NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Buku 2, Pertaruhan di Cragspire) - Prolog

Aku berhenti mendadak.

Insting-ku yang sebelumnya tertidur tiba-tiba tersentak. Ada sesuatu di sini.

 Aku mengangkat tangan sebagai isyarat. Fiora, yang berjalan di belakangku, terdiam membeku. Cahaya mentari sore yang makin redup, tidak membantu upaya ku menelisik keanehan ini. Aku mencari kejanggalan di situasi ini.

Itu dia!

Bongkahan akar pohon besar yang ditumbuhi lumut di pinggir jalan setapak. Orang awam mungkin tertipu, tapi tidak dengan Tarker sepertiku, yang hari-hari membuat peta daerah dan mengamati makhluk-makhluk ini untuk untuk dibuatkan laporan tertulisnya.

Lumut itu bergerak sangat tipis, seperti sedang bernapas. Menunggu mangsa yang lengah.

Aku mengangkat jari telunjuk kiri ke arah bibirku, untuk mengisyaratkan agar Fiora tak bersuara. Menunjukkan lokasi makhluk yang diberi nama Penjerat Berkayu itu dengan tangan kananku: berhenti total, jangan bergerak.

Fiora terkesiap, meski tampak berusaha tenang, Ia refleks mengambil satu langkah mundur.

KRAK.

Tumit sepatu kulitnya mendarat tepat di atas sesuatu yang tampak seperti akar biasa.

Ia baru saja menginjak Penjerat Berkayu kedua. Makhluk itu langsung “hidup”. Anggota tubuhnya yang seperti ranting basah melesat tajam keluar dari bawah lumut, menjerat pergelangan kakinya.

Fiora jatuh berdebam, menjerit sembari berusaha melepaskan dengan panik saat kaki kirinya ditarik dengan kasar. Penjerat itu langsung membuka mulut, bersiap menerkam mangsa yang baru ia tangkap.

Haaah... Buyar sudah perjalanan hutan yang santai...

Tanpa pikir panjang, aku langsung berbalik mengejar hewan kurang ajar itu. Seketika menyambar Baton teleskopik yang tergantung di pinggang.

KLIK!

Logam itu memanjang menjadi tongkat tempur sepanjang satu meter dalam sekejap.

Si Penjerat Berkayu mendesis—suara gesekan dahan kering yang menyebalkan—dan mengirim satu “ranting” ke arahku dengan cepat. Gerakannya terprediksi. Atau mungkin Daya Indra ku yang membuatku bisa mendeteksi arah gerakannya. Aku menunduk sedikit, membiarkan serangan itu lewat di atas kepalaku, lalu mencari bonggol utama tempat semua ranting itu bertemu.

Dengan satu gerakan memutar yang cepat, aku menghantamkan ujung batonku tepat di titik lemah itu.

PRAK!

“Dahan basah” itu patah dibawah hantaman batonku. Makhluk itu mengeluarkan desisan kesakitan, Fiora langsung merangkak dengan cepat menjauhinya begitu ikatannya lepas.

Penjerat Berkayu pertama yang kulihat tadi memanfaatkan kesempatan itu. Ia melesat dari tempatnya, menyerangku dari belakang. Aku segera berbalik, refleks memasang kuda – kuda untuk menembak wajah datar makhluk itu dengan semburan air bertekanan tinggi.

Sesaat saat Daya-ku mulai mengendalikan elemen air yang tersimpan di kristal Sigil di pangkal baton, semburan air tipis memancar dari retakan halus di permukaannya.

Seketika aku teringat retakan akibat pertarungan di Paleside kemarin lusa. Langsung kubatalkan Hydrocraft itu, agar Sigil ini tidak meledak di tengah pertarungan. Makhluk itu sudah satu langkah di depanku dengan mulut ternganga.

"Gundukan Tanah!"

Teriakan formula Petrocraft Fiora yang tajam dan jelas terdengar di belakangku. Tepat sebelum makhluk itu mencapaiku, sebuah Gundukan Tanah yang solid, muncul dari bawah tanah, menyembur ke atas, menghalangi laju si penyerang dengan benturan keras.

