Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
"Y-Yang Mulia Permaisuri!” serunya sosok itu sambil berlutut . “Maaf atas kelancangan hamba karna menganggu sidang, tapi... yang Mulia. Saya… saya ingin menambahkan laporan mengenai Putri Ruoling.”
Permaisuri menutup buku untuk menatap Ruoling sejenak, kemudian menghela nafas kasar karna sudah dapat menduga apa yang akan di laporkan selanjutnya.
Lalu Permaisuri mengalihkan pandangan pada pelayan yang masih berdiri dengan deru nafas yang terdengar seperti seseorang yang habis berlari.
"Katakan," kata Permaisuri dengan datar karna menahan emosi.
Pelayan itu menelan ludah jelas gugup karna untuk pertama kali berhadapan dengan sosok yang paling di hormatinya. Ia dengan sekuat tenaga untuk tidak menoleh pada Ruoling yang sedang mengamatinya.
“Putri Ruoling… menampar saya di depan umum… pagi tadi… di halaman timur.” katanya gugup.
Suara bisik-bisik yang berasal dari pelayan kepercayaan Permaisuri sontak memenuhi ruangan. Semua orang tampak kaget, tak percaya sekaligus ada yang bahagia. Seolah laporan itu akan membuat hukuman Ruoling bertambah berat.
Sementara Permaisuri menoleh pada Ruoling yang seolah tidak bersalah dengan kecewa. Kali ini sorot matanya bukan sekadar marah melainkan lelah dan putus asa mencari cara untuk mendisiplinkan Putri Ruoling lagi.
“Ruoling… apa itu benar?”
Ruoling tidak langsung menjawab. Ia melihat pelayan baru itu, menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Tatapan yang begitu menusuk, sampai pelayan itu gemetar hebat.
Lalu Ruoling mengangkat dagunya sedikit dan berkata, "benar, tapi semua itu karna dia memanggilku dengan anak pembunuh serta menyebarkan rumor lama yang harusnya sudah di lupakan, tapi pelayan ini... malah membukanya lagi pada pelayan baru!
Seluruh ruangan membeku. Bahkan Permaisuri pun terlihat tercengang, sekaligus bingung mengambil keputusan.
Pelayan yang ditampar itu memekik, “T-Tidak! Saya—saya tidak pernah mengucapkan hal seperti itu! Saya hanya—”
“Kau hanya apa?” Ruoling memotong dengan cepat tapi tajam. “Mulutmu berbau fitnah sejak pagi. Kau pikir aku tuli?”
“Yang Mulia! Dia memfitnah saya! Sungguh! Saya tidak berkata apa pun!”
Permaisuri memandang pelayan, lalu kembali menatap Ruoling. Di mata Permaisuri, Ruoling bisa melihat sesuatu yang membuat hatinya nyeri, kehilangan kepercayaan.
“Ruoling…” suara Permaisuri gemetar sedikit. “Kau lebih banyak kesalahannya di sini. Aku... tidak tahu lagi caranya bisa membuatmu tidak berulah."
"Aku akan diam kalau mereka diam, aku juga tidak akan melakukan apa-apa saat mereka atau siapapun tidak melakukan kesalahan." Ruoling membela dirinya. "Tapi nyatanya mereka kembali mengungkit masa lalu kelam itu. Mereka seolah-olah tidak membiarkan siapapun melupakan kesalahan yang katanya di lakukan oleh ibu."
"Untuk itu mereka bersalah," kata Permaisuri sambil menatap dua pelayan yang bergetar ketakutan. "Tapi dengan caramu membalasnya kau bukan hanya menyinggung pelayan, tetapi juga memalukan kedudukanku sebagai Permaisuri. Dua laporan dalam satu hari… bagaimana menurutmu?”
Ruoling tidak menjawab. Dalam hatinya, ia tahu bahwa yang di jelaskannya, Permaisuri sudah berada di titik sangat jenuh, tidak akan percaya terdengar dari nada suara Permaisuri berubah lebih dingin.
“Aku akan menjatuhkan dua hukuman tambahan. Karena tindakan kekerasan fisik dan penghinaan verbal terhadap mereka di istana istana.” Permaisuri sengaja menjatuhkan hukuman di depan banyak orang supaya mereka percaya kalau hukuman di istana untuk semua orang bukan hanya untuk mereka yang statusnya rendah.
Sementara itu pelayan-pelayan lainnya menunduk lebih rendah. Suasana jadi begitu berat hingga udara seakan menekan dada semua orang.
Permaisuri membuka kembali buku merah itu, mencari hukuman yang belum di lakukannya pada Ruoling.
"Tapi aku–"
“Hukuman pertama,” sela Permaisuri tanpa peduli pembelaan Ruoling lagi, "larangan meninggalkan kediamanmu selama tujuh hari. Kau tidak boleh menerima tamu, siapapun itu! Hukuman kedua, kau harus menghadiri pelatihan etika istana selama satu bulan penuh. Tanpa pengecualian.”
.Pelatihan etika bukan hanya memalukan—itu penghinaan karna biasanya dijatuhkan pada pelayan junior atau selir tingkat rendah, bukan putri dari keluarga raja.
“Tiga,” suara Permaisuri semakin tajam. “Kau harus meminta maaf pada kedua pelayan ini.”
"Aku tidak akan pernah melakukan itu!"
Permaisuri membanting buku itu ke meja. “Ruoling!”
Ruoling menatapnya tanpa gentar. “Aku akan merasa berdosa jika aku meminta maaf pada mereka yang memulainya lebih dulu!"
Pelayan-pelayan itu menahan teriakan ketakutan karna Permaisuri berdiri untuk menatap Ruoling dengan wajah memerah oleh amarah.
“Kau membuat semuanya semakin sulit!” serunya.
Ruoling membalas dengan suara dingin, “Hidupku sudah dan selalu sulit, Yang Mulia.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi secara mendadak. Bahkan udara terasa berhenti bergerak.
Permaisuri terdiam. Tatapan kerasnya perlahan melembut, sekelebatan rasa kasihan muncul—namun segera ia tekan kembali.
“Kalau begitu…” ujar Permaisuri pada akhirnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin. “Aku memintamu untuk menggantikan semua pekerjaan dua pelayan yang sudah kau sakiti selama tiga Minggu penuh."