Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Keadaan Nadia
Rangga mendatangi kamar dimana Nadia dirawat. Dia mengamati keadaan di kamar dari jendela terlebih dahulu. Atensi Rangga tertuju ke arah Nadia.
Dahi Rangga berkerut dalam. Matanya memicing tajam. Dia melihat Nadia tampak duduk di atas kasur sembari menyilangkan kaki. Gadis itu asyik bermain ponsel sambil disuapi seorang wanita paruh baya berperawakan berisi yang duduk di sampingnya.
"Ah! Pedes banget! Air!" keluh Nadia.
"Eh, iya, Non." Wanita paruh baya itu segera memberikan segelas air pada Nadia. Tapi tanpa sengaja, dia menumpahkan air ke baju Nadia.
"Sialan! Kau sengaja ya melakukannya?! Dasar kuda nil! Aku bilangin ke mamah, pasti kau bakalan dipecat!" omel Nadia dengan raut wajah memerah. Dia juga tampak mengibaskan tangan ke depan wajah karena masih kepedasan. Ia terpaksa meminum sisa air yang ada dalam gelas.
"Maaf, Non... Saya nggak sengaja," kata Bi Siti. Wajahnya tampak sedikit pucat. Sepertinya wanita paruh baya tersebut sedang kelelahan.
Pedas yang dirasakan Nadia mulai mereda, tapi tidak amarahnya pada Bi Siti. "Isikan lagi airnya!" perintahnya.
"Baik, Non." Bi Siti bergegas mengisi air. Lalu kembali memberikannya pada Nadia.
Bukannya meminum, Nadia justru menyiram air itu ke wajah Bi Siti. "Rasain tuh!" ejeknya puas. "Sekarang aku mau makan cokelat. Belikan sana!" suruhnya.
"Apa saya harus membelinya keluar, Non?" tanya Bi Siti.
"Ya iyalah! Emangnya ada orang jualan cokelat di rumah sakit? Otak tuh dipakai dong!" sahut Nadia sinis. Nada bicaranya seperti tidak sedang bicara pada orang yang lebih tua.
"Tapi, Non. Saya dari tadi pagi agak nggak enak badan. Saya..."
"Apa?! Apa?! Badan gede gitu kok sakit. Kan bisa sekalian olahraga. Cepat pergi sana!" desak Nadia tak peduli.
Bi Siti mengangguk. Dia terpaksa pergi melakukan hal yang disuruh oleh majikannya. Saat itulah Rangga menghentikan Bi Siti. Ia mengajak wanita paruh baya itu untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Maaf sebelumnya, Mas siapa ya?" tanya Bi Siti.
"Aku Rangga. Aku polisi yang bertugas menyelidiki kasus Nadia. Kedatanganku ke sini untuk memeriksa keadaan Nadia," jawab Rangga.
"Dari mana kau tahu kalau aku sakit? Kau mendengarkan pembicaraanku dan Non Nadia?" selidik Bi Siti.
Rangga tak langsung menjawab. Sebab dia fokus melihat lebam di lengan Bi siti serta bekas beberapa luka bakar kecil di leher.
Bi Siti sadar Rangga memperhatikannya. Dia segera berucap, "Tidak ada hal yang ingin aku katakan. Aku sehat kok. Aku bilang nggak enak badan karena pengen istirahat saja. Ya sudah, aku permisi."
"Apa Nadia yang melakukannya? Lebam di tubuhmu?" tanya Rangga.
Bi Siti mengabaikan Rangga dan terus melangkah menjauhi lelaki itu. Kini Rangga pun memutuskan menemui Nadia. Ia ketuk pintu kamar terlebih dahulu.
"Masuk!" ujar Nadia.
Rangga segera masuk. Pupil mata Nadia seketika membesar. Untuk remaja puber sepertinya, cowok tampan adalah semangatnya. Apalagi Rangga tampak gagah sekali dengan seragam polisinya.
Buru-buru Nadia meletakkan ponsel ke kasur dan merapikan rambut. "Ada apa ya, Mas?" tanyanya lembut. Berbeda sekali gaya bicaranya dari pada saat bicara dengan Bi Siti.
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu," ujar Rangga. Diam-diam dia mengaktifkan perekam suara di ponselnya.
"Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri," sahut Nadia.
"Syukurlah. Mentalmu tidak tertekan kan?"
Nadia langsung menggeleng. "Enggak kok. Aku orangnya kuat, jadi hal seperti itu bukan apa-apa bagiku. Yang penting pelakunya mendapatkan hukuman setimpal," ungkapnya.
Rangga tersenyum tipis. "Kau tidak usah cemas. Dia pasti akan mendapat hukuman. Tapi sebelum itu, apa kau tahu alasan kenapa pelaku melakukannya padamu?"
"Dia memfitnahku dan Fira. Katanya kami yang sudah membunuh adiknya. Padahal adiknya mati karena bunuh diri. Aneh sekali, aku rasa dia hanya melampiaskan kemarahannya padaku dan Fira. Sialan, sampai pura-pura jadi hantu Mirna segala lagi buat nakutin kami. Sebenarnya aku sudah menduga kalau teror itu bukan ulah hantu," jelas Nadia panjang lebar.
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