Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Lapangan sekolah
Jam istirahat tiba dengan suara bel yang menggema di seluruh gedung sekolah.
Koridor langsung dipenuhi siswa-siswi yang keluar kelas—ada yang berjalan santai sambil mengobrol, ada yang terburu-buru mengejar kantin, ada pula yang tertawa keras tanpa peduli teguran guru piket.
Di antara keramaian itu, Gina, Siva, dan Rahmalia berjalan berdampingan.
“Akhirnya istirahat juga,” gumam Siva sambil meregangkan bahu.
Gina hanya mengangguk kecil, sementara Rahmalia sibuk mengamati sekitar.
Tiba-tiba—
Beberapa siswa berlari kencang dari arah berlawanan.
“Eh—!”
BRAK.
Salah satu dari mereka tak sengaja menabrak Siva.
“Aduh!” Siva refleks meringis sambil memegangi lengannya.
“WOI! Liat-liat dong kalau jalan!”
Namun siswa itu sama sekali tidak menoleh. Ia terus berlari, menyusul rombongan lain yang berlari ke arah lapangan.
Siva menoleh ke belakang dengan kesal.
“Kurang ajar. Udah nabrak ga minta maaf lagi.”
Rahmalia memperhatikan arus siswa yang makin banyak.
“Eh…,” katanya pelan.
“Kok pada lari ke lapangan semua?”
Gina ikut menoleh. Alisnya sedikit mengernyit.
“Pasti ada sesuatu disana.”
Ia lalu melangkah cepat dan menahan salah satu murid yang lewat.
“Eh, tunggu,” ucap Gina.
“Ada apa sih di depan?”
Murid itu berhenti sebentar, napasnya masih tersengal.
“Lagi rame banget!” jawabnya antusias.
“Tim Azmi kelas 1B lagi tanding bola sama tim Dio kelas 1A!”
Siva langsung menoleh cepat.
“Hah? Dio?”
Ia tertawa kecil, tak percaya.
“Emang Dio bisa main bola?”
Murid itu mengangkat bahu.
“Entah, tapi lapangannya udah penuh. Katanya seru.”
Begitu murid itu pergi, ketiganya saling menatap.
Rahmalia terlihat tertarik, meski berusaha terlihat biasa saja.
Gina justru tampak berpikir sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kayaknya seru,” kata Gina akhirnya.
“Yuk, ke lapangan.”
Siva menyeringai.
“Dio main bola? Perasaan nendang kaleng aja sering meleset.”
Rahmalia terkekeh kecil.
Namun langkah kakinya tetap ikut bergerak.
Mereka pun berbelok ke arah lapangan, menyatu dengan arus siswa lain yang berjalan lebih cepat dari biasanya—suasana sekolah yang biasanya santai, kini berubah riuh hanya karena satu pertandingan sederhana.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di lapangan bola sekolah.
Suasana sudah ramai. Sorak-sorai terdengar dari berbagai sudut, murid-murid berkerumun di pinggir lapangan, sebagian berdiri, sebagian duduk seadanya di bangku penonton.
Siva langsung melesat ke depan tanpa ragu.
Ia merebut bangku paling depan.
“Awas, minggir dulu,” ucapnya sambil menggeser beberapa murid yang sudah lebih dulu duduk.
Beberapa hanya mendecak pelan, tapi tak berani protes.
Siva duduk santai, lalu menepuk-nepuk bangku di sebelahnya.
“Ayo sini, Gin. Ca,” panggilnya.
Gina dan Rahmalia menyusul dari belakang, saling melirik sekilas sebelum akhirnya duduk di samping Siva.
Dari sana, lapangan tampak terbuka lebar.
Bola terus berpindah kaki, teriakan saling bersahutan.
Mereka datang bukan di awal—
pertandingan sudah berjalan setengah babak.
Bola tiba-tiba terlempar keluar lapangan ke arah mereka bertiga.
Peluit wasit langsung terdengar nyaring—tanda out.
Di sisi lapangan, Azmi mengambil bola itu.
Seragam bolanya sudah basah oleh keringat, rambutnya lembap dan menempel di dahi.
Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dadanya naik turun setelah berlari sejak awal pertandingan.
Penampilannya yang berbeda dari biasanya membuat beberapa siswi di sekitar tribun langsung ribut sendiri—bisik-bisik kecil, tawa tertahan, bahkan ada yang sibuk menarik temannya.
Gina, yang duduk tepat berhadapan dengannya, tanpa sadar menegakkan punggung.
Pandangannya tertahan lebih lama dari yang ia sadari.
Azmi yang berdiri di sisi lapangan akhirnya menyadari keberadaan mereka.
