Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Hangat
Insting hellhound dalam diri Cloudet akhirnya mencapai titik didih. Selama beberapa detik, ia membeku seperti mangsa yang tertangkap sorot lampu pemangsa, namun ketika jemari panjang Calix mulai bergerak maju seperti cakar yang siap menerkam, Cloudet tersentak. Dengan refleks yang murni berasal dari naluri bertahan hidup, ia mencoba merangkak turun dari atas ranjang.
Namun, Calix jauh lebih cepat.
Dalam satu gerakan yang sangat efisien—gerakan yang biasanya ia gunakan untuk meringkus mangsa—tangan besar Calix menyambar pinggang kecil Cloudet sebelum kakinya sempat menyentuh lantai.
Calix mendekapnya dengan erat, menarik tubuh mungil itu kembali ke dalam area kekuasaannya. Seringai di wajah Calix kini tidak lagi sekadar dingin; itu adalah seringai bengis yang semakin melebar, penuh dengan aura kemenangan yang gelap.
"Mau lari ke mana, keparat kecil?" desis Calix tepat di telinganya.
Cloudet sempat memekik kaget, namun di luar dugaan, rasa takut itu justru berubah menjadi sesuatu yang lain. Mungkin karena suhu tubuh Calix yang hangat, atau mungkin karena ia merasakan bahwa di balik aura hitam yang mengancam itu, tidak ada niat membunuh yang nyata. Cloudet justru meledak dalam tawa kecil yang kegirangan. Suara tawanya pecah, bening khas anak kecil, memenuhi kamar yang semula mencekam itu.
Ia menggeliat di dalam cengkeraman kuat Calix, kaki dan tangan pendeknya bergerak-gerak liar di udara, seolah sedang bermain dalam permainan yang paling menyenangkan di dunia.
Mendengar tawa yang begitu murni, pertahanan Calix runtuh. Amarah yang tadi sempat memuncak karena rasa sakit di selangkangannya perlahan menguap, digantikan oleh rasa geli yang asing namun tidak menyakitkan.
Calix tidak bisa menahannya lagi. Suara kekehan mulai keluar dari tenggorokannya—sebuah tawa yang awalnya sinis, namun perlahan berubah menjadi tawa lepas yang jarang sekali terdengar dari bibirnya.
"Kau benar-benar tidak tahu takut, ya?" gumam Calix di sela tawa tipisnya.
Melihat Cloudet yang terus tertawa hingga wajahnya yang pucat merona kemerahan, Calix merasa sesuatu di dalam dadanya menghangat.
Ia menarik Cloudet lebih rapat ke pelukannya, bukan lagi sebagai seorang sipir yang menahan tahanan, melainkan sebagai seorang kakak yang kewalahan. Tanpa sadar, Calix memeluk tubuh kecil itu begitu erat, seolah-olah ia sedang mendekap harta paling berharga yang pernah jatuh ke tangannya.
Dalam dorongan emosi yang spontan dan tak terkendali, Calix menenggelamkan wajahnya ke leher Cloudet yang berbau seperti salju dan asap—aroma khas hellhound muda. Ia menciumi kepala dan pipi Cloudet berulang kali dengan gemas, sementara tawanya semakin menyatu dengan tawa Cloudet yang masih berderai.
"Nakal…” Calix mencium dahi Cloudet kuat-kuat, membuat anak itu semakin meronta kegirangan. "Benar-benar nakal."
Di dalam kamar redup itu, hanya ada dua entitas yang biasanya ditakuti oleh dunia luar, kini terperangkap dalam momen kebahagiaan yang sangat manusiawi. Calix, sang algojo berdarah dingin, kini justru terlihat seperti pemuda biasa yang sedang kalah telak oleh tingkah nakal seorang adik kecil yang baru saja "mengacaukannya" tanpa ampun.
Calix merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang tanpa melepaskan pelukannya pada Cloudet. Ia membiarkan anak itu merangkak di atas dadanya, sementara napas calix masih terengah-engah menahan sisa tawa.
"Sudah," bisik Calix, tangannya kini mengusap punggung Cloudet dengan jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Sekarang kau harus benar-benar tidur. Kalau kau menendangku lagi, air es itu benar-benar akan menjadi kenyataan."
