Dia pikir adiknya sudah tewas dibunuh 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Rivalitas para Duafa
"Aku asumsikan anda berdua adalah kelompok Tarker?" tanyanya, suaranya serak karena debu Mooncore. Tak mungkin ada profesi lain datang mengenakan tas besar dengan peta yang tersumbul keluar, dan tampang lusuh setelah perjalanan panjang.
Aku melangkah maju lebih dulu. "Ya kami adalah Tarker, tapi aku tidak satu kelompok dengannya. Aku butuh Sigil baru," kataku langsung ke intinya. Aku mengeluarkan Sigil ku yang retak dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kasir. "Kapasitas 4 liter. Yang ini sudah sekarat."
Pak Ren mengambil Sigil-ku, memeriksanya di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Ia mendecakkan lidahnya. "Meskipun halus, namun Sigil ini retak hingga ke bagian pengyimpanan elemennya. Kau beruntung ini belum meledak di tanganmu. Sigil 4 liter, ya..." Ia menggelengkan kepala pelan.
Sebelum Tuan Ren sempat melanjutkan, Darius melangkah maju dari sudut toko. "Aku juga mencari Sigil," katanya, nadanya sedikit lebih menuntut dariku. "Memakai dua buah sigil 2 liter, ini mulai merepotkan. Aku butuh Sigil yang 4 liter juga."
Pak Ren menatap kami bergantian, ekspresinya semakin lelah. "Dua Tarker, keduanya butuh Sigil 4 Liter di tengah blokade," desahnya. "Kalian benar-benar tahu cara membuat hari tuaku semakin sulit."
Ia meletakkan Sigil-ku kembali ke atas meja. "Tunggu sebentar. Akan kulihat apa yang tersisa di gudang belakang. Tapi jangan berharap banyak."
Pria tua itu menghilang ke balik tirai kain tebal di belakang meja kasir, meninggalkan aku dan Darius dalam keheningan yang tegang.
Aku kembali berpura-pura memeriksa komponen baton di rak dekatku. Darius melakukan hal yang sama di rak Sigil kosong di seberang ruangan. Kami berdua secara aktif menghindari kontak mata, seperti dua predator yang terpaksa berbagi wilayah buruan yang sama dan sempit.
Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama, Pak Ren kembali dari balik tirai, tangannya kosong.
"Seperti yang kuduga," katanya sambil menghela napas. "Stok Mooncore mentahku hampir habis. Aku tidak bisa membuat Sigil baru dalam kapasitas sebesar itu." Ia berhenti sejenak, melihat kekecewaan di wajah kami. "Tapi..."
"...ada satu Sigil tersisa dari kiriman lama, sebelum blokade ini dimulai," lanjutnya.
Ia membungkuk di bawah meja kasir dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah Sigil yang terbaring di atas bantalan beludru merah pudar.
Sigil itu kosong, belum diisi elemen apa pun, permukaannya hitam mengkilap seperti obsidian murni, tanpa cela. Tampak alur-alur ukiran di dalamnya tempat elemen nantinya akan tersimpan.Besarnya seukuran kenari bulat yang besar. "Kapasitas 4 liter," kata Pak Ren. "Ini stok terakhir yang kupunya saat ini."
Mataku dan mata Darius bertemu di atas Sigil itu. Seringai tipis kembali muncul di wajahnya. "Kebetulan sekali," katanya, melangkah maju seolah dia pemilik toko itu. “Kalau begitu aku akan—
"Aku bertanya duluan," potongku cepat, menghalangi jalannya dengan bahuku.
Darius menoleh padaku, alisnya terangkat menantang, tatapan merendahkan yang biasa ia keluarkan jika ia sedang cerita masa lalunya sebagai mantan Sentinel Corps. "Zane, Zane. Buat apa kau mengganti Sigil retakmu? Sigil lamamu kan juga hanya dipakai menyuci muka sebelum ibadah saja kan?"
“Sigil-ku retak karena dipakai bertarung Darius,” balasku dingin. “Kau untuk apa upgrade segala, toh kau sudah biasa menggunakan sigil murahanmu yang lama.”
"Sigil baru akan meningkatkan kemampuan Petrocraft untuk melindungi timku nanti. Walaupun Tarker solo sepertimu mana paham soal strategi" sahut Darius, nadanya merendahkan.