Pandangannya tertuju ke arah tribun—ke Rahmalia, Siva, dan Gina.
Ia mengangkat tangan, melambaikan tangan sambil tersenyum singkat.
Gina membalas lambaian itu tanpa ragu.
Senyumnya kecil, tapi jelas.
Rahmalia hanya membalas dengan senyum tipis—biasa saja. Tidak lebih.
Dan entah kenapa, dada Azmi terasa sedikit mengempis.
Bukan karena Gina tidak membalas.
Tapi karena Rahmalia tidak melakukan apa pun selain tersenyum singkat… seolah kehadirannya di sana tidak terlalu berarti.
Azmi menahan pandangannya sepersekian detik lebih lama ke arah Rahmalia, sebelum akhirnya menoleh kembali ke lapangan.
Dari bangku penonton, Gina menangkap momen itu.
Tatapan Azmi tertahan sedikit lebih lama dari seharusnya.
Arah pandangnya jelas—tertuju pada Rahmalia.
Dan di saat itu juga, Gina merasakan sesuatu menggesek pelan di dadanya.
“Cih, apaan sih dia. Sok manis banget, nyapa segala,” gerutu Siva.
Rahmalia meliriknya sekilas.
“Dia kan cuma nyapa,” ucapnya ringan.
“Iya, tapi tetep aja,” balas Siva setengah mendengus.
Ia lalu menyipitkan mata, menoleh ke sekeliling bangku penonton.
“Ngomong-ngomong… Dio mana?” tanyanya sambil mencari-cari.
Gina ikut menoleh, ikut mengamati lapangan.
“Iya ya. Aku juga belum lihat dia.”
Rahmalia sedikit condong ke depan, matanya
fokus ke tengah lapangan.
“Kayaknya itu,” katanya sambil menunjuk.
“Yang jadi kiper.”
“Oh—iya, iya. Bener,” sahut Siva cepat.
“Dia jadi kiper.”
Dari kejauhan, Dio terlihat berdiri di depan gawang. Tubuhnya sigap, sorot matanya tajam.
Teriakannya terdengar jelas meski teredam sorak penonton.
“JAGA KANAN! TURUN! JANGAN KOSONG!”
Suaranya keras, penuh tekanan—mengatur barisan pertahanan timnya tanpa ragu.
Berbeda jauh dengan Azmi.
Di sisi lain lapangan, Azmi berdiri sebagai penyerang. Gerakannya lincah, posisinya selalu berubah, menunggu celah sekecil apa pun untuk menerobos pertahanan lawan.
Satu menjaga.
Satu menyerang.
Bola kini sepenuhnya berada di kaki Azmi.
Satu pemain terlewati.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi—tanpa ragu.
Langkahnya cepat, kontrol bolanya rapi. Sorak penonton mulai meninggi seiring jarak Azmi ke gawang yang semakin dekat.
Dan kini—
Satu lawan satu.
Azmi berhadapan langsung dengan Dio.
Dio berdiri kokoh di depan gawang, lutut sedikit menekuk, kedua tangannya siap. Matanya tajam, fokus penuh ke arah bola di kaki Azmi.
Di bangku penonton, Siva refleks berdiri.
“Ayo, yo! Kamu pasti bisa nangkep bolanya!” teriaknya lantang, tanpa peduli orang-orang di sekitarnya.
Azmi tidak ragu.
Ia menarik kakinya—
Dan menendang.
Bola meluncur cepat, rendah, menukik ke sudut gawang.
Dio melompat.
Terlambat.
Bola menghantam jaring.
Gol.
Sorakan penonton langsung pecah memenuhi lapangan. Beberapa siswi berteriak histeris, sebagian berdiri sambil bertepuk tangan keras.
Azmi mengangkat tangannya, senyum lebar terukir di wajahnya. Ia berlari kecil, melakukan selebrasi singkat bersama rekan setimnya.
“Ah, payah banget sih kamu, Dio!” omel Siva kesal.
“Tendangan segitu doang nggak ketangkep!”
Di sampingnya, Gina ikut bertepuk tangan—perlahan, tapi jelas. Pandangannya tertuju penuh pada Azmi di lapangan.
Sementara Rahmalia hanya tersenyum kecil. Tidak bersorak, tidak berkomentar.
Dari arah gawang, Dio terlihat menunduk.
Tangannya mengepal, lalu menghantam rumput sekali. Dua kali.
Kekesalan jelas terpancar dari wajahnya.
Di lapangan itu, satu orang sedang dirayakan.
Satu orang sedang menahan malu.
Dan di bangku penonton, perasaan yang berbeda-beda mulai saling bersinggungan—
tanpa ada satu pun yang berani mengakuinya.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