.
...****************...
Gema tawa dan denting alat makan di aula bawah telah lama surut, digantikan oleh kesunyian malam yang merayap masuk melalui celah jendela besar di kamar utama.
Di ruangan yang luas itu, hanya ada cahaya temaram dari perapian yang mulai mengecil dan wangi lembut minyak esensial lavender yang menenangkan.
Irina duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, jemarinya yang lentik mengusap permukaan perutnya yang membuncit dengan ritme yang penuh kasih. Senyumnya tenang, jenis senyum seorang calon ibu yang sedang mendengarkan detak kehidupan di dalam dirinya.
Di sebelahnya, Roland berbaring terlentang dengan satu lengan menumpu kepala. Rambut peraknya berantakan di atas seprai, berkilau seperti benang logam di bawah cahaya lilin. Meski matanya menatap langit-langit, bahunya masih bergetar kecil. Sisa-sisa "perang urat saraf" dengan Calona di meja makan tadi masih menyisakan geli di dadanya.
"Kau tahu, Irina..." suara Roland berat dan serak, namun ada nada jenaka yang kental. "Aku sudah berhadapan dengan entitas kuno di balik lautan, menghentikan badai sihir yang bisa menelan pulau, tapi tidak ada yang lebih melelahkan daripada beradu mulut dengan ibunya Calix."
Irina tertawa kecil, suara tawanya bening seperti denting lonceng. "Calona hanya terlalu merindukanmu, Roland. Menghinamu adalah satu-satunya cara yang dia tahu untuk menunjukkan bahwa dia senang kau kembali."
"Senang?" Roland mendengus, meski sudut bibirnya terangkat. "Dia hampir saja menusuk mataku dengan garpu hanya karena aku mengungkit insiden katak itu. Wanita itu tidak berubah sedikit pun. Masih sama tajamnya dengan belati yang dia simpan di dalam mulutnya."
Roland memiringkan tubuhnya, menatap Irina dengan tatapan yang kini melembut. Tawanya menghilang, digantikan oleh sorot mata yang sarat akan kerinduan yang mendalam. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh punggung tangan Irina yang berada di atas perutnya.
"Maafkan aku karena melewatkan banyak hal," bisiknya tulus.
Irina menggeleng pelan, meletakkan tangannya di atas tangan Roland. "Kau pulang tepat waktu. Itu yang terpenting."
Roland tidak menjawab. Sebaliknya, ia perlahan bangkit dari posisi berbaringnya, bergeser lebih dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Irina. Senyum di wajahnya kini berubah; bukan lagi senyum jenaka yang mengejek Calona, melainkan senyum nakal yang hanya ia tunjukkan pada istrinya.
Ia menunduk, mengecup lembut telapak tangan Irina, lalu beralih ke pergelangan tangannya. Matanya yang biru tua menatap Irina dari balik helai rambut peraknya, seolah-olah sedang mengunci seluruh perhatian wanita itu hanya untuk dirinya sendiri.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini," gumam Roland pelan.
Jemarinya mulai menelusuri garis rahang Irina, bergerak sangat perlahan menuju leher, seolah-olah ia sedang memetakan wilayah yang sangat ia rindukan. Sentuhannya ringan, namun membakar—sebuah kontras yang memabukkan antara kedinginan sihir peraknya dan kehangatan hasratnya sebagai seorang pria.
"Roland..." Irina berbisik, napasnya sedikit tercekat saat merasakan bibir Roland menyentuh tengkuknya, memberikan kecupan-kecupan kecil yang penuh perasaan.
"Biarkan aku mengganti waktu yang hilang, Irina,"
bisik Roland di telinganya. Tangannya yang bebas kini merengkuh pinggang Irina dengan posesif, menariknya sedikit lebih dekat seolah ingin menghapus setiap inci jarak yang tersisa di antara mereka.
Di kamar yang hanya diterangi cahaya remang itu, sang Magus agung tidak lagi memikirkan sihir, takdir, atau ancaman dunia luar. Baginya, seluruh dunianya kini berada di sini, di balik tirai kamar yang tertutup, dalam pelukan wanita yang paling ia cintai.
Bersambung