Seluruh insiden itu berakhir dalam hitungan detik. Satu Penjerat Berkayu mendesis kesakitan, lengannya patah terjuntai tak berguna, dan yang satu lagi terhalang oleh dinding tanah Fiora, tampak terhuyung karena kerasnya benturan.

Menyadari mangsa ini mampu melawan balik, kedua makhluk itu mendesis ringan dan mundur perlahan ke dalam perkayuan yang rimbun, menghilang di antara bayang-bayang senja yang semakin pekat.

Penjerat Berkayu. Hewan Klasifikasi C. Lebih memilih mangsa mudah dan akan lari begitu ada perlawanan.

 

Fiora yang masih dalam posisi tengkurap, menghela napas panjang, getaran adrenalin masih terlihat di tangannya yang sedikit goyah menahan badannya. Namun, sedetik kemudian ia bangun dan menepuk-nepuk debu di bajunya. Ketegangan itu lenyap, digantikan oleh senyum lega yang lebar.

Bisa berubah secepat itu suasana hatinya? Waw...

"Bagaimana performaku? Cukup baik, kan?" ucapnya, mengangkat tangannya yang terbuka ke arahku, sebuah isyarat tos yang penuh percaya diri. Masih tampak gurat kesedihan dibalik senyum yang ia paksakan—mengingat belum ada seminggu kami menguburkan Ibunya.

Aku menatap tangannya sejenak, lalu tanganku sendiri, sebelum akhirnya menepuk telapak tangan kanannya dengan penuh keraguan.

PLUK... Suaranya menyedihkan.

Sebuah gestur yang cukup memalukan. "Cukup baik," kataku mencoba datar, menarik tanganku kembali dan menghapus rasa malu barusan. "Tapi lain kali, perhatikan langkahmu. Di zona luar, setiap jengkal tanah bisa membunuhmu."

. . .

Cahaya jingga di langit senja datang menerpa, tak lama lagi gelapnya malam akan mulai menyelimuti. Waktu yang tepat untuk mencari tempat istirahat dan insiden tadi adalah pengingat yang jelas bahwa kegelapan hutan bukanlah tempat untuk mengambil risiko.

Ya, tanpa ada bau khas pohon palliton, siang yang benderang pun tidak akan melindungi dari ancaman hewan buas, apalagi gelapnya malam.

Aku menemukan tempat yang ideal untuk berlindung: sebuah reruntuhan peradaban lama. Dindingnya terbuat dari bebatuan olahan yang halus, tampak juga beberapa besi mencuat darinya, sisa-sisa dari dunia sebelum Moonfall—peristiwa bulan yang terbelah dan hantaman pecahannya menghancurkan peradaban di bumi.

Waktu telah menghancurkannya selama ratusan tahun, hanya menyisakan fondasi dan dinding-dinding rendah setinggi mata kaki yang masih membentuk denah kotak dari sebuah ruangan yang pernah ada. Lumut tebal menutupi sebagian besar permukaan, dan beberapa pohon muda telah tumbuh menembus lantainya yang retak, akarnya memeluk sisa-sisa bangunan itu seperti milik sendiri.

Tempat ini terasa sunyi, namun dinding rendah itu cukup untuk memberikan sedikit perlindungan dari angin malam.

Aku menyiapkan api dengan cepat, sementara Fiora membuka salah satu kantong di tasnya, mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi rempah-rempah kering yang aromanya langsung menguar di udara.

"Aku akan mencari tambahan," katanya, sebelum menyusuri aliran air kecil yang di samping reruntuhan.

Akupun melakukan ibadah selagi Fiora pergi. Ia kembali beberapa menit kemudian sambil membawa segenggam umbi-umbian liar. "Akar Umbi Manis," jelasnya sambil membersihkan tanah yang menempel. "Lebih memberikan rasa daripada cuma biskuit."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam perjalanan alam liarku, aroma ransumku bukanlah bau tepung hambar yang sedikit dipanggang agar terasa hangat.

Wangi rempah dan umbi yang direbus, bersama biskuit Tarker, menciptakan hidangan sederhana yang terasa luar biasa mewah. Lidahku sontak terkejut. Paduan rasa manis dari sup umbi dan rempah, membuat biskuit tarker yang biasanya keras seperti batu menjadi lebih renyah, bercampur dengan nikmat dalam mulutku.

