Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 ( sixteen)
Matahari baru saja terbenam saat mobil off-road curian itu terparkir di balik tumpukan kontainer tua di pinggiran pelabuhan kecil. Ratna segera memerintahkan Teguh untuk menghapus semua sidik jari dan menghancurkan unit GPS kendaraan tersebut. Mereka tidak bisa lagi menggunakan mobil ini; ukurannya terlalu mencolok dan pasti sudah masuk dalam daftar pencarian orang.
"Ganti pakaian kalian. Sekarang kita adalah sepasang pedagang keliling," ujar Ratna sambil melemparkan tas berisi pakaian lusuh yang ia ambil dari jok belakang mobil tadi.
Teguh menghela napas, menatap lencana polisinya yang kini ia simpan di dasar tas. "Aneh rasanya, Bu. Kemarin kita yang memburu, sekarang kita yang diburu."
"Itu karena kita memburu orang yang memegang kendali atas hukum itu sendiri, Teguh," sahut Ratna dingin. Ia mengikat rambutnya dengan asal dan mengenakan topi caping yang sudah agak robek. "Di mata publik, kita adalah pengkhianat. Tapi di mata kebenaran, kita adalah satu-satunya harapan yang tersisa."
Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota yang penuh sesak dengan buruh pabrik dan pedagang pasar. Ratna sengaja memilih bus kelas ekonomi yang pengap agar identitas mereka tenggelam di antara kerumunan orang-orang kecil yang lelah. Sepanjang jalan menuju Semarang, Ratna terus menatap kartu emas bermotif Naga 'S' yang ia temukan. Kartu itu terasa berat, bukan karena logamnya, melainkan karena rahasia yang ia bawa.
(Semarang: Kota yang Menyimpan Rahasia)
Pukul dua dini hari. Semarang menyambut mereka dengan udara lembap yang menyesakkan. Mereka turun di terminal bayangan dan segera menyelinap menuju kawasan Kota Lama yang dipenuhi gedung-gedung tua peninggalan kolonial. Di sebuah gang sempit yang diapit oleh tembok-tembok berlumut, Ratna berhenti di depan sebuah pintu besi yang berkarat.
Tidak ada bel, tidak ada papan nama. Hanya ada sebuah simbol kecil berbentuk mata yang tertutup, terukir di sudut bawah pintu.
"Siapa?" suara parau terdengar dari balik pintu setelah Ratna mengetuk dengan pola tertentu.
"Seorang musuh dari musuhmu," jawab Ratna mantap.
Pintu terbuka sedikit, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan. Seorang pria tua dengan kacamata hitam yang sangat tebal berdiri di sana. Rambutnya putih berantakan, dan meskipun matanya tidak bisa melihat, gerakannya sangat presisi saat ia mempersilakan mereka masuk. Inilah Si Buta, sang arsitek digital Sangkala yang hilang.
Ruangan di dalamnya adalah labirin teknologi. Puluhan monitor tua menyala dengan barisan kode hijau, kabel-kabel berseliweran di lantai seperti akar pohon, dan aroma kopi gosong bercampur debu elektronik memenuhi udara.
"Detektif Ratna Sari," gumam Si Buta tanpa perlu diperkenalkan. "Aku sudah mendengar suaramu di berita. Mereka bilang kau membakar pabrik dan menculik anak-anak. Tapi suara langkah kakimu... itu bukan langkah kaki seorang penculik. Itu langkah kaki seseorang yang sedang memikul beban seluruh dunia."
"Aku butuh bantuanmu, Pak Tua," ujar Ratna, meletakkan kartu emas Naga 'S' di atas meja yang penuh dengan sirkuit.
Si Buta meraba kartu itu dengan ujung jari yang gemetar. Begitu jarinya menyentuh tekstur naga yang melingkar, wajahnya berubah pucat. Ia menarik tangannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api.
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Si Buta, suaranya kini bergetar karena ketakutan.
"Dari mobil operasional Siska di Agro Santara," jawab Ratna. "Apa sebenarnya ini?"
"Ini bukan sekadar kartu akses," bisik Si Buta. "Ini adalah Dragon’s Key. Di dalam Sangkala, hanya ada tujuh orang yang memegang kunci seperti ini. Mereka menyebut diri mereka Dewan Tujuh. Kunci ini bisa membuka akses ke 'Gudang Hitam' tempat di mana prototipe senjata ilegal dikembangkan, dan di mana daftar seluruh aset manusia mereka disimpan."
Teguh mendekat. "Aset manusia? Maksudmu budak?"
"Lebih buruk dari itu, Anak Muda," Si Buta menoleh ke arah Teguh. "Anak-anak yang mereka kumpulkan bukan hanya untuk dijual. Mereka dicuci otaknya untuk menjadi sleeper agents pembunuh yang tidak memiliki memori, yang bisa diaktifkan kapan saja hanya dengan satu kata kunci."
Ratna teringat pada Bagas. Anak itu pendiam, namun memiliki insting yang sangat tajam saat di hutan. Mungkinkah Bagas sudah mulai melalui proses itu?
"Bisakah kau membedah data di dalam kunci ini?" tanya Ratna mendesak.
Si Buta terdiam cukup lama. "Aku bisa. Tapi begitu aku menghubungkan kunci ini ke jaringanku, mereka akan tahu koordinat tempat ini dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Sangkala memiliki satelit pelacak khusus untuk Dragon’s Key."
Ratna menatap ke arah pintu besi yang rapuh, lalu ke arah Teguh. "Sepuluh menit sudah cukup bagi kita untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan?"
"Sepuluh menit adalah waktu yang lama untuk mati, tapi sangat singkat untuk sebuah revolusi," sahut Si Buta dengan senyum pahit. Ia mulai menyambungkan kabel ke kartu emas itu. "Bersiaplah, Detektif. Begitu data ini terbuka, tidak ada jalan kembali. Kalian akan melihat wajah asli iblis yang memimpin negara ini dari balik layar."