"Tim?" aku mendengus sinis. "Siapa nama rekan dari tim imajinasimu itu? Namanya ‘Omong Kosong’ ya kalau aku tak salah—
"Cukup!" sela Pak Ren, suaranya terdengar lelah namun kesal. Ia meletakkan tangannya di atas kotak kayu itu. " Aku tidak peduli drama kalian. Harganya 8 Auren. Siapa yang punya uang, dia yang dapat.""
Delapan Auren?!
Aku terkesiap. Itu perampokan!
Satu Koin “emas” Auren setara dengan dua puluh koin “perak” Aspen. Di Adam, barang yang sama, mungkin hanya sekitar 5 Auren atau paling mahal 6 Auren 10 Aspen. Blokade ini benar-benar telah membuat barang langka.
Aku merogoh kantong uangku. Setelah memberikan 1 Auren pada Mustaf dan Birna, ditambah penginapan dan makanan, aku ragu apakah aku punya cukup jika kubayarkan 8 Auren di sini.
Aku melirik Darius. Ekspresinya juga menunjukkan keterkejutan yang sama. Ia merogoh kantongnya sendiri, menghitung koinnya diam-diam. Sepertinya ‘Mantan Sentinel’ bodoh ini juga sama miskinnya.
Saat kami berdua mematung—dua profesional jelata yang menghitung uang receh——lonceng pintu toko kembali berdenting.
Seorang pria berperawakan gemuk dengan pakaian pedagang yang cukup mewah melangkah masuk. Ia bahkan tidak melihat-lihat rak yang kosong. Matanya langsung tertuju pada Sigil 4 liter di atas meja kasir.
"Ah, Pak Ren! Kebetulan sekali!" serunya dengan suara riang yang palsu. "Aku sedang mencari Sigil. Yang itu berapa harganya?"
"Itu Sigil 4 liter. Harganya delapan Auren, Tuan Cornwall," jawab Pak Ren datar, melirik sekilas ke kami.
"Delapan Auren?" Pria gemuk itu tertawa. "Mahal juga ya! Tapi ya sudahlah, karena sepertinya cocok untuk pajangan di meja kerjaku."
Aku merasa rahangku jatuh. Pajangan?!
Ia mengeluarkan sebuah kantong kulit yang tebal dan menjatuhkan Delapan koin emas berkilauan ke atas meja. "Aku ambil yang ini."
Aku dan Darius hanya bisa berdiri mematung, menatap Sigil yang baru saja lepas dari jangkauan. Pak Ren menyerahkan Sigil itu pada Tuan Cornwell, yang menerimanya dengan senyum puas lalu melenggang keluar tanpa sekalipun menatap kami, seolah kami hanya perabot toko.
Keheningan kembali menyelimuti toko. Kali ini, keheningan itu lebih menyedihkan.
“Ada yang lain yang kalian butuhkan, Tuan–tuan Tarker?” Tanya Pak Ren memecah keheningan. Nadanya jelas mengusir para Tarker miskin ini.
Tanpa kata, Darius hanya menggeleng pada Pak Ren, mendengus kesal, dan berjalan keluar dari toko. Aku mengucapkan terima kasih dan mengikutinya beberapa saat kemudian, memasukkan kembali Sigil-ku yang retak ke dalam baton.
Udara malam Cragspire terasa lebih dingin. Aku berdiri di jalanan, tanpa Sigil baru, tanpa petunjuk Serra, dan harga diriku baru saja diinjak ‘Tuan Cornwall’ entah siapa itu.
Namun setidaknya aku sedikit terhibur karena si bodoh Darius juga tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ia berjalan ke arah yang berbeda, menoleh padaku.
“Kau mau ikut, Zane? Akan kutraktir makan Asinan Widow’s Berri di kedai ujung jalan”, ucapnya dengan santai.
“Dasar gila. Kau makan saja sendiri buah beracun itu”
Darius tertawa renyah dan bergerak menjauh sembari melambai ringan padaku. Lumifret yang berdiri di atas kepalanya menghadap kepadaku, dengan tatapan kosong khas hewan pengerat, lalu mereka menghilang di gelapnya malam.
Aku pun kembali berjalan menuju Penginapan Arah Lintang. Lengkap sudah kesialan hari ini.
Dan ternyata aku salah...
tujuan diganti dan mengesampingkan pekerjaan juga normal² aja. soalnya orang mana yang ga kangen setelah insiden mengerikan itu?/Frown/
karena aku bisa tau rasa cemasnya mengkhawatirkan satu satunya orang yang dipunya
udah biarin aja debat sampe capek /Facepalm/