Rasanya luar biasa. Tentu tidak seenak rendang domba, tapi untuk ukuran makanan perjalanan, ini adalah makanan yang di luar ekspektasi. Aku makan dalam diam, namun kurasa keterkejutanku atas makanan ini terlihat jelas.

Setelah makan, Fiora menatap api, wajahnya yang diterangi cahaya oranye tampak serius. "Jadi... zona luar... memang seberbahaya ini?"

Aku mengangguk sambil membersihkan batonku. "Itu baru Kelas C. Mereka hanya predator penyergap mangsa yang lengah. Kau belum melihat apa yang bisa dilakukan sekelompok Kelas D seperti Pelari Beling, atau satu ekor Kelas E."

"Aku tentu saja pernah membaca tentang Klasifikasi Hewan Buas," lanjutnya. "Tapi membacanya... tidak sama dengan hampir menginjak salah satunya. Aku merasa seperti anak kecil. Baru sejengkal keluar desa, semua terasa begitu berbeda. Bahkan dibandingkan ujian Tarker sekalipun."

Keheningan menyelimuti kami sejenak. Fiora lalu meraih sesuatu dari pakaiannya. Ia memegang lencana "Sang Bilah" miliknya, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya, membiarkan cahaya api menari di permukaannya yang logam.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap benda kecil itu, lalu matanya beralih menatap lencana yang sama yang tersemat di dadaku. Wajahnya adalah perpaduan yang rumit antara duka, dan sebuah pemahaman sunyi tentang dunia yang baru ia sadari. Aku melihatnya, tapi aku memilih untuk tidak mengatakan apa-apa...

. . .

Fajar bahkan belum menyingsing saat aku terbangun. Api unggun telah menjadi bara yang nyaris padam, dan udara terasa dingin menggigit. Dalam keheningan sebelum fajar, aku mencari sepetak tanah yang bersih dan menghadap ke arah timur. melakukan ibadah di pagi hari, dan gumaman doa dalam keheningan yang menenangkan jiwa, sebuah dialog dengan Sang Pencipta sebelum memulai hari yang baru.

Fiora sudah terbangun, duduk sambil memeluk lututnya di dalam kain tipis yang jadi selimut, matanya masih setengah terpejam.

"Kau selalu bangun sepagi ini?" tanyanya, suaranya serak karena baru bangun tidur.

"Tentu saja," jawabku sambil mulai membereskan perlengkapan.

Ia menguap lebar. "Aku masih ingin tidur lagi."

"Para tetua di Godo dulu sering mengulang ucapan Nabi Besar," kataku tanpa menoleh padanya. "seusai ibadah fajar, janganlah kamu tidur kembali sehingga lalai mencari penghidupan.”

Fiora menggerutu pelan dengan mata yang masih separuh tertutup, “ajaran agama macam apa yang sampai mengatur kapan bangun tidur.”, lalu bergerak bangkit dengan rasa malas yang bergelantung di pundaknya.

Aku berkemas-kemas barang untuk memulai kembali perjalanan. Mengambil selembar kain berwarna biru tua, dan memakainya kembali, melingkar dileherku. Sebuah kain dengan pola Wajik perak, khas Marga Pellian yang sudah mulai kusam.

“Apakah nanti kita akan bertemu rombongan lain lagi tidak ya?” Ucap Fiora memecah keheningan. “Dan apakah mereka juga akan mengacuhkan kita seperti kemarin siang?”

"Di zona luar," kataku sembari tak percaya Fiora tak tahu hal ini, "tak ada yang mau mengambil risiko. Lambaian tangan bisa berarti sapaan hangat atau kode bagi perampok di semak-semak yang siap menyergap."

Ya, begitulah kondisi Stellamontia, atau kurasa seluruh Formia. Di dalam kota di bawah lindungan Pohon Palliton, manusia dapat berinteraksi dengan damai. Namun di zona luar—istilah yang lazim digunakan untuk menandai bahwa daerah itu tidak berada dibawah lindungan Pohon Palliton. Bisa di luar pemukiman, daerah hutan belantara atau daerah terbuka, dimanapun itu— tanpa bau khas Pohon Palliton, hewan buas akan bebas bergentayangan menerkam tanpa aba-aba.

