Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Hancur
Film yang mereka tonton akhirnya selesai, mereka keluar dari bioskop sekitar pukul 10 malam. Elyra menggeliat, tubuhnya terasa kaku dan tangannya terus digenggam oleh Leon.
“Pulang ke rumahku ya?” bujuk Leon, Elyra menutup badannya dengan kedua tangannya.
“Mau apa?” Elyra terkejut, Leon bangkit dari duduknya dan menatap mata Elyra yang jernih malam itu.
“Menurutmu?” Leon mengusap rambut Elyra lembut, Elyra membulatkan matanya dan langsung berbalik dari hadapan Leon.
“Kalau nggak antar aku ke kosan, aku anggap nggak pernah kenal kamu.” Elyra tegas menolak, Leon terkekeh dan akhirnya mengikuti keinginan Elyra. Mereka pulang dengan perasaan masing-masing.
Keesokan harinya, baik Leon ataupun Fahmi, keduanya akan meninggalkan tempat itu, pupus sudah dua pengganggu Elyra dari harinya. Elyra akhirnya bersekolah dengan giat seperti biasanya, melanjutkan hidup dan rutinitasnya seperti biasa.
Terkadang Elyra melihat ke rumah Leon, entahlah ada perasaan ganjil yang membuat Elyra merindukan sosok Leon. Akhirnya kini Elyra sudah masuk semester kedua di sekolahnya dan dia sudah kelas 2 SMA.
“Elyra?” Di depan kosan Elyra kini tampak seorang gadis perempuan dengan wajah sombong dan badan petantang-petenteng dengan suara keras memanggil Elyra.
“Eh ada kakak tiri, ada kepentingan apa ya? Kamu bukan orang penting sih, jadi kurasa kamu tidak ada kepentingan, kan?” sindir Elyra pedas, Elyra hari itu ada pesanan katering lagi dan harus segera ke rumah Nuah secepatnya.
“Kamu anak haram! Beraninya bilang seperti itu padaku!” teriaknya lagi, Meina mendorong sedikit tubuh Elyra. Elyra hanya terkekeh sinis, ucapan itu jelas seolah menyindir Meina sendiri.
“Aku masuk!” ucap Meina hampir masuk ke dalam kosan Elyra, namun dengan cepat Elyra mendorong Meina hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
Dengan cepat Elyra mengunci kosannya dan tersenyum licik, Elyra naik ke atas motornya dan menatap Meina jengkel.
“Besok ayah akan menyerahkan seluruh hartanya padaku, datang ya!” Meina melemparkan undangan itu.
“Oh, selamat ya, semoga uang haram itu membakarmu hingga hangus!” sindir Elyra dan menyalakan motornya saking muak dengan perlakuan Meina.
Elyra tak begitu memusingkan apa pun tindakan Meina, mau itu harta, mau itu apa pun juga Elyra sudah tidak peduli. Bila seperti di novel lainnya di mana protagonis akan mengambil harta yang dimiliki sang ibu, bagi Elyra itu sangat tidak penting.
Uang haram yang mereka terima akan membakar mereka, meski masih di dunia namun hukum karma masih berlaku di dunia ini. Pedih, memang pedih yang dirasakan Elyra. Namun kepedihan sesaat tak akan membuat Elyra terjatuh dan menyerah.
“Lyra, ini orderannya, kita kirim pakai mobil aja soalnya banyak ya, say,” ucap Nuah saat melihat Elyra sudah sampai di depan rumahnya.
“Kamu kenapa?” Nuah melihat Elyra yang kini melamun, Elyra menghela napas kasar dan menggerakkan kepalanya.
“Sekarang aku sedang merasa terdzolimi. Kenapa muncul banyak manusia tak tahu diri di bumi ini? Aku kesal tapi malah membakar energiku saja, rasanya sia-sia saja,” ucap Elyra, Nuah terdiam. Sejenak dia memahami apa yang diucapkan oleh Elyra.
“Acara itu ya?” tanya Nuah, Elyra mengangguk.
“Ada baiknya kamu datang, ambil semua barang berharga ibumu dari sana. Bila merasa kosanmu tidak aman, kamu bisa simpan itu di rumahku, neng.” Nuah menepuk pundak Elyra, Elyra terkekeh hambar dan mengangguk.
“Aku datang deh, nanti malam belanja baju ini kita?” senggol lagi Elyra yang sudah kembali menemukan mood-nya, Nuah terkekeh.
“Oke, aku traktir.” Keduanya tertawa dan akhirnya hari itu berlalu begitu saja.
