malam saat mereka membelah jalanan dengan kecepatan yang menantang maut.
"Apakah... ada perban di sini?" tanya Andersen lirih. Jemarinya yang gemetar mencoba meraba luka di Punggungnya, namun rasa nyeri itu terasa begitu luas, seolah-olah seluruh tubuhnya adalah lubang menganga yang tak kunjung tertutup.
"Di laci dasbor! Cepat ambil!" seru Margarette tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang hanya diterangi sorot lampu depan. Napasnya sendiri mulai memburu, berpacu dengan raungan mesin dan ketakutan yang perlahan mulai mencekik dadanya.
Andersen menarik laci dasbor itu dengan sentakan kasar. Jemarinya yang basah meninggalkan jejak merah amis pada permukaan plastik, sebuah tanda nyata bahwa waktu hidupnya sedang mengalir keluar. Di dalam sana, ia menemukan gulungan kain kasa dan botol antiseptik yang tampak. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti saat ujung jarinya menyentuh sebuah benda logam yang terasa dingin dan asing.
“Mengapa ada pinset besi di sini?” gumam Andersen heran. Benda itu terselip di sudut laci, seolah memang sengaja diletakkan di sana oleh garis takdir yang belum ingin melihatnya mati.
Ia mengangkat alat itu, menatap pantulan cahaya lampu kabin yang remang pada permukaan bajanya yang berkilau. Dalam keheningan kabin yang hanya diisi oleh raungan mesin mobil, Andersen menyadari sebuah kebenaran pahit.
Pinset itu bukan sekadar alat... itu adalah sebuah tantangan. Di bawah pendar lampu yang kekuningan, ia tahu apa yang harus segera dilakukan.
Tanpa obat pereda nyeri, tanpa bius yang mampu menidurkan saraf-sarafnya. Ia harus menggali masuk ke dalam luka yang menganga, mencari timah panas yang bersarang di dalam ototnya, dan mencabutnya paksa sebelum racun logam itu melumpuhkan seluruh geraknya.
Di balik kemudi, Margarette terus memacu mobil menjauhi maut, tanpa menyadari bahwa di kursi sampingnya, Andersen sedang bersiap melakukan pertarungan paling menyakitkan melawan ambang batas rasa sakitnya sendiri.