Warga biasa atau pedagang, biasanya menyewa jasa pelindung bayaran. Delegasi pemerintahan biasanya dikawal oleh Sentinel Corps. Tak jarang, Tarker juga disewa untuk menjadi pengawalan—karena keahlian Tarker menghadapi Hewan Buas ataupun Tumbuhan pemangsa.

“Dan kau memutuskan menjelajah tanpa perlindungan? Di zona luar yang ganas ini?” Tanya Fiora sembarang.

“Aku seorang Tarker divisi Beastologi Fiora. Tugasku mengindeks hewan buas. Aku tau diri akan hewan mana yang bisa ku taklukkan atau harus dihindari. Aku tak butuh pengawalan tambahan.”

“Oh ya. Wajarlah bicaramu agak kaku ya, kau jarang ngobrol” timpal Fiora datar, kemudian sibuk kembali mengemas barangnya.

Saat itulah aku baru memperhatikannya. Ia bukan lagi Fiora dari Paleside. Rambut cokelatnya yang dulu tergerai kini diikat rapi ke belakang dalam gaya ekor kuda, menampakkan lehernya yang jenjang dan membuatnya tampak lebih tegar.

Seketika aku terkejut saat mata cokelat madunya beradu dengan mataku dan kata “Kenapa?” keluar dari mulutnya.

“Aah... anu.. itu..”

Sial! Malu sekali. Kerja bagus, Zane. Kau baru saja ketahuan melotot seperti Ikan Mas Mata Pijar di malam hari.

"A-Ayo," ajakku, mencoba berinteraksi tanpa canggung. "Matahari sudah naik. Cragspire tidak akan mendatangi kita."

Selesai berkemas, kami kembali menyusuri jalan setapak. Di ujung jalan sudah tampak cahaya terang tanda kami sudah keluar dari lebatnya hutan.

 Namun, keheningan pagi yang damai tiba-tiba pecah.

Dari tikungan di depan, terdengar suara gaduh, suara lolongan binatang dan derap kaki yang sangat ramai. Kami saling berpandangan, ekspresi kami yang tadi langsung buyar, kini kembali tegang.

“Ayo Zane!” Teriaknya sambil bersegera lari menuju sumber suara.

Sejujurnya aku malas menghadapi masalah baru yang bukan urusanku. Tapi melihat Fiora yang berlari menjauh, aku jadi mengikutinya tanpa banyak bicara...

1
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
studibivalvia
rendang adalah fav akuu 😭
Murdoc H Guydons: d buku 3 nanti, kita bikin deskripsi yg lebih sedap ya...hahaha..
total 1 replies
studibivalvia
blum dijelasin yaa tarker itu apaan
Murdoc H Guydons: Lanjut Kak.. ada di episode 3.. 😀
total 1 replies
Fra
Yah, begitulah masalah
Pas kita lari, dia datang
Murdoc H Guydons: kaya angkot.. 🤭
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Serem banget mereka berdua ini thor
Mau betumbuk kah mereka?😭
Murdoc H Guydons: Ada di episode selanjutnya Kak.. 👍🏻😀
total 1 replies
Murdoc H Guydons
Iya Kak.. Premis utamanya memang Zane mencari adiknya.. 😬
🍾⃝ ʀɪͩɪᷞᴀͧʟᷡᴢͣ
baca cerita ini jadi inget film Avatar
Murdoc H Guydons: Hehe.. Post apocalyptic tipis tipis Kak.. 😬
total 1 replies
Hunk
Ceritanya disampaikan dari sudut pandang orang pertama, jadi terasa lebih dekat seolah kita ikut masuk ke dalam ceritanya. Bagus banget!
Hunk
Jadi solo leveling susah banget apalagi kalau salah sedikit udah nyawamu melayang
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. tapi d setting dunia ini,, semua Tarker awal pasti pada nge solo dulu,, makanya misi yang diambil juga yang ringan-ringan aja..

Kantor juga ga bakal ngijinin kerjaan yang berat Kak.. 😬😅
total 1 replies
Indira Mr
adiknya hilang..???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!