Keesokan malamnya, Elyra sudah cantik menggunakan gaun biru langit dengan warna indigo di bagian bawahnya seperti kerlipan bintang. Rambutnya disanggul dengan bunga melati sebagai penghias kecilnya, wajahnya sudah dirias meski cukup tipis namun sangat cantik.
“Sudah siap, say?” Nuah yang malam itu juga pergi bersama sang suami, menatap Elyra yang sudah tampil mempesona.
“Lagi apa, beib?” Nuah menatap Tamam, sang suami. Tamam memotret Elyra dan Nuah dan memperlihatkan itu pada Leon.
Leon malam itu memang pulang ke Indonesia, kini dirinya berada di Bandara Internasional. Wajah Leon seketika sumringah melihat foto yang dikirimkan Tamam.
“Leon,” bisik Tamam, Nuah terkekeh dan mengecup bibir suaminya sekilas.
“Ayo berangkat,” ajak Tamam, mereka akhirnya berangkat dan sampai di depan sebuah kediaman yang tidak terlalu megah namun tampak sekali hasil warisannya, karena rumah itu memang rumah tua.
“Kamu datang ya, Dik?” Meina menatap sinis, Elyra tersenyum tipis.
“Ya, aku akan mengambil semua hakku malam ini.” Tajam Elyra, sontak seketika seluruh ruangan riuh mendengarnya.
“Ehem!” Tamam berdehem, sontak semuanya diam kembali. Tamam memang bertangan dingin, dia tak pernah memperhatikan kehangatan dari tangannya pada siapa pun kecuali pada anak dan istrinya.
Elyra menuju lantai dua kediaman itu, matanya menyapu seluruh ruangan. Foto sang ibu sudah tidak ada satu pun yang terpajang di dinding rumah itu.
“Kebetulan malam ini akan ada tontonan menarik di belakang, banyak sampah yang dijadikan kayu bakar malam ini.” Meina tertawa meledek, Elyra mengepalkan tangannya.
“Apa maksudmu!” Elyra berjalan dengan langkah pasti, dia menatap tajam seolah akan menghunus siapa pun di hadapannya.
Meina sejenak merasa merinding melihat tatapan Elyra, namun dia tahu Elyra tak memiliki pendukung siapa pun di belakangnya. Jadi, meski dia berontak sekalipun, Elyra hanya akan dianggap sebagai anjing yang menggonggong.
“Apa maksudmu, Meina!” bentak lagi Elyra, seketika suara Elyra yang meninggi itu menjadi pusat perhatian di tempat itu.
“Lihat saja sendiri, meski mungkin hanya tersisa abunya saja!” tajam Meina, Elyra tiba-tiba merasa sesak, dia berlari turun dari lantai dua dan menuju halaman belakang.
“M-mah,” lirih Elyra melihat seluruh foto, buku, dan peninggalan ibunya dibakar di sana.
Seperti orang gila, Elyra dengan air mata berurai, dengan tangan kosongnya mengambil sebuah foto yang belum hangus terbakar. Dia mengambilnya dan alhasil tangannya melepuh, sebuah buku kecil juga berhasil Elyra selamatkan dan sisanya sudah menjadi arang.
“Elyra!” teriakan Nuah terdengar dari dalam ruangan dan menutup mulutnya saat melihat apa yang terjadi.
Elyra dengan air mata berurai, hanya segukan tangis yang terdengar dari bibirnya. Suara lirih memanggil mamah terdengar menyayat hati.
“Aaaa…!” teriak Elyra memeluk foto ibunya yang masih panas, seketika tempat tersebut berubah sunyi. Banyak orang yang melihat hal tersebut, gambaran menyakitkan itu pasti diingat semua mata yang melihatnya.
“E-elyra?” Seorang pria paruh baya hendak mendekat, namun ditahan oleh tangan seorang wanita di sampingnya.
“Neng?” Nuah mendekat memeluk tubuh ringkih itu dengan air mata yang juga ikut mengalir, darah mengucur dari tangan Elyra dari goresan kaca bingkai foto di tangan Elyra.
“Mereka semua penjahat, Ty, bawa aku pergi!” tangis Elyra, Nuah mengusap air mata Elyra dan sebuah mata elang tak jauh dari tempat Elyra terduduk kini memperhatikan wanita tersebut, langkahnya besar dengan lari yang kian cepat.
“Elyra?” paniknya memeluk wanita itu, Nuah melihat itu dan terkejut bukan main. Tangan pria itu bergetar hebat, matanya memerah.